"Kematian adalah kepastian. Kabar baiknya, kau bisa menentukan bagaimana cara kau akan mati. Apakah dengan cara terhormat, ataukah terlaknat."
#Arsyelin
Arsyelin Wangsaguna adalah sorang detektif muda berbakat. Lulusan akademi detektif ternama dengan reputasi yang diakui seluruh dunia. Dalam petualangannya mengasah kemampuan, ia bertemu dengan sosok jin yang menyeretnya paksa untuk menemukan pembunuh teman manusianya. Sialnya, sosok jin dengan paras rupawan itu tak mau pergi meninggalkannya meskipun kasus kematian temannya telah berhasil ia ungkap.
Dan sungguh diluar dugaan, ternyata kasus kematian dengan organ yang hilang itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es di lautan dalam. Yang mana kasus-kasus itu membawanya bertemu dengan sosok pangeran terbuang yang pernah dilelang di perdagangan budak.
Petualangan seperti apa yang akan dilakukan oleh gadis yang merupakan turunan dari bangsawan Jawa itu?
Ikuti kisah mereka hanya di The Death Blossom.
Nb: source materials cover from Pinterest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richa Susilo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28. King Allen II
Pria itu sungguh terkejut dengan reaksi Arsyelin yang begitu tiba-tiba. Terlebih lagi, wajah mereka kini sungguh berada dalam jarak yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Meskipun pada kenyataannya, gadis itu tengah menghujaninya dengan tatapan tajam penuh permusuhan, namun tetap saja. Hembusan hangat napas gadis itu yang mengenai permukaan kulitnya seakan membangkitkan sel-sel syarafnya yang telah lama tertidur. Menimbulkan gejolak aneh dalam dirinya.
Sensasi aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Membuat pria itu sungguh hanya mampu terdiam karena pikirannya disibukkan dengan banyak
hal yang tak ia pahami. Mencoba menerka apa yang sesungguhnya terjadi dengan dirinya.
Karena selama ini, ia sungguh tak berminat menyentuh wanita jenis apa pun yang ditawarkan oleh para ******** yang membutuhkan organisasi bayangan yang berada di bawah kendalinya untuk melancarkan bisnis gelap yang mereka lakukan.
Alih-alih tertarik, dirinya bahkan tak pernah sekalipun melirik mereka. Tidak peduli jika wanita-wanita cantik itu dari kalangan model papan atas maupun anak para pejabat dan konglomerat.
Namun kali ini, ia sungguh tak mengerti. Bagaimana bisa ia langsung tertarik dengan gadis yang baru saja ia temui ini? Bahkan begitu saja menyerahkan pisau lipat kesayangannya? Dan itu pun tanpa rasa penyesalan? Oh, mungkin dirinya benar-benar sudah gila.
Tidak hanya itu, dirinya bahkan langsung melesat meninggalkan anak buahnya dan mengabaikan panggilan tuan besar yang memintanya untuk segera datang hanya demi menyelamatkan gadis ini. Hal yang sama sekali tak pernah ia lakukan sebelumnya. Dan juga tak pernah terpikir akan ia lakukan.
Bagaimana mungkin ia bisa melembutkan hatinya untuk gadis yang belum genap dua hari ia temui ini? Gadis yang selalu menghujaninya dengan tatapan tajam penuh permusuhan dan seringai penuh cela. Seakan dirinya adalah makhluk terkutuk yang sama sekali tak layak menginjak surga.
Memikirkan semua itu, pria itu akhirnya menyeringai seraya terkekeh pelan. Seakan menertawakan betapa konyol dirinya.
“Apa yang kau tertawakan, eh? Apa kau pikir aku tidak mampu melukaimu?” geram Arsyelin seraya menyipit semakin tajam. Merasa jengkel karena pria ini seakan tengah meremehkannya.
Sebaliknya, pria itu justru merespon kemarahan gadis di hadapannya dengan tawa semakin lebar.
Lihatlah, bukankah gadis ini sungguh menarik? Jangan salahkan dirinya yang mengabaikan segala prinsip hidupnya demi menyelamatkan gadis ini.
Karena letak kesalahan bukan ada pada dirinya. Melainkan gadis anggun namun sangat berbahaya ini.
Pria itu tidak ingin berdusta. Harus ia akui bahwa gadis ini sungguh memiliki pesona dan daya pikat secara alami yang memancar kuat dari dalam dirinya. Yang mana kehadirannya tak akan pernah tertolak oleh pria mana pun. Termasuk dirinya yang tak pernah sekalipun bersentuhan dengan wanita mana pun itu.
Lelaki idaman sejuta wanita itu bahkan tak akan heran jika pesona gadis ini akan dengan mudah menarik perhatian makhluk-makhluk dari dimensi lain maupun hewan-hewan dari jenis apa pun. Jangan katakan jika itu sesama manusia. Magnet pesonanya pasti semakin kuat.
Sebuah keyakinan yang membuat pria ini semakin tak ingin melepaskan gadis ini dari kehidupannya. Dan mari kita lihat, sejauh mana gadis ini akan bertahan di bawah permainannya. Apakah gadis yang kini menatapnya tajam itulah yang akan menyerah, atau dirinya yang menyerah dan memutuskan untuk mengatakan segalanya?
“Apa kau tahu berapa jarak yang memisahkan kita saat ini, Nona? Kurasa tidak lebih dari sejengkal. Aku bahkan bisa dengan mudah mencium harum aroma tubuhmu dari jarak sedekat ini. Kehangatan hembusan
napasmu, aku bahkan bisa merasakannya dengan begitu kuat. Dengan semua ini, apa kau tahu apa yang akan terjadi jika aku tak mampu mengendalikan diri?”
Pria itu mengucapkan kalimatnya lamat-lamat. Tanpa sekalipun berniat menarik seringaian menggoda yang sengaja betul ia tunjukkan untuk melihat reaksi gadis di hadapannya. Yang mana wajah gadis itu kini
seketika dipenuhi oleh semburat merah akibat kalimat vulgar yang ia ucapkan dengan nada sensual itu. Membuat pria itu tegelak dalam hati.
Di sisi lain, Arsyelin yang baru menyadari kalau pria ini tidak hanya busuk namun juga mesum, segera saja melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah pakaian pria di hadapannya itu dengan dorongan kuat.
Membuat pria itu sedikit tersentak dan nyaris kembali terjatuh di atas ranjang, yang mana bukannya merasa jengkel tetapi sebaliknya, justru tertawa puas.
Namun, Arsyelin tidak akan dengan mudah mempercayai sikap mesum yang baru saja ditunjukkan oleh pria ini sebagai karakter aslinya. Karena jika memang demikian, buat apa pria ini meminta maaf pada dirinya dengan kilat ketulusan yang bisa ia lihat ketika menyelami netra sewarna lautan dalam itu saat membahas tentang mengganti pakaian?
Selain itu, setelah diperhatikan dengan saksama, sorot mata pria ini jelas memiliki perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan para pria mesum yang sering ia lihat di saat penyelidikannya mengarahkan langkah kakinya ke klub malam.
Mata awam, mungkin tidak akan mengenalinya. Dan menganggap bahwa pria ini sungguhlah pria mesum. Namun, kejelian Arsyelin sungguh telah sangat terlatih. Dan segera tahu bahwa ini hanyalah akal-akalan pria di hadapannya agar dirinya merasa terancam dan menendang pantat pria ini keluar dengan sukarela.
Yang mana artinya, pria ini bisa kabur dan menghindari pertanyaan mendasar yang ia lontarkan.
Menyadari hal itu, Arsyelin kembali menyeringai lebar. “Masih tidak ingin mengatakannya? Atau masih menyimpan trik lain agar bisa melarikan diri?”
Pertanyaan yang dilontarkan Arsyelin dengan seringai mencemooh yang seakan telah mampu membaca isi pikirannya itu, membuat pria itu tertegun. Sebelum akhirnya kembali tertawa.
Benarkah gadis ini mampu membaca rencananya bahkan hanya dalam hitungan detik? Ataukah dirinya yang terlalu buruk dalam menampilkan ekspresi palsu? Tetapi sepertinya tidak, jika kemampuannya bersandiwara seburuk itu, ia tidak akan mungkin mampu berdiri sebagai tuan muda dari organisasi bayangan terbesar di dunia ini.
Lalu, bagaimana mungkin gadis ini bisa mengetahuinya? Apakah itu hanya sebuah kebetulan, asal menebak, atau memang gadis ini memiliki kemampuan sedemikian menakjubkan? Mari kita pastikan sekali lagi.
“Oh, apakah kau sungguh tidak takut denganku, Nona?” tanya pria itu seraya beranjak berdiri. Berjalan dengan langkah lambat-lambat yang begitu terukur dan terencana untuk memberikan efek mengancam yang mengintimidasi. Tidak hanya itu, kedua alisnya bahan menukik tajam, menatap gadis yang berdiri bersedekap seakan menantang itu dengan begitu lekat seraya menyeringai menggoda.
“Kuberitahu kau, aku tidak pernah takut apa pun di dunia ini. Aku bahkan tidak takut mati. Apalagi takut dengan manusia busuk sepertimu. Karena satu-satunya yang kutakuti hanyalah kemarahan ibuku. Jadi, sebaiknya kau menyerah saja,” sahut Arsyelin ringan seraya menyeringai lebar. Sama sekali tidak beranjak meskipun sosok tinggi tegap itu kini hanya menyisakan jarak satu hasta di hadapannya.
Gadis itu bahkan dengan sangat sengaja mengatai pria itu dengan sebutan pria busuk, hanya ingin melihat, sejauh mana pria ini akan terus-menerus bersandiwara.
Meskipun ia tidak yakin bagaimana respon yang akan
diambil pria yang kini tampak mengangkat sebelah alis seakan cukup terkejut dengan ucapannya itu, namun ia cukup percaya diri dengan hasil analisanya yang selama ini belum pernah menemui kesalahan.
Pria ini bukanlah tipikal pria berkarakter buruk. Hanya seorang pria yang tengah menyembunyikan suatu rahasia yang sepertinya begitu besar. Mengingat betapa berkuasanya ia saat ini.
Lalu, kenapa pria yang kini menjulang di hadapannya ini menyelamatkannya? Padahal belum genap dua hari mereka bertemu. Jelas sekali bukan tanpa alasan. Pria ini pasti memiliki alasan kuat kenapa bertindak demikian.
Karena itulah, Arsyelin tidak akan pernah melepaskan pria yang kini sedikit menundukkan kepala untuk mensejajarkan wajah mereka ini sebelum pria itu mengatakan apa tujuannya sebenarnya.
“Apa kau sungguh yakin dengan ucapanmu itu? Apa kau bisa membayangkan apa yang akan kulakukan padamu jika aku kehilangan kendali atas diriku?” tanya pria itu lamat-lamat seraya menyeringai, menatap lekat gadis yang kini justru menatapnya balik dengan sorot mata menantang. Alih-alih membuat gadis ini terintimidasi, yang ada justru sebaliknya. Keterpesonaanlah yang ia dapatkan begitu melihat netra sewarna madu yang tampak begitu indah laksana kristal. Membuatnya tak mampu berkedip walau hanya sedetik.
“Memangnya apa yang akan kau lakukan jika kau kehilangan kendali atas dirimu? Kau ingin mengambil kehormatanku lantas membunuhku? Menjual organ-organ dalamku ke pasar gelap? Ketahuilah, kau bukanlah jenis pria yang mampu melakukan hal-hal menjijikkan itu. Kalaupun kau mampu melakukannya, apa kau pikir aku adalah batu kali yang hanya diam saja saat dieksploitasi oleh para penambang liar?” balas Arsyelin seraya menyeringai lebar. Sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar.
Yang mana ucapannya itu sungguh membuat pria di hadapannya tertegun. Dan reaksi itu jelas sekali tak lepas dari pengamatan Arsyelin. Yang mana membuat gadis itu menyeringai semakin lebar.
“Katakan jika aku keliru, Tuan,” lanjutnya tanpa ampun. Membuat pria di hadapannya segera tertawa. Menertawakan dirinya sendiri yang telah gagal menjalankan rencananya. Ia sungguh tak menyangka bahwa gadis ini benar-benar memiliki kemampuan menebak ke arah mana rencananya akan berjalan.
Namun demikian, ia masih memiliki niat untuk menyudutkan gadis ini. Ingin melihat sejauh mana ia mampu melakukannya.
Tawa itu pun berubah menjadi seringai yang menggoda. Tangan kanannya bahkan terangkat. Ibu jarinya bergerak perlahan menyentuh lembut bibir sewarna cherry Arsyelin yang sedikit basah. Yang seketika mengalirkan desiran hebat dalam dirinya. Namun ia tahu, ia tidak boleh mundur sekarang, terlebih lagi ketika ia melihat gadis di hadapannya yang menatapnya tajam seakan menantang.
“Kau terlalu berprasangka baik padaku, Arsyelin,” lirih pria itu dengan nada lembut nan sensual. Di mana jarak wajah mereka kini tinggal sejengkal. Akibat posisi tubuh pria itu yang kini tengah sedikit membungkuk. “Bagaimanapun juga, aku adalah seorang lelaki normal. Yang akan dengan mudah kehilangan kendali jika melihat hal-hal indah seperti ini,” lanjutnya seraya mengusap lembut bibir Arsyelin.
Melihat manik sewarna lautan dalam di hadapannya yang tampak mulai berkabut, Arsyelin sedikit ragu.
Mungkinkah pria ini memiliki ketertarikan yang biasanya dimiliki oleh seorang pria terhadap wanita atas dirinya? Jika demikian adanya, masalah ini bisa sangat rumit. Pria ini pasti tidak hanya bergurau ketika mengatakan dirinya mungkin saja akan kehilangan kendali. Melihat bagaimana kabut di matanya itu bukanlah jenis kabut yang bisa diciptakan layaknya sebuah ekspresi. Sebaliknya, hal itu tercipta karena proses alami tubuh yang terlena akan sesuatu yang membangkitkan nalurinya sebagai seorang pria.
Arsyelin menelan ludah begitu menyadari hal itu. Haruskah ia meneruskan permainannya ini, ataukah sebaiknya ia membiarkan pria ini pergi dan mencari tahu kebenarannya di lain kesempatan?
Tidak. Rasa ingin tahunya tidak akan mampu menunggu kesempatan lain yang entah sampai kapan akan muncul. Saat inilah kesempatannya. Jika saat ini gagal, maka ia tidak akan memiliki kesempatan lagi. Karena, siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi esok hari?
Selain itu, dirinya masih sangat mempercayai hasil dari analisanya. Kalau begitu, ia telah memutuskan tidak akan mundur.
“Oh, apakah baru saja kau mengatakan kalau aku memiliki bibir yang indah? Lalu kenapa? Kau ingin menciumnya? Apa kau ingin mengatakan kalau kau akan kehilangan kendali karena melihat bibir indahku? Omong kosong. Hanya pria lemahlah yang tak mampu mengendalikan diri begitu melihat bagian dari diri wanita yang ia anggap menggoda, di saat wanita itu belum resmi menjadi miliknya. Dan kau tahu, kau bukanlah jenis pria yang lemah seperti itu,” sahut Arsyelin panjang lebar seraya menyeringai.
Nada suara Arsyelin pelan saja, bahkan diucapkan nyaris tanpa emosi. Tetapi, seketika menyentak kesadaran pria di hadapannya. Membuat pria itu menghentikan gerakan tangannya yang mengusap lembut bibir Arsyelin. Menatap gadis itu lekat. Seakan ingin melihat isi kepala gadis yang sama sekali tak menunjukkan rasa gentar di hadapannya ini.
Sebetulnya apa yang direncanakan gadis ini?
“Apa kau baru saja menegaskan bahwa kau sangat mempercayaiku?” lirih pria itu bertanya. Keningnya berkerut samar. Ada kilat kebingungan dari sorot matanya meskipun teramat samar. Namun, berkat
kejeliannya, Arsyelin jelas bisa menangkap respon sesaat itu. Yang mana kini telah berganti dengan seringai tak tahu malu.
“Sepertinya kau harus kecewa jika berpikir seperti itu, Arsyelin. Karena saat ini, aku sungguh ingin menikmati manisnya bibir indahmu. Tidak peduli apa pun penilaianmu terhadapku,” lanjut pria itu seraya mendekatkan bibirnya ke arah bibir Arsyelin. Di mana Arsyelin masih melihat kilat keraguan di mata pria ini. Yang mana itu menunjukkan bahwa pria ini hanya sedang mengancam saja. Berharap dirinya menyerah dan melepaskannya? Mimpi sana!
“Jika kau memang seperti apa yang kau katakan, aku akan dengan senang hati melihatnya.”
Kali ini pria itu benar-benar diselimuti oleh kebimbangan. Apa sebetulnya yang direncanakan gadis ini? Apakah dirinya sedang diuji? Ataukah gadis ini sungguh menginginkan ciuman pertamanya.
Kemugkinan terakhir adalah kemustahilan. Gadis seperti ini tidak mungkin memiliki pikiran rendahan seperti itu. Jadi, mungkinkah gadis ini sedang mengujinya? Menguji kebenaran analisanya terhadap trik murahan yang ia lakukan agar bisa meoloskan diri dari pertanyaannya?
Sial, aku sungguh tak menyangka kau akan secerdas ini, Arsyelin Wangsaguna.
Pria itu pun tersenyum dalam hati. Senyum kekalahan yang tak akan pernah ia tunjukkan di wajahnya. Karena sejatinya, ia belum kalah. Ia akan menang jika ia berhasil mencium gadis ini. Dan bertindak lebih jauh untuk menakuti dan mengintimidasinya.
Namun, sanggupkah ia melakukannya? Karena pada kenyataannya, gadis itu sungguhlah benar. Ia tidak akan pernah mampu melakukan hal itu. Apalagi terhadap wanita yang ingin ia jaga.
Teori memang mudah. Namun praktik tak akan semudah membalikkan telapak tangan.
Namun, pria itu memutuskan untuk mencobanya. Kepalanya sudah bergerak semakin mendekat ke arah Arsyelin. Bahkan Arsyelin bisa melihat mata pria itu perlahan terpejam. Membuat jantung gadis itu berdegup kencang tak terkendali.
Mungkinkah ia telah salah? Mungkinkah ia telah keliru? Tapi, bagaimana mungkin? Tidak. Ini tidak benar. Jika sampai analisanya kali ini keliru, ia bersumpah akan belajar lebih tekun lagi dalam memahami psikis manusia dan emosi-emosi yang terkandung di dalamnya. Ia tidak akan membiarkan analisa bodoh dan sembrono seperti ini kembali terulang.
Gadis itu mengepalkan tangan dan bersiap hendak memukul pria di hadapannya andai saja pria itu tidak segera menegakkan tubuhnya dan mengangkat kedua tangan di depan dada, tersenyum lebar seraya berujar, “Kau menang, Arsyelin, kau menang! Aku tak sanggup lagi melanjutkan permainan ini. Karena seperti katamu, aku sungguh tak memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan prinsip hidupku seperti ini. Meskipun aku sudah berupaya keras, tetap saja, aku tak mampu melawan ketajaman daya analisamu itu. Jadi, sebagai penghargaan atas kemampuanmu itu, aku akan mengatakan semuanya padamu. Apa pun yang ingin kau ketahui, aku akan mengatakannya.”
padahal ini cerita yang paling aku suka.
aku sampai membaca ulang beberapa kali sambil nunggu cerita ini di lanjutin, karna cerita ini memang seseru itu
selamat membaca 😊😊
good job outhor.. 👍👍
kapan-kapan
*SELESAIKAN APA YG SDH KAMU MULAI *
BIAR GK ADA HUTANG DIANTARA KITA ,
HABIS AQ CEK KARYA AUTHOR NGEGANTUNG SMUA ... ENK TU FINISH 1 BKIN LAGI IGAN LONCAT2 ,BIAR GK BERSA SAKIT DITINGGL PAS SYNG2NYA wkwkwkwk...😁
OVERALL NICE STORY , SO IM WAITING UR UPDTE OKAY ,,,,😊
THANKS BE4