Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Siang itu, sinar matahari menyinari kota dengan cukup terik, namun suasana di dalam kafe mewah yang terletak di pusat bisnis itu terasa sejuk dan tenang.
Di sebuah ruang pertemuan khusus yang tertutup, Samuel Nugroho seorang CEO muda yang dikenal tegas dan berwibawa sedang menyelesaikan pembahasan penting dengan salah satu klien besar perusahaannya.
Di sampingnya berdiri Gio, asisten pribadi sekaligus sahabat karibnya sejak masa sekolah dulu.
Setelah lebih dari satu jam berdiskusi, kesepakatan pun akhirnya tercapai. Klien itu berpamitan dengan senyum puas, meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. Samuel menarik napas panjang lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, sementara Gio membereskan berkas-berkas di atas meja.
“Kerja bagus hari ini, Sam. Kesepakatan ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan kita,” ujar Gio sambil tersenyum, lalu melirik sahabatnya itu dengan pandangan yang lebih lembut. “Kamu terlihat lelah. Sudah berhari-hari ini pikiranmu melayang, bukan? Masih memikirkan apa yang sudah lama terpendam di hatimu?”
Samuel menatap jendela kaca besar yang memandang ke luar jalan raya. Suasana hatinya kembali terasa berat. “Kamu tahu semuanya, Gio. Sejak dulu hingga sekarang, rasanya tidak pernah berubah. Tapi takdir selalu saja berjalan di luar keinginanku.”
Gio mengangguk mengerti. Ia adalah satu-satunya orang yang tahu seluruh kisah perasaan Samuel tentang gadis yang diam-diam ia cintai sejak masa sekolah . tentang perjodohan yang memisahkan mereka, dan semua luka yang tersisa hingga kini.
“Ayo kita pulang saja. Atau mau minum sesuatu dulu di sini sebelum pergi?” tawar Gio.
Samuel mengangguk setuju. “Baiklah, satu cangkir kopi saja.”
Setelah memesan minuman, keduanya bersiap meninggalkan ruangan untuk duduk di area utama kafe yang lebih luas. Saat Samuel melangkah keluar dari pintu ruangan itu dengan langkah yang cepat dan pikiran yang masih melamun, ia tidak menyadari ada seseorang yang juga sedang berjalan berlawanan arah sambil membawa beberapa buku dan tas di tangannya.
BRAK!
Tabrakan pun tak terelakkan. Barang-barang yang dibawa wanita itu terjatuh berserakan di lantai. Samuel hampir terhuyung mundur karena benturan itu, sementara wanita itu segera membungkuk panik untuk mengambil kembali barang-barangnya.
Samuel mengangkat wajahnya, tatapannya langsung berubah menjadi dingin dan tajam sifat yang selalu ia tunjukkan kepada orang asing. “Apa-apaan ini? Kamu tidak melihat jalan di depanmu?” ucapnya dengan nada rendah dan tegas, terdengar sangat arogan.
Wanita itu berhenti sejenak, lalu mengangkat kepalanya sedikit. Wajahnya tertutup sebagian oleh kerudung putihnya, dan sepasang kacamata hitam yang cukup besar menutupi sebagian matanya. Suaranya terdengar lembut namun sedikit gemetar karena terkejut dan takut.
“Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja, saya sedang terburu-buru dan kurang memperhatikan arah jalan. Saya benar-benar minta maaf atas keteledoran saya,” ucapnya dengan nada sopan, lalu kembali melanjutkan mengambil barang-barangnya.
Samuel masih berdiri tegak di tempatnya, menatap wanita itu dengan pandangan yang tak berubah dingin. Ada sesuatu yang terasa samar dan tidak asing di hatinya, namun ia tidak bisa mengenalinya dengan jelas karena penampilan wanita itu yang tertutup. Ia menghela napas kesal dan bersiap melangkah pergi, tidak berniat membantu atau melontarkan kata lain selain ketidaksukaannya.
“Lain kali lebih berhati-hati. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi,” balasnya singkat, suaranya masih terdengar berat dan tak ramah.
Wanita itu hanya mengangguk pelan tanpa berani menatapnya langsung. “Baik, Tuan. Saya akan berhati-hati ke depannya. Sekali lagi saya mohon maaf.”
Sementara itu, Gio yang baru saja menyusul dan melihat kejadian itu hendak melangkah mendekat, namun matanya terbelalak sesaat.
Ada rasa samar yang muncul di pikirannya saat melihat sosok wanita itu, namun sebelum ia sempat memastikan atau berbicara apa pun, Samuel sudah menarik lengannya dan berjalan meninggalkan tempat itu.
“Sudah, Gio. Pergilah,” ujar Samuel tanpa menoleh lagi.
Ia tidak sadar, bahwa wanita yang baru saja ia bentak dan tatap dengan dingin itu adalah Samantha Alexander wanita yang selama bertahun-tahun diam-diam ia cintai, orang yang tak pernah bisa ia lupakan meski waktu telah berlalu begitu lama. Dan saat ini, tanpa disadari, jalan takdir mereka baru saja mulai bersinggungan kembali.
Setelah Samuel dan Gio pergi meninggalkan tempat itu menuju kafe lain, Samantha masih duduk sejenak untuk memastikan semua barangnya sudah rapi kembali ke dalam tasnya. Ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sempat berdebar kencang karena benturan dan tatapan dingin pria itu tadi.
Tanpa menyadari siapa sebenarnya pria yang baru saja ia temui, ia segera melangkah menuju sudut ruangan yang lebih sepi, di mana seorang wanita muda sudah menunggu sambil melambaikan tangan ramah.
“Samantha! Akhirnya kamu datang juga,” seru wanita itu Suci, sahabat dekatnya sejak masa sekolah langsung berdiri dan memeluknya erat begitu Samantha tiba di hadapannya.
Setelah melepaskan pelukan, Suci menatap Samantha dari atas hingga ke bawah dengan pandangan takjub dan sedikit tidak percaya. Matanya berkeliling mengamati setiap perubahan pada sosok sahabatnya itu.
“Ya ampun, aku benar-benar tidak menyangka melihatmu seperti ini,” kata Suci dengan nada kagum, masih mengamati Samantha. “Wajahmu tetap sama, tapi penampilanmu sekarang sungguh membuatku pangling! Kamu sudah memakai hijab, ya?”
Samantha tersenyum lembut, mengangguk perlahan. “Iya, Suci. Keputusan itu aku ambil perlahan-lahan selama kuliah di luar negeri. Semakin lama aku merasa inilah yang paling membuat hatiku tenang dan nyaman.”
“Dan lihatlah dirimu,” lanjut Suci lagi, suaranya terdengar antusias. “Kamu terlihat begitu anggun, lembut, dan bersinar. Padahal aku tahu betul keluargamu adalah salah satu keluarga terkaya di kota ini, tapi caramu berpakaian dan bersikap tetap terlihat sangat sederhana, tidak berlebihan sama sekali. Sungguh cocok sekali dengan hatimu yang baik itu.”
Samantha hanya tersenyum mendoakan pujian itu. “Terima kasih, Suci. Bagiku kemewahan bukanlah segalanya. Aku hanya ingin hidup apa adanya, sederhana tapi tetap menjaga harga diri dan ketenangan hati.”
Suci mengangguk setuju, lalu menatapnya dengan pandangan penuh rasa rindu yang terpendam. “Rasanya sudah lama sekali ya, hampir 13 tahun kita tidak bertemu. Sejak lulus SMA, kamu langsung melanjutkan kuliah ke luar negeri dan menetap di sana setelahnya. Aku hanya bisa mendengar kabarmu lewat telepon saja, rasanya ada yang kurang setiap hari tanpa kehadiranmu di sini.”
Samantha memegang lembut tangan sahabatnya itu, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar kata-kata itu. “Aku pun sangat merindukan suasana di sini, merindukanmu dan semuanya. Kemarin saat aku memberitahumu bahwa aku baru saja tiba kembali di Indonesia, bukan tanpa alasan.”
“Maksudmu?” tanya Suci cepat, penasaran.
“Aku memutuskan untuk tidak kembali lagi ke luar negeri,” jawab Samantha dengan nada mantap. “Aku ingin menetap di sini untuk waktu yang lama, bahkan mungkin selamanya. Aku ingin membangun kehidupanku sendiri di tanah kelahiranku ini, di samping keluarga dan orang-orang yang aku sayangi.”
Mendengar kalimat itu, wajah Suci langsung berseri-seri. Ia kembali memeluk Samantha dengan lebih erat, merasa sangat bahagia mendengar kabar itu.
“Benarkah? Kamu sungguh membuatku sangat senang mendengarnya!” seru Suci dengan suara yang sedikit meninggi karena kegembiraan. “Ini kabar terbaik yang kudengar dalam setahun terakhir. Akhirnya kita bisa sering bertemu lagi, berbagi cerita seperti dulu, dan tidak lagi terpisah oleh jarak ribuan kilometer.”
Samantha tersenyum lepas, merasakan kehangatan persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Di tengah kebahagiaan itu, samar-samar terlintas di pikirannya kejadian benturan tadi tatapan dingin pria itu yang entah mengapa terasa begitu membekas, meski ia tak tahu bahwa pertemuan itu hanyalah awal dari takdir yang akan menyatukan kembali jalan hidup mereka.
Bersambung...