NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Perjalanan Lintas Waktu

Bogor, 24 Desember 2024

"Gua nggak apa-apa, Il," ucap Arinta setengah meyakinkan.

"Kalo nggak apa-apa, kenapa baru kasih kabar sekarang? Pasti lu kenapa-kenapa," suara Aguil terdengar meninggi dari seberang telepon.

"Ya karena kemarin gua masih kaget. Itu lumrah buat orang yang baru ditinggal!"

"Kan lu nggak sendiri di sana. Ada si kembar, ada Aru. Masa salah satu dari mereka nggak ada yang ngabarin gua sama sekali?!"

Arinta menghela napas pelan. Jujur saja, ia tidak punya energi untuk sekadar berbicara, apalagi berdebat. Namun, untuk Aguil, pengecualian.

"Gua yang larang mereka. Gua tau lu nggak bisa ngeliat gua kenapa-kenapa, tapi gua juga tau..." Arinta menjeda kalimatnya.

"Waktu buat keluarga lu prioritas utama," lanjutnya lirih di akhir.

"Tapi lu juga keluarga gua, Ta. Kita bisa dibilang saudara. Kita sepersusuan, kalo lu lupa."

Tak ada lagi sahutan yang keluar dari mulut Arinta. Air matanya masih saja suka meluap tanpa izin sejak kemarin.

"Sekarang lu lagi di rumah? Sama siapa?"

Arinta masih enggan menjawab. Bukan. Lebih tepatnya, ia takut kalau Aguil tahu ia sedang menangis.

"Ta?"

"Maaf..."

"Lu nangis ya?"

"Arinta? Lu kenapa?"

Samar, Aguil bisa mendengar suara seorang perempuan dari seberang sana, yang ia tebak adalah suara Aru.

"Lagi telepon sama siapa?" tanya Aru pada Arinta, tapi tak mendapat jawaban.

"Halo?"

Aguil kembali tersadar saat suara seseorang menyapa indera pendengarannya.

"Iya. Arinta kenapa, Ru?"

"Oh, elu, Il. Lu ngomong apa sampe Arinta nangis begini?" tanya Aru.

Di sisi lain, Arinta berusaha menyangkal dengan menggelengkan kepala.

"G-gua nggak ngomong apa-apa."

"Gua tutup dulu ya, Il. Kayaknya Arinta masih belum stabil buat diajak ngobrol," ucap Aru.

"Oke. Titip Arinta ya, Ru."

Begitu saja telepon terputus.

"Shut.. Shut.. Shut.. Nggak apa-apa, Ta." Aru memeluk sahabatnya sambil berusaha menenangkan.

"Capek, Ru." Arinta berusaha menyuarakan apa yang dia rasakan.

"Ngerti kok. Nggak apa-apa, sekarang istirahat dulu aja. Jangan mikir macem-macem."

Aru melirik sekilas ke arah jam dinding. Sudah jam setengah enam. Suara-suara orang yang mengaji sedari malam di ruang tamu masih samar terdengar, yang ternyata hanya dapat memberikan ketenangan sesaat untuk Arinta.

"Lu kalo mau pulang, pulang aja, Ru. Lu udah semaleman di sini," ucap Arinta dengan suara parau.

Aru menggeleng.

"Neng, udah bangun? Mau sarapan sekarang?" tanya Bi Ilah, adik mendiang sang ayah.

"Kalo mau, bibi bawain ke kamar, di depan masih ada yang ngaji."

"Nanti aja, Bi," sahut Arinta.

"Bang Ari lagi di mana? Masih nemenin yang ngaji?"

"Ari lagi mandi," jawab Bi Ilah.

"Neng Aru mau makan sekarang? Biar bibi siapin." Bi Ilah beralih ke Aru yang sedari tadi hanya menyimak.

"Enggak, Bi. Nggak usah repot-repot, bentar lagi Aru pulang kok, mau bersih-bersih sama sarapan di rumah," tolak Aru.

Bi Ilah mengangguk. "Nanti ke dalam dulu kalo mau pulang. Bibi bungkusin aja," ucapnya, lalu melenggang pergi.

"Lu nggak apa-apa gua tinggal sendiri, Ta?"

Arinta mengangguk sambil menatap Aru meyakinkan.

"Nggak apa-apa. Ini juga gua mau mandi. Nanti gua nyusul ke rumah lu."

"Oke.. Gua pulang dulu ya?"

Arinta mengangguk lagi.

Keduanya beranjak dari kamar dengan tujuan yang berbeda.

"Arinta?" panggil Ghifari sesaat sebelum sang adik masuk ke kamar mandi.

Arinta hanya menoleh untuk menanggapi.

Hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Ghifari sadar, dirinya memang terpukul atas kepergian ayah, tapi sang adik pasti jauh lebih terpukul. Mengingat Arinta adalah bungsu dikeluarganya, yang kasih sayangnya tidak seutuh yang didapatkan Ghifari.

Arinta memang tidak mengalami kejadian traumatis tersebut secara langsung, tetapi perlakuan sang ayah membuatnya merasa tidak diterima. Tidak semata-mata karena sang ayah mengabaikannya, tapi karena perlakuan yang Arinta terima sejak kecil tidak sepenuhnya menyenangkan.

Ia mungkin tumbuh dengan perasaan tidak dicintai, kurang percaya diri, atau merasa ada yang salah dengan dirinya.

Arinta mungkin bertanya-tanya, “Apa aku yang menyebabkan semua ini?” karena ibu meninggal saat melahirkannya dan ayah seolah menjaga jarak dengannya. Bahkan cerita tentang sang ibu saja ia dapatkan dari Ghifari, bukan sang ayah.

Ghifari menggeleng. Tidak. Dia hanya ingin memastikan sang adik masih bisa merespons atau tidak.

Arinta yang kebingungan pun langsung memasuki kamar mandi tanpa menunggu respon apapun lagi.

***

"Bang?" panggil Arinta di sela-sela mengunyah sarapannya yang tanpa selera.

"Kenapa?" sahut Ghifari.

"Abis ini Arinta mau ke rumah Aru. Boleh kan?"

Ghifari malah melihat ke arah Bi Ilah dan Bi Pita yang tak jauh dari sana.

"Jangan lama-lama, supaya bisa bantuin si Bibi buat nyiapin tahlilan nanti malam."

Arinta mengangguk.

"Arinta udah selesai. Arinta mau nunggu si kembar di depan, katanya mereka mau ke sini." Begitu saja, lalu Arinta beranjak ke depan.

Arinta mendudukkan bokongnya di kursi teras, sambil menatap langit pagi yang terlihat mendung.

Tiin..

Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Arinta.

"Ta? Gaskeun!" teriak Tami dari kursi belakang, sementara Tama di kursi kemudi.

Arinta menatap heran mobil Honda Brio berwarna hitam itu. Ia mendekat untuk memastikan kalau memang si kembar yang ada di dalam.

"Naik, Ta! Si Tama udah bikin SIM tenang aja, dia kan udah tua," ucap Tami.

"Lu juga tua ya sat!" Tama menatap Tami tajam.

"Iye, iye. Emosian amat, Bang," ucap Tami.

Tanpa babibu, Tami turun dan membukakan pintu depan untuk Arinta masuki, tepat di sebelah Tama.

"Kenapa gua jadi di depan?" tanya Arinta.

"Kalo lu di belakang sendirian, gua takut lu kesambet gara-gara ngelamun. Terus kalo lu sama Tami di belakang, nanti gua jadi kayak sopir," jelas Tama.

"Ck.. Sa ae, Bang Tama nyari alasan," sahut Tami.

"Rumah Aru nggak jauh-jauh banget loh. Kenapa pake mobil segala?" tanya Arinta.

"Biasa, Ta. Si alem ini mau pamer," sahut Tami.

"Ngomong lagi, gua turunin lu, Mi!" ancam Tama.

Bibir ketiganya memucat saat tiba-tiba ada truk yang oleng ke arah mereka dari tikungan. Tama berusaha mati-matian banting setir ke arah berlawanan, tapi upayanya sia-sia. Semuanya terlihat memburam dan... Gelap.

***

Hal pertama yang Arinta lihat adalah ruangan serba putih dengan bau obat-obatan khas.

Ia mengerjap pelan sebelum benar-benar membuka mata. Merasakan rasa sakit yang menjalar di seluruh kepalanya yang diperban.

"Dimana?"

Arinta berusaha bangun dan mencari seseorang.

"Bang Ari? Ini dimana?" hanya nama itu yang terlintas dalam pikiran Arinta.

Seorang perawat mendekat. Arinta menatap bingung sang perawat, terlihat sangat asing, tapi ia berusaha mengabaikan itu.

"Ini dimana, Sus?" pertanyaan retoris begitu saja meluncur dari mulut Arinta.

"Di rumah sakit, mbak. Mau saya bantu hubungi keluarga mbaknya?" tawar suster perempuan tersebut.

Arinta meraba bajunya, melihat ke sekeliling, tapi tak kunjung menemukan apa yang ia cari.

"Cari apa, mbak?"

"Handphone saya nggak ada," ucap Arinta.

Suster itu berusaha menenangkan kepanikan Arinta.

"Sebentar ya, mbak, saya coba pinjam ke suster lain."

Arinta menatap punggung suster yang sudah menghilang keluar. Tak lama si suster kembali dengan sebuah ponsel di tangannya.

"Ini mbak, saya pinjam punya Dokter Miza. Pake aja katanya, beliau udah punya ponsel baru," si perawat tersenyum manis ke arah Arinta.

Arinta tidak bisa untuk tidak terbelalak melihat ponsel yang disodorkan oleh si suster.

"Sus, ini serius saya dikasih handphone jadul?"

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!