Tidak ada yang menginginkan menjadi orangtua tunggal. Entah itu perpisahan karena perceraian ataupun kematian. Terkadang beberapa orang memutuskan untuk menjalin hubungan lagi dengan dalih awal untuk mengisi posisi yang kosong. Itu yang terjadi pada Davin dan Arini. Memutuskan menikah demi figur orangtua lengkap untuk anak-anak mereka.
Keluarga harmonis menjadi impian mereka. Namun ditengah perjalanan rumah tangga mereka ada ujian yang datang. Suami melakukan kesalahan fatal dan istri yang depresi.
Bagaimana cara Davin dan Arini mempertahankan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Ado apo, Rin? Amak lihat Rini bamanuang se dari tadi. Lah dari pulang karajo lai, lain nampaknyo. Ado masalah?" tanya Amak setelah makan malam. (Ada apa, Rin? Amak lihat Rini menung aja dari tadi sejak pulang kerja. Ada masalah?)
Saat ini Amak dan Arini sedang duduk di meja makan, sedang ketiga anaknya sudah tidur beberapa saat lalu.
"Mak..." panggil Arini lirih.
"Kalau Rini mau cerita, cerita jo Amak," ucap Amak.
"Ado laki-laki yang melamar Rini, Mak. Baa manuruik Amak?" tanya Arini. (Bagaimana menurut Amak?)
"Buliah Amak tau, sia laki-laki tu?" (Boleh Amak tau siapa laki-laki itu?)
"Amak kenal jo laki-laki itu." Ucapan Arini ini membuat Amak sedikit bingung dan juga terkejut.
"Sia?" tanya Amak. (Siapa?)
"Pak Davin, Mak."
Mendengar nama itu membuat Amak tersenyum, dan hal ini membuat Arini menjadi bingung.
"Baa tu, Mak? Kok tersenyum pula Amak." (Kenapa Mak?)
"Sudah Amak duga," jawab Amak.
"Lho, kok bisa gitu?"
"Rin, dari awak Amak lihat Nak Davin itu ada rasa sama Rini. Tapi entah apa yang membuatnya sedikit ragu. Nak Davin acok kamari antah dek alasan Ziza yang nio sobok jo Aya lah, yang Adit lah, banyak bana alasannyo. Amak pun caliak baa caronyo menatap Rini." (Nak Davin sering datang ke rumah, entah alasannya yang mau ketemu sama Aya lah, sama Adit lah, terlalu banyak alasannya. Amak juga lihat bagaimana dia menatap Rini.)
Arini semakin bingung setelah mendengar perkataan Amak. Apa iya atasannya itu ada hati padanya.
"Salah istikharah, Nak," ucap Amak. "Ikuti apo kata hati Rini. Insya Allah, Allah kasih jalan."
"Anak-anak beko baa, Mak?" (Anak-anak nanti bagaimana, Mak?)
"Anak-anak Rini masih ketek-ketek. Jan tanyo lai. Pasti mereka ikuik se tu nyo. Alo lai si Aya. Sanangnyo pasti selalu dakek jo Aziza. Adit Alif apo lai. Kini ko hati Rinu dulu." (Anak-anak Rini masih kecil-kecil. Mereka ikut aja nanti. Apalagi si Aya. Pasti senang dia bakalan dekat terus sama Aziza. Adit dan Alif begitu juga.)
Mendengar ucapan Amak, Arini merasa lebih tenang dari sebelumnya.
"Iyo, Mak. Rini istikharah dulu. Semoga segera dapat jawaban."
#####
Sejak hari itu, ketika di kantor Arini mencoba untuk bersikap biasa saja, begitupun dengan Davin. Pria itu tidak pernah mengganggu Arini, kecuali mengenai pekerjaan saja. Ia tidak ingin terlalu mengganggu Arini dan terkesan memaksanya. Ia sendiri sadar kalau langkahnya ini terburu-buru. Namun melihat kedekatan Arini dengan Zidan ia seakan tidak rela.
Arini cukup dekat dengan putri semata wayangnya, begitu pula dengan Davin yang dekat dengan ketiga anak Arini. Mereka berdua juga sama-sama sendiri, tidak ada salahnya mereka menjalin hubungan serius.
Tentang Angel, wanita itu masih saja terus menghubungi Davin, namun tak sekalipun kini Davin membalas pesannya maupun mengangkat telepon dari Angel.
Untuk memblokir nomor wanita itupun Davin juga tidak tega. Namun dihari ini, pesan maupun telepon dari Angel tak lagi membunyikan ponsel Davin. Mungkin ia sudah lelah, pikir Davin.
Hari ini adalah hari dimana harusnya Arini memberikannya jawaban. Dari pagi sampai siang inipun Davin belum bertemu dengan Arini. Tadi pagi Davin bersama para petinggi perusahan tempatnya bekerja harus pergi melihat kondisi gudang yang katanya tadi malam telah terjadi kebakaran, walaupun tak melahap seluruh gudang. Davin harus mengecek kondisi lapangan secara langsung.
Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore. Davin baru saja melaksanakan ibadah solat ashar di sebuah masjid yang tak jauh dari lokasi gudang. Ketika ia sedang memasang sepatunya di tangga masjid, ponsel miliknya yang ia letak di kantong celana sebelah kiri bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Davin segera mengambil ponselnya dan terlihat bahwa ada pesan dari Arini.
Maaf mengganggu, Pak. Pak Davin masih di gudangkah?
Tak disangka Arini mengiriminya pesan. Davin tersenyum sendiri membacanya. Tak menunggu lama ia segera membalasnya.
Saya baru saja selesai sholat ashar di masjid dekat sekitar gudang. Ada apa?
Ingin rasanya Davin menelepon Arini saat ini. Namun ia tau sekarang masih jam bekerja. Arini juga sepertinya sedang di mejanya. Jika ia menelepon, pasti akan terdengar oleh yang lainnya.
Bisakah kita ketemu setelah jam bekerja nanti, Pak? Ada yang ingin saya bicarakan.
Jantung Davin berdetak cepat sebab membaca pesan Arini selanjutnya. Pasti tentang lamaran ia kemarin. Arini sepertinya ingin memberikan jawaban atas lamarannya itu.
Bisa. Perlu saya jemput kamu di kantor?
Tak lama pesan Davin dibalas kembali oleh Arini.
Tidak perlu, Pak. Hari ini saya bawa mobil ke kantor. Kita langsung bertemu saja di restorannya. Nanti saya kirimkan alamatnya.
Tak lama Arini mengirimkan nama restoran beserta alamat tempat mereka akan bertemu nanti. Tempatnya berada di tengah-tengah antara rumah mereka berdua. Sepertinya Arini memang sengaja memilih di tengah.
Davin bergegas menuju tempat yang mereka sepakati. Masjid tempat ia berada kini cukup jauh, hampir di ujung kota. Semoga ia tidak terlambat.
Davin mengendarai mobilnya tidak terlalu kencang, tidak juga terlalu pelan. Kondisi lalu lintas juga tergolong lancar walaupun padat.
Tak sabar rasanya ingin segera sampai dan mendengar jawaban dari Arini.
"Tapi kenapa gue jadi ngga sabaran gini ya?" pikir Davin.