NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Daren meminta bertemu Alya di restoran hotel.

Pesannya sopan.

`Kita perlu bicara sebelum situasi semakin melebar. Aku tidak ingin keluarga hancur karena salah paham.`

Alya membaca pesan itu keras-keras di depan Arga.

Arga langsung berkata, "Tidak."

"Aku belum bertanya."

"Aku menjawab lebih dulu."

"Efisien."

"Kamu tidak pergi."

"Aku pergi."

Arga meletakkan tablet. "Alya."

"Dia panik karena dokumen Rafi."

"Justru itu berbahaya."

"Aku tahu."

"Kamu menikmati bahaya?"

"Tidak. Aku memanfaatkannya."

Arga menatapnya lama.

"Bawa Satria."

"Tidak. Kalau Satria datang, Daren tidak akan bicara."

"Bawa Yusuf."

"Tentu."

"Bawa alat rekam."

"Sudah."

"Jangan minum apa pun."

"Aku bukan Karina."

"Karina juga bukan orang bodoh."

Alya berhenti.

Benar.

"Baik. Aku tidak akan minum."

Arga tampak sedikit lega, tetapi tidak cukup.

"Kalau dalam tiga puluh menit kamu tidak keluar, aku menelepon Karina dan Satria."

"Kamu mulai dramatis."

"Aku menikah denganmu. Itu efek samping."

Alya hampir tersenyum.

Pertemuan berlangsung pukul empat sore.

Daren memilih restoran dengan ruang privat berdinding kaca. Cukup terbuka untuk terlihat aman, cukup tertutup agar percakapan tidak terdengar.

Alya datang dengan blouse hitam sederhana. Yusuf duduk di area lobi, tidak jauh dari pintu restoran. Ponsel Alya merekam sejak ia duduk.

Daren sudah menunggu.

"Terima kasih sudah datang."

"Katakan."

Daren tersenyum tipis. "Langsung sekali."

"Aku punya pekerjaan."

"Menghancurkan keluarga kami?"

"Keluarga kalian cukup aktif menghancurkan diri sendiri."

Daren menatapnya. "Aku ingin menyelesaikan masalah vendor sebelum melebar."

"Vendor mana?"

"Jangan bermain bodoh, Alya. Rafi menghubungimu."

"Mas Daren memantau Rafi?"

"Aku mengawasi proyek yayasan."

"Dengan dokumen bertanggal kosong?"

Daren menghela napas. "Itu kesalahan staf."

"Yoga?"

"Mungkin."

"Menarik. Yoga juga muncul dalam kejadian Karina."

"Karena dia staf operasional. Namanya akan muncul di banyak hal."

"Termasuk hal-hal kotor."

Daren mencondongkan tubuh. "Apa yang kamu mau?"

Alya menatapnya.

Itu pertanyaan asli.

Akhirnya.

"Audit."

"Audit bisa dilakukan internal."

"Tidak."

"Kamu ingin menyeret nama Pradipta ke publik?"

"Aku ingin bukti tidak dikubur."

"Kalau yayasan rusak, program kesehatan ibu dan anak juga terdampak. Banyak orang kecil kehilangan bantuan. Kamu mau menanggung itu?"

Alya tersenyum tipis.

Kartu moral.

Selalu muncul ketika uang mulai tercium.

"Orang kecil tidak menikmati uang yang masuk vendor fiktif."

Wajah Daren mengeras.

"Kamu terlalu percaya diri untuk orang yang statusnya hanya istri Arga."

"Status itu cukup membuatmu mengundangku ke sini."

Daren diam.

Alya melanjutkan, "Mas Daren, kalau ingin damai, serahkan Yoga, buka dokumen vendor, dan berhenti memakai Rafi."

"Rafi datang karena ingin diakui."

"Dan kamu memakainya karena dia lapar."

"Semua orang punya rasa lapar. Kamu juga."

"Benar."

"Apa rasa laparmu, Alya?"

"Keadilan terdengar terlalu mulia. Jadi sebut saja kontrol."

Daren tertawa pelan. "Setidaknya kamu tahu dirimu."

"Selalu."

"Kalau aku menawarkan kontrol?"

Alya diam.

Daren membuka map kecil. Di dalamnya ada rancangan posisi: Alya sebagai penasihat program pemulihan Arga dan konsultan strategi yayasan, dengan akses resmi, honor besar, dan jalur komunikasi langsung ke Daren.

"Kamu bisa masuk sistem," kata Daren. "Secara sah. Tidak perlu perang. Arga tetap pulih. Kamu tetap punya posisi. Aku bersihkan beberapa staf yang ceroboh. Ratna akan mundur sedikit. Semua orang selamat."

Alya membaca sekilas.

Tawaran itu pintar.

Kalau ia perempuan yang hanya mencari posisi, ia mungkin tergoda. Masuk sistem, mendapat akses, dihormati, dibayar. Lalu perlahan dibuat menjadi bagian dari kebusukan yang sama.

"Bagaimana dengan obat Arga?"

"Dokter Hamzah bisa dikorbankan."

"Dikorbankan?"

"Dia memang bersalah."

"Sendiri?"

Daren menatapnya. "Kamu tidak akan mendapatkan semua kepala sekaligus."

"Aku tidak sedang berbelanja kepala."

"Kamu sedang berperang."

"Dan kamu menawarkan aku kursi di ruang musuh."

"Aku menawarkan jalan realistis."

Alya menutup map.

"Tidak."

Daren tidak tampak terkejut. "Pikirkan dulu."

"Tidak."

"Alya, idealisme tidak selalu menang."

"Aku tidak idealis."

"Lalu apa?"

"Aku sudah pernah membersihkan kekacauan yang dibuat pria ambisius. Aku tahu bau kompromi yang busuk sejak awal."

Daren menyipitkan mata.

"Rafi?"

Alya tersenyum.

"Mas Daren lebih penasaran pada masa laluku daripada masa depanmu sendiri."

Daren mendekatkan suara. "Apa pun yang kamu sembunyikan, suatu hari akan kubuka."

"Silakan. Bawa alat yang tajam."

Ponsel Alya bergetar.

Arga.

`Tiga puluh menit. Keluar.`

Alya berdiri.

"Waktuku habis."

Daren juga berdiri. "Kalau kamu terus memaksa, Rafi bisa jatuh. Nabila bisa ikut jatuh. Wiratama akan terseret. Arga belum tentu cukup kuat menahan semua."

Alya menatapnya.

"Itu ancaman paling jujur darimu hari ini."

"Itu peringatan."

"Simpan untuk orang yang masih percaya kamu peduli."

Ia berjalan keluar.

Yusuf langsung berdiri saat melihatnya.

Di mobil, Alya mengirim rekaman percakapan ke tiga tempat: laptop rumah, email cadangan, dan Arga.

Arga menelepon.

"Kamu baik-baik saja?"

"Iya."

"Dia menawarkan sesuatu?"

"Kursi."

"Kamu menolak."

"Tentu."

"Apa ancamannya?"

"Rafi, Nabila, Wiratama, kamu."

Arga diam sejenak.

"Dia menyebutku?"

"Belum tentu kamu kuat menahan semua."

Arga tertawa pelan. "Dia masih berpikir aku titik lemah."

"Kamu memang titik lemah secara medis."

"Alya."

"Tapi bukan secara keputusan."

Hening di ujung telepon.

Lalu Arga berkata, "Pulanglah. Kita dengarkan rekamannya bersama."

"Kamu yakin tidak akan marah?"

"Aku pasti marah."

"Kalau begitu?"

"Aku ingin marah dengan informasi lengkap."

Alya melihat jalan di depan.

Jakarta macet seperti biasa. Panas, padat, penuh klakson dan orang yang ingin lebih cepat sampai.

Ia menutup telepon.

Di tasnya, rekaman Daren tersimpan rapi.

Satu pintu lagi terbuka.

Dan di balik pintu itu, bau busuknya semakin jelas.

Daren tetap duduk setelah Alya pergi. Senyum sopannya retak sedikit demi sedikit.

Ia menekan nomor Ratna.

"Dia menolak."

Di ujung sana, Ratna tidak terdengar terkejut. "Tentu saja."

"Kalau Ibu sudah tahu, kenapa menyuruhku menawarkan jalan halus?"

"Karena orang yang menolak jalan halus akan terlihat pantas ketika kita beri jalan kasar."

Daren memandang lift yang membawa Alya turun. "Dia tidak takut."

"Semua orang takut. Hanya saja tidak semua takut pada hal yang sama."

"Dia tidak peduli uang, jabatan, nama keluarga. Dia bahkan tidak peduli kalau Rafi terseret."

"Dia peduli."

"Tidak terlihat."

"Karena kamu menekan tempat yang salah."

Daren diam.

Ratna melanjutkan dengan suara rendah. "Alya tidak lagi bisa dikendalikan lewat rasa malu. Dia sudah melewati itu. Tekan orang yang masih ingin diselamatkan. Rafi. Nabila. Karina. Dan terutama Arga."

"Arga makin berani."

"Berani bukan berarti kuat."

Daren menatap pantulan wajahnya di kaca gelap restoran. Di luar, Jakarta masih bergerak dengan lampu-lampu yang tidak peduli pada keluarga mana pun.

"Kalau dia tahu kita menyentuh pengobatannya?"

"Dia belum tahu."

"Kalau tahu?"

Ratna tertawa pelan. "Setiap orang sakit punya malam ketika napasnya lebih pendek dari harga dirinya."

Daren menutup mata sebentar.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa bukan hanya Alya yang berbahaya.

Ibunya sendiri jauh lebih dingin daripada yang selama ini ia kira.

Namun ia tetap berkata, "Baik. Aku akan urus Rafi besok."

"Jangan gagal lagi."

Panggilan terputus.

Daren memasukkan ponsel ke saku jas. Teh Alya masih tersisa setengah cangkir di meja. Ia menatapnya sebentar, lalu memanggil pelayan.

"Buang."

Pelayan mengangguk.

Daren berdiri. Ia harus bergerak cepat, sebelum perempuan yang ia anggap bisa dibeli itu membuat seluruh keluarga melihat lubang yang mereka gali sendiri.

Di mobil, Alya tidak langsung pulang. Ia mengirim rekaman pembicaraan itu ke tiga tempat: Karina, Satria, dan email cadangan yang tidak memakai namanya.

Karina menelepon kurang dari satu menit kemudian.

"Kamu gila? Kamu datang sendirian?"

"Aku duduk di restoran hotel, bukan gudang kosong."

"Tetap saja."

"Aku butuh dia bicara tanpa merasa diserang."

"Dan dia bicara?"

Alya melihat jalan di depan, penuh lampu rem merah.

"Dia bicara cukup banyak untuk membuktikan mereka lebih takut daripada yang mereka tunjukkan."

Karina menghela napas. "Besok Rafi jangan biarkan ke mana pun tanpa orang hukum."

"Aku tahu."

"Kamu tidak terdengar takut."

Alya menyalakan mobil. "Aku takut. Tapi sekarang takutku ada alamatnya."

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!