Penguasa Daratan Merah
Menceritakan tentang seorang Raja Daratan Merah yang diincar oleh ketiga dewa agung, karena membawa ramalan buruk tentang mereka.
Zhen Wu yang mengetahui tentang ancaman itu, mencoba melawan mereka dengan segala kemampuannya. Dia menggunakan sebuah skill khusus yang hanya dia sendiri yang memilikinya, skill tersebut bernama Jiwa Neraka. Skill yang dapat mampu memanggil para Hantu dan mayat hidup yang sudah mati.
Namun karena kecerobohannya, dia pun terbunuh oleh ketiga Dewa Agung tersebut. Untungnya dia bisa memanfaatkan kelengahan para dewa, dan berhasil membawa jiwanya ke alam dunia bawah.
Zhen Wu yang telah berhasil berpindah tubuh, kini mulai bertekad akan membalas dendam terhadap para dewa yang mengincarnya, dan membuat ramalan yang ditakuti oleh mereka menjadi kenyataan.
*diusahakan update 2 chapter sehari atau lebih
*maaf jika masih terdapat banyak kekurangan, nantinya akan terus saya perbaiki.
terima kasih sudah membaca 😁
ig : @man_gervis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Man Gervis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 28 : Mini Turnamen
Zhen Wu terus mendengar cerita yang dialami oleh Jung Jiun, bahkan beberapa pertanyaan yang masih ada dalam benaknya, semuanya sudah terjawab sekarang.
Dirinya juga melihat warna perasaan milik Jung Jiun tetap stabil di warna biru, yang artinya dia memiliki keyakinan dengan apa yang dia ceritakan saat ini.
Dari Sini Zhen Wu menilai bahwa apa yang diceritakan oleh Jung Jiun semuanya adalah kebenaran. Dia mulai berpikir apakah dia harus menerima Jung Jiun sebagai murid atau menolaknya.
"Yah, sepertinya aku sudah tidak memiliki pertanyaan lagi, sebab paman Jiun sudah menjawab semua yang ingin aku tanyakan," ucap Zhen Wu yang sudah cukup puas dengan jawaban yang diberikan.
"Berarti... Apakah aku diterima sebagai murid? Kau akan mengajarkanku kan?" tanya Jung Jiun dengan harapan tinggi.
Zhen Wu yang melihat Jung Jiun sangat berharap jika dirinya mau mengajarkannya, kini menanyakan sesuatu lagi pada Jung Jiun, "Apa paman Jiun tidak masalah jika aku yang masih tiga belas tahun menjadi gurumu? Bukankah harga dirimu akan terluka nantinya, jika harus menerima kenyataan ini."
Zhen Wu berpikir bahwa Jung Jiun akan bimbang dengan pertanyaannya, namun ternyata hal itu berbeda dengan apa yang dia pikirkan.
"Sejak awal kita bertemu, aku tidak merasa bahwa aku sedang berbicara dengan seorang bocah yang di bawah umur, melainkan dengan orang yang sepuh yang berpengetahuan tinggi. Entah kenapa aku berpikiran seperti ini, namun insting ku mengatakan bahwa ini kemungkinan benar."
"Ohh... Menarik juga pria tua ini."
"Kalau kenyataannya memang benar sesuai dengan yang kau pikirkan, apa tanggapan mu atas diriku?" tanya Zhen Wu dengan serius. Dia ingin melihat respon dari Jung Jiun.
"Haha, kalau memang kebenarannya seperti itu, aku malahan merasa senang, karena bisa memiliki seorang guru yang berpengetahuan luas." Dengan ini Jung Jiun merasa bahwa Zhen Wu pasti telah menerimanya. Maka dari itu dia mulai memanggilnya dengan sebutan guru.
Zhen Wu tertawa mendengar jawaban Jung Jiun, "Haha...." Perlahan tawa dari Zhen Wu mulai memudar. "Namun aku sedang tidak bercanda sekarang. Bagaimana jika pemikiran mu sebelumnya memang benar?" tanyanya lagi dengan tatapan tajam.
Tatapan yang diberikan Zhen Wu hampir melepaskan semua aura kekuatan hantunya. Dirinya mencoba memancing Jung Jiun untuk melawannya dengan insting bertahan hidup para kultivator.
Jung Jiun begitu terkejut saat merasakan aura yang begitu menakutkan yang keluar di sekeliling Zhen Wu. Dirinya yang berada di ranah Penyatuan Alam tahap menengah, bisa dengan mudahnya tunduk dan bertekuk lutut kembali.
Hal ini juga dikarenakan Jung Jiun mencoba menahan keterkejutannya mengenai aura hantu tersebut, sekaligus bisa memantapkan hatinya untuk tetap mengikuti Zhen Wu sebagai gurunya.
"Sekarang aku tidak lagi meragukan mu. Dengan ini, aku Jung Jiun, putra dari Jung Bao sang pandai besi, meminta untuk setia menjadi murid mu." ucap Jung Jiun serius sambil berlutut dengan satu kakinya.
Zhen Wu mencoba melihat lagi warna perasaan Jung Jiun, dia ingin mengetahui apakah yang dikatakannya itu benar atau salah.
Dalam pandangan Zhen Wu, warna perasaan Jung Jiun tetap menunjukan warna Biru, yang berarti dia dengan penuh keyakinan mengatakan itu tanpa kebohongan.
"Aku menerima mu sebagai murid ku. Ku harap kau tidak mengkhianati ku di masa depan, karena kau pasti akan menyesal jika sampai berkhianat padaku," ancam Zhen Wu dengan masih memperlihatkan aura hantu miliknya.
"Ayahku adalah orang yang jujur serta baik hati sampai akhir hayatnya. Karena itu, sebagai anaknya aku selalu di ajarkan untuk terus mengikuti jejaknya. Maka percayalah, aku tidak akan mengkhianati mu, Guru!"
Zhen Wu salut dengan keseriusan dari Jung Jiun, dirinya kini menerima sepenuhnya Jung Jiun menjadi muridnya saat ini. Dia kemudian menarik kembali semua aura hantunya.
"Baik, mulai sekarang kau adalah murid ku. Setelah turnamen ini selesai, keluarlah dari kota Tenrou dan ikuti aku ke desa Zhanzi, disana lah aku akan mengajarkan mu cara menempa senjata Mistik. Apa kau bersedia?" tanya Zhen Wu.
Tanpa berpikir panjang, Jung Jiun langsung berkata dengan semangat, "Yaa! Aku bersedia guru."
"Ini sesuatu yang tak terduga. Dengan ini aku sudah memiliki rencana yang besar untuk desa Zhanzi di masa depan nanti."
Zhen Wu lalu berbalik dan siap untuk menempa senjata yang kedua. Dia memperhatikan Jung Jiun yang fokus melihat dirinya menempa. Cara yang dilakukan oleh Zhen Wu tetap sama seperti yang di awal, namun sekeras apapun Jung Jiun memperhatikan, dirinya tidak bisa menangkap teknik yang dilakukan Zhen Wu.
"Seberapa keras kau melihatnya, hal ini tidak akan bisa kau lakukan. Tenang saja, aku akan mengajarimu nanti."
Zhen Wu melanjutkan perkataannya, "Karena kau sudah memilih untuk mengikuti ku, maka ini yang harus kau dengarkan. Pertama, aku ingin kau ...."
...***...
Pintu ruangan belakang mulai terbuka. Banyak dari para pekerja melihat ke arah dua orang yang masuk kembali ke bangunan pandai besi, mereka adalah Zhen Wu dan Jung Jiun.
Zhen Wu berterima kasih pada Jung Jiun dan pamit padanya. Para pekerja melambaikan tangan atas kepergian Zhen Wu, mereka berkata, "Nak, jika kau ingin menempa senjata lagi, berkunjunglah ke tempat kami, ya!"
"Baik, terima kasih semua atas keramahan kalian. Aku pamit dulu," ucap Zhen Wu sopan kepada para pandai besi yang lain.
Zhen Wu mulai berjalan keluar, dirinya saat ini merasa sudah cukup lama berada di pandai besi. Dia lalu teringat akan dua hantunya yang kemungkinan masih menonton pertarungan.
"Aku harus melihat mereka berdua lagi. Semoga saja mereka tidak membuat masalah," gumam Zhen Wu merasakan firasat gak enak mengenai mereka.
Dirinya tetap mengikuti jalan yang sebelumnya dia lewati. Begitu sampai di jalan bercabang sebelumnya, dia melihat ke arah serikat dagang di sisi seberang. Dengan ekspresi datar, Zhen Wu terus berjalan ke depan hingga dirinya melihat sorak-sorakan penonton dari kejauhan.
Berbeda dengan di awal, kali ini para penonton semakin banyak menyaksikan mini turnamen tersebut. Zhen Wu sampai kesulitan menerobos penonton untuk mencari dimana kedua hantunya berada.
Namun begitu dia sampai dengan jarak yang cukup dekat dengan panggung pertandingan, dirinya terkejut melihat Zi Li tengah bertarung dengan Zi Rin di atas panggung arena.
"Astaga, ku pikir kalian hanya menon.. Ah sudah lah, sudah terjadi."
"Tring! Tring! Tring"
Kedua senjata mereka saling berbenturan. Zi Li yang ahli dalam memainkan pisau, kesulitan melawan Zi Rin yang menggunakan teknik pedangnya. Dirinya beberapa kali di pukul mundur, sebab daya serangan yang dimiliki Zi Rin lebih besar dibandingkan dengannya.
"Menyerah lah Zi Li, kau tidak akan bisa mengalahkan ku. Kau itu lemah dalam duel seperti ini," ucap Zi Rin mengejek.
"Aku tidak akan kalah, akan ku buktikan padamu aku bisa mengalahkan mu!" balas Zi Li dengan yakin.
"Sudahlah, aku tahu kau sendiri ragu kan, untuk bisa mengalahkan ku. Akui saja." Dalam pertarungan itu, Zi Rin kerap kali memakai kekuatan Warna Perasaan miliknya. Dia melihat warna perasaan milik Zi Li terus menerus berputar di warna ungu.
"Dasar curang!" Zi Li Mulai marah pada Zi Rin yang terus menerus melihat warna perasaannya, padahal dirinya ingin menyembunyikan keraguan miliknya.
Zhen Wu tanpa sadar mulai tertarik dengan pertandingan mereka. Dirinya kerap kali melihat kedua hantunya itu yang sedang bertarung dengan sengit. Bahkan dia sendiri pun juga ingin rasanya berpartisipasi, akan tetapi masih bisa ditahan olehnya.
"Haha, pertandingan yang menarik. Namun sayang sekali Zi Li, kau tidak akan bisa menang melawan Zi Rin yang sangat ahli dalam duel satu melawan satu. Kau sedari awal hanya dipermainkan olehnya," ucap Zhen Wu pelan sambil terus melihat mereka bertanding.
Tak lama setelah itu, Zi Li terlempar ke belakang arena, hingga membuat Zi Rin memenangkan pertandingan.
Para penonton bersorak atas kemenangan Zi Rin. Mereka tidak menyangka bahwa pertarungan kedua gadis ini sangatlah seru dan bisa membuat mereka tegang menontonnya.
Pandangan Zi Rin tiba-tiba melihat kearah Zhen Wu, dengan perasaan bersalah, dirinya ingin meminta maaf karena telah mengikuti pertandingan ini.
Akan tetapi Zhen Wu tersenyum hangat padanya sambil mengatakan kata 'selamat', membuat Zi Rin sesaat merasa sangat senang. Sampai ketika tiba tiba dirinya bisa melihat warna perasaan Zhen Wu berubah warna menjadi merah, membuat Zi Rin langsung tersenyum sedih serta ketakutan.
Zhen Wu pergi ke arah Zi Li, dia membantunya berdiri atas kekalahan melawan Zi Rin.
"Tu ...." Ucapan Zi Li terhenti saat melihat Zhen Wu mengulurkan tangannya. "Ah, terima kasih."
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Zhen Wu sambil tersenyum.
"Aku tidak terluka sama sekali. Zi Rin masih menahan serangannya untuk tidak melukai ku, tua ...." balas Zi Li yang dipotong lagi oleh Zhen Wu.
Zhen Wu sengaja melakukan hal itu karena kebiasaan mereka memanggil dirinya. Karena saat ini mereka masih berada diantara keramaian penonton.
"Akan ku tunggu kalian berdua menjelaskan apa yang terjadi padaku saat ini," ucap Zhen Wu yang senyumannya mengandung arti lain bagi Zi Li.
Zi Li yang mendengar perkataan itu, perlahan mengerti. Dirinya mulai merasa takut karena mereka awalnya hanya meminta izin untuk menonton, bukan ikut pertandingan.
"Kenapa Zi Rin belum juga turun kembali?" tanya Zhen melihat ke panggung.
"Ee... Zi Rin masih memiliki satu pertandingan final lagi. Dia akan melawan seorang pria yang ada disana," balas Zi Li menunjuk ke arah pria remaja yang seumuran dengan kakaknya Zhen Wu, Zhen San.
Pria tersebut bernama Yin Sen, dirinya kini mulai menaiki panggung yang sama dengan Zi Rin.
Para penonton bersorak dengan pertarungan yang akan terjadi di antara mereka. Kini keduanya tengah bersiap sambil dari dari masing masing mereka memegang pedang di antara kedua tangannya.
"Bersiaplah! final pertandingan ini akan dimulai. Masing masing dari peserta apa kalian berdua siap?" tanya sang pembawa acara.
"Yaa, aku sudah siap," jawab mereka berdua serentak.
"Bagus! Kalau begitu, mari kita mulai pertandingan Finalnya!!" Teriak pembawa acara.
Selanjutnya>>>
Tokoh villain nya kapan muncul ya? Semoga villainnya cukup keren dan sebanding. Jangan ngebadut. Jadi perjuangan MC lebih terasa gitu. Ga melulu OP.