>>>SEASON 1<<<
Natasha yang dijodohkan dengan Fadhil, sabatnya sendiri. Harus menelan pil pahit ketika pacar Fadhil kembali disaat Natasha sudah menikah dengan Fadhil.
Lalu apa jadinya, ketika Natasha hamil, Pacar Fadhil juga mengaku hamil setelah berhasil menjebak Fadhil di saat mereka sudah putus.
Akankah Natasha memaafkan Fadhil dan menerimanya kembali? Atau memilih merelakan suaminya untuk wanita lain?
>>>SEASON 2<<<
Nazira Taraan, Anak dari Natasha.
Dan Nabilla Anastasya, Anak dari mantan Pacar Fadhil. Beranjak dewasa bersama, walaupun sering diperlakukan berbeda.
Ana, sapaan untuk Nabilla Anastasya. Gadis malang itu tidak tahu, mengapa dia diperlakukan berbeda.
Sampai dia harus dijodohkan dengan Alfath. Yang bermaksud hanya untuk mendapatkan Anak dari rahim Ana. Karena istrinya mandul.
Ana yang padahal sudah memiliki pacar saat itu tidak punya pilihan, kecuali menuruti keinginan keluarganya.
Akankah penderitaan Ana terbayarka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Yang Tak Dapat Di Hindar
Sambil menunggu Papa pulang, ku sempatkan diri untuk saling balas pesan dengan Kim Tan.
Sampai Nazira datang.
"Kak. Makan malam dulu."
"Iya sebentar."
"Cepat yaa, Papa udah nunggu."
Langsung ku hentikan aktivitas ku. Dan bergegas menuju meja makan. Di sana sudah ada Papa, Mama, Nazira, dan Oma.
Melihat tatapan tajam Oma, langsung ku tarik nafas dalam-dalam.
"Kita makan dulu." Ucap Papa setelah aku duduk di kursi meja makan. Ku lihat wajahnya yang begitu sendu. Aku yakin, pasti ada masalah besar. Karena bukan hanya Papa, Mama pun juga memiliki ekspresi yang tak dapat aku artikan.
Makan malam berlalu dengan begitu tenang, sunyi, hampa. Hanya detak jam yang terus saja berdetak tanpa henti.
***
"Ada masalah apa sebenarnya Pa ?" Ku beranikan diri untuk bertanya, setelah semuanya ku pastikan sudah selesai makan.
"Ana, sebenarnya ada masalah di perusahaan."
Aku mengangguk pelan, menunggu ucapan Papa selanjutnya.
"Perusahaan bangkrut."
"Apa !!!" Aku shock, pastinya.
"Boleh Papa minta bantu pada Ana ?"
"Minta bantuan Ana ?" Aku mengernyitkan keningku. "Memangnya apa yang bisa Ana bantu ?"
Sungguh, aku bingung sekali dengan ucapan Papa yang seakan sulit sekali untuk di ungkapkan.
"Menikahlah.."
"Hah.. Menikah ?" Aku terbelalak.
"Iyaa, nikahi CEO yang akan bersedia membantu perusahaan Papa." Papa terdiam, begitu juga dengan yang lain. Semuanya terdiam. "Dia hanya mau membantu, jika Papa bersedia menikahkan dia dengan putri Papa." Lanjutnya.
"Tapi Pa.."
"Kamu keberatan ?" Imbuh Oma secepat kilat.
"Ana masih kuliah, kalau Ana nikah trus kuliah Ana gimana ?"
"Itu bukan alasan." Imbuh Oma lagi.
"Apa yang terjadi jika Ana menolak pernikahan ini ?" Tanyaku memberanikan diri.
"Pakai di tanya lagi, ya semuanya hancur. Karier Papa kamu hancur, perusahaan hancur, semua harus tinggal di jalanan, dan kamu ! jangan harap bisa berkuliah lagi !" Ucap Oma ketus.
"Tapi.."
"Kebanyakan tapi nya. Dasar anak tidak tahu di untung. Udah bagus di terima di keluarga ini. Masih juga gak tahu balas budi."
"Cukup Ma." Ucap Papa menghentikan ocehan Oma.
"Maksud Oma apa ?" Tentu saja aku penasaran dengan ucapan Oma tersebut.
"Kamu itu anak haram !"
"Ma cukup !!!" Bentak Papa.
"Fadhil, sampai kapan kamu mau merahasiakan semua ini sama dia. Suatu saat dia juga harus tahu. Kalau dia adalah anak haram dari wanita yang sudah menjebak mu."
"Ma !!!" Untuk kesekian kalinya Papa meninggikan suara yang sama sekali tak berpengaruh terhadap Oma.
Sedangkan aku, jangan tanya seperti apa hancurnya hatiku. Ku lihat Mama yang sudah menangis sedari tadi. Menambah keyakinan ku, jika yang di katakan Oma benar.
"Maafin Ana Pa, Ma." Secepat mungkin aku langsung meninggalkan mereka di meja makan dan menuju ke kamarku. Aku menangis sejadi-jadinya.
Hatiku sakit sekali mendengar ucapan Oma.
"Tuhan, apa maksud dari semua ini ? Apa yang sebenarnya Kau rencanakan ?"
Tak ku pedulikan lagi notifikasi di ponselku. Aku tahu, itu pasti dari Kim Tan. Apa coba yang harus aku katakan kepadanya tentang rencana konyol ini.
Pikiranku terus melayang entah kemana. Belum lagi bisa menerima rencana konyol itu, kini justru aku harus di hadapkan dengan kenyataan bahwa aku bukan anak dari Mama.
Lalu, siapa ibu ku ?
Dimana dia ?
Mengapa dia bisa melakukan hal segila ini ?
Aku tertidur didalam isakkan tangisku.
Paginya, ku beranikan diri untuk menemui Mama, karena dia orang yang selama ini paling dekat denganku. Orang yang selalu mendengar keluh kesah ku. Orang yang ku anggap malaikat pribadi ku.
Saat akan menemui Mama, aku melihat Papa yang sedang duduk di ruang tengah. Termenung, sendirian.
Setelah beberapa saat terhenti, kembali ku langkahkan kaki ku. Aku mencoba menuju ke kamar Mama, berharap dia berada di sana.
Dan benar saja. Dia sedang terbaring di tempat tidur.
"Ma.." Ku dekati dia. Mama langsung duduk saat melihat aku mendekatinya.
Aku duduk disamping Mama. Ku perhatikan matanya yang sembap karena menangis.
"Sayang." Ucap Mama lirih. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Boleh Ana tanya sesuatu ?"
Mama hanya mengangguk.
"Siapa ibu Ana yang sebenarnya ?"
"Ana yakin ingin tahu segalanya ?"
Aku mengangguk yakin. Mama akhirnya menceritakan semuanya. Sedetail-detail nya.
Kini aku paham, mengapa Oma selalu membenciku. Mengapa Oma membeda-bedakan aku dengan Nazira.
Tentu saja, aku begitu kecewa dengan kenyataan ini.
"Terimakasih Ma, karena Mama masih mau menerima Ana, setelah apa yang di lakukan oleh ibu kandung Ana."
"Sayang, jangan anggap ini sebagai pemisah jarak di antara kita. Karena tidak ada yang berubah. Ana tetap Anak Mama, tetap Kakak bagi Nazira, dan Cucu bagi Oma."
Aku begitu terharu mendengar ucapan Mama, betapa tulus hatinya. Air mata begitu saja mengalir di pipiku.
"Tapi Ma, Ana belum siap untuk menikah."
"Tidak apa sayang, Papa tidak berniat memaksamu. Papa hanya ingin bertanya kepadamu. Jika kamu tidak setuju, tidak apa-apa. Kami mengerti. Dan bukan kamu yang seharusnya menanggung semua masalah ini. Maafkan kami."
Dielusnya pelan kepala ku. Penuh kasih sayang.
Sudah benarkah yang aku lakukan ini ? Sanggup kah aku melihat kehancuran di kedua hati orang Tua Ku ? Tidak bisakah aku membalas budi baik mereka seperti yang Oma katakan.
Aku merasa otak ku akan pecah memikirkan masalah ini.
Semua wajah penghuni rumah ini terlihat sendu. Dan membuat hatiku terasa sakit sekali setiap kali harus menyaksikan kesedihan di wajah mereka.
Setelah memikirkan nya beberapa hari. Ku beranikan untuk mengambil keputusan. Keputusan yang mungkin akan aku sesali seumur hidup ku.
Ku temui Papa, dan ku sampaikan keputusanku.
"Pa.. Ana setuju dengan rencana Papa." Ku ucapkan kata-kata itu dengan suara yang bergetar. Tentu saja itu bertolak belakang dengan kata hatiku. Namun, hanya ini yang dapat aku lakukan untuk mereka yang sudah menyayangiku dengan tulus selama ini.
Papa bangkit dari tempat duduknya. Terlihat jelas ekspresi terkejut di wajahnya.
"Ana yakin ?"
Aku mengangguk.
Papa langsung memelukku.
"Terimakasih kasih sayang, terimakasih."
Aku menangis, mendengar suara Papa yang begitu lirih menahan tangis nya.
"Akan Ana lakukan apa saja, asal kalian bahagia." Gumam ku dalam hati.
Dan setelah mengetahui bahwa aku setuju dengan keputusan Papa, baru bisa ku lihat kembali senyum di wajah Mama, senyum yang belum aku lihat untuk waktu yang cukup lama. Tak henti-hentinya mereka berterimakasih pada ku. Seakan aku baru saja jadi pahlawan di dalam hidup mereka.
Ku yakinkan diri. Bahwa aku tidak akan mengubah keputusanku ini.
"Maaf Kim Tan, ternyata pertemuan kita cuma hanya sampai beberapa hari yang lalu saja. Maafkan aku, semoga kamu bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku. Jangan tanya seberapa hancurnya hatiku, karena harus melepaskan mu. Harus menghilang dari hidupmu. Aku sangat-sangat mencintaimu. I Love You." Itu hanya ucapan tak tersirat untuk Kim Tan, aku tidak punya keberanian untuk mengatakan padanya. Aku menghilang begitu saja, tanpa kabar, dan tidak dapat dihubungi lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan cepat-cepat END