NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: 180 Detik dalam Kegelapan

Malam sedingin es, merayap pekat di atas atap-atap kastel megah keluarga Garrick. Di dalam ruang kendali bawah tanah Mansion Kedua yang remang-remang, atmosfer terasa begitu tegang hingga desing ribuan kipas prosesor komputer terdengar seperti dengung lebah yang mengancam. Adrian Garrick, sang peretas jenius berwajah pucat, duduk kaku di depan barisan monitor raksasa yang memancarkan cahaya biru neon.

Sepasang matanya yang dibingkai lingkaran hitam tebal bergerak cepat, membaca ribuan baris kode enkripsi militer milik faksi pertama yang terus bergulir. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. Jemari tangannya melayang di atas tombol enter mekanik, gemetar bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang meledak-ledak.

"Operasi dimulai sekarang. Ingat, waktu kalian hanya 180 detik," suara Adrian memecah keheningan, terdengar dingin, statis, dan bergetar melalui sambungan frekuensi radio terenkripsi yang terhubung langsung ke earpiece nirkabel milik Xavier dan Julian. "Satu detik saja kalian terlambat, sistem cadangan otomatis faksi pertama akan mendeteksi anomali dan mengunci seluruh sektor bawah tanah. Kalian akan terkubur hidup-hidup di sana. Tiga... dua... satu... shutdown."

Bzzzttt!

Detik itu juga, kegelapan mutlak menelan ruang bawah tanah Mansion Utama. Seluruh pasokan listrik utama diputus. Kamera pengawas berkedip merah lalu mati, sensor gerak melumpuh, dan jeruji besi elektromagnetik kehilangan dayanya selama tiga menit ke depan.

Di dalam koridor yang gulita dan berbau mesiu itu, sebuah bayangan tinggi melangkah maju dengan kecepatan yang menakutkan. Xavier Garrick tidak lagi mengenakan setelan jas sutra flamboyannya yang biasa. Malam ini, dia mengenakan mantel taktis hitam pekat yang menyatu sempurna dengan kegelapan, menyembunyikan sepasang belati dan senjata api berperedam di balik tubuhnya. Di luar kompleks mansion, di balik rimbunnya hutan pinus yang berkabut, Julian Garrick berdiri mengawasi perimeter. Julian memegang radio satelit, bersiap mengerahkan tim penembak jitu faksi kedua jika Cedric mendadak menyadari infiltrasi ini dan menggerakkan pasukan militernya.

Xavier tiba di pos penjagaan terdalam hanya dalam waktu tiga puluh detik. Di balik meja beton, kepala sipir faksi pertama sedang mengumpat kasar, meraba-raba kegelapan untuk mencari senter dan radio komunikasinya. Sebelum pria paruh baya itu sempat menyentuh alat komunikasinya, sebilah pisau dingin sudah menempel erat di urat lehernya, sementara sebuah tangan kekar mencengkeram bahunya dengan daya cengkeram yang sanggup meremukkan tulang.

"Jangan bergerak jika kamu masih ingin melihat matahari terbit," bisik Xavier, suaranya terdengar begitu rendah, parau, dan dipenuhi aura iblis yang siap mencabik.

Menggunakan tangan kirinya, Xavier melemparkan sebuah kartu hitam khusus ke atas meja besi. "Eleanor memotong anggaran divisimu sore ini. Dia memperlakukanmu seperti anjing penjaga yang bisa dibuang kapan saja. Di dalam kartu itu ada dana tak tercatat sebesar dua juta euro. Berikan aku kunci sel nomor empat, matikan radiomu, dan pergilah lewat pintu utilitas belakang sebelum aku kehilangan kesabaranku."

Mendengar nominal angka yang fantastis dikombinasikan dengan dinginnya bilah pisau di lehernya, loyalitas sang sipir runtuh berkeping-keping. Dengan tangan gemetar hebat, dia meraba seikat kunci besi di pinggangnya, meletakkannya di atas meja, lalu mundur perlahan sebelum akhirnya berlari menghilang menembus kegelapan malam.

Xavier menyambar kunci-kunci itu. Sisa waktu di layar earpiece-nya berkedip merah dengan kejam: 90 detik lagi.

Klek. Cklek.

Pintu besi sel nomor empat yang tebal dan berkarat terbuka dengan suara gesekan yang memilukan. Xavier melangkah masuk, menyalakan sebuah senter kecil berintensitas rendah. Begitu seberkas cahaya putih pucat itu jatuh ke atas dipan semen di sudut ruangan, jantung sang pangeran kasino seolah berhenti berdetak seketika. Amarah yang belum pernah dia rasakan sebelumnya membakar dada Xavier hingga matanya memerah.

Alana terbaring menyamping di atas semen yang dingin tanpa alas apa pun. Gaun abu-abu kusam yang dipakainya telah hancur, robek berkeping-keping dan menempel lekat pada luka sabetan cambuk di punggungnya yang mengerikan. Kulit punggung gadis itu pecah, mengalirkan darah segar yang sebagian telah mengering dan lengket menempel pada semen. Napas Alana terdengar begitu pendek, tersengal-sengal, dan tubuh kecilnya bergetar hebat akibat demam tinggi yang ekstrem karena infeksi luka-lukanya.

"Mitra Kecil..." desis Xavier, suaranya bergetar oleh perpaduan antara kemarahan yang meluap-luap terhadap Eleanor dan rasa ngeri yang tak terucapkan.

Xavier berlutut di samping dipan. Dengan gerakan yang teramat lembut—kontras dengan reputasinya yang kejam—dia melepas mantel hitamnya, membungkus tubuh Alana yang rapuh untuk melindunginya dari udara dingin yang menggigit, lalu mengangkat tubuh itu ke dalam dekapan lengannya. Saat berat tubuh Alana berpindah ke lengannya, Xavier tertegun. Gadis ini terlalu ringan, seolah-olah dia hanya terdiri dari tulang dan tekad yang rapuh.

Sentuhan fisik itu mengirimkan gelombang rasa sakit baru ke punggung Alana. Kesadarannya yang berada di ambang batas kegelapan terpaksa tersentak bangun. Melalui kelopak mata yang terasa seberat timah dan pandangan yang buram akibat air mata serta demam, Alana menatap rahang tegas pria yang mendekapnya. Aroma parfum mahal bercampur tembakau yang familier menyeruak masuk ke indra penciumannya.

"Tuan Muda Xavier...?" bisik Alana, suaranya terdengar begitu parau, lemah, dan hancur, nyaris tersendat di tenggorokan.

Xavier tidak langsung berbalik untuk berlari keluar. Sisa waktu di telinganya terus berjalan mundur dengan kejam: 45 detik lagi. Tetapi, ada satu pertanyaan beracun yang sejak malam malam formal tadi mencakar dinding otaknya, memicu rasa penasaran dan ego narsistiknya hingga ke titik tertinggi. Dia menahan tubuh Alana di ambang pintu sel, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih gadis itu yang berjuang mempertahankan sisa-sisa kesadaran di bawah temaram cahaya senter.

"Julian ikut mempertaruhkan nyawanya dan berjaga di perimeter luar untuk menyelamatkanmu malam ini, Alana," bisik Xavier, nada suaranya terdengar sangat berbahaya, tajam, dan penuh dengan kecurigaan yang terselubung. "Bagaimana bisa kamu membuat si bajingan berotak strategi itu bergerak demi dirimu? Permainan ganda apa yang sedang kamu mainkan di belakangku, hm? Katakan padaku, siapa aku di matamu?!"

Alana memejamkan matanya sesaat, merasakan gemuruh dada Xavier dan detak jantung pria itu yang memburu cepat. Bahkan di saat tubuhnya hancur dan jiwanya sekarat, kecerdasan taktis sang profesional dunia modern di dalam dirinya menolak untuk lumpuh. Dia tahu betul bagaimana cara menjinakkan dan mengunci kesetiaan seorang pria egois dan narsistik seperti Xavier Garrick. Dia harus memberikan jawaban yang menempatkan Xavier di atas segalanya.

Alana membuka kembali sepasang matanya. Kilatan dingin, misterius, dan penuh pesona manipulatif yang mematikan memancar dari balik matanya yang sayu dan basah.

"Tuan Muda Julian... hanya mengincar dokumen pernikahan saya... demi menghancurkan militer Tuan Muda Cedric," bisik Alana, napasnya yang panas akibat demam berembun di ceruk leher Xavier saat dia memaksakan setiap kata keluar. "Tetapi Anda... Tuan Muda Xavier... Anda adalah satu-satunya pria... yang memegang kendali atas hidup saya. Jangan biarkan... faksi kedua... mengambil keuntungan lebih banyak... dari apa yang sudah menjadi milikmu..."

Mendengar pengakuan yang dirancang dengan sangat genius itu, ego gila dan obsesi Xavier seketika terpuaskan sepenuhnya. Alana tidak berbohong tentang Julian, tetapi dia dengan cerdas memosisikan Xavier sebagai penguasa mutlak atas dirinya. Senyuman penuh kemenangan dan kegelapan terukir di wajah tampan Xavier.

Namun, begitu kata-kata terakhir itu selesai diucapkan, batas pertahanan fisik tubuh Alana benar-benar mencapai titik nadirnya. Beban rasa sakit yang luar biasa dari luka cambuknya, dikombinasikan dengan kelelahan mental yang ekstrem setelah memanipulasi seluruh isi mansion, membuat kesadaran Alana runtuh total. Dunianya seketika berubah menjadi gelap gulita. Kepalanya terkulai lemah ke dada Xavier, sepasang matanya terpejam rapat, dan dia jatuh pingsan tak sadarkan diri sepenuhnya dalam pelukan sang pangeran kasino.

"Xavier! Waktu habis! Sistem cadangan otomatis menyala dalam lima... empat... tiga...!" suara Adrian berteriak panik melalui earpiece, memecah keheningan koridor.

Xavier tidak membuang waktu lagi. Dia mengeratkan dekapannya pada tubuh Alana yang sudah tak sadarkan diri, melindunginya dengan seluruh badannya, lalu berbalik dan berlari secepat kilat menembus koridor bawah tanah yang gelap gulita.

Tepat saat boots taktis Xavier melewati pintu keluar utilitas, sirkuit listrik cadangan faksi pertama menyala kembali. Lampu darurat berwarna merah darah seketika menyala di seluruh penjuru ruang bawah tanah, disusul suara sirine raung kemacetan yang memekakkan telinga, memecah kesunyian malam dan membangunkan seluruh Mansion Utama.

Sang Dalang telah berhasil direbut dari cakar sang permaisuri. Di bawah dekapan faksi ketiga, Alana kini dibawa menuju badai perang saudara yang sesungguhnya, yang siap membakar habis seluruh fondasi keluarga Garrick.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!