Ruqqaya, gadis cantik dan cerdas berusia 19 tahun, memiliki impian besar untuk masa depan nya. Namun, keputusan orang tua membuat nya harus meninggalkan mimpi-mimpi nya. masalah demi masalah datang, perdebatan antar kakak adik dan orang tua semakin memanas.
ketika sang ibu yang tiba-tiba pergi tanpa kabar, Membuat Ruqqya dan adik-adik nya harus berjuang untuk menemukan sang ibu dan memperbaiki kehidupan keluarga mereka.
Bagaimana kelanjutan kisah nya? Mari ikuti kisahnya di "Perjalan Menuju Kebahagiaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elva19 fitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pukul 12.00 siang, di pangkalan ojek langganan.
"Yuk, kita pulang duluan," ajak Pak Harun pada teman-teman kerjanya.
"Sana duluan saja, Pak. Saya masih mau nambah satu orderan lagi," jawab salah satu rekannya.
"Oke kalau begitu. Saya pamit dulu ya," ucap Pak Harun pada yang lain.
"Iya, Pak. Hati-hati di jalan," sahut mereka serentak.
Pak Harun pun melajukan motornya menuju rumah. Dua puluh menit kemudian, ia tiba di teras rumah, berbarengan dengan kedatangan Fajar dan Amalia yang baru pulang sekolah.
"AYAAAAH!!" sapa Amalia melambaikan tangan heboh, sambil melompat turun dari motor.
("Dasar anakku yang satu ini...") gumam Pak Harun dalam hati sambil geleng-geleng kepala, tapi senyum tipis tak lepas dari bibirnya. Ia memberhentikan motor rapi di samping motor sang Putra ("Fajar").
"Jangan teriak-teriak, Lia. Berisik!" tegur Fajar sedikit kesal sambil menaruh helm di Rak sepatu.
"Apaan sih, ngeselin!" sewot Amalia tak kalah kalah, lalu bergegas menghampiri ayahnya.
"Assalamu'alaikum, Ayah," sapanya lembut seraya mencium punggung tangan Pak Harun dengan takzim. Diikuti Fajar yang datang di belakang, menyalami Ayah nya dengan sopan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Harun lembut. Tangannya terulur membelai pipi Amalia dengan penuh kasih sayang. "Nah, gitu dong. Kalau pulang salam dulu, jangan langsung teriak-teriak kayak tadi.," godanya sambil mencubit gemas pipi anak bungsunya gemas.
"Hehehe... maaf ya, Yah," kekeh Amalia malu-malu.
"Ya sudah, yuk masuk. Ayah mau cuci muka terus makan, lapar banget Ayah." ajak nya. Pak Harun mengelus perutnya sambil melangkah masuk, diikuti Amalia yang masih ceriwis menghoda sang Ayah di sebelahnya. Sedangkan Fajar sudah berjalan lebih dulu membukakan pintu rumah.
Di Ruang Keluarga
Di ruang keluarga, terlihat Bu Sekar sedang sibuk menunduk meronce manik-manik di pangkuan nya. Di meja tersusun rapi kotak-kotak kecil berisi manik-manik berwarna-warni bahan pembuatan kalung dan gelang manik-manik, serta kotak lain yang penuh dengan gulungan pita untuk menyulam. Tangannya cekatan merangkai barang-barang itu menjadi hasil kerajinan yang indah.
"Assalamu'alaikum," sapa Fajar sambil berjalan mendekat, lalu mencium tangan ibunya dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam, Nak," jawab Bu Sekar lembut.
"Fajar ke kamar dulu ya, Bu," pamitnya, lalu bergegas menuju kamar untuk beristirahat sejenak.
Tak lama kemudian, terdengar suara salam bersahutan.
"Assalamu'alaikum!" seru Amalia dan Ayah bersamaan sambil melangkah masuk.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Sekar, lalu segera berdiri menyambut kedatangan suaminya.
Amalia mendahului mencium tangan ibunya, disusul Bu Sekar yang mencium tangan Pak Harun dengan penuh takzim.
"Ibu siapkan makan siang dulu ya, Yah," ucap Bu Sekar lembut, lalu bergegas menuju dapur.
Pak Harun hanya mengangguk pelan, kemudian duduk bersantai di sofa depan televisi.
"Tadi katanya mau cuci muka? lha kok tidur. tanya Amalia menggoda. sang Ayah bersandar pada sandaran sofa, matanya terpejam, bibir nya tersenyum mendengar godaan Amalia.
"Antri dulu sayang.. ucap nya yang setia menutup matanya.
"Ya udah deh, kalau gitu Amalia ke kamar dulu ya, Yah, udah gerah banget nih," ucap Amalia sambil mengipas-ngipas wajah sendiri.
"Iya, Nak. Istirahatlah," jawab Ayah. melihat Ayah nya yang masih setia memejamkan mata nya, terlintas ide jahil untuk mengerjai Ayah nya itu.. dan...
Tiba-tiba Amalia mencium pipi Ayah nya dua kali.
CUP CUP..
Pak.Harun terkejut, reflek membuka mata nya perlahan, terlihat Amalia yang tengah berlali sambil cekikikan. ("Dasar..") gumam Pak.Harun dalam hati sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah jahil Amalia.
Amalia membalas senyum Ayahnya itu dari kejauhan, sambil berlalu menuju kamar nya.
Sesampainya di depan kamar...
"Assalamu'alaikum," sapa Amalia sambil mendorong pintu kamar pelan-pelan.
"Wa'alaikumsalam," sahut Ruqqa.
Matanya masih fokus menatap layar ponsel di tangannya, namun wajahnya terlihat jelas sembab dan matanya merah, seolah habis menangis.
("Apa Kakak baru saja bertengkar lagi sama Ibu?") batin Amalia bertanya-tanya dalam hati sambil meneliti wajah kakaknya itu dengan cermat.
"Kakak kenapa?" tanyanya memberanikan diri, mendekat ke arah Ruqqa.
"Aku?" tunjuk Ruqqa pada diri sendiri sambil mendongakkan kepala.
"Iya lah, masa hantu," jawab Amalia polos.
"Aku enggak apa-apa kok," elak Ruqqa sambil memaksakan senyum tipis.
"Beneran?"
"Beneran kok, Lia..."
"Tapi wajah Kakak kok kelihatan sembab gitu? Habis nangis ya?" tanyanya bertubi-tubi dengan nada khawatir.
"Enggak kok, mana ada nangis... elak Ruqqa mencoba meyakinkan.
"Aku kira Kakak bertengkar lagi sama Ibu. ujar nya sambil merebahkan badan nya di ranjang sang Kakak.
"Ganti baju dulu dong. tegur nya.
"Iya Kak,,, masih ngantri. ucap nya menirukan jawaban Ayah nya tadi. "(hehehe)" memejamkan mata. (nyaman) batin nya. ("pantas Ayah tadi rebahan sambil memejamkan mata ya") batin nya mengangguk kecil.
"Kok malah tidur?
"Enggak tidur Kak, cuma tutup mata aja. sahut nya tetap memejamkan mata.
tiba-tiba..
"Lia.. teriak Fajar dari luar kamar.
"huuuh.. apa sih. sahut nya masa bodoh.
"LIAAAA.. teriak nya lebih keras.
"ck, ganggu aja. omel nya sambil berjalan malas menuju pintu.
"Apa sih Kak? tanya nya jengkel sambil membuka pintu.
"Jangan marah-marah, nanti cepat tua. ejek nya.
"Kakak.. teriak nya jengkel.
"Iya iya,, ucap nya sambil mencubit hidung Adik nya pelan.
"lepas ih.. rajuk Lia sambil mencoba melepaskan cubitan sang Kakak.
"hehehe.. giliran mu tuh, tunjuk Fajar ke arah kamar mandi dekat dapur.
"heeem.. jawab Lia sambil berlalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju ganti milik nya..
Tepat pukul 13.00, Ayah mulai bersiap berangkat ngojek lagi, sedangkan Ruqqa dan Amalia yang masih sibuk dengan cucian piring bekas makan siang mereka tadi.
Dan terlihat Bu.sekar yang mulai menyulam pita-pita nya di ruang keluarga, sedangkan Fajar hanya duduk diam di dekat sang Ibu dengan bimbang di benak nya.
"Bu, panggil nya pelan, saat melihat Ayah nya sudah berangkat mengojek dan Kakak beserta Adik nya sudah berlalu masuk ke kamar mereka.
"Ya, kenapa? tanya nya dengan mata yang masih fokus melihat pada benang-benang di tangan nya.
"I Ibu kenal sama Bang Ghazi?
Deg..
Nama itu, nama yang tidak asing buat Bu.Sekar. dan seketika Bu.Sekar menghentikan kegiatan nya, lalu menoleh ke arah Fajar dengan alis yg berkerut.
"Kamu kenal dengan Ghazi? bukan nya menjawab Bu.sekar malah melontarkan pertanyaan yang sama pada Fajar.
"Ibu jawab aja dulu. Ibu kenal Bang Ghazi kan?" desak Fajar, sorot matanya tajam menatap ibunya, dipenuhi kekhawatiran dan dugaan-dugaan buruk yang makin tak karuan di kepalanya.
"Kenal..." jawab Bu Sekar lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
"Ibu ada masalah apa sama Bang Ghazi?" tanya Fajar lagi tak kalah cemas.
"Kamu enggak perlu ikut campur urusan orang dewasa," potong Bu Sekar cepat. Nada bicaranya terdengar tegas, meski jelas terselip rasa gugup yang terselip disana.
"Aku tanya baik-baik loh, Bu. Aku cuma khawatir sama Ka...."
"Pokok nya kamu enggak perlu ikut campur, Jar!" potongnya lagi, kali ini nada peringatannya makin jelas terdengar.
"Tapi..."
"Jar..." bentaknya pendek namun mengancam, menatap tajam putranya itu.
"Kasihan Kakak, Bu..." lirih Fajar tak menyerah.
"Kamu masuk aja ke kamarmu Jar," suruh nya setengah memaksa.
"Tapi Bu..."
"MASUK LAH!!" bentak Bu Sekar akhirnya, suaranya meninggi. Ia buru-buru memalingkan wajah, menghindari tatapan mata Fajar yang penuh tanya itu.
Fajar terdiam sejenak, lalu bangkit berdiri berat kaki. Ia melangkah menuju kamar dengan langkah gontai, meninggalkan ibunya sendirian di ruang tengah yang kembali sunyi. ("Ada apa sebenarnya? Rahasia apa yang Ibu sembunyikan dari kami?") batinnya berteriak kesal sekaligus bingung.
Di tempatnya duduk, Bu Sekar menghela napas panjang yang terasa berat menekan dada. ("Dari mana Fajar kenal sama Ghazi? Siapa yang bilang ke dia?") tanyanya dalam hati dengan kalut.
"Ya Allah... bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang..." gumamnya lirih, tangannya meremas dada yang terasa makin sesak, rasa gusar dan takut mulai merayapi seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba..