Eleana harus berjuang mendapatkan kembali cinta Aaron setelah lelaki itu mengalami kecelakaan tragis yang membuatnya kehilangan ingatan.
Bukan hanya melupakannya, Aaron bahkan berniat menikahi Naura, sang mantan kekasih yang dulu pernah meninggalkannya.
Akankah Eleana terus berjuang mendapatkan Aaron kembali meskipun beribu kesakitan terus menderanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KE RUMAH LAMA
Saat melihat alamat Eleana yang tertera dalam berkas itu, Aaron menarik napas panjang. Ingatan saat dirinya menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengusir Eleana kembali terlintas. Aaron bahkan mengingat saat sang asisten rumah tangganya mengatakan kalau Eleana pergi hanya dengan membawa uang yang bahkan tidak sampai satu juta.
"Kenapa alamat Mbak Eleana bisa sama dengan alamat rumah yang Pak Aaron tinggali?" Anita berpura-pura bertanya. Padahal, Anita jelas tahu alasan kenapa Eleana tinggal di sana.
Alamat rumah itu membuat Anita semakin mempercayai cerita Eleana yang mengatakan kalau perempuan itu adalah istri dari bos dinginnya. Tidak mungkin Eleana tinggal di rumah yang sama jika dia tidak punya hubungan apa pun dengan Aaron.
"Sebaiknya kamu simpan pertanyaan kamu, Anita!" Aaron terlihat kesal.
Aaron tidak tahu jika Eleana menggunakan alamat rumahnya. Rumah yang akan dia hadiahkan untuk Naura setelah mereka berdua menikah. Dia pikir, Eleana memakai alamat yang saat ini dia tinggali.
Aaron bangkit dari kursi kebesarannya. Lelaki berparas sangat tampan itu kemudian berjalan meninggalkan ruangannya. Namun, sebelum lelaki itu benar-benar pergi, dia memberi tugas pada Anita untuk menghandle semua urusannya hari ini.
Anita hanya mengangguk mengerti. Dalam hati, dia berdoa, semoga Aaron bisa segera menemukan Eleana. Perempuan itu perempuan baik. Dia pantas bahagia bersama Aaron.
Eleana lebih cocok bersama dengan Aaron dibandingkan dengan Naura yang judesnya Naudzubillah!
***
Aaron mengemudikan mobilnya menuju rumah yang nantinya akan dihadiahkan untuk Naura setelah mereka menikah. Rumah yang sekaligus dulu pernah dia tempati selama menikah dengan Eleana. Hanya saja, Aaron tidak mengingatnya sama sekali.
Saat mobil Aaron baru saja sampai di pintu gerbang, beberapa orang yang ditugaskan untuk menjaga rumah langsung membuka pintu gerbang setelah melihat siapa yang datang.
Aaron membuka pintu mobil. Lelaki itu memindai sekitarnya. Ada beberapa yang terlihat berbeda dari terakhir kali dia datang ke rumah itu.
Lelaki itu melangkah masuk ke dalam rumah. Wajahnya tersenyum saat melihat ruangan di dalam rumah itu. Semua desainnya sangat berbeda dengan terakhir kali Aaron lihat.
Dulu, saat Aaron masuk ke dalam rumah itu, terlihat foto-foto Eleana dan Aaron yang menggunakan gaun pengantin dan ada foto-foto kebersamaannya bersama Eleana dengan berbagai pose.
Foto-foto yang dikatakan oleh Miranda dan Naura sebagai foto editan, bukti obsesi Eleana terhadapnya. Kini, foto-foto itu sudah tidak ada lagi. Semuanya berganti dengan desain yang Aaron yakini sesuai dengan keinginan Naura.
Namun, saat melihat rumah itu tak lagi sama, dalam hati Aaron justru merasa tidak terima. Seperti ada yang hilang, tetapi, Aaron tidak tahu itu apa.
Aaron melangkah menuju kamar utama. Kamar yang dulu ditinggali oleh Eleana dan dirinya. Hanya saja, karena ingatannya tumpul, Aaron tidak mengingatnya sama sekali.
Aaron membuat lemari pakaian yang kini tampak kosong. Berbeda seperti saat sebelum dirinya mengusir Eleana. Bukan hanya lemari, Aaron juga meneliti setiap bagian dari kamar itu.
Entah kenapa, ada perasaan yang tak asing saat berada di dalam kamar itu. Aaron menoleh ke arah pintu saat terdengar suara ketukan pintu.
"Pak Aaron." Seorang perempuan berpakaian pelayan masuk dengan tergesa. Perempuan berusia sekitar tiga puluh tahunan itu kemudian dengan cepat memberikan sesuatu pada Aaron.
"Pak Aaron, maafkan saya. Saya sudah lama menunggu Anda kemari. Tolong simpan itu, jangan sampai ada yang tahu." Pelayan itu menengok kanan dan kiri.
"Jangan sampai seorang pun tahu. Saya permisi, Pak." Perempuan itu buru-buru keluar dari kamar.
Aaron merasa ada yang tidak beres. Meskipun kebingungan sekaligus penasaran, Aaron menuruti keinginan pelayan itu untuk menyembunyikan pemberian perempuan itu di balik jasnya.
Baru saja Aaron merapikan jasnya, suara ketukan pintu mengagetkan Aaron.
Seorang pelayan yang Aaron kenal sebagai Rosi masuk. "Selamat siang, Pak Aaron. Maafkan saya karena tidak mengetahui kedatangan Pak Aaron." Rosi membungkukkan badan sedikit sebagai permintaan maafnya.
"Tidak apa-apa, Ros. Saya hanya mampir. Ingin melihat-lihat rumah ini sudah rapi apa belum. Kamu tahu sendiri 'kan, kalau pernikahan aku dengan Naura tinggal seminggu lagi? Saya ingin semuanya sudah siap seperti yang diinginkan Naura." Aaron berjalan keluar dari kamar itu melewati Rosi yang berdiri di depan pintu.
"Saya ingin melihat-lihat ruangan lain. Tolong kamu siapkan makan siang untuk saya." Aaron menatap sekilas pada Rosi.
"Baik, Pak."
Aaron berkeliling rumah itu. Berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa mengingatkannya pada masa lalu. Namun, tidak ada satupun yang membuat Aaron mengingat semuanya. Apalagi, desain rumah itu juga sangat berbeda dari sebelumnya.
Merasa lapar, Aaron pun pergi ke dapur untuk makan siang. Rosi sudah menyuruh seseorang untuk memasak untuk makan siang sang majikan yang datang dengan tiba-tiba.
Aaron tersenyum saat Rosi dan seorang pelayan lain menghidangkan makanan di meja makan.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Pak." Rosi dan temannya menjawab bersamaan.
Aaron kemudian menyantap makan siangnya dengan lahap. Pada suapan pertama, Aaron sedikit terkejut saat merasakan rasa masakan itu. Aaron merasa pernah memakan masakan dengan rasa yang sama seperti yang saat ini dia rasakan, tetapi, dia tidak ingat pernah makan di mana.
"Makanannya sungguh enak. Saat saya tinggal di rumah ini lagi nanti, saya ingin kalian memasak makanan yang seperti ini untuk saya. Terima kasih, Rosi, masakan kamu sungguh enak." Aaron tersenyum pada Rosi.
"Sebenarnya, yang masak semua makanan ini bukanlah saya, Pak. Saya hanya menyiapkannya saja." Rosi tersenyum malu.
"Mira yang memasaknya." Rosi menunjuk seseorang yang baru saja datang dari dapur. Mira tersenyum sambil menundukkan kepala saat Aaron menatapnya. Sedangkan Aaron merasa sedikit terkejut saat melihat pelayan itu. Wanita itu adalah seseorang yang memberikannya sesuatu saat di kamar tadi.
Tanpa sadar, Aaron mengusap jasnya. Memastikan jika amplop berwarna cokelat yang diberikan oleh perempuan itu masih ada di sana. Aaron hampir saja melupakannya saat berkeliling rumah tadi.
"Terima kasih, Mira. Masakan kamu enak sekali."
"Terima kasih, Pak Aaron."
Selesai makan siang, Aaron berpamitan pulang. Pria itu ingin melanjutkan rencananya untuk mencari Eleana. Sebenarnya, Aaron bisa saja menyuruh seseorang untuk mencari Eleana. Namun, menurut Aaron itu akan sangat berbahaya.
Orang-orang suruhan Aaron sebagian termasuk orang-orang kepercayaannya Alex Wijaya. Aaron tidak mau menanggung resiko membahayakan Eleana jika ayahnya sampai tahu kalau dia masih mencari Eleana.
Kedua orang tuanya sangat tidak suka dengan Eleana. Mereka berdua bahkan sudah berulang kali memperingatkannya untuk tidak lagi bertemu dengan Eleana. Mereka ingin Aaron memecat perempuan itu sebagai asisten pribadinya.
Oleh karena itu, Aaron lebih memilih untuk mencari Eleana dengan cara seperti ini. Biar saja lama, yang penting tidak membahayakan Eleana.
Aaron melajukan mobilnya menuju apartemen. Hari ini dia memutuskan untuk beristirahat di apartemen miliknya.
Aaron membuka amplop yang diberikan pelayan bernama Mira di rumahnya tadi. Kedua matanya membola saat Aaron melihat isi dari amplop tersebut.
BERSAMBUNG ....
Kepoin novel keren milik temen Author yuk!
terimakasih author maaf juga mungkin di kala buat koment ada yng kebablasan 🤭
lope lope author Nazwa ❤❤
beberapa typho thor 💪💪