NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Hari itu, langit di atas Sekte Pedang Taixuan berubah.

Awan hitam pekat bergulung dari arah utara, menutupi matahari pagi dan menyelimuti seluruh pegunungan dalam bayang-bayang kelabu. Angin bertiup tanpa berhenti, dingin dan tajam seperti mata pedang.

Langit sedang membaca situasi.

Dan situasinya tidak baik.

Di alun-alun utama depan Aula Taixuan, seluruh murid dan sesepuh sudah berkumpul sejak fajar. Ratusan wajah tegang berbaris rapi dalam diam—tidak ada yang berbicara, tidak ada yang berani bercanda. Tekanan yang menggantung di udara terlalu berat untuk itu.

Di barisan paling depan, Su Qingxue berdiri tegak.

Jubah putih saljunya tidak bergerak meski angin bertiup kencang. Auranya yang baru—lebih tajam, lebih dalam, lebih dingin dari sebelumnya—memancar diam-diam seperti pedang yang setengah tercabut dari sarungnya. Para sesepuh yang berdiri di belakangnya mencuri pandang ke arahnya dengan ekspresi yang susah payah menyembunyikan harapan.

Hanya dia. Hanya Su Qingxue yang jadi tumpuan hari ini.

Di sudut alun-alun yang paling jauh dari perhatian siapapun, seorang pemuda berpakaian abu-abu lusuh mengayunkan sapu bambunya dengan ritme yang tidak terganggu sama sekali.

Srak... srak... srak...

Lin Chen menyapu daun-daun kering yang terus berjatuhan diterpa angin, wajahnya tenang seperti orang yang tidak tahu—atau tidak peduli—bahwa nasib sekte sedang dipertaruhkan hari ini.

'Jam pasir masih tiga minggu lagi,' batinnya sambil menyapu. 'Aku punya cukup waktu untuk memastikan sekte ini tidak bubar sebelum check-in berikutnya.'

Prioritas yang sangat jelas.

BOOM!

Tanah berguncang.

Dari arah gerbang gunung, sebuah kereta perang raksasa yang ditarik empat binatang buas berbulu api menerjang masuk tanpa permisi—menghancurkan beberapa ubin alun-alun yang sudah retak menjadi kepingan, meninggalkan jejak hangus di setiap injakannya.

Sekte Harimau Ganas telah tiba.

Pemimpinnya turun pertama. Lei Zhen—pria kekar dengan rahang persegi dan tatapan yang terbiasa meremehkan segalanya. Aura Ranah Jiwa Nascent tingkat awal memancar darinya tanpa disembunyikan, sengaja ditekan ke segala arah seperti seseorang yang ingin memastikan semua orang di sini merasakannya.

Di belakangnya, belasan murid elit berbaris turun dengan seragam hitam keemasan, menatap murid-murid Taixuan dengan ekspresi yang tidak bisa disalahartikan—pandangan orang yang sudah menganggap kemenangan sebagai kepastian sebelum pertarungan dimulai.

Lin Chen melirik sekilas dari sudut matanya, lalu kembali menyapu.

'Nascent Soul tingkat awal. Wajar kalau sombong.'

Di antara rombongan musuh, seorang pemuda berwajah tirus bergerak keluar dari barisan.

Zhao Kang. Nama yang sudah beredar di sekte—murid andalan Harimau Ganas yang baru saja menerobos Ranah Fondasi tingkat akhir dengan bantuan tumpukan pil instan. Terkenal kejam. Terkenal suka mencari masalah.

Pandangannya menyapu alun-alun dengan meremehkan, lalu berhenti.

Di pojok alun-alun, ada seorang pelayan sedang menyapu daun.

Zhao Kang tersenyum.

Srak... srak...

Lin Chen sedang mengumpulkan tumpukan daun kering yang lumayan besar ketika langkah kaki yang tidak dikenal berhenti tepat di depannya.

Dia tidak perlu mengangkat kepalanya untuk tahu siapa.

Fluktuasi energi tidak stabil. Meridian dipaksakan. Dantian retak di tiga titik. Mata Dewa Kekacauan-nya mendiagnosis kondisi tubuh Zhao Kang dalam hitungan detik, bahkan tanpa benar-benar mengaktifkannya penuh.

'Terlalu banyak pil instan,' Lin Chen menyimpulkan sambil terus menyapu. 'Kultivasinya seperti balon yang ditiup terlalu keras. Satu sentuhan pada meridian utamanya dan dia akan hancur sendiri dari dalam.'

SRAK!

Kaki Zhao Kang menendang tumpukan daun yang baru saja Lin Chen susun payah selama beberapa menit terakhir—berserakan ke segala penjuru. Lalu ujung sepatunya menginjak gagang sapu bambu, menahannya ke tanah.

Hening sejenak.

'...'

'Daun-daun itu aku sapu selama sepuluh menit.'

Lin Chen menatap tumpukan daun yang kini berserakan lagi ke seluruh penjuru. Ekspresinya tidak berubah. Tapi di dalam kepalanya, sesuatu yang sangat dingin dan sangat tenang sedang menghitung-hitung sesuatu.

"Heh." Zhao Kang menyilangkan tangannya, menatap Lin Chen dari atas ke bawah dengan tatapan yang biasa dia gunakan untuk melihat sesuatu yang tidak berguna. "Sekte sampah ini benar-benar sudah di ujung tanduk. Bahkan di hari sepenting ini, masih ada pelayan cacat yang berkeliaran merusak pemandangan."

Murid-murid Taixuan mengepalkan tangan. Tapi tidak ada yang bergerak—tidak dengan Lei Zhen masih berdiri di sana.

Lin Chen melepas pegangannya pada sapu.

Mundur dua langkah.

Lalu menundukkan kepalanya sangat dalam, kedua tangannya terlipat rapi di depan, suaranya sedikit bergetar dengan sempurna.

"M-maafkan pelayan ini, Tuan Muda dari Sekte Harimau Ganas. Saya tidak sengaja menghalangi jalan Anda."

Zhao Kang menatapnya sebentar, lalu tertawa singkat—tawa orang yang merasa sudah menang sesuatu.

"Benar-benar sampah tanpa tulang punggung." Dia mengangkat kakinya dari sapu, meludahi tanah di sebelah Lin Chen, lalu berbalik pergi. "Sungguh membuang waktu."

Lin Chen tetap menunduk sampai suara langkah Zhao Kang menjauh.

Kemudian, perlahan, dia memungut sapunya kembali.

Mulai menyapu daun-daun yang berserakan itu satu per satu.

'Meridian utama. Titik pertemuan di bawah siku kanan.' Lin Chen menyapu dengan tenang. 'Satu pulsa Qi mikro yang dikirim dari jarak sepuluh meter. Tidak terdeteksi. Tidak meninggalkan jejak. Tubuhnya akan meledak dari dalam saat dia menggunakan teknik penuh pertama kalinya.'

'Tapi itu terlalu kasihan.'

'Biarkan Su Qingxue yang menanganinya dulu. Kalau masih kurang... kita lihat nanti.'

Di sudut bibirnya yang tetap menunduk, tersembunyi senyuman yang sangat tipis.

Di tengah alun-alun, Lei Zhen sudah berhadapan dengan Master Sekte Taixuan, Gu Changfeng—pria tua berambut putih yang berdiri tegak meski tekanan aura musuh menekan seluruh udara di sekitarnya.

"Gu Changfeng." Lei Zhen bahkan tidak repot-repot menggunakan gelar. "Tidak perlu basa-basi. Sesuai perjanjian—pertarungan perwakilan murid. Murid utamamu kalah hari ini, serahkan seluruh wilayah Pegunungan Taixuan dan bubarkan sekte ini."

"Kau terlalu percaya diri, Lei Zhen."

"Percaya diri?" Lei Zhen menyeringai. "Aku hanya realistis."

Gu Changfeng menutup matanya sebentar.

Lalu membukanya.

"Su Qingxue. Maju."

Su Qingxue melangkah ke tengah arena.

Tidak ada ekspresi di wajahnya—bukan karena dia tidak merasakan apa-apa, tapi karena semua yang dia rasakan sudah dia padatkan menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin dan lebih tajam dari emosi biasa.

Satu bulan yang lalu, dia hampir menyerah pada kemacetan kultivasinya.

Tiga minggu yang lalu, sesuatu—entah berkah langit, entah suara gaib dari leluhur—memberinya kunci yang selama ini hilang.

Hari ini, dia akan membayar hutang itu.

Su Qingxue menarik napas dalam.

Lalu melepaskan segalanya.

BOOOOM!

Aura emas yang selama ini dia kunci rapat-rapat di dalam tubuhnya meledak keluar sekaligus—bukan seperti api yang menyala, tapi seperti matahari yang tiba-tiba lahir di tengah alun-alun. Tekanannya menekan ke segala arah, membelah awan hitam yang menggantung di atas sekte menjadi dua, membuat puluhan murid Sekte Harimau Ganas terhuyung setengah langkah ke belakang tanpa bisa mencegahnya.

"Ra— Ranah Inti Emas?!"

Wajah Lei Zhen untuk pertama kalinya kehilangan senyuman sombongnya.

"Bagaimana mungkin?! Sebulan yang lalu dia masih di Fondasi—"

Su Qingxue menarik pedang gioknya. Ujung pedang itu menunjuk tenang ke arah rombongan Sekte Harimau Ganas, aura niat pedang Taixuan yang baru dia pahami mengalir di sepanjang bilahnya seperti sungai yang sabar menunggu dilepaskan.

"Siapa yang maju pertama?"

Keheningan.

Di barisan Sekte Harimau Ganas, tidak ada yang bergerak selama beberapa detik.

Di sudut alun-alun, Lin Chen mengumpulkan daun terakhir dari tumpukan yang tadi diobrak-abrik Zhao Kang.

Tanpa mengangkat kepalanya, Mata Dewa Kekacauan-nya bergerak—menerobos jarak, menembus pakaian Lei Zhen, dan berhenti pada sesuatu yang tersembunyi di balik lipatan lengan bajunya.

Sebuah benda kecil. Memancarkan energi hitam yang berputar dengan pola yang tidak wajar, tidak alami, dan tidak seharusnya ada di tangan siapapun yang menyebut dirinya kultivator bermartabat.

Senjata terlarang.

Lin Chen memejamkan Mata Dewanya.

Lalu kembali menyapu dengan santai.

'Jadi kau datang dengan rencana cadangan,' batinnya. 'Kalau muridmu kalah, kau akan menggunakan itu.'

'Sayangnya...'

Sapunya berhenti sebentar.

'...aku sudah melihatnya.'

Pertarungan belum dimulai.

Tapi bagi Lin Chen, satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah kapan dia perlu turun tangan—dan seberapa dramatis dia ingin melakukannya.

Sejauh mungkin dari perhatian, tentu saja.

Jika memungkinkan.

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!