Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Kematian dan Pembersihan Pos
Lembah yang sempit itu tiba-tiba terasa sekecil peti mati. Angin gunung yang berhembus membawa bau tajam dari darah algojo yang tubuhnya baru saja dipaku ke tanah oleh sebatang dahan.
Pria bercambuk yang berada di tingkat enam puncak menatap Lin Tian dengan mata menyipit tajam. Ia mencoba membaca fluktuasi energi dari pemuda berjubah abu-abu di depannya.
"Hanya aura tingkat tiga?" gumam pria itu. Keterkejutannya perlahan berubah menjadi seringai buas. Ia berasumsi bahwa Lin Tian hanyalah bocah beruntung yang menggunakan pusaka tersembunyi atau teknik lemparan rahasia untuk membunuh anak buahnya yang lengah.
"Kau punya nyali besar, Tikus Kecil. Berani membunuh anggota Taring Darah, kau tidak akan mati dengan mudah. Kepalamu akan kujadikan hiasan di tiang bendera ini!"
Pria itu melecutkan cambuk berdurinya ke udara hingga mengeluarkan bunyi ledakan kecil. "Kalian bertiga! Cincang dia menjadi pasta daging!"
Tiga penjaga tingkat lima yang tersisa langsung tersadar dari keterkejutan mereka. Dengan raungan marah, ketiganya menerjang Lin Tian secara bersamaan dari tiga sisi berbeda. Tiga bilah golok besar yang memancarkan Qi elemen angin menyapu ke arah leher, pinggang, dan kaki Lin Tian, menciptakan jaring kematian yang mustahil dihindari oleh kultivator sekelasnya.
Namun, di mata Lin Tian, gerakan mereka lambat dan penuh celah.
Tanpa mencabut pedang atau senjata apa pun, Lin Tian mengambil satu langkah maju. Tubuhnya merendah dengan sudut yang nyaris mustahil, membiarkan golok yang mengincar leher dan pinggangnya menebas udara kosong. Saat golok ketiga yang mengincar kakinya hampir tiba, Lin Tian menginjakkan kaki kanannya ke bilah golok tersebut dengan kekuatan yang menghancurkan bumi.
Trak!
Golok baja itu patah menjadi dua di bawah pijakan Lin Tian.
Sebelum ketiga penjaga itu menyadari apa yang terjadi, Lin Tian melesat bagaikan bayangan hantu ke tengah-tengah mereka. Tangan kanannya membentuk cakar, memancarkan pendaran ungu keemasan, dan merobek tenggorokan penjaga pertama. Di saat yang bersamaan, siku kirinya menghantam dada penjaga kedua dengan kekuatan murni Beruang Punggung Besi yang telah ia serap.
Krak! Tulang dada penjaga kedua melesak ke dalam, menghancurkan jantungnya seketika.
Penjaga ketiga membelalakkan matanya ngeri. Ia mencoba menarik diri dan mundur, namun tangan Lin Tian yang berlumuran darah telah lebih dulu mencengkeram wajahnya. Dengan satu putaran brutal, Lin Tian mematahkan leher penjaga terakhir itu.
Tiga mayat kultivator tingkat lima ambruk nyaris bersamaan. Waktu yang berlalu tak lebih dari tiga tarikan napas.
Keheningan kembali mencekik lembah. Para tawanan yang berlutut di belakang barikade lupa cara bernapas.
Pria bercambuk tingkat enam puncak mundur selangkah tanpa sadar. Seringai buas di wajahnya telah lenyap tak berbekas, digantikan oleh teror absolut. Ini bukan tingkat tiga. Tidak ada tingkat tiga di dunia ini yang bisa membantai tiga ahli tingkat lima dengan tangan kosong dalam sekejap mata!
"M-Monster..." desis pria itu dengan bibir gemetar.
Nalurinya memperingatkan bahwa lari adalah satu-satunya pilihan. Namun, reputasinya sebagai letnan Taring Darah membuatnya menolak kenyataan itu. Mengaum putus asa, ia mengalirkan seluruh Qi tingkat enam puncaknya ke dalam cambuk berduri miliknya. Cambuk itu bersinar merah darah, melesat ke arah Lin Tian layaknya ular kobra raksasa yang siap menelan mangsa.
"Tarian Cambuk Haus Darah!"
Ujung cambuk itu membelah udara, membawa daya hancur yang cukup untuk membelah batu karang menjadi debu.
Lin Tian tidak menghindar. Matanya menatap lintasan cambuk itu dengan tenang. Saat ujung berduri itu berjarak satu inci dari dahinya, tangan kanan Lin Tian melesat ke atas, menangkap cambuk tersebut secara langsung.
BAM!
Gelombang Qi merah darah meledak, namun tangan Lin Tian yang dilapisi Qi ungu keemasan tak tergores sedikit pun. Ia mencengkeram cambuk itu erat-erat.
"Teknik yang buruk. Energimu terlalu tersebar," evaluasi Lin Tian dingin.
Ia menyentakkan tangannya ke belakang. Tenaga fisiknya yang setara dengan monster tingkat lima dipadukan dengan kepadatan Qi naga menarik pria bercambuk itu hingga terpelanting ke depan, kehilangan seluruh pijakannya.
Saat pria itu terbang ke arahnya, Lin Tian mengepalkan tangan kirinya. Ia tidak perlu menggunakan Tinju Runtuh Lapis Pertama untuk ini; setengah dari kekuatannya sudah lebih dari cukup.
Tinju Lin Tian menghantam tepat di ulu hati pria tersebut.
BOOM!
Sebuah lubang mengerikan tercipta di punggung pria itu saat energi Qi naga menembus tubuhnya. Darah dan serpihan organ menyembur ke udara. Letnan Taring Darah itu tewas sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Lin Tian mengibaskan darah dari tangannya. Ia berjalan santai melewati mayat-mayat itu, mengambil kantong spasial milik si pemimpin pos, lalu berhenti di depan ketujuh tawanan yang masih berlutut gemetar.
Dengan satu ayunan ujung cambuk yang ia rampas, Lin Tian memotong tali yang mengikat tangan mereka semua.
"Pos ini sudah bersih. Jika kalian ingin hidup, pergilah ke arah selatan sekarang juga. Dalam satu jam, regu patroli Taring Darah lainnya pasti akan menyadari hilangnya kontak dari pos ini," ucap Lin Tian tanpa menoleh.
"T-Terima kasih, Tuan! Terima kasih atas kebaikan Anda!" Para kultivator liar itu bersujud haru sebelum lari terbirit-birit menuruni lembah.
Lin Tian tidak peduli pada mereka. Matanya menatap tajam ke ujung lembah, tempat kepulan asap vulkanik merah mulai terlihat membubung ke langit. Kawah Puncak Merah sudah di depan mata. Teratai Api Berdarah sedang menunggunya.
Ia melesat ke depan, menyatu dengan bayang-bayang pepohonan.