Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Pagi tanggal dua puluh enam Juni, ruang rapat kecil Navara Tech terasa lebih dingin dari biasanya.
Di layar proyektor, daftar finalis Vista Home baru saja dikirim panitia. Nama Loe Group tercetak di atas Navara Tech, besar dan bersih seperti tantangan yang sengaja diletakkan di depan mata Kiana.
Tidak ada yang bicara.
Kiana berdiri di depan papan tulis, spidol hitam di tangan.
"Kalau kita melawan Loe Group dengan uang, jaringan, dan nama besar, kita kalah sebelum naik panggung," katanya.
Lina menelan ludah. "Lalu kita jual apa, Bu?"
Kiana menulis satu kata di papan.
Keselamatan.
Fang mengangkat kepala. "Vista Home selama ini menjual hunian pintar. Lampu otomatis, kunci digital, pengatur suhu. Kita mau mengubah sudutnya?"
"Bukan mengubah. Memperdalam." Kiana mengetuk papan. "Rumah pintar yang hanya membuat hidup nyaman itu mahal. Rumah pintar yang bisa memperingatkan penghuni sebelum api membesar, itu bernilai."
Beberapa anggota tim langsung membuka catatan. Ada yang masih tampak ragu, tetapi tidak ada yang menertawakan. Setelah kebakaran lama di kantor Navara, semua orang tahu kata api bukan teori bagi Kiana.
Ponselnya bergetar sebelum ia sempat melanjutkan.
Benny Song.
Kiana keluar ke lorong kaca.
"Pak Benny."
Suara Benny terdengar berat. "Cakrawala AI tumbang lagi semalam."
Langkah Kiana berhenti.
"Kerusakan besar?"
"Nyaris. Rekomendasi distribusi salah, stok farmasi hampir dikirim ke kota yang salah. Tim manual sempat tahan." Benny menarik napas. "Masalahnya, ini bukan pertama kali. Patch Vanya cuma menutup tampilan. Sistem terlihat hijau di dashboard, tapi di bawahnya tetap retak."
Nama Vanya membuat rahang Kiana mengeras.
"Dewan sudah tahu?"
"Sudah. Mereka memberi waktu sepuluh hari. Kalau Cakrawala masih gagal, kerangka lama akan dimatikan. Termasuk arsip inti Langit AI."
Untuk beberapa detik, suara kantor di belakang Kiana menghilang.
Langit AI bukan sekadar proyek lama. Itu sistem yang ia bangun sebelum semuanya dicuri, sebelum namanya diganti, sebelum orang lain memakai kerja kerasnya untuk naik panggung. Jika kerangka itu dimatikan, Bintang Grup bukan hanya kehilangan alat. Mereka membakar bukti bahwa Kiana pernah menyelamatkan perusahaan itu.
"Kirim gambaran error-nya," kata Kiana.
"Aku tidak bisa mengirim data mentah."
"Aku tidak minta data mentah. Kirim pola kegagalan dan titik waktunya. Sisanya aku susun sebagai catatan umum. Kalau mereka masih punya orang waras di dalam, mereka akan mengerti."
Benny diam sebentar. "Kau sadar kreditnya mungkin jatuh ke orang lain?"
"Aku tidak sedang mengejar kredit. Aku sedang mencegah orang bodoh membakar langit."
Ketika Kiana kembali ke ruang rapat, Fang sudah membaca wajahnya.
"Masalah Bintang?"
"Langit AI."
Fang langsung menutup pintu. Tim yang tidak terlibat diminta keluar sebentar. Dalam lima belas menit, ruang rapat berubah dari rapat proposal menjadi ruang penyelamatan darurat.
Kiana tidak menjelaskan arsitektur rumit. Ia hanya menarik garis besar masalah: Cakrawala terlalu percaya pada tampilan sendiri. Jika satu bagian berbohong, bagian lain ikut percaya. Yang dibutuhkan adalah pengecekan ringan, sederhana, dan cukup cepat untuk memberi tanda merah sebelum keputusan buruk dijalankan.
"Jadi bukan membangun ulang?" tanya salah satu engineer senior.
"Tidak ada waktu." Kiana menulis beberapa poin pendek. "Kita beri pagar. Mereka perbaiki dari dalam."
Catatan untuk Benny disusun seperti dokumen stabilitas biasa. Tidak ada nama Kiana. Tidak ada rahasia Kitab Cyber. Hanya arahan ringkas, batas aman, dan urutan kerja yang bisa dipakai tim Bintang Grup tanpa membuka perang baru.
Setelah berkas itu terkirim, Kiana kembali ke Vista Home.
Proposal Navara dibongkar.
Modul kenyamanan tetap ada, tetapi bukan lagi pusatnya. Pusatnya adalah keselamatan hunian: peringatan dini saat pola panas tidak normal, jalur evakuasi yang menyesuaikan kondisi penghuni, pesan otomatis ke keluarga dan pengelola hunian, serta data ringkas untuk petugas pemadam.
Saat Fang menampilkan draft baru, Kiana tiba-tiba teringat punggung Hans di antara asap.
Punggung pemadam yang tidak banyak bicara, tetapi selalu tahu ke mana harus bergerak ketika orang lain panik.
Hans pernah berkata, api tidak menunggu orang pintar selesai berpikir.
Kiana menulis kalimat itu kecil di margin proposal.
Fang melihatnya. "Ide dari pemadam itu?"
"Kerja, Fang."
"Saya bahkan belum sebut nama."
Tawa kecil muncul di sudut ruang rapat, cepat sekali lalu hilang. Namun cukup untuk membuat udara tidak lagi terasa seperti ruang eksekusi.
Kiana memandang timnya. Orang-orang ini pernah bekerja dengan kepala tertunduk, menunggu Navara ditutup kapan saja. Sekarang mata mereka lelah, tetapi hidup.
"Aku tidak bisa menjanjikan kita langsung menang," katanya. "Tapi aku bisa menjanjikan satu hal. Selama kalian bekerja bersih, aku tidak akan membiarkan siapa pun memakai Navara sebagai tempat pembuangan."
Engineer senior yang sejak tadi diam mengangkat tangan. "Kalau Loe Group menekan dari harga?"
"Kita jawab dengan ruang lingkup yang masuk akal."
"Kalau mereka menyerang reputasi?"
"Biar mereka bicara dulu."
Fang menutup tablet pelan. "Lalu kita serang balik?"
Kiana menatap papan tulis. Kata keselamatan berdiri sendirian di tengah coretan.
"Bukan serang balik. Kita buat klien ingat bahwa proyek ini menyangkut nyawa. Setelah itu, pamer nama keluarga akan terdengar kosong."
Ponselnya menyala.
Hans: Sudah makan?
Pertanyaan pendek itu datang seperti garis hangat di tengah hari yang terlalu dingin. Kiana menatap layar beberapa detik, lalu mengetik satu tangan.
Kiana: Belum. Sedang perang.
Balasan datang hampir langsung.
Hans: Perang tetap butuh nasi.
Kiana menahan senyum, lalu mematikan layar sebelum Fang melihat terlalu banyak.
Ia memesan nasi kotak untuk seluruh tim dari warung sederhana di bawah gedung. Tidak ada pidato panjang saat makanan datang. Hanya suara sendok plastik, keluhan pelan soal pedas, dan beberapa staf yang mulai berani bertanya tugas berikutnya tanpa menunggu disuruh. Bagi perusahaan yang kemarin masih seperti ruang tunggu pemakaman, itu sudah terdengar seperti tanda hidup.
Kiana makan tiga suap, lalu kembali berdiri.
"Kita selesaikan sebelum malam."
Sekarang.
Menjelang sore, draft final selesai. Judulnya sederhana, tetapi napasnya berbeda: Smart home AI dengan fitur peringatan kebakaran Terintegrasi
Fang menggeser tablet ke halaman jadwal.
"Pitching tanggal tiga puluh Juni di Galeri Cahaya. Loe Group tepat sebelum kita."
Kiana membaca kolom perwakilan utama.
Jovian Loe.
Nama itu tidak lagi membuat dadanya sakit. Yang terasa hanya dingin yang jernih.
"Bagus," katanya.
Fang menatapnya. "Bagus?"
"Dia bicara dulu." Kiana melingkari kata keselamatan di papan. "Lalu kita tunjukkan bedanya orang yang menjual rumah pintar dan orang yang pernah melihat api mengambil nyawa."
Di layar tablet, nama Jovian Loe masih menyala seperti tantangan resmi.