NovelToon NovelToon
Jutawan Amnesia yang Dibawa Pulang Putriku

Jutawan Amnesia yang Dibawa Pulang Putriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Amnesia / Anak Genius / CEO Amnesia / Teman lama bertemu kembali / Gadis Amnesia
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Nama yang Tak Berwajah

"Reihan Wijaya."

Sendok di tangan Han berhenti.

Nathania hanya menyebut nama itu sambil membaca berita di ponsel, tetapi reaksi Han terlalu jelas untuk dilewatkan. Sup di meja sudah tidak panas. Meira bahkan sedang meniup sendoknya sendiri hanya karena suka membuat bunyi.

"Kenapa?" tanya Nathania.

Han menatap mangkuk. "Panas."

"Supmu sudah dingin."

Meira mengangkat sendok. "Punya Mei panas."

"Han bukan Mei."

Han mengangkat sendok lagi, kali ini terlalu hati-hati.

Nathania meletakkan ponsel di meja. "Kamu kenal nama itu?"

"TV."

"Semua orang tahu dari TV. Tapi tanganmu berhenti seperti aku baru memanggil namamu."

Han tidak menjawab.

Meira melihat mereka bergantian. "Reihan itu siapa?"

"Orang di berita," jawab Nathania.

"Teman Papa?"

Han batuk kecil.

Nathania menatapnya makin tajam. "Pertanyaan bagus."

"Bukan," kata Han.

"Aku belum bertanya kepadamu."

"Mei tanya."

"Dan kamu menjawab terlalu cepat."

Meira mengerutkan hidung. "Kalau bukan teman, musuh?"

Han mengaduk sup. "Makan dulu."

Nathania tidak mendesak di depan anaknya. Ia hanya mengambil ponsel, membuka ulang berita tentang Grup Wijaya, lalu menandai satu nama yang terus muncul dalam semua artikel lama: Reihan Wijaya.

Malam itu, setelah Meira tidur, Nathania membuka laptop di sudut ruang tengah. Han berbaring di sofa dengan mata terpejam, tetapi napasnya terlalu teratur untuk orang yang benar-benar tidur.

Nathania mengetik: Reihan Wijaya.

Berita lima tahun lalu muncul berlapis-lapis. Nirwana Bay. Kontrak triliunan. Kecelakaan. Hilang. Diasumsikan meninggal. Cincin ditemukan di sungai. Tidak ada jenazah.

Ia membaca satu per satu. Semakin lama, alisnya semakin rapat.

"Aneh," gumamnya.

Han tidak bergerak.

Nathania menelepon Denny.

"Denny, cari foto Reihan Wijaya."

"Foto?"

"Yang jelas. Wajah depan."

"Untuk apa, Bu?"

"Aku belum tahu."

"Jawaban itu selalu berarti bahaya."

"Kalau sudah tahu bahaya, jangan banyak tanya."

"Baik. Saya cari."

Sepuluh menit kemudian, Denny mengirim puluhan tautan. Semuanya sama: punggung, siluet, foto acara dari samping, wajah yang diburamkan, gambar lama yang terlalu jauh, atau artikel tanpa foto.

Tidak ada satu pun wajah jelas.

Denny menelepon balik. "Bu, ini bukan kebetulan."

"Kamu juga lihat?"

"Untuk orang sebesar itu, jejak digitalnya terlalu bersih. Bahkan direktur perusahaan menengah saja biasanya punya foto seminar atau foto pemotongan pita."

"Bisa sengaja?"

"Sangat mungkin. Orang kaya yang punya tim keamanan digital bisa melakukannya, tapi ini rapi sekali. Seperti sejak awal dia memang tidak ingin punya wajah publik."

Nathania memandang Han yang berbaring di sofa. Lampu kecil ruang tengah membuat garis rahangnya tampak asing, lalu terlalu akrab.

"Kalau seseorang tidak punya foto publik," katanya pelan, "bagaimana kita tahu dia benar-benar tidak ada?"

Denny terdiam. "Bu Nathania, Ibu sedang mencurigai apa?"

"Aku sedang mencoba tidak gila."

"Itu bukan jawaban."

"Aku tahu."

Han bergerak di sofa. Nathania menutup laptop sedikit, refleks.

"Bu?"

"Nanti aku hubungi lagi."

"Bu, jangan mengambil kesimpulan sendiri."

"Aku belum punya kesimpulan. Itu masalahnya."

Ia memutus panggilan.

Nathania membuka satu tautan arsip lama. Di sana tertulis Reihan Wijaya hadir menandatangani kerja sama Nirwana Bay, tetapi foto panggung hanya memperlihatkan punggung seorang pria berjas gelap.

"Kenapa selalu punggung?" gumamnya.

Ia membuka artikel kedua. Foto dipotong tepat di bawah dagu.

Artikel ketiga, wajahnya tertutup kilatan lampu.

Artikel keempat, hanya nama dan jabatan.

Nathania kembali menelepon Denny.

"Satu lagi. Cari arsip video."

"Saya sudah coba, Bu. Banyak yang dihapus atau kualitasnya rusak."

"Rusak serapi itu?"

"Itu yang membuat saya tidak nyaman."

"Kalau tim keamanan digital menghapus wajah seseorang, siapa yang punya akses?"

"Keluarga, perusahaan, atau orang itu sendiri."

Nathania memejamkan mata. "Orang itu sendiri."

"Bu?"

"Tidak apa-apa."

"Bu Nathania, saya harus tanya. Apakah ini berhubungan dengan Pak Han?"

Nathania melirik sofa. "Kalau aku bilang iya, kamu akan menyuruhku berhenti?"

"Saya akan menyuruh Ibu hati-hati."

"Aku sudah hati-hati selama lima tahun, Denny. Lihat hasilnya. Aku bahkan tidak tahu siapa yang tidur di ruang tengahku."

Di sofa, bulu mata Han bergerak.

Nathania melihatnya.

Han membuka mata. "Nia?"

"Tidur."

"Nia takut."

"Kamu terlalu sering tahu perasaanku."

Han duduk pelan. "Maaf."

"Jangan minta maaf." Nathania memutar laptop ke arahnya. "Jawab. Siapa Reihan Wijaya bagimu?"

Han menatap layar yang belum tertutup sempurna. Nama Reihan Wijaya masih terlihat di kolom pencarian.

"Nama."

"Nama siapa?"

"Orang hilang."

"Kamu?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Han mematung.

Jantung Nathania memukul keras. "Jawab."

"Bukan."

Terlalu cepat.

Terlalu pelan.

Terlalu sakit.

Nathania menahan napas. "Kalau bukan, kenapa kamu terlihat seperti orang yang baru ditikam setiap kali nama itu disebut?"

"Tidak tahu."

"Kamu selalu tidak tahu."

"Maaf."

"Aku mulai lelah dengan maaf."

Han menunduk. Jari-jarinya mengepal di atas lutut, lalu mengendur, lalu mengepal lagi.

"Nia," katanya akhirnya, "kalau ada hal yang belum bisa Han bilang..."

"Belum bisa atau tidak mau?"

Ia diam.

"Lihat aku."

Han mengangkat wajah.

"Aku tidak takut pada masa lalumu," kata Nathania. "Aku takut pada kebohongan yang duduk satu rumah denganku, makan di mejaku, memeluk anakku, lalu setiap malam berkata tidak tahu."

Mata Han berubah. Luka lewat cepat di sana, tetapi Nathania melihatnya.

"Han tidak akan menyakiti Mei."

"Aku tahu."

"Tidak akan menyakiti Nia."

"Aku ingin percaya."

"Percaya."

"Jangan hanya minta. Bantu aku percaya."

Han menatap tangannya sendiri. "Kalau Han bilang sedikit, Nia tambah takut."

"Coba."

"Ada orang jahat."

"Aku sudah tahu."

"Orang itu dekat."

"Vincent?"

Han mengangkat mata, lalu segera menunduk.

Nathania menangkapnya. "Jadi iya."

"Han tidak bilang."

"Tubuhmu bilang."

"Nia jangan dekat-dekat Grup Wijaya."

"Lucu. Sejak kamu datang, Grup Wijaya yang terus mendekat ke rumahku."

"Karena aku."

Kalimat itu terlalu jernih.

Nathania membeku. "Apa maksudmu?"

Han seperti tersadar. Wajah kosong itu turun lagi, terlambat.

"Karena Han viral."

"Jangan mundur setelah maju satu langkah."

"Maaf."

"Aku tidak mau maaf, Han. Aku mau kebenaran."

Han menggigit bagian dalam pipinya sampai rahangnya bergerak.

Sebelum Han menjawab, Meira mengigau dari kamar, "Mama..."

Percakapan itu pecah.

Nathania menutup laptop dan masuk ke kamar anaknya. Han tetap di sofa. Beberapa menit kemudian, dari kamar, suara Nathania terdengar lirih menenangkan Meira.

Han mengambil ponsel lama dari bawah bantal sofa. Ia mengetik satu pesan kepada Bram.

Hapus jejak pencarian baru tentang Reihan dari alamat rumah ini. Jangan sentuh perangkat Nathania.

Bram menjawab cepat.

Siap, Bos. Bu Nathania mulai mendekat?

Han menatap pintu kamar.

Terlalu dekat.

Ia menghapus percakapan itu.

Di layar laptop yang tertutup, pantulan wajahnya hilang.

Di internet, Reihan Wijaya seolah tidak pernah punya wajah.

Namun di ruang tengah Nathania, seorang pria dengan mata yang sama sedang menyembunyikan seluruh hidupnya di balik satu kata: tidak tahu.

1
Nindy bantar
vania lepas bricil sembunyi tangan🤣
Nindy bantar
cerita nya menarik,keren thor lanjut moga sampai TAMAT😍
Anne Soraya
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!