Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan di Sangkar Emas
Setelah sarapan penuh ketegangan yang menguras emosi itu selesai, Eli meminta pelayan paruh baya bernama Bibi Ami untuk menemani Kenji dan Kiana bermain di ruang bermain lantai atas. Eli melangkah dengan berat hati menuju ruang tengah, tempat di mana Xavier sudah menunggunya sambil berdiri tegak di dekat perapian marmer yang padam.
Ruang tengah itu sangat luas, didominasi oleh sofa kulit premium dan karpet bulu impor. Begitu Eli melangkah masuk, Xavier membalikkan badannya. Sepasang mata elang pria itu langsung mengunci pergerakan Eli, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan posesif yang pekat.
"Duduk, Eli," ujar Xavier, suaranya yang bariton terdengar bergema di ruangan yang sepi itu.
Eli memilih untuk tetap berdiri, melipat kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk pertahanan diri. "Aku lebih suka berdiri. Katakan saja apa aturan main yang kamu maksud, setelah itu aku ingin kembali ke kamar anak-anakku."
Xavier mendengus sinism melihat pembangkangan kecil dari istrinya. Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum wood and amber miliknya kembali menguasai indra penciuman Eli.
"Aturan pertama," Xavier mengangkat satu jarinya, menatap lekat mata Eli. "Di rumah ini, kata-kataku adalah hukum. Aku tidak suka dibantah, terutama di depan anak-anak atau para pelayan. Apa yang terjadi di meja makan tadi tidak boleh terulang lagi. Kamu harus mendidik Kenji agar menghormatiku sebagai ayahnya."
Eli tertawa hambar, matanya berkilat marah. "Mendidik Kenji? Kenji adalah anak yang cerdas, Xavier. Dia bisa merasakan siapa yang tulus dan siapa yang mengintimidasinya. Kamu tidak bisa membeli rasa hormat seorang anak kecil dengan uang dan kekuasaanmu!"
"Aku tidak membelinya, Eli. Aku akan mengambilnya, sama seperti aku mengambilmu," balas Xavier dengan nada dingin yang mutlak. "Aturan kedua, mulai hari ini kamu dilarang keluar dari mansion tanpa izin dariku atau tanpa pengawalan dari orang-orangku. Ponsel lamamu sudah dihancurkan oleh Daniel. Di kamarmu sudah ada ponsel baru yang nomornya hanya terhubung denganku, Daniel, dan sistem keamanan rumah ini."
"Kamu keterlaluan! Ini benar-benar penjara! Kamu memutus hubunganku dengan dunia luar!" jerit Eli frustrasi. Dadanya naik-turun menahan rasa sesak yang kian menghimpit.
Xavier tidak memedulikan kemarahan Eli. Dia justru melangkah lebih dekat, mengulurkan tangannya untuk mencengkeram pinggang mungil Eli, menarik tubuh wanita itu hingga menempel sempurna pada dada bidangnya. Eli tersentak, mencoba mendorong dada Xavier, namun tubuh pria itu sekokoh dinding batu.
"Ini bukan penjara, Eli. Ini adalah perlindungan," bisik Xavier tepat di depan bibir Eli, membuat wanita itu merinding ketakutan sekaligus merasakan sengatan aneh yang familier. "Apakah kamu lupa bahwa mantan tunanganmu yang tidak berguna itu, Adrian, dan saudara tirimu yang jalang sedang mencarimu ke mana-mana untuk menutupi skandal perusahaan mereka? Di luar sana, kamu adalah mangsa yang empuk. Tapi di dalam rumah ini, di bawah kuasaku, tidak akan ada satu orang pun yang berisa menyentuhmu."
Wajah Eli mendadak pucat mendengar nama Adrian dan Valencia disebut. Ketakutan masa lalu kembali membayangnya.
Xavier menyadari perubahan ekspresi Eli. Ibu jari tangannya yang besar bergerak mengusap pipi Eli dengan lembut, sebuah gestur yang sangat posesif namun anehnya terasa menenangkan. "Tetaplah berada di dalam sangkar yang aku buat ini, Eli. Patuhi aku, layani aku sebagai suamimu, maka aku akan memastikan hidupmu dan anak-anak bergelimang kemewahan dan keamanan yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh siapa pun."
Eli memalingkan wajahnya, mencoba melepaskan diri dari pesona berbahaya sang CEO. "Dan bagaimana jika aku tetap menolak untuk patuh?" tanya Eli dengan sisa keberaniannya.
Xavier tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tampan namun mematikan. Dia merapatkan tubuh mereka seolah ingin menyatu dengan Eli. "Maka aku akan menggunakan cara yang sedikit... memaksa. Jangan lupa, Eli, kontrak pernikahan kita sudah sah. Minggu depan, seluruh dunia akan tahu kamu adalah milikku. Dan aku tidak akan segan-segan mengklaim hak suamiku atas dirimu malam ini jika kamu terus memancing amarahku."