Ayura Azura sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama pada Elvano, cowok populer di kampusnya. Saat mabuk, tanpa sadar Yura menyatakan perasaannya pada Elvano secara langsung. Dan saat cintanya bersambut, masa lalu kedua orang tua mereka menjadi penghalang terbesar bagi hubungan mereka. Akankah mereka bisa terus mempertahankan cinta mereka?
Ikuti yuk kisah Yura dan Vano dan jangan lupa masukkan sebagai favorit kalian.
Terus dukung Author ya. Jangan lupa like, komen, vote, hadiah dan bintang 5 nya.
Terimakasih 🙏🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar Riyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : BSC
Malam pergantian tahun pun tiba, Yura tengah berdiri didepan cermin sambil memoleskan bedak diwajahnya dan menggunakan lipstik merah dibibirnya. Yura sengaja ijin pada ibunya untuk menginap dikosan Riri agar ia bisa pergi menemui Vano malam ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Yura pun mempercepat dandannya karena takut Vano terlalu lama menunggunya.
"Ra, taksinya sudah menunggu didepan" ucap Riri yang sudah membantu mencarikan taksi untuk sahabatnya itu.
"Oke, terimakasih" jawab Yura dengan senyum sumringah.
Selesai berdandan, Yura bergegas keluar dari dalam kosan dan segera masuk ke dalam taksi. Taksi itu pun melaju pergi meninggalkan area kosan Riri menuju ke arah basecamp. Sayangnya jalanan kota malam itu cukup padat karena sebagian orang berada diluar rumah untuk menyaksikan kembang api dimalam pergantian tahun hingga membuat Yura terjebak macet.
Yura beberapa kali melihat jam dari layar ponselnya dengan perasaan gelisah karena Vano pasti sudah menunggunya sangat lama di basecamp.
Hampir satu jam lebih Yura berada didalam taksi akhirnya taksi itu berhenti didepan gerbang basecamp. Yura bergegas turun dan berlari melewati pintu gerbang menuju pintu rumah itu. Yura berhenti tepat didepan pintu dan menarik nafas panjang, ia merasa sangat gugup. Setelah mengumpulkan keberanian akhirnya dengan kedua tangannya Yura membuka pintu rumah itu dengan senyum mengembang diwajahnya.
Vano yang sedang duduk disofa menoleh ke arah kedatangan Yura. Ia terpana melihat wajah cantik Yura dengan make up diwajahnya karena tidak biasanya gadis itu berdandan.
"Maaf kak, aku terlambat" ucap Yura merasa malu karena Vano terus menatapnya tanpa berkedip.
Vano menurunkan pandangannya karena ia juga merasa sangat gugup.
"Tidak masalah, aku juga baru datang" ucap Vano kembali berbohong, padahal ia sudah berada di basecamp sepanjang hari.
Pria itu berdiri dan menghampiri ke arah Yura untuk menggandeng tangannya dan membawanya ke balkon atap rumah itu. Mereka pun melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju balkon.
"Tunggulah disini, aku akan turun kebawah" ucap Vano yang dijawab anggukan oleh Yura.
Vano meninggalkan Yura sendirian dibalkon atap. Ia kembali turun kebawah dan kini ia sudah berdiri dihalaman rumah itu dengan memandang ke atas dimana Yura tengah berdiri disana menatap ke arahnya.
"Bersiaplah!" teriak Vano dan Yura pun menganggukkan kepalanya.
Vano mengeluarkan korek api dan mulai menyalakan kembang api yang sudah ia siapkan. Seketika langit pun dihiasi oleh warna-warni kembang api dimalam tahun baru. Yura terlihat begitu bahagia dan tertawa lepas. gadis itu terlihat sangat senang melihat banyak kembang api yang menyala diatas sana.
Melihat tawa bahagia diwajah gadis itu, Vano ikut tersenyum.
"Tuan putri harus selalu tersenyum bahagia seperti ini" batin Vano tanpa melepaskan pandangannya dari Yura. Mungkin setelah ia pergi, ia tidak akan bisa melihat senyuman itu lagi. Tapi ia berharap gadis itu bisa bahagia walaupun tanpa ia disisinya.
"Selamat tahun baru..." teriak Yura dari atas balkon.
"Selamat tahun baru..." balas Vano dari bawah
Vano berlari masuk ke dalam rumah dan menaiki tangga menuju ke atas balkon. Tanpa mengatakan apapun Vano membalikkan tubuh gadis itu dan langsung mendaratkan ciuman dibibirnya. Sementara Yura hanya bisa pasrah saat Vano tiba-tiba menciumnya. Ia pun memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman pria itu.
Pergantian tahun sudah lewat, waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Yura berjalan masuk ke dalam kamar Vano dan melihatnya sudah tidur sambil duduk diatas ranjangnya. Yura pun menarik selimut untuk membantu menutupi tubuh pria itu. Kemudian ia mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah pria itu dari arah dekat.
"Dalam keadaan tidur saja ia masih tetap tampan" gumam Yura mengagumi wajah tampan Vano.
Pandangan Yura turun ke bibir Vano dan ia pun teringat kembali akan ciuman mereka tadi diatas balkon.
Cetakkkk
Yura menjitak kepalanya sendiri karena mulai berfikir yang macam-macam.
"Apa yang aku pikirkan, sebaiknya aku tidur disofa depan saja" gumam Yura, gadis itu pun melangkahkan kakinya keluar dengan cepat dari dalam kamar Vano.
Mendengar pintu kamarnya kembali tertutup, Vano membuka matanya. Sebenarnya, ia hanya pura-pura tidur saja tadi. Hatinya terasa begitu sakit setiap mengingat ia akan pergi meninggalkan gadis itu. Apakah ia akan sanggup menjalani hari-harinya nanti tanpa senyuman gadis itu lagi.
🌟🌟🌟
Siang itu Lisa datang mengunjungi kediaman Mario. ia merasa sangat senang karena pada akhirnya Mario dan Mira telah resmi bercerai, hingga ia kembali memiliki kesempatan untuk mendekati Mario dan berharap bisa menjadi istrinya.
"Kamu dengar Lisa, walaupun aku sudah tidak bersama dengan Mira lagi. Tapi aku tidak akan pernah menikah denganmu" ucap Mario
"Mas! Aku sudah berkorban banyak untuk kamu. Bahkan aku rela memberikan tubuhku, sekarang begini jawaban kamu? Pokoknya kamu harus nikah sama aku mas!" ujar Lisa dengan marah. Ia tidak terima jika usahanya untuk membuat Mario dan Mira berpisah menjadi sia-sia.
"Aku minta maaf untuk itu Lisa, aku tau aku salah. Aku akan memberikan berapapun jumlah yang kamu minta untuk menebus semua itu" ucap Mario, namun Lisa malah nampak geram mendengar ucapan pria itu.
"Aku tidak butuh uang kamu mas! Aku hanya ingin menjadi istri kamu!" seru Lisa dengan kemarahan menggebu-gebu.
"Maaf Lisa, aku benar-benar tidak bisa menikah dengan kamu. Tolong kamu keluar dan jangan pernah temui aku lagi. Aku akan mentransfer uang dengan jumlah yang cukup ke rekeningmu" ucap Mario
Plakkkk...
Merasa tidak terima dengan ucapan Mario, Lisa menampar wajah Mario dengan keras.
"Kamu lihat saja mas, kamu lihat apa yang akan aku perbuat setelah ini!" ancam Lisa kemudian ia melenggang pergi meninggalkan Mario.
Mario hanya bisa diam memandangi kepergian Lisa. Karena selama ini ia tidak benar-benar mencintai wanita itu. Ia hanya menjadikannya pelarian saja setiap ia ada masalah dengan Mira.
🌟🌟🌟
Sebuah mobil berhenti didepan cafe dan seorang gadis cantik turun lalu melangkahkan kakinya ke dalam cafe itu. Ia melihat seorang pria yang sudah menunggunya duduk disana. Gadis itu melangkahkan kakinya ke arah pria itu dan menarik kursi untuk duduk dihadapannya.
"Terimakasih karena sudah mau datang" ucap pria itu yang adalah Vano
"Kenapa kamu memintaku untuk hal seperti ini? Bukankah kamu sangat mencintainya?" ucap Bella masih tidak mengerti dengan keputusan yang Vano ambil.
Vano terdiam dan menundukkan wajahnya sebentar.
"Karena hanya kamu yang bisa membantuku" jawab Vano
"Kenapa tidak mengatakannya langsung saja, kenapa harus dengan cara seperti ini? Itu sama saja kamu akan menyakiti hatinya" Lisa mencoba mengingatkan atas tindakan yang akan dilakukan Vano.
"Aku tau, dengan cara apapun akan tetap sakit. Sudah tidak ada waktu lagi, lebih cepat lebih baik. Dia pasti akan menemukan kebahagiaannya tanpa aku" ujar Vano
"Bagaimana jika tidak?" tanya Bella dengan air mata tertahan, ia merasa sedikit kesal dengan keputusan Vano. Padahal ia sudah mencoba merelakan Vano untuk Yura. Walaupun ia juga tau jika hubungan Vano dan gadis itu adalah hubungan terlarang.
"Dia pasti akan bahagia" ucap Vano dengan pandangan lurus kedepan. Sebenarnya ia sendiri tidak yakin akan hal itu namun ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri jika keputusannya ini adalah yang terbaik untuknya dan Yura.
💖💖💖