Mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari seorang pria yang berstatus sebagai ayah angkatnya tentu adalah hal yang paling membahagiakan bagi seorang gadis bernama Kania Atifah.
Namun, siapa sangka justru di balik kebaikan itu nyatanya ada cinta yang sedang di sembunyikan. Kania sangat tak menyangka jika justru cinta pertamanya dalam hidup mengkhianati ketulusannya sebagai anak selama ini.
Kehidupan manis yang selama ini banyak di agungkan oleh teman-teman sekolah Kania bagai terganti oleh mimpi buruk ketika petaka datang dalam hidupnya. Impian di usia sembilan belas tahun besok ia akan meniup lilin dengan doa agar di terima kuliah di perguruan tinggi dengan jurusan musik.
Nyatanya kesuciannya hilang tanpa ia duga malam itu dan pelakunya adalah sang papah yang membesarkannya selama ini.
Akankah Kania meninggalkan dan melupakan semua jasa orang yang telah membesarkannya selama ini? ataukah kania mau menerima pria yang berstatus sebagai ayah angkat menjadi pendampingnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Ibu Mertua
Waktu malam kini sudah berganti menjadi pagi dimana Jemi tak juga bangun dari tidurnya. Tubuh lelahnya begitu nyaman terpejam di ruangan dingin yang minim kebisingan. Tubuhnya tak bergerak sama sekali, jika biasa Kania akan membuatnya terbangun di pagi hari dengan masuk ke dalam pelukannya itu tidak terjadi hari ini. Kania gelisah mencari kehangatan di tempat lain dengan selimut tebal yang menggulung di tubuh mungilnya.
"Sakit..." rintihan pagi-pagi itu terdengar lirih. Samar Jemi mendengar jelas sampai akhirnya ia membuka mata dan bangun dari tidurnya. Matanya membuka lebar saat melihat pergerakan di tubuh Karin.
Buru-buru Jemi bangkit dan mendekati Karin. "Karin, akhirnya kamu sadar juga. Tunggu sebentar. Aku akan menghubungi dokter." ujar Jemi bergegas menekan tombol panggil.
Perilaku pria itu sontak membuat Karin membuka lebar matanya. Ia menatap Jemi dengan penuh harapan.
"Jem, tubuhku sangat sakit." ujar Karin mengeluh. Meski sebenarnya tanpa ia mengeluh Jemi pun sudah tahu dengan melihat luka di bagian wajah, tangan, dan lainnya. Keadaan Karin memang sangat memprihatinkan saat ini.
Jemi hanya mengangguk mendengar keluhannya. Karin pasti butuh dukungan. Hidup seorang diri membuat wanita itu sangat Jemi kenal haus kasih sayang. Kedua orang tua Karin yang sangat arogan dan masa bodoh pada Karin membuat Jemi tak berniat menghubungi mereka.
Selama ini Karin hidup seorang diri dengan semua yang ia usahakan demi masa depannya tanpa bantuan dari kedua orangtuanya.
"Bertahanlah. Dokter akan segera tiba, Karin. Mamahku juga akan datang kemari. Sebab aku harus kembali pulang pagi ini." ujar Jemi yang ingat jika ada sang istri yang menunggu penjelasannya saat ini.
Sayang belum sempat itu terjadi, justru pintu kamar rawat milik Karin telah terbuka. Dimana seorang dokter dan seorang wanita memasuki ruangan itu.
"Selamat pagi, Tuan Jemi." sapan Dokter ramah.
Jemi menoleh hendak membalas sapaan dokter tersebut, namun wajahnya justru menegang kala melihat kemunculan sosok wanita yang tak asing dan baru saja memasuki pikirannya.
"Nia," lirih ucapan Jemi terdengar. Karin pun ikut menoleh menatap Kania.
Kania menatap keduanya dengan tatapan nanar. Tak ada kata yang Kania ucapkan selain masuk bersama dokter yang baru saja tiba. Ia ingin melihat semuanya yang ada di ruangan ini.
"Jadi benar yang Mamah mertua katakan?" gumam Kania lirih.
Kedatangannya kemari tentu tidak akan terjadi jika bukan karena hasutan dari seseorang. Yaitu Wulan yang pagi-pagi mengejek Kania dari panggilan telepon dan mengatakan jika Jemi telah menghabiskan waktu bersama wanita masa lalunya di rumah sakit.
Panas hati Kania melihat keadaan di depannya saat ini. Rasa tak percaya jika Jemi menghilang malam tadi demi Karin. Namun, sekuat mungkin Kania berusaha terlihat baik-baik saja.
"Nia," suara Jemi menyapa kedua kalinya.
"Mas Jemi, aku membawakan sarapan untukmu. Aku harus segera ke kampus sekarang." tutur Kania memberikan bekal yang di masak olehnya.
Jemi yang tak sempat berkata lagi segera di tinggal Kania keluar. Baru saja pria itu hendak keluar justru dokter mencegah Jemi.
"Tuan Jemi, bisa kita bicara di ruangan saya? Ini menyangkut hasil pemeriksaan lanjutan tentang istri anda." ujar Dokter itu yang tidak tahu jika Jemi dan Karin telah berpisah lama.
"Tapi, Dokter saya harus..." ucapan Jemi menggantung kala dokter kembali bersuara.
"Saya harap anda meluangkan waktu anda, Tuan. Sebab saya harus menyampaikan ini sekarang juga." tambah dokter yang membuat Jemi tak bisa pergi begitu saja.
Ia tahu pasti jika Kania akan sangat marah padanya setelah ini.
hidupnya tidak bahagia
katanya malaikat kok membatasi istri kuliah dan bertemu orang lain....
kena Lo..mw ngomong apalagi sm Kania kl udah ketauan gamon