Sandra, seorang mahasiswi yang tidak sengaja menemukan cincin misterius di rumah kosong terbengkalai saat perjalanan pulang dari kampus. Tidak disangka bahwa cincin tersebut memiliki kekuatan magis yang bisa membawa pemakainya masuk kedalam dunia mimpi dan mengendalikannya. Cincin tersebut juga menuntun Sandra kepada sebuah tugas besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PaningalL1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilusi
Sandra memeluk tubuh neneknya yang tak bernyawa dan mulai terasa dingin, napasnya tersedak-sedak, serta rintihannya yang bergetar mengisi keheningan di dalam hatinya. Pikirannya tak lagi bisa membayangkan tentang kebahagiaan, yang hanya ia pikirkan hanyalah penyesalan.
"Nenek... jangan tinggalkan Sandra sendiri, nek," ucap Sandra yang menangis sesenggukan, "Sandra takut...," sambungnya dengan suara lirih.
Tiba-tiba, Sandra mendengar suara Nyupena yang berbicara di dalam kepalanya, "Lihatlah betapa lemahnya kalian para manusia. Rasakan dinginnya tubuh yang kaku di pelukanmu itu, rasakan harapan yang perlahan hilang dari dalam dirimu. Sayang sekali diriku tidak bisa melihat wajah asli kalian. Mimpi indah ini tak akan pernah jadi kenyataan."
Napas Sandra menjadi berat dan terdengar keras. "Nyupena...!!" teriaknya, "Apa yang kau lakukan padaku?!" sambungnya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Apa yang aku lakukan padamu?" ucap Nyupena, "Bukan diriku yang melakukannya, tapi kebodohanmulah yang membawamu masuk kemari. Tidak pernah ada keberanian dalam dirimu untuk menghadapiku, kau berbohong pada diri sendiri. Karena seperti itulah sifat manusia, mereka akan berani saat belum mendapatkan kegagalan, dan saat mereka mendapatkannya, mereka akan menyerah."
Sandra hanya terdiam, kedua mata tertutup, serta menundukkan kepala saat mendengar suara Nyupena.
Sandra kemudian membuka kedua matanya, memancarkan keberanian lalu berseru, "Hentikan! Hentikan omong kosongmu itu, dan berhentilah merendahkan manusia. Apa yang kau katakan itu tidak benar, manusia adalah makhluk yang pantang menyerah, manusia adalah makhluk pemberani. Dan satu hal lagi, manusia tidak takut dengan kegagalan. Justru kau yang penakut, karena tidak berani menunjukkan wujudmu. Kenapa? apakah kau takut kalah seperti kemarin?!"
Tiba-tiba, sebuah pusaran pasir hitam disertai hembusan angin muncul dihadapan Sandra. Membuat Sandra terkejut kemudian menutupi wajahnya dengan salah satu lengannya. Seketika, kedua mata Sandra terbelalak saat melihat Nyupena muncul sambil menggendong anak perempuan yang dia bawa sebelumnya.
"Lancang sekali perkataanmu," kata Nyupena dengan nada yang tenang, "Apakah dirimu tidak memikirkan tentang kegagalan yang akan kau dapatkan?"
Sambil tersenyum lebar penuh percaya diri, Sandra berkata, "Aku tidak akan gagal, lagi pula ini hanya ilusi yang kau buat." Perlahan, tubuh bu Siti yang berada di pangkuan Sandra berubah menjadi pasir hitam.
"Bapak... takut, ada monster," ucap anak perempuan dalam gendongan Nyupena, kemudian menyembunyikan wajahnya dari Sandra.
"Lihatlah, dirimu menakut-nakuti anak ini," kata Nyupena sambil membelai rambut anak kecil yang memeluk tubuhnya tersebut.
Sandra lalu perlahan berdiri. "Semua ini hanya kepalsuan darimu, Nyupena. Anak kecil itu telah kau buat berhalusinasi melihat orang tuanya di dalam dirimu, dan kepalsuan itu kau sebut kebaikan?"
Nyupena tampak melotot menyaksikan kebangkitan Danadyaksa di depannya itu.
"Aku akan menghentikan ilusi ini," ucap Sandra sembari menatap tajam Nyupena, "Karena aku adalah... kebenaran."
Seketika, cahaya emas memenuhi seluruh ruangan, disertai dengan angin kencang yang menghembuskan puing-puing di sekitarnya. Sementara Nyupena hanya diam dengan pandangan datar ke arah Sandra yang tersenyum penuh keyakinan. Tidak lama kemudian, mereka akhirnya kembali ke tempat semula, sebuah taman bunga dengan langit sore berwarna jingga.
Perlahan, anak kecil yang digendong oleh Nyupena mulai merasakan keanehan. Ketika ia melihat wajah pucat Nyupena yang dihiasi dengan garis-garis lava, rasa takut seketika menyelimuti tubuhnya. Anak kecil itu mulai meronta dan berteriak meminta untuk dilepaskan. Nyupena terlihat tenang dengan pandangan yang terpaku pada Sandra, ia segera menjatuhkan anak kecil tersebut dan tidak memperdulikannya lagi.
Kejadian itu membuat Sandra tercengang, ia menyaksikan anak perempuan itu jatuh dengan keras hingga membuatnya kesakitan, namun anak itu segera merangkak menjauhi Nyupena sambil menangis.
"Dasar iblis, beraninya kau melakukan itu!!" teriak Sandra dengan penuh amarah.
Dengan tenang Nyupena berkata, "Dirimu yang membuatku harus melakukannya."
Sandra semakin merasa geram, kemudian pandangannya teralihkan kepada bocah yang menangis sesenggukan di bawah pohon yang tak jauh dari Nyupena. Anak perempuan itu kemudian menatap Sandra dengan matanya yang sembab dan penuh dengan rasa takut. Sandra merasa iba saat melihatnya, ingin sekali ia menghampiri anak itu, namun ia juga masih harus menghadapi Nyupena yang terlihat telah bersiap.
"Tidak ada gunanya saling mengasihani. Kalian para manusia juga sudah terbiasa untuk saling menjatuhkan," ucap Nyupena, kemudian ia membentangkan kedua sayapnya dan terbang perlahan ke udara, "Saat manusia merasa takut, tertekan, terancam, dan putus asa. Maka mereka tidak akan lagi saling memperdulikan satu sama lain, mereka hanya akan mementingkan diri sendiri," sambungnya sambil terus terbang semakin tinggi.
Sandra mulai merasa akan terjadi sesuatu yang berbahaya, ia segera berlari menghampiri anak perempuan yang menangis itu, kemudian memeluknya dengan erat.
"Apa yang akan kau lakukan?!!" seru Sandra, ia terbelalak saat melihat Nyupena telah terbang tinggi sambil mengangkat kedua tangannya.
Nyupena tersenyum lancip. "Kena kau," gumamnya, "Aku adalah... ketakutan!!" teriaknya, kemudian tertawa dengan kencan.
Seketika, kebingungan serta rasa tidak percaya menyelimuti Sandra. Ia dan anak perempuan yang dipeluknya telah berpindah ke sebuah hutan belantara. Matanya terbuka lebar saat mengamati sekitar, ia melihat pepohonan yang lebat serta rawa-rawa di bawahnya, suasana hutan juga sunyi dan gelap meski matahari tengah bersinar.
Tiba-tiba, Sandra dikejutkan dengan suara tangisan anak kecil yang dipeluknya, ia segera membelai rambut gadis kecil itu, lalu berkata dengan lembut, "Sudah jangan takut, kakak bakal melindungi kamu."
Gadis kecil itu kemudian menatap Sandra dengan wajah sedih. "Kakak... aku takut..."
Sambil terus membelai rambut anak itu, Sandra tersenyum kecil dan berkata, "Nama kamu siapa?"
Gadis kecil itu perlahan mulai berhenti menangis, lalu berkata dengan terbata-bata, "Na- nama... nama ku Dila."
Sandra melebarkan senyumannya. "Dila...," ucapnya sambil menatap dalam gadis kecil itu, "Kamu jangan nangis lagi, kamu jangan takut lagi. Ada kakak yang bakal melindungi kamu di sini."
"Ka- kakak siapa?" tanya Dila, lalu mengusap air matanya.
"Nama kakak Danadyaksa, pelindung kamu," jawab Sandra.
Dila kemudian tersenyum lebar. "Danadyaksa?" ucapnya, lalu memeluk tubuh Sandra.
Sandra tampak bahagia dan lega saat melihat senyum Dila, ia kemudian membalas pelukannya dan terhanyut dalam kebahagiaan.
Tiba-tiba, Sandra mendengar sebuah langkah kaki raksasa yang menggema. Terkejut, Sandra segera melepaskan pelukannya dan berdiri, melihat sekeliling, dengan napas yang menggebu cepat.
"Suara itu??" gumam Sandra, "Tempat ini? sambungnya yang mulai menyadari sesuatu.
Suara langkah kaki raksasa itu tiba-tiba terdengar menjadi cepat, seperti berlari dan terasa semakin mendekat. Sandra menjadi panik, dengan cepat ia menurunkan tubuhnya, memberikan punggungnya kepada Dila.
"Dila, ayo cepat naik ke punggung kakak!"
Dila hanya mengangguk dengan wajah polosnya, kemudian ia naik ke punggung Sandra. Suara langkah kaki itu semakin keras, membuat Sandra semakin panik dan ketakutan.
"I- iya," jawab Dila.
Sandra kemudian berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar, napasnya pula semakin terasa berat.
"Kakak gak apa-apa?" tanya Dila, "Kalau kakak sakit, Dila bisa jalan sendiri."
Sandra tertegun mendengar ucapan Dila, memantik sedikit keberanian di dalam dirinya. "Kakak gak kenapa-kenapa kok, kakak kuat," balas Sandra dengan senyum lebar.
Sandra menelan ludah, kemudian mulai berlari menelusuri hutan. Tiba-tiba, sebuah angin lembut datang menerpa tubuhnya yang seketika membuatnya merinding. Napasnya kembali terasa berat, suara langkah kaki raksasa juga semakin dekat hingga Sandra bisa merasakan getarannya.
Sandra menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat makhluk apa yang mengejarnya, ia juga semakin mempercepat larinya hingga membuat Dila merasa takut.
"Kakak... pelan-pelan."
Hingga tiba-tiba, kaki Sandra tersandung sebuah akar pohon yang menjulang. Sandra jatuh tersungkur dengan keras hingga melemparkan tubuh Dila ke tanah. Sandra tergeletak di atas tanah yang ditumbuhi rumput hijau, dadanya terasa sesak, serta pandangannya menjadi kabur.
"Ka- kakak... tolong."
Mendengar suara Dila yang meminta tolong, Sandra perlahan mencoba untuk kembali berdiri, meski harus menahan rasa sakit. Tiba-tiba, telinganya kembali diserang oleh suara langkah kaki raksasa, suara itu terdengar lebih keras dari sebelumnya, membuat Sandra segera menutup kedua telinganya.
Dengan pandangan yang kabur, Sandra melihat Dila tergelak tiga meter dari tempatnya. Sambil menutup telinga dan napas yang terengah-engah, Sandra berjalan dengan terhuyung-huyung mendekati Dila. Hingga tiba-tiba, suara langkah kaki raksasa itu berubah menjadi suara ledakan yang keras. Sandra berteriak histeris ketika suara itu muncul, telinganya terasa sakit dan berdenging.
Tidak tahan dengan suara yang memekakkan telinga itu, Sandra perlahan berbalik lalu kemudian berjalan dengan kaki pincang meninggalkan Dila.
"Kakak... tolong...!!!"
Sandra yang mendengar sayup-sayup suara meminta tolong dari Dila hanya menggeleng, air matanya keluar membasahi pipi.
"Maaf... maafkan aku, aku tak tahan lagi," ucap Sandra dengan suara bergetar.
"Sandra... kuatkan dirimu. Ini hanyalah ilusi."
~~