Tiga orang wanita harus hidup dalam perjuangan setelah orang-orang terkasih mereka semuanya tewas dibunuh oleh pasukan pemerintah Negara Zonic. Dendam yang dipendam memaksa mereka menempa diri menjadi wanita-wanita kuat.
Ketiga wanita itu adalah Bella Sanggar, Kayla Srikandar dan Akira Srikandar. Bella Sanggar menjelma menjadi pemimpin kelompok pemberontak yang bernama Perampok Hati Es. Kayla yang merupakan janda dari perampok ternaama bernama Srikandar, secara bertahap membentuk kekuatan pemberontak.
Sementara Akira yang terpisah dari ibunya, menggembleng diri di sebuah sekolah ternama milik pemerintah. Kecerdikan yang dimilikinya membuatnya mempelajari banyak ilmu di perpustakaan yang membuatnya menjadi gadis remaja yang tangguh.
Namun, status Buronan Wajib Mati membuat ketiganya harus berhati-hati karena pasukan pemerintah bisa saja mengetahui penyamaran mereka.
Sanggupkah ketiga wanita itu membalaskan dendam orang-orang terdekat mereka? Ikuti keseruan cerita kolosal ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pati Es 6: Pasukan Khusus Pemburu Tiba
*Perampok Hati Es (Peti Es)*
Kediaman Kepala Kota Judra, Garip Dawas, kini dalam kepungan Pasukan Keamanan Kota. Sisi depan luar, belakang dan kedua sisi samping rumah telah ditempati oleh pasukan. Pasukan panah yang terbatas hanya ditempatkan di depan dan belakang. Sementara pasukan bertombak dan pedang berbaris penuh mengurung rumah, membentuk benteng berisai yang rapat.
Namun, pasukan itu tidak berani menyerang masuk melewati tembok pagar atau menjebol gerbang. Mereka tidak mau Kepala Keamanan Kota dan Kepala Kota Judra yang menjadi sandera harus mati dibunuh karena mereka melanggar ancaman.
Perampok Hati Es yang dipimpin oleh Bella Sanggar telah menyampaikan peringatannya, jika ada prajurit yang masuk melewati pagar rumah, maka Kapten Zazak Liga, Garip Dawas dan keluarganya akan dieksekusi.
Tiba-tiba suara derap kaki kuda terdengar ramai. Sepuluh ekor kuda datang mendekati barisan. Agak jauh di belakang, berlari satu pasukan bertombak dan bertameng.
Seorang prajurit berkuda paling depan segera turun dari punggung kuda. Seorang ketua prajurit yang mengomandoi pengepungan segera menghadap kepada prajurit yang baru turun.
“Wakil Kepala, Kapten Zazak dan Kepala Kota serta keluarganya disandera di dalam!” lapor ketua prajurit itu.
“Gila! Kita dipancing keluar dari markas lalu mereka menyerang markas dan rumah Kepala Kota!” rutuk Wakil Kepala Keamanan Kota yang bernama Garumsu.
“Iya, lalu bagaimana, Wakil Kepala?” tanya ketua prajurit itu.
“Turuti dulu. Lebih baik kita tunggu pasukan dari provinsi!” jawab Garumsu dengan wajah tegang.
“Tapi kalau menunggu pasukan dari provinsi, aku khawatir seperti kejadian Provinsi Bongo-o, penjahat dan sandera dibunuh semua oleh pasukan provinsi,” kata ketua prajurit.
“Itu hanya rumor untuk menyudutkan Pasukan Provinsi Bongo-o,” kata Garumsu. “Ada berapa jumlah mereka?”
“Sepertinya lebih dari sepuluh orang. Lima orang yang menyerang ke dalam markas saja bisa menyandera Kapten Zazak, apalagi sepuluh,” kata ketua prajurit. “Lalu bagaimana dengan orang-orang yang Wakil Kepala kejar?”
“Mereka lolos. Mereka terlalu licin. Kelompok perampok mana mereka sebenarnya?” tanya Garumsu.
“Kami tidak tahu, Wakil Ketua.”
Pasukan bertombak dan bertameng yang sudah lari kencang bolak balik karena mengejar tiga anggota perampok yang kabur, telah tiba dengan napas terengah-engah.
Sementara itu, pergerakan pasukan di luar rumah dipantau oleh dua anggota Perampok Hati Es dari ruangan di lantai tiga. Mereka selalu mengintip dari celah-celah jendela. Dua orang yang memantau bernama Alang Wanga dan Fellog.
Alang Wanga adalah seorang lelaki bertubuh kurus. Memiliki otot yang kecil tapi keras. Kulitnya pun berwarna hitam keling. Sama seperti anggota Perampok Hati Es lainnya, ia juga menyandang lebih dari dua jenis senjata. Dia yang tadi memimpin ketiga temannya berjaga di luar rumah sebelum Pasukan Keamanan Kota datang mengepung rumah mewah itu.
Sedangkan Fellog adalah sosok lelaki bertubuh pendek tapi lebar dan berotot. Sedikit aneh karena fisiknya mirip kotak berkepala dan berkaki dua. Baju birunya tanpa lengan, memperlihatkan lengan kekarnya yang bertato tengkorak kerbau bertanduk. Di pinggang kirinya ada menggantung sebuah katapel besar. Di tubuhnya ada terselempang sebuah tas kulit berwarna hitam yang entah berisi apa.
Jika ada prajurit yang masuk melanggar tembok pagar, maka mereka akan segera memberi tanda kepada Bella Sanggar.
“Makanan dataaang!” teriak seorang lelaki lain yang datang dengan membawa sebakul nasi yang masih mengebulkan asap. Dalam nasi dicampur dengan barbagai daging, bumbu dan sesayuran. Aromanya begitu harum. Lelaki itu bertubuh tinggi besar dan memiliki tampang yang cukup sangar dengan dua bekas luka senjata tajam pada pipi kirinya. Ia bernama Gumbang Ji, anggota Perampok Hati Es yang jago masak.
Di belakangnya ada seorang lelaki gemuk berperut gendut yang membawa teko besar dan empat gelas kosong. Pada tubuhnya ada busur dan setabung anak panah yang semua pangkalnya memiliki hiasan bulu burung berwarna hijau. Ia bernama Zaena Wulo, anggota perampok yang terkenal jago panah. Di pinggang kanan dan kiri menggantung gulungan tali.
“Ayo makan, ayo makan! Hahaha!” kata Zaena sambil meletakkan gelas-gelas di atas meja yang ada di ruangan itu. Ia menuang air ke gelas satu per satu.
Sementara Gumbang Ji menyendok nasi daging ke piring yang juga dibawanya.
“Memang enak kalau menyandera di rumah Kepala Kota!” kata Fellog sambil menyodorkan tangannya hendak menyomot nasi di dalam bakul.
Tak!
“Adaw!” pekik Fellog saat jari tangannya dipukul dengan sendokan nasi oleh Gumbang Ji.
“Jorok!” hardik Gumbang Ji. “Biarpun kita ini perampok, tetapi makan harus sehat. Apa jadinya kalau dalam situasi seperti ini kau harus bolak-balik ke kakus?”
“Hahaha!” tawa Alang Wanga yang berdiri bersandar di sisi jendela. “Jangan membantah dengan yang punya kuasa makanan. Kalau kau diboikot makan enak, bisa melembek otot-ototmu, Fellog!”
“Jangan lengah. Laksanakan tugas, kami melayani,” kata Zaena pula.
“Bagaimana perkembangan di luar?” tanya Gumbang Ji sambil memberikan piring berisi nasi kepada Fellog yang tampak sudah tidak sabaran untuk melahap makanan hangat yang datang.
“Sepertinya mereka menunggu pasukan provinsi. Pasukan yang mengejar Tariga sudah kembali dan ikut menunggu,” jawab Fellog.
“Kalian ingat kelompok Kalung Biru di Provinsi Bongo-o?” tanya Alang Wanga.
“Ya, mereka hancur dibantai oleh pasukan provinsi, padahal mereka menyandera Kepala Kota dan keluarganya,” sahut Zaena Wulo. “Komandan berpikir, masih banyak pejabat yang bisa menggantikan kedudukan Kepala Kota yang mati. Yang terpenting adalah kelompok perampok musnah….”
“Dan itu mungkin terjadi kepada kita!” sambung Alang Wanga.
“Tenang saja, Bella itu perempuan pintar. Ia selalu belajar dari kesalahan-kesalahan kelompok perampok yang lain. Ia tahu tentang cerita di Provinsi Bongo-o, jadi situasi seperti itupun sudah ia miliki jalan keluarnya,” kata Gumbang Ji. “Tariga bukan sekedar pengalih perhatian, tetapi berfungsi untuk menghancurkan Pasukan Khusus Pemburu, karena tujuan dari penyerangan dan penyanderaan ini untuk memancing Pasukan Khusus Pemburu.”
“Kenapa kita tidak diberi tahu?” tanya Zaena Wulo.
“Karena Bella sudah percaya kepada kita semua. Ingat, kekuatan utama satu kelompok adalah kepercayaan,” tandas Gumbang Ji.
Ketiga lainnya manggut-manggut sambil mulai menyuapi mulutnya sendiri dengan nasi yang bercampur lauk pauknya.
Sementara itu di ruangan bawah, Bella Sanggar dan ketujuh anak buahnya yang lain juga sedang makan besar.
Tampak Kapten Zazak Liga sudah lemah, banyak darah yang keluar dari tusukan kunai di paha dan lengan kanannya. Sementara Ribor Dawas, putra Garip Dawas, sudah tergeletak tidak sadarkan diri. Luka parahnya yang didapat dari Satria sudah dibalut oleh ibunya sendiri yang hingga saat ini masih terisak menangis, bersebelahan dengan putrinya yang bernama Cella Dawas. Garip Dawas sendiri duduk meringkuk tidak berdaya. Tangannya yang bolong oleh pisau sudah dibalut pula.
Mereka semua dan para pelayan hanya bisa menyaksikan kelompok perampok itu berlaku seperti di rumah sendiri, seolah-olah mereka tidak merasa terancam oleh keberadaan ratusan prajurit di luar sana.
“Kapten Zazak!” panggil Danggal sambil mengunyah nasi di dalam mulutnya, sementara tangan kanannya memegang paha ayam besar yang sudah digigit dua kali.
Kapten Zazak Liga tidak menyahut, tetapi ia memalingkan wajah memandang kepada Danggal yang duduk di sebelah Bella Sanggar.
“Pasti kau tahu cerita penyanderaan kelompok Perampok Kalung Biru di Provinsi Bongo-o. Dan sebagai Kepala Keamanan Kota, kau pasti tahu alasan jenderal Provinsi Bongo-o memutuskan membunuh perampok beserta sanderanya sekaligus. Kau bisa berbagi cerita kepada Kepala Kota dan Nyonya Dawas,” kata Danggal.
“Sebenarnya target kami bukanlah Pasukan Keamanan Kota atau Kepala Kota dan keluarganya. Kalian hanyalah umpan untuk mangsa kami yang lebih besar,” kata Bella yang sudah menyelesaikan makannya.
“Siapa yang kalian targetkan?” tanya Kapten Zazak Liga.
“Pasukan Khusus Pemburu,” jawab Bella Sanggar.
Tiba-tiba terdengar suara ramai lari kuda yang jumlahnya puluhan ekor.
“Target kita sudah datang, segera selesaikan makan kalian!” perintah Bella kepada seluruh anggotanya.
Anggota Perampok Hati Es yang masih makan bergegas menyelesaikan makan mereka.
Di lantai tiga, Alang Wanga, Fellog, Gumbang Ji, dan Zaena Wulo sedang memandang ke luar, ke depan rumah besar itu. Mereka melihat satu pasukan besar berkuda yang prajuritnya berseragam warna merah gelap datang mendekat. Semua prajurit itu mengenakan helm berhias sehelai bulu ekor ayam.
“Pasukan Khusus Pemburu akhirnya datang,” kata Alang Wanga. Ia meletakkan piringnya yang masih tersisa sedikit lalu minum air.
“Sayang sekali makanan enak disisakan,” celetuk Zaena Wulo sambil mengambil piring Alang Wanga.
Pasukan Khusus Pemburu Provinsi Banin yang dipimpin oleh Komandan Tarang Jongko telah tiba di belakang barisan Pasukan Keamanan Kota Judra. (RH)
kopi meluncur tuk akira
gk mungkin tabib nya Kayla kan omm?
next ommm