Olivia, Jatuh cinta dengan senior di kampusnya. Pernyataan cintanya ditolak dan dibenci seluruh kampus. Hidupnya berantakan, ibunya menjadi sasaran kemarahan dari orang-orang yang membencinya.
Untuk mengakhiri semua penderitaan, ia menjauhi seniornya, meninggalkan kota dan pindah ke kampus lain. Disaat kepergiannya, sosok pria yang sangat ingin ia hindari justru menyatakan cinta padanya.
Lalu bagaimana Olivia harus menanganinya? Apakah ia akan menerima cinta pria itu atau justru menolaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Nurmaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Hari ini, Alex telah kembali dari perjalanan bisnisnya diluar kota. Ia mengendarai sendiri mobilnya hingga sampai dirumah orangtuanya. Setelah sampai ia segera masuk kedalam, didalam sudah ada kedua orangtuanya yang sedang menyambutnya.
Mamanya menghampirinya dengan senyuman hangat dibibirnya, menyambut kepulangan anaknya yang sudah beberapa hari berada di luar kota. Bahkan papanya pun juga ikut meyambutnya.
"Sayang, kamu sudah pulang?"
Alex menolehkan kepalanya kearah suara mamanya yang sedang berduaan di ruang tamu dengan papanya.
"Sudah, Ma"
Ia menjawab mamanya dengan nada biasa, tubuhnya terlalu lelah sekarang. Ia sangat ingin benar-benar masuk kamar dan tertidur.
"Bagaimana pekerjaan kamu disana? Lancar saja kan?"
"Iya, Pa"
Alex sangat ingin segera pergi ke kamarnya, tapi sepertinya orangtuanya belum mau melepaskan kepergiannya.
"Kamu tidak ada kenalan sama wanita disana?"
Mamanya menatapnya dengan penuh harap, berharap putranya sudah berkenalan dengan seorang wanita. Ia pikir putranya sudah cukup umur untuk menikah sekarang. Tapi, sayangnya Alex terlalu keras kepala untuk mendengarkan nasihatnya.
Apa yang baru saja diucapkan mamanya langsung membuat moodnya semakin hancur. Ia baru saja pulang dan diberi pertanyaan yang menurutnya tidak penting, benar-benar menyebalkan. Inilah alasan mengapa ia jarang pulang kerumah, lebih baik menghabiskan waktunya diperusahaan sampai pagi.
"Alex tidak memiliki waktu untuk berkenalan dengan wanita, Ma"
Alex hanya menjawab pertanyaan mamanya dengan nada malas. Sejak lama, mamanya selalu bertanya mengenai kapan memiliki wanita. Padahal Alex sedang sibuk untuk mengelola perusahaan saat ini, tidak ada waktu untuk berkenalan dengan wanita manapun.
"Alex, kamu ini sudah berumur 28 tahun. Kapan lagi kamu mau menikah? Mama sama papa sudah bosan dirumah, kalau punya cucu kan kami tidak akan bosan"
Mamanya mengingatkannya dengan nada kecewa pada putranya. Putranya ini sudah cukup berumur baginya, tapi tidak kunjung segera menikah. Padahal ia dan suaminya sangat ingin menggendong cucu.
Apalagi semenjak perusahaan diserahkan seluruhnya pada Alex, mereka hanya menghabiskan waktu berdua di rumah. Tidak ada yang bisa dilakukan, bahkan ia harus datang kerumah temannya agar bisa bermain dengan cucu temannya.
"Alex belum mau menikah sekarang, Ma"
Alex menjawab pertanyaan mamanya dengan tegas, ia benar-benar jenuh sekarang. Ia lalu berjalan pergi tanpa mendengarkan kalimat selanjutnya Daria mamanya. Siapa yang ingin mendengar kalimat yang hanya bisa membuat telinga sakit. Lebih baik ia masuk ke kamar dan segera tidur.
"Alex, tunggu! Mama belum selesai bicara!"
Alex tidak memperdulikan panggilan yang tujukan oleh mamanya pada dirinya. Mamanya selalu menanyakan hal yang sama setiap harinya, ia benar-benar merasa muak dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Kapan menikah? Kapan menikah?
Ia bukannya tidak ingin menikah, hanya saja ia tidak pernah merasa tertarik dengan wanita manapun selain dia. Wanita yang pernah mengisi kekosongan dihatinya, tapi sekarang ia bahkan tidak tahu dimana wanita itu berada.
Alex merasa lelah saat perjalanan tadi, belum sempat ia beristirahat tapi mamanya malah membuatnya emosi karena pertanyaan yang tidak penting baginya. Dari pada terus memikirkan ucapan mamanya, lebih baik ia tidur sekarang.
Terlalu lelah untuk mandi dan berganti baju, dengan hanya memakai kemeja putih dan celana panjang, ia langsung naik ke atas ranjang dan tertidur. Menyisakan suara keheningan didalam kamar tersebut.
Malam itu, tidak tahu kenapa ia bisa tertidur dengan nyenyak tanpa harus memikirkan apapun. Suara jangkrik yang terdengar diluar kamarnya semakin menambah hangatnya suasana malam. Hembusan nafasnya mulai teratur dan ia berhasil memasuki mimpinya.
......
Diruang makan, Olivia sedang menikmati makan malam dengan keluarganya. Pemandangan seperti ini sudah terbiasa baginya semenjak 5 tahun belakangan. Ia merasa benar-benar beruntung bisa lahir dari keluarga ini.
Memiliki papa dan mama yang selalu menyayangi dan mencintainya. Bahkan mereka selalu bertanya mengenai apa keinginannya, walaupun ia tidak pernah memintanya sekalipun.
"Sayang, ini makanan kamu"
Ana, memberikan piring yang telah ia isi dengan berbagai makanan yang telah ia masak sebelumnya kepada suami dan putrinya. Memberikannya dengan penuh cinta dan perhatian. Untuk urusan makanan, ia tidak pernah menyerahkannya pada pembantu. Karena itu sudah menjadi kewajibannya sebagai istri dan juga seorang ibu.
"Terimakasih, ma"
Olivia tersenyum hangat pada mamanya. Menatap piring dihadapannya dan memakannya dengan nyaman. Lidahnya sudah terbiasa memakan makanan buatan mamanya yang enak. Ia tidak pernah pilih-pilih dalam soal makanan. Masakan apa pun yang dimasak oleh mamanya, pasti langsung ia makan sampai habis.
Malam itu, seluruh keluarga yang terdiri dari orang tua dan satu anak perempuan sangat menikmati makan malamnya setelah mereka kembali ke Amerika. Terkadang, kepala keluarga akan membuka suara untuk mengisi kekosongan dengan berbagai candaannya. Walaupun tidak lucu, tapi mereka tetap tertawa bahagia, inilah arti dari kehangatan sebuah keluarga.
Olivia menatap keluarganya dengan bahagia, ia berjanji akan selalu menjaga kebahagiaan keluarganya. Ia tidak ingin lagi merasakan kehilangan sebuah keluarga seperti dulu.
.....
Alex tengah tertidur dengan nyenyak dan lelap di ranjangnya, tapi telepon disebelahnya sangat berisik mengganggu waktu tidurnya. Ia sempat berdecak kesal sebelumnya. Ia menghidupkan ponselnya dengan marah dan matanya semakin marah saat melihat nama yang tertera dilayar.
'......'
'Halo'
'Apa mau mu, aku ingin tidur sekarang'
'Kau! Kenapa kau pulang tidak mengabari ku? Aku bisa saja menjemputmu kembali. Karena kau tidak memberitahuku, ayahku memarahi ku karena tidak bisa menjadi sekretaris yang baik untukmu'
'Aku bukan anak kecil yang harus dijemput olehmu'
'Aku tau itu, tapi tetap saja kau seharusnya memberitahuku'
'Untuk apa? Lagian kita akan bertemu kembali di kantor besok'
'Dasar atasan tidak memiliki perasaan'
'Apa kau bilang?'
'Tidak, kau salah dengar. Yasudah aku tutup telepon dulu, silakan lanjutkan tidurnya tuan muda'
'.....'
Alex mematikan dan melemparkan ponselnya dengan kesal ke sofa disudut ruangan. Regan benar-benar menghancurkan mood tidurnya, ia melihat jam didinding masih menunjukkan pukul tengah malam.
Beraninya Regan membangunkannya tengah malam, padahal ia sangat menikmati tidurnya barusan. Lihat saja besok, ia pasti akan memarahinya sampai puas. Tidak peduli bagaimana kata-kata orang nantinya, yang penting ia puas karena sudah memarahi Regan yang sudah seenak hati membangunkannya ditengah malam hanya untuk pertanyaan yang tidak penting. Sekarang rasa kantuknya sudah hilang. Ia lalu keluar dari kamarnya.
Tidak ada satu orang pun yang masih berkeliaran, karena semua orang sudah pasti tertidur sekarang. Ia berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas. Ada mie dan telur didalam nya. Karena merasa lapar, ia langsung membuatnya. Memasaknya dengan perlahan agar tidak membangunkan penghuni rumah.
Setelah itu, baru ia memakannya sambil melihat televisi diruang keluarga. Perutnya yang sudah lapar merasa tidak sabar saat sudah mencium lezatnya aroma mie yang ia masak. Menghidupkan televisi dan ia pun mulai menikmati makanannya dengan tenang.
........ Bersambung.......
kamu tau yg paling keren dari novelmu cara Alex melindungi dan membalas penganggu hubungan mereka.
sumpah. juara! aku ga nyangka sampe ke situ.
jgn kecewain aku ya thor. novelmu menjadi fav ku
yg hrs celaka ya Emily! buat si Alex seperti saat dia memperlakukan Hana. mempertahankan miliknya. melindungi cintanya
dia bisa bersikap kejam ke Hana dk sampe membunuh Hana.
kenapa tdk bs bersikap kejam ke Emily.
toh sama aja. per3mpuan terobsesi ga jelas.