maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Di antara ketegangan yang nyaris meledak antara Aldermann dan kedua komandan militer, sesosok pria lain yang duduk di barisan menteri muda berusia 30-an perlahan menegakkan tubuhnya.
Pria itu adalah Menteri Claude. Sosoknya langsung mencuri perhatian karena penampilannya yang sangat unik dan mencolok—dia adalah seorang albino. Rambutnya seputih salju yang tertata rapi, senada dengan kulitnya yang sangat pucat, hampir transparan di bawah siraman cahaya jendela ruang konsul. Sepasang manik matanya yang berwarna merah muda keunguan memancarkan ketenangan, sangat kontras dengan mata biru Aldermann yang penuh ambisi busuk.
Claude meletakkan kedua telapak tangannya yang terbalut sarung tangan sutra putih di atas meja, lalu tersenyum sangat tipis dan lembut ke arah Maizy. Sifatnya yang sopan, anggun, dan berwibawa seketika membawa angin segar di dalam ruangan yang mencekik itu.
"Tolong tenangkan diri Anda, Menteri Aldermann," ucap Claude. Suaranya terdengar sangat lembut, mengalun tenang seperti musik klasik, namun memiliki ketegasan yang sanggup membungkam bisik-bisik para menteri lain.
Claude menoleh ke arah Aldermann, menatap rekan sejawatnya itu dengan pandangan teduh namun menyangkal argumennya secara telak. "Menuduh Nona Muda Maizy melakukan konspirasi politik dan pengkhianatan tanpa bukti yang sah adalah tindakan yang sangat tidak sopan, terlebih di hadapan dua komandan tertinggi kita. Kita semua tahu seberapa besar kesetiaan mendiang Duke Falkenhayn terhadap Kekaisaran Winterhall. Apakah pantas kita membalas jasa beliau dengan menyudutkan putri tunggalnya yang sedang terluka?"
Aldermann mendengus kaku, rahangnya mengatup rapat mendapat teguran halus namun menohok dari Claude.
Claude kemudian beralih menatap Maizy sepenuhnya. Tatapan mata merah mudanya yang lembut seolah memahami ketakutan di balik kacamata cadangan Maizy.
"Nona Muda Maizy," panggil Claude dengan nada yang luar biasa sopan, membungkukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat yang tulus. "Kondisi di hutan terlarang memang sangat berbahaya bagi siapa pun, apalagi bagi seorang nona yang terbiasa hidup di dalam paviliun istana yang tenang. Saya pribadi sangat memahami jika trauma tersebut membuat ingatan Anda tentang Winterhall menjadi kacau atau memicu ilusi yang aneh. Tolong jangan merasa tertekan oleh pertanyaan rekan saya tadi."
Maizy seketika merasakan gelombang kehangatan dan rasa lega yang luar biasa. Wah, untung ada menteri albino yang baik ini, batin Maizy bersyukur. Kehadiran Claude yang sopan dan pengertian membuat Maizy merasa memiliki sekutu baru di ruang persidangan kaku ini.
Frederick yang melihat Claude membela Maizy perlahan melonggarkan genggaman pedangnya, meskipun mata abu-abunya masih tetap waspada. Sementara Cade hanya melirik Claude dari sudut matanya dengan dengusan tipis, setidaknya merasa puas karena mulut comel Aldermann berhasil dibungkam.
Claude kembali tersenyum lembut pada Maizy, memberikan ruang aman baginya untuk berbicara. "Nona Muda, ambillah napas dalam-dalam. Jika Anda berkenan, ceritakan kepada kami dengan tenang... apa yang sebenarnya Anda rasakan atau ingat tentang silsilah Kekaisaran Winterhall ini, agar kami bisa membantu meluruskan ingatan Anda yang tumpang tindih."
Sebelum Maizy sempat membalas kebaikan Claude, atmosfer ruangan kembali berubah drastis. Senyum miring Aldermann yang sempat pudar kini kembali mengembang penuh kemenangan saat tiga menteri muda lain yang duduk di sebelahnya mulai menegakkan tubuh.
Mereka adalah Otto, Dietrich, dan Wolfram—tiga menteri berusia 30-an yang terkenal sebagai faksi radikal bentukan Aldermann. Mereka berempat terbilang sekongkol untuk mengguncang posisi keluarga kekaisaran, dan kepulangan Maizy yang linglung adalah umpan politik yang terlalu manis untuk dilewatkan.
Menteri Otto, pria berambut cokelat dengan kumis tipis yang kaku, langsung memotong pembicaraan Claude dengan tawa hambar yang menyebalkan.
"Oh, Menteri Claude, Anda selalu terlalu berhati lembut," sindir Otto, matanya yang licik menatap Maizy dari atas ke bawah. "Kita tidak sedang berada di kelas tata krama. Ini Dewan Agung Kekaisaran Winterhall! Jika Nona Muda Maizy bisa berteriak-teriak lancang tentang 'tahun 2026' di depan Yang Mulia Kaisar, artinya mentalnya cukup kuat untuk menjawab pertanyaan kami, bukan?"
Belum sempat Frederick mengamuk, Menteri Dietrich—pria bertubuh jangkung dengan kacamata berlensa satu monocle—ikut menyahut sambil merapikan tumpukan dokumennya dengan kasar.
"Benar sekali yang dikatakan Otto," timpal Dietrich dingin, menatap Maizy dengan pandangan skeptis. "Sebagai menteri keuangan, saya harus mempertimbangkan efisiensi. Dua divisi militer elit yang dipimpin Komandan Aldrich dan Komandan Reinart dikerahkan hanya untuk mencari satu orang yang mogok karena perjodohan. Jika ingatan Nona Muda terus-menerus 'tumpang tindih' setiap kali ditanya soal tanggung jawab negaranya, bukankah ini hanya taktik mengulur waktu?"
Suasana semakin memanas ketika Menteri Wolfram, yang berwajah dan berambut merah gelap, ikut menggebrak meja konsul dengan pelan namun penuh penekanan.
"Inti masalahnya adalah stabilitas, Claude!" seru Wolfram, matanya menatap tajam ke arah Maizy, bersekongkol penuh dengan Aldermann untuk menyudutkan gadis itu. "Kerajaan lawan sedang menunggu kepastian pernikahan politik ini. Kita tidak bisa mengirim seorang pengantin yang kehilangan akal sehatnya ke istana lawan! Jika Nona Muda Maizy memang sudah tidak kompeten, faksi kami berhak mengusulkan kepada Yang Mulia Kaisar agar hak waris paviliun barat ditinjau kembali!"
Serangan bertubi-tubi dari Aldermann, Otto, Dietrich, dan Wolfram membuat ruang konsul dipenuhi bisik-bisik tegang dari para menteri senior. Mereka berempat benar-benar kompak menembakkan pertanyaan dan sudut pandang yang menyakitkan, berniat menjatuhkan mental Maizy di depan umum.
Melihat Maizy dikeroyok argumen oleh empat orang sekongkol itu, Claude hanya bisa mengembuskan napas panjang dengan raut wajah kecewa, sementara Frederick sudah menaruh telapak tangan kekarnya di gagang pedang dengan urat-urat yang menonjol di lengan-nya. Cade pun sudah memasang wajah super ketus, siap membungkam mulut para menteri muda itu dengan kekerasan militer jika situasi semakin tidak terkendali.
Di balik lensa kacamatanya, otak cerdas Maizy menganalisis faksi-faksi ini. Oh, jadi Aldermann punya antek-antek namanya Otto, Dietrich, sama Wolfram. Noted. Berempat mau ngeroyok gue pake politik Maizy yang tadinya tertekan kini justru memicu adrenalinnya. Dia tahu, jika dia ingin bersenang-senang di istana Winterhall ini, dia harus menghancurkan argumen empat orang sekongkol ini terlebih dahulu dengan elegan.
Melihat dirinya dikeroyok oleh faksi Aldermann, Otto, Dietrich, dan Wolfram, Maizy justru menarik napas dalam-dalam. Ketakutannya menguap seutuhnya, digantikan oleh ketenangan mutlak seorang mahasiswa Winterhall modern.
Oh, kalian mau main-main soal sejarah dan stabilitas politik Winterhall abad ke-19 sama gue? batin Maizy tersenyum puas. Kalian lupa kalau nilai sejarah gue di sekolah selalu dapat nilai A sempurna?
Sebagai seorang yang pandai merangkai kata dan sangat peka terhadap dinamika panggung psikologis, Maizy tahu dia tidak boleh membalas dengan kemarahan. Dia harus menghancurkan argumen empat menteri sekongkol itu dengan keanggunan seorang putri, kejeniusan akademis, dan retorika yang elegan.
Maizy perlahan melangkah maju, melewati posisi Frederick yang sudah siap mencabut pedangnya. Dia mengangkat dagunya, menegakkan punggung, dan menatap lurus ke arah empat menteri muda itu di balik lensa kacamatanya. Senyum tipis yang teramat tenang dan penuh wibawa mengembang di bibir manisnya.
"Tuan-tuan Menteri yang terhormat—khususnya Tuan Aldermann, Otto, Dietrich, dan Wolfram," suara Maizy mengalun lembut, jernih, dan begitu tertata rapi hingga gema bisik-bisik di ruang konsul mendadak senyap seketika.
"Saya sangat mengagumi pemikiran kalian yang... begitu menggebu-gebu demi stabilitas Kekaisaran Winterhall. Namun, mendengar argumen kalian barusan, saya jadi ragu apakah kalian benar-benar memahami esensi dari sejarah kekaisaran kita sendiri," lanjut Maizy, nadanya terdengar sangat sopan namun sarat akan sindiran halus yang menohok.
Aldermann menyipitkan matanya, sementara Otto dan Wolfram tampak menegang.
"Tuan Dietrich menyebutkan soal efisiensi anggaran keuangan militer," Maizy menoleh ke arah Dietrich, menatapnya dengan pandangan teduh. "Namun, berdasarkan hukum tata negara Winterhall, pengerahan divisi kavaleri hitam dan pasukan militer untuk melindungi garis darah Falkenhayn bukan sekadar urusan 'mencari orang hilang'. Ini adalah manifestasi dari sumpah setia militer terhadap trah pendiri kekaisaran. Jika Tuan Dietrich menganggap perlindungan terhadap keluarga kekaisaran sebagai pemborosan, apakah itu berarti Tuan sedang mempertanyakan fungsi sumpah setia militer Kekaisaran Winterhall?"
Wajah Dietrich seketika memucat di balik kacamata berlensa satunya. Dia tidak menyangka sang putri yang katanya linglung bisa membawa-bawa hukum tata negara dengan begitu fasih.
Belum sempat mereka membalas, Maizy beralih menatap Wolfram dan Otto.
"Lalu mengenai Tuan Wolfram yang mengkhawatirkan stabilitas dengan kerajaan lawan. Mengirimkan seorang putri dalam kondisi trauma dan ingatan yang kabur ke istana lawan justru akan menjadi bumerang diplomatik terbesar bagi Winterhall. Kerajaan lawan akan mengira kita sengaja mengirimkan 'mata-mata yang rusak' atau menganggap Winterhall sedang menghina mereka dengan memberikan pengantin yang tidak siap. Apakah Tuan Wolfram ingin memicu perang prematur karena kecerobohan diplomatik seperti itu?"
Wolfram mengatupkan rahangnya rapat-rapat, wajah bopengnya memerah menahan malu karena argumen politiknya dipatahkan dalam dua kalimat saja.
Terakhir, Maizy mengarahkan tatapan tajamnya langsung ke pusat konspirasi: Aldermann.
"Tuan Aldermann menuduh saya melakukan konspirasi karena igauan mimpi buruk saya. Saya akui, benturan di hutan terlarang membuat memori saya tumpang tindih dengan ilusi aneh tentang tempat bernama Berlin atau tahun-tahun masa depan. Namun, kecintaan saya pada Kekaisaran Winterhall ini tidak pernah hilang," ucap Maizy, merangkai kata dengan begitu dramatis dan menyentuh sisi emosional para menteri senior di barisan belakang.
"Ingatan saya mungkin sedang kabur, tetapi kecerdasan dan darah Falkenhayn di dalam tubuh saya tidak akan pernah bisa dimanipulasi oleh siapa pun. Jadi, daripada kalian sibuk menyerang saya yang baru saja selamat dari maut, bukankah lebih bijaksana jika dewan agung fokus membantu saya memulihkan ingatan demi kejayaan Winterhall?"
Hening.
Seluruh ruang konsul mendadak sunyi senyap laksana kuburan. Para menteri senior di barisan belakang tampak mengangguk-angguk setuju, sangat terkesan dengan kepandaian Maizy dalam merangkai kata dan pemahaman sejarahnya yang luar biasa.
Menteri Claude yang albino tersenyum lebar di tempat duduknya, menatap Maizy dengan pandangan mata merah muda yang penuh kekaguman. Sementara di sisi Maizy, Frederick Aldrich menatap gadis itu dengan manik mata abu-abunya yang berbinar takjub dan bangga luar biasa; Maizynya yang kalem ternyata bisa menjadi begitu singa di depan podium. Bahkan Cade Reinart pun terdiam, menaikkan alisnya dengan dengusan tipis, terpaksa mengakui dalam hati bahwa si "Nona Menjengkelkan" ini ternyata punya otak yang sangat encer.
Setelah retorika jenius yang dilemparkan Maizy berhasil membungkam telak faksi Aldermann, Perdana Menteri utama akhirnya mengetukkan tongkat peraknya tiga kali ke lantai. Persidangan agung resmi ditutup dengan keputusan mutlak: memberikan waktu bagi Nona Muda Maizy untuk memulihkan ingatannya di bawah pengawasan medis istana, sekaligus menunda sementara segala pembahasan pernikahan politik.
Kemenangan telak untuk Maizy.
Cklek. BLAM.
Pintu ganda paviliun barat akhirnya tertutup rapat di belakang tubuh Maizy. Begitu dia benar-benar sendirian di dalam kamarnya yang luar biasa mewah, topeng keanggunan dan tatapan sayu yang sedari tadi dia pasang langsung runtuh seketika.
"Fiuhhhhhh! Gila, gila, gila! Tegang banget asli!"
Maizy langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang berkanopi beludru merah yang empuk. Gaun sutra biru dongkernya yang megah mengembang berantakan menutupi seprai sutra putih. Dia menendang kedua sepatu beludrunya hingga terlepas ke lantai, lalu berguling ke tengah ranjang sambil tertawa puas yang tertahan. Sifat ENFJ-nya yang adaptif dan cerdas merayakan kemenangan kecil ini dengan suka cita.
Puas banget gue! batin Maizy, menatap langit-langit ranjangnya yang dihiasi ukiran emas bertema mitologi kuno. Lihat muka si Aldermann sama antek-anteknya tadi pas gue skakmat? Pucat pasi kayak ayam sayur! Makanya, jangan macam-macam sama anak teladan Winterhall modern abad ke-21!
Maizy membetulkan letak kacamatanya yang sedikit miring, lalu mengangkat kedua tangannya ke udara, menikmati kelembutan seprai di bawah punggungnya. Pikirannya kembali berputar pada rencana awal. Jika dunia ini memang hanya kilas balik sesaat sebelum tubuh aslinya mati menghantam lantai museum Berlin, maka dia sudah memulai langkah yang sangat tepat. Dia berhasil mengamankan posisinya sebagai cucu kaisar, membungkam musuh politik, dan yang paling penting: dia punya waktu bebas untuk bersenang-senang menikmati kemewahan istana ini tanpa gangguan perjodohan untuk sementara waktu.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan lembut di pintu luar menginterupsi kesenangan Maizy.
"Nona Muda Maizy?" Itu suara bariton Frederick yang teramat lembut dan penuh kehati-hatian, menyusup dari celah pintu kayu yang tebal. "Aku dan Cade akan berjaga di koridor luar paviliun ini. Jika kau membutuhkan sesuatu, atau jika kepalamu kembali berdenyut sakit karena sidang tadi, panggil saja aku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggumu lagi."
Maizy menahan senyumnya, buru-buru mengubah nada suaranya menjadi selembut dan sekalem mungkin sebelum menjawab dari dalam kamar. "Iya, Frederick. Terima kasih banyak. Aku hanya ingin istirahat sekarang."
"Baiklah. Selamat istirahat, Nona Mudaku," balas Frederick dengan nada lega yang sangat terdengar jelas, disusul suara gesekan bot bajunya yang menjauh beberapa langkah untuk mengambil posisi siaga di depan pintu.
Maizy kembali tersenyum lebar di atas bantal empuknya. Sambil memikirkan menu makanan mewah apa yang akan dia minta pada Hilda nanti malam, dia bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Oke, babak pertama selesai dengan sempurna. Mari kita lihat fasilitas seru apa lagi yang bisa gue nikmati di istana Winterhall kuno ini."