"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: GENGSI DI BALIK LENSA
Dinding kamar hotel tempatnya menginap selama di pusat kota malam itu menjadi saksi bisu atas kepuasan batin yang dirasakan Aini. Setelah melepaskan blazer biru dan mengganti pakaiannya dengan baju rumah yang longgar, piyama putih berlengan pendek celana panjang dengan rambut di cempol menapakan leher nya yang kuning langsat cerah. Aini duduk santai di sofa dekat jendela, menyesap secangkir teh hangat yang mengepulkan aroma melati. Sudut bibirnya tidak bisa berhenti mengukir senyuman tipis, memperlihatkan lesung pipi kirinya yang tenggelam manis.
Dia merasa sangat bangga pada dirinya sendiri. Mengingat kembali bagaimana wajah pucat dingin milik Arka Mahesa Pratama berubah menjadi merah padam menahan kesal di depan lift tadi, rasanya seperti sebuah kemenangan batin yang besar bagi Aini. Dia bukan lagi wanita rapuh yang bisa diintimidasi oleh gertakan uang atau status sosial seorang pria.
Setelah puas merenung, Aini membuka ponselnya, kembali fokus menumpahkan seluruh energinya untuk mengetik kelanjutan naskah novel "Luka dalam Rumah Tangga" yang malam itu angka pembacanya kian meroket tajam di aplikasi NovelToon.
Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit korporasi raksasa miliknya, kedamaian malam Arka Mahesa Pratama justru telah dirampok oleh rasa kesal yang luar biasa. Pria berusia 35 tahun itu berdiri menatap gemerlap lampu kota di balik dinding kaca ruang kerjanya yang luas dengan rahang yang mengeras. Arka sama sekali tidak merasa bersalah, melainkan merasa teramat tersinggung oleh kelancangan ucapan Aini di depan lift tadi sore.
Ego lelakinya yang setinggi langit tersengat hebat. Sepanjang hidupnya yang disiplin dan penuh kuasa, tidak ada satu pun orang yang berani menceramahinya, apalagi menuduhnya sengaja mencari-cari kesalahan naskah hanya karena gengsi meminta maaf atas insiden "pria hidung belang" di lift khusus dulu. Arka mendengus kasar, merapikan kerah kemejanya dengan gusar. Arka bertekad untuk menunjukkan wajah dinginnya secara profesional, membuktikan pada Aini bahwa dia adalah investor tertinggi yang memegang kendali mutlak atas proyek ini, bukan seorang pria yang sedang mencari perhatian.
Beberapa hari berlalu membelah kesibukan pra-produksi yang padat. Hari yang dinanti pun tiba; proses syuting hari pertama untuk web series "Luka dalam Rumah Tangga" akhirnya resmi dimulai di sebuah set lokasi luar ruangan (outdoor) yang cukup megah di sudut pusat kota. Sebagai penulis asli cerita, Aini hadir di lokasi sejak pagi hari untuk memantau jalannya pengambilan gambar. Dia tampil sangat rapi dan modis, duduk di samping kursi sutradara dengan memegang draf naskah, fokus seratus persen pada jalannya pekerjaan tanpa memikirkan hal lain.
Namun, ketenangan di lokasi syuting tersebut mendadak terusik ketika rombongan mobil mewah berwarna hitam legam perlahan memasuki area parkir VIP produksi. Suasana di sekitar set syuting seketika berubah menjadi kaku dan tegang. Sutradara dan produser utama langsung bangkit berdiri dengan terburu-buru begitu melihat sosok Arka Mahesa Pratama melangkah turun dari mobil, didampingi oleh Arga yang berjalan siaga di belakangnya. Pria berusia 35 tahun itu datang melakukan inspeksi mendadak, sengaja hadir untuk memancarkan aura kekuasaan dan dominasinya sebagai pemilik modal tunggal terbesar.
Saat langkah kaki Arka bergerak mendekati meja sutradara, netranya seketika bertabrakan dengan sepasang mata teduh milik Aini. Di bawah sorot lampu syuting dan teriknya cuaca kota, pertarungan gengsi tingkat tinggi langsung dimulai di antara mereka berdua. Baik Arka maupun Aini memperlihatkan akting muka datar yang luar biasa sempurna. Mereka berpura-pura saling tidak kenal, mengunci ekspresi wajah mereka dalam topeng ketidakpedulian yang sedingin es.
Sutradara yang tidak tahu-menahu tentang badai di antara keduanya, segera berbalik menatap Aini untuk meminta pendapat mengenai sebuah adegan emosional yang baru saja diambil gambarnya oleh kamera.
"Bagaimana menurutmu, Aini? Apakah penekanan emosi aktrisnya sudah pas dengan nyawa di bab novelmu?" tanya sutradara ramah.
Aini menegakkan punggungnya, menatap layar monitor kecil di depan mereka dengan serius. Tanpa melirik atau memedulikan keberadaan Arka yang berdiri kokoh hanya berjarak dua langkah di sampingnya, Aini memberikan penjelasan yang teramat cerdas, taktis, dan logis tentang esensi adegan tersebut.
"Sudah sangat pas, Pak Sutradara. Gerakan matanya sudah mewakili rasa sakit hati seorang istri tanpa harus terlihat mendramatisir keadaan," ujar Aini, suaranya meluncur tenang dan penuh wibawa profesi.
Arka yang berdiri mendengarkan penjelasan tersebut tetap memasang wajah ketus, kaku, dan dingin. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap monitor dengan pandangan mata yang tajam sebelum akhirnya melontarkan satu komentar pendek yang bernada mendikte untuk menekan ego Aini.
"Pastikan saja pengambilan gambar berikutnya tidak membuang-buang waktu dan anggaran investasi saya hanya demi mengejar detail emosi yang berlebihan," ketus Arka dingin, sengaja menyerang sisi idealis Aini di depan tim produksi.
Mendengar sindiran tajam dari sang presdir 35 tahun itu, Aini tidak merengut ataupun membalasnya dengan omelan kasar. Dia hanya mengukir sebuah senyuman formal yang teramat tipis di bibirnya, menganggukkan kepalanya sekilas tanpa ekspresi bersalah sedikit pun.
"Baik, Bapak Arka yang terhormat. Semua proses berjalan sesuai jadwal yang profesional," jawab Aini pendek, lalu dengan gerakan yang teramat cuek, dia langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Arka untuk kembali berdiskusi dengan kru kamera, mengabaikan keberadaan sang penguasa seolah pria itu hanyalah angin lalu di lokasi syuting.
Rahang Arka Mahesa Pratama seketika mengeras menahan rasa gemas yang luar biasa di dalam dadanya. Diabaikan secara terang-terangan oleh seorang wanita di depan umum adalah pengalaman pertama yang membuat batinnya bergejolak hebat. Di balik sikap saling tidak suka, saling cuek, dan pura-pura bermusuhan tersebut, sepasang manusia yang sama-sama keras kepala ini sebenarnya diam-diam mulai dirongrong oleh percikan ketertarikan asing yang kian mengusik kedamaian pikiran masing-masing. Mereka berdiri di atas panggung gengsi yang sama, saling melempar dinding es, menutup hari pertama syuting dengan ketegangan profesional yang teramat mahal dan memikat batin pembaca NovelToon.
Sebab, pertarungan gengsi yang paling sengit dari dua hati yang keras bukanlah saat mereka saling beradu argumen dengan kata-kata tajam, melainkan saat mereka saling tertarik namun memilih untuk bertarung menggunakan topeng ketidakpedulian yang dingin; membuktikan bahwa sebuah luka batin yang telah sembuh tidak akan pernah bisa ditekuk oleh keangkuhan sebuah kekuasaan.