Catarina hamil.
Kenyataan itu adalah mimpi terburuk dari banyaknya mimpi buruk yang terjadi dalam hidupnya, Dan mimpi paling buruk dari yang terburuk adalah.. Ia mengandung benih majikannya sendiri! Sosok Leonard.
Leonard adalah sosok iblis yang bersembunyi dibalik kedok seorang 'pengusaha sukses' Bagaimana tidak? dibalik topeng menawannya, ia menyimpan sisi gelap yang mengerikan. Sementara Catarina terlalu polos dan naif untuk mengartikan siapa Leonard yang sesungguhnya.
Hingga satu kejadian terjadi, kejadian fatal dimana Leonard membuat Catarina menyerah dan memilih pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AIPARIDAH JAISAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
L-28 Kepulangan Leonard
Catarina tak bisa untuk berhenti tersenyum semenjak ia melangkahkan kakinya menuju taman bunga mansion yang ia rawat bersama dengan Sheena dan kawan-kawan selama ini. Rasanya, segala penak dan beban pikirannya meluap begitu saja bila ia pergi untuk sekedar melihat bunga-bunga yang bermekaran serta rumput hijau yang menghiasi taman besar ini.
Meskipun sejatinya ini bukanlah taman miliknya, melainkan milik Leonard. Namun Catarina rawat tempat ini sepenuh hati. Setidaknya ia bisa kelupakan kesedihan dengan menghabiskan waktu untuk bercocok taman dan membersihkan tanaman.
Sudah terhitung tiga minggu sejak kepergian Leonard, selama tiga minggu pula Catarina tak pernah melihat pria itu sama sekali-pun. Yaa, dari yang ia dengar sih pria itu katanya sedang bertugas.
Lagipula Catarina tak peduli, ia justru bersyukur dapat menghabiskan waktunya dengan tenang tanpa bayang-bayang Leonard yang membuatnya takut.
Mengenai kehamilannya, kini ia sudah sedikit demi sedikit menerima kehadiran sang buah hati, lagipula anak yang ia kandung tak bersalah.
Catarina juga memutuskan untuk menjadi single mom dan menyembunyikan kehamilannya untuk sekarang, untuk kedepannya akan ia pikirkan lain kali karena Catarina mencoba untuk hidup tanpa beban fikiran yang akan membahayakan calon anaknya.
Dengan semprotan air di genggamannya, Catarina menyirami setiap tumbuhan sembari bernyanyi riang, tiba-tiba Sheena datang sembari membawa keranjang bunga favoritnya.
"Cata! aku membawa sedikit camilan dari dapur tadi, ayo makan!" ajak Sheena sembari menggelar tikar untuk duduk mereka.
Catarina mengangguk semangat sembari mematikan selang air itu, ia menghampiri Sheena yang tengah menata beberapa camilan manis di atas tikar.
"Sisakan aku kue kering!" girang Catarina.
"Tenang saja, masih banyak!" Sheena menggerutu sembari mengeluarkan kue dari keranjang dan memberikannya pada Catarina yang sudah bersila dihadapannya.
"Enawk," puji Catarina sembari menggeleng-gelengkan kepalanya kecil.
"Tumben sekali dapur membuat dessert dan banyak aneka kue kering, ada apa?" penasaran Catarina melihat banyaknya dessert yang terjadi, padahal kan itu makanan elit.
"Ck, aku lupa memberitahumu. Hari ini tuan muda dan kawan-kawannya akan kembali kesini, dan Mark bilang harus ada perjamuan!" Sheena memberitahu.
Kunyahan Catarina perlahan melambat mendengar ucapan Sheena, Leonard akan pulang? Tidak, sampai jumpa ketenangan.
"Kenapa?" tanya Sheena melihat Catarina yang melamun.
"T-tidak, emm, bukannya tuan tidak suka makanan manis yaa?" Catarina mencoba mengalihkan pembicaraan sembari terlihat menerka-nerka
Sembari menggigit kuenya Sheena menggeleng, "Aku tak tahu, mungkin formalitas saja? udahlah tidak usah dipikirkan, ayo makan dessert nyaa!"
_______
Sementara dibelahan tempat lain, tepatnya pada sebuah tempat yang gelap nan hawa yang dingin, terdapat seorang pria dengan setelan jas mahalnya tengah berbincang dengan salah satu teman dekatnya.
"Semenjak kedatangan wanita itu, kau menjadi bodoh." Sindir Leonard sembari menghembuskan asap rokoknya.
Perkataan itu sontak mengalihkan atensi Jeffrey yang tengah tertawa sendiri dengan ponselnya, pria itu berdeham.
"Ehm, apa maksudmu?" ucapnya sedikit sensi.
"Ck, bodoh." maki Leonard memutar bola matanya malas.
Lagipula, Leonard sudah muak dengan Jeffrey si biang kerok itu. Akhir-akhir ini kelakuannya menjadi abnormal, bahkan diajak diskusi saja sudah tak nyambung.
Jika tak butuh keahlian Jeffrey, lebih baik ia pulang kemudian menghabiskan malam yang indah dengan Catarina. Em, terdengar menyenangkan.
"Tidak usah memakiku, lagipula kau tidak akan mengerti." Jeffrey tak terima dirinya dimaki.
"Apa maksudmu?" Leonard mengernyitkan alisnya.
"Tentu saja kau tak akan mengerti, lagipula kau tidak pernah merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta. Hahaha." Jeffrey tertawa kemudian menciumi layar ponselnya yang menampilkan sebuah foto wanita berwajah manis.
Sungguh stres, sangat stres. Entah kemana perginya Jeffrey yang cuek dan ketus itu.
"Aku tidak peduli, lagipula cinta itu hanya pembodohan. Seperti dirimu, kau menjadi bodoh semenjak mengenal apa itu cinta." Leonard berdiri dari duduknya kemudian berlalu.
"Ck, chill bro. Bukankah kau akan menjadi seorang ayah?" Jeffrey membawanya dengan sedikit candaan.
Leonard mengernyit kemudian membalikkan badan, menatap Jeffrey seolah bertanya, 'Apa maksudmu?'
"Bukankah Lethisa bilang wanita mainanmu itu mengalami gejala kehamilan? jika bukan hamil apalagi? lagipula aku tahu kau pasti tidak suka dengan pengaman, hahaha." Tawanya disela-sela ucapan Jeffrey.
Sejenak Leonard tampak mematung tampak kaget, namun tak ada yang pria itu lakukan selain hanya diam sembari mengepalkan tangannya.