Kael Lancaster seorang komandan angkatan laut dan pengusaha besar, selalu menjadikan keluarganya sebagai pelabuhan hatinya. Ia yak pernah lupa menyelipkan cinta untuk sang istri Aeliana meskipun tak secara terang-terangan. Suatu hari Aeliana menemukan surat yang isinya terkesan mesra. Kecurigaan mulai menggerogoti hatinya dan bayang-bayang perselingkuhan merusak kepercayaannya. Di sisi lain, Kael tak menyadari kecurigaan istrinya. Ia berusaha menghadirkan kebahagiaan untuk wanita yang ia cintai. Apakah cinta mereka mampu bertahan melawan badai kesalahpahaman? atau akankah pernikahan karam oleh ombak curiga tak bertepi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arik Tri Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28. Konspirasi
Konspirasi
Berhari-hari tanpa Kael, Aeliana terus menjalani kesehariannya sebagai ibu pengurus rumah tangga keluarga Lancaster. Ia mengabaikan rasa cemasnya, menekan perasan takut dan berusaha tersenyum untuk kedua anaknya.
Pagi itu, Aeliana memutuskan untuk membawa Julian dan Juvel berjalan-jalan di taman luar kediaman Lancaster. Taman itu cukup luas dengan pohon-pohon yang tinggi dan rindang. Ada danau kecil di tengahnya. angin bertiup lembut membawa aroma bunga musim semi yang mulai bermekaran.
“Ibu, lihat! Ada kupu-kupu!” Seru Juvel sambil berlari kecil mengejar seekor kupu-kupu berwarna biru yang melayang di antara bunga lavender.
Julian yang lebuh tenang hanya tersenyum dan mengikuti langkah ibunya. “Ibu, apakah ayah juga suka kupu-kupu?”
“Ayah lebih suka elang. Tapi ibu yakin, jika ayah melihat kupu-kupu seindah itu, dia juga akan menyukainya.”
Mereka terus berjalan di sepanjang jalur berbatu yang mengarah ke sisi taman yang lebih jauh. Aeliana berpikir bahwa udara segar ini akan membuat anak-anak lebih rileks, terutama setelah beberapa hari bertanya tentang Kael. Namun di tengah kebahagiaan sederhana mereka, Aeliana mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Seperti ada yang mengawasi. Perasaan itu membuatnya berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Jalanan sepi, namun rasa gelisah itu tidak hilang.
“Ibu?” Julian menarik ujung gaunnya.
Aeliana langsung mengubah ekspresinya. “Ya sayang? Ayo kita duduk sebentar di dekat danau.”
Mereka berjalan ke arah danau dan duduk di bangku di tepinya. Juvel sibuk melempar batu kecil ke air sementara Julian membuka buku kecil yang ia bawa. Namun tiba-tiba suara gemuruh keras terdengar dari kejauhan.
Brak!
Aeliana langsung berdiri dan menoleh ke arah suara itu. Matanya membelalak ketika melihat sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi menuju mereka.
Semua terjadi dalam hitungan detik. Mobil itu melaju lurus ke arah mereka tanpa ada tanda-tanda melambat. Aeliana segera menarik Juvel ke dalam dekapannya sementara tangannya yang lain meraih Julian. Ia berlari sekuat tenaga ke sisi taman, mencoba menghindari hantaman mobil yang melaju brutal.
Tapi mobil itu terus mengejar. Seakan-akan tujuannya adalah mereka teriakan para pelayan menggema di udara. Beberapa dari mereka mencoba berlari ke arah Aeliana tapi situasinya bergerak terlalu cepat. Mobil itu hampir menabrak mereka seketika tiba-tiba bunyi letusan terdengar.
Sebuah tembakan meledak, mengenai ban depan mobil. Mobil itu oleng, kehilangan keseimbangan dan berputar beberapa kali sebelum akhirnya menabrak pohon besar di tepi taman.
Napas Aeliana terengah-engah. Ia berlutut di tanah masih memeluk erat kedua anaknya yang menggigil ketakutan.
“Ibu…” suara Juvel bergetar hampir menangis.
“Ssst…tidak apa-apa sayang. Ibu di sini,” Aeliana berusaha menenangkan mereka meskipun tubuhnya sendiri gemetar.
Para pengawal keluarga Lancaster langsung berlari ke tempat kejadian. Salah satu dari mereka menodongkan ke arah mobil yang rusak, sementara yang lainnya menghampiri Aeliana dana anak-anaknya.
“Nyonya, apakah anda baik-baik saja?” Tanya seorang pengawal dengan nada cemas.
Aeliana mengangguk.
Salah satu pengawal mendekati kendaraan dan membuka pintunya dengan hati-hati. Namun mereka melihat sosok pria yang sudah mati karena bunuh diri.
...…....
Di dalam ruangan bawah tanah yang dingin dan remang-remang, suara teriakan terdengar menggema. Salah satu tahanan yang mereka tangkap dalam operasi penyelundupan senjata kemarin terikat di kursi besi dengan wajah lebam akibat interogasi yang sedang berlangsung.
Sion berdiri dengan tangan terlipat, ekspresinya datar saat melihat bawahannya bekerja. Sementara itu di ruangan lain, Kael yang duduk di depan meja dengan dokumen hasil penyelidikan tampak fokus pada berkas yang baru saja diberikan padanya.
Di dalamnya tercantum detail tentang kelompok penyelundup yang mereka tangkap. Senjata-senjata yang berhasil diamankan merupakan barang penyelundupan dari negara lain, dan ada indikasi bahwa kelompok ini memiliki koneksi dengan organisasi bayangan yang lebih besar.
“Komandan, orang itu masih menolak berbicara,” salah satu bawahannya melapor.
Kael menutup berkasnya dan menghela napas. “Kita tidak punya banyak waktu. Buat dia bicara.”
Bawahannya mengangguk, bersiap untuk melanjutkan interogasi lebih keras. Namun setelah bawahannya keluar dari ruangan itu, sosok Sian datang.
“Tuan, saya baru saja menerima kabar dari Ethan. Ada insiden di rumah Lancaster.”
“Apa yang terjadi?” Kael langsung berdiri.
“Seseorang mencoba menabrak Nyonya dan anak-anak dengan mobil. Untungnya mereka selamat tapi pelakunya langsung bunuh diri di tempat.”
Kael merasakan amarahnya mendidih seketika. Tangannya mengepal kuat.
“Siapa pelakunya?”
“Kami masih menyelidiki tapi kemungkinan besar ini ada hubungannya dengan insiden yang Nyonya Aeliana alami sebelumnya.”
Kael merasakan kepanikan menyerang dadanya. Ia ingin segera kembali, ingin memastikan bahwa istri dan anak-anaknya baik-baik saja.
Kael langsung beranjak dari tempatnya tapi di ambang pintu sudah ada Sian yang mencegahnya.
“Komandan, saya tahu anda ingin pergi sekarang. Tapi Ethan sudah mengatur pasukan tambahan untuk mengamankan rumah Lancaster.”
Kael menatap tajam ke arah Sian. “Aku tidak peduli seberapa banyak orang yang Ethan tempatkan di sana. Jika sesuatu terjadi pada mereka—“
“Saya tahu, tapi Komandan tidak bisa pergi sekarang. “
Kael menggeram pelan. Ia benci situasi ini. Benci karena merasa tak berdaya. Aeliana pasti ketakutan dan anak-anaknya juga. Ia seharusnya ada di sana untuk mereka, bukan terjebak di tempat ini dengan musuh-musuh yang belum mengungkapkan semuanya.
Kael menutup matanya sejenak, mencoba mengendalikan emosinya. Ia tidak bisa gegabah. Jika ia meninggalkan posisinya sekarang, semua kerja kerasnya bisa sia-sia. Tapi di sisi lain, keluarganya dalam bahaya.
Dalam napas berat, ia akhirnya berkata, “Teruskan interogasinya. Aku ingin jawaban dalam waktu kurang dari delapan jam.”
Sian menganguk. “Saya akan memastikan mereka bicara.”
Kael mengangguk sekali sebelum kembali duduk,meskipun pikirannya masih melayang pada Aeliana dan anak-anaknya. Ia akan segera pulang. Ia harus memastikan bahwa tidak ada yang bisa menyentuh keluarganya.
...…...
Malam itu, suasana di rumah keluarga Lancaster begitu sunyi, tapi juga terasa begitu menyesakkan. Aeliana duduk di tepi ranjangnya, tangannya menggenggam erat ujung selimut yang membungkusnya. Cahaya lampu di kamar tidur berpendar lembut tapi tidak cukup untuk menenangkan hatinya yang diliputi kecemasan.
Di luar, langkah-langkah kaki penjaga terdengar samar, mengingatkannya bahwa rumah ini sekarang lebih mirip benteng dibandingkan kediaman keluarga.
Setiap sudut rumah dipantau oleh pengawal yang selalu siaga. Bahkan di luar jendela kamarnya, Aeliana tahu ada beberapa yang berjaga. Namun semua perlindungan itu tidak serta merta mengusir ketakutannya. Justru sebaliknya, semakin banyak penjagaan semakin ia merasa bahwa ancaman itu nyata, bahwa seseorang di luar sana benar-benar menginginkan dirinya lenyap.
Ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Kael belum pulang. Ia tahu suaminya sibuk dengan tugasnya, terlebih setelah insiden kapal penyelundupan. Tapi kali ini Aeliana ingin Kael di sisinya.
wow bab ini bikin aku mewek bombay/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/