Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Nirwana Club malam itu penuh cahaya.
Musik berdentum dari lantai utama, lampu ungu dan emas bergerak di dinding, aroma alkohol, parfum, dan uang bercampur menjadi satu. Arka masuk lewat pintu samping yang dulu sering ia pakai saat masih menjadi pelayan malam.
Begitu ia muncul di lobi, beberapa pegawai langsung menoleh.
"Arka!"
Supervisor lama, Dodi, hampir berlari mendekat. Wajahnya penuh iri yang tidak sempat disembunyikan.
"Akhirnya datang juga. VIP 8 sudah tanya tiga kali."
Resepsionis perempuan di meja depan ikut membungkuk kecil, lalu berbisik, "Mas Arka, jujur saja, kenal dari mana dua tamu itu? Cantiknya bukan main. Yang satu seperti istri bos farmasi di majalah bisnis, yang satu lagi..."
"Yang satu lagi?"
"Galak. Tapi cantiknya galak."
Arka makin curiga.
Dodi menepuk bahunya.
"Kamu dulu diam-diam punya ilmu apa? Orang lain kerja bertahun-tahun cuma dapat tamu mabuk. Kamu sudah jadi sopir Bu Maya, sekarang masih ada dua wanita kelas atas bayar Rp1 miliar buat manggil kamu."
"Aku juga ingin tahu."
"Jangan pura-pura. Kalau ada ilmu pemikat, bagi sedikit."
"Kalau ada, hidupku tidak akan serumit ini."
Dodi tertawa, tetapi cepat-cepat berhenti ketika beberapa orang dari arah lorong mendekat.
Bima Hartono.
Ia memakai kemeja motif terlalu mencolok dan rantai emas tebal di leher. Wajahnya masih menyimpan sisa sakit hati sejak berkali-kali dipermalukan Arka. Di belakangnya ada beberapa anak buah.
"Wah," Bima berkata dengan suara dibuat ringan. "Bintang malam ini akhirnya datang."
Pegawai di sekitar langsung menunduk.
Arka menatapnya tenang.
"Ada urusan?"
"Urusan? Aku cuma mengingatkan." Bima mendekat, matanya menyipit. "Tamu di VIP 8 bukan wanita yang bisa kamu sentuh dengan tangan kotor pelayan lama. Jaga jarak. Layani seperlunya. Jangan mimpi naik kelas."
Arka tersenyum.
"Terima kasih atas nasihatnya, Bima."
Wajah Bima berubah. Ia paling benci mendengar Arka memanggil namanya begitu saja.
"Kamu lupa sopan santun?"
"Kalau dihitung hubungan keluarga dari Kak Maya, kamu harusnya memanggilku apa?"
Beberapa pegawai menahan napas.
Bima menggertakkan gigi.
Arka melanjutkan, "Mau telepon Kak Maya sekarang dan tanya?"
Bima tidak berani.
Sejak kejadian di vila, Maya terlalu tidak terduga. Jaya pun beberapa kali memperingatkannya agar tidak membuat masalah dengan Arka secara terang-terangan. Bima bisa marah, tetapi ia belum bodoh sampai menampar meja di depan Maya.
"Bagus," katanya akhirnya. "Kamu makin berani."
"Saya cuma bekerja."
"Lihat saja sampai kapan."
Bima berbalik hendak pergi.
Arka memanggil, "Tunggu."
Bima berhenti dengan wajah gelap. "Apa lagi?"
"Tamu VIP 8 siapa?"
Bima jelas tidak ingin menjawab, tetapi rasa ingin menunjukkan bahwa ia tahu lebih banyak membuatnya tetap bicara.
"Satu adalah Widya Anggraini. Janda mendiang pemilik Cakra Medika Group."
Arka menahan reaksi.
Cakra Medika Group adalah salah satu raksasa farmasi terbesar di Indonesia. Pemiliknya baru saja tewas ditembak saat pesta pribadi di luar negeri. Berita itu sempat mengguncang pasar. Setelah itu, Widya Anggraini mengambil alih perusahaan di tengah kekacauan internal.
Wanita seperti itu datang ke Nirwana dan membayar Rp1 miliar untuk memanggilnya?
"Yang satu lagi?"
Bima mendengus. "Temannya. Tidak jelas. Tapi jangan macam-macam."
Ia pergi dengan wajah masih penuh kebencian.
Arka merapikan kerah kemejanya dan berjalan ke lorong VIP.
Di depan pintu VIP 8 Utama, ia berhenti dan mengetuk.
"Masuk."
Suara wanita dari dalam terdengar tenang, matang, dan lembut, tetapi ada lapisan kuasa yang tidak perlu dinaikkan volumenya.
Arka membuka pintu.
Ruang VIP itu luas, lebih mirip lounge pribadi daripada kamar karaoke biasa. Lampu redup, meja marmer, sofa kulit gelap, dan sebotol wine mahal yang belum dibuka. Di sofa utama duduk dua wanita.
Wanita pertama mengenakan setelan tweed gelap bergaya elegan. Usianya sekitar awal tiga puluhan. Wajahnya cantik dengan garis lembut, tetapi matanya menyimpan lelah yang tidak bisa ditutupi bedak mahal. Kesedihan tipis di antara alisnya justru membuatnya tampak lebih berbahaya, seperti orang yang sudah kehilangan sesuatu besar dan tidak takut kehilangan lebih banyak.
Widya Anggraini.
Janda penguasa Cakra Medika Group.
Di sebelahnya, wanita kedua memakai kemeja putih sederhana dan jeans biru gelap. Tanpa seragam polisi, Shania Anggraini terlihat lebih santai, tetapi tubuhnya tetap membawa ketegasan yang sulit diabaikan. Kaki panjangnya bersilang, lengan terlipat, matanya menatap Arka dengan senyum yang tidak benar-benar ramah.
Arka berhenti sejenak.
"Bu Shania."
Shania tersenyum tipis.
"Kita bertemu lagi, Arka."
Arka menatap Widya, lalu Shania.
Mereka memang mirip. Bentuk mata, garis hidung, dan caranya menahan ekspresi. Bedanya, Widya seperti pisau yang disimpan dalam sarung beludru, sedangkan Shania seperti pisau yang sudah setengah keluar.
"Jadi kalian..."
"Kakak-adik," kata Shania. "Sulit dipercaya?"
"Tidak. Hanya agak mahal untuk reuni."
Widya tersenyum kecil.
"Rp1 miliar memang mahal untuk memanggil seorang pelayan. Tapi untuk memanggil orang yang membuat adikku penasaran, jumlah itu tidak terlalu besar."
Arka menutup pintu.
"Saya harus merasa tersanjung atau khawatir?"
Shania menjawab, "Khawatir."
Widya berkata, "Tersanjung."
Arka duduk di kursi seberang setelah mendapat isyarat dari Widya. Ia tahu malam ini bukan soal minum. Dua wanita ini punya tujuan, dan mereka memilih tempat Jaya untuk membuat pesan tertentu.
Shania menatapnya dari atas sampai bawah.
"Aku melihat rekaman ATM."
"Rekaman apa?"
"Jangan pura-pura. Kamu satu orang membuat puluhan pria Rangga jatuh seperti figuran film laga. Tapi di kantor polisi kamu bicara seperti korban paling polos se-Jakarta."
"Saya memang korban."
"Korban yang terlalu cekatan."
"Untung saya rajin olahraga."
Shania mengertakkan gigi.
Widya mengangkat gelas wine tanpa minum.
"Kamu juga sopir Bianca Lestari?"
"Benar."
"Dan sebelumnya bekerja di Nirwana."
"Benar."
"Sekarang masih membantu Maya Santoso?"
Arka menatapnya lebih serius.
Widya tersenyum. "Jangan terkejut. Kalau aku berani datang ke sini, setidaknya aku harus tahu orang yang kupanggil."
"Kalau begitu Bu Widya sudah tahu cukup banyak."
"Belum." Ia meletakkan gelas. "Justru karena belum cukup, aku memanggilmu."
Shania bersandar.
"Pertanyaannya sederhana. Kamu bergerak di antara Jaya Harim, Maya Santoso, Bianca Lestari, dan sekarang muncul di sekitar kakakku. Kamu sebenarnya mau apa?"
Arka menghela napas.
"Saya juga ingin tahu kenapa hidup saya tiba-tiba dikelilingi orang penting. Jawaban paling jujur: saya bekerja. Siapa yang membayar, saya mengemudi. Siapa yang sakit, saya obati. Siapa yang mencari masalah, saya hindari kalau bisa."
"Kalau tidak bisa?" tanya Widya.
"Saya selesaikan."
Kalimat itu pendek, tetapi membuat ruangan sedikit hening.
Widya menatapnya lebih lama.
"Menarik."
Arka merasa jebakan mulai bergerak.