Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Jadwal piket yang berantakan
Suara bel masuk menggema di seluruh area sekolah, menandakan jam pelajaran pertama segera dimulai.
Satu per satu murid bergegas memasuki kelas masing-masing. Obrolan yang semula memenuhi ruangan perlahan mereda, berganti dengan suara kursi yang ditarik dan buku-buku yang mulai dibuka.
Di kelas XII IPA B, hampir seluruh murid telah duduk di bangkunya masing-masing, bersiap menunggu guru datang.
Saat itu, Faris melangkah masuk ke dalam kelas dengan wajah datar seperti biasanya. Namun, penampilannya sudah jauh berbeda dibanding tadi pagi.
Dasi yang semula terpasang rapi kini sedikit longgar. Bagian atas kemejanya tampak agak kusut, sementara rambutnya yang sejak pagi sulit diatur kini terlihat semakin berantakan.
Tanpa memedulikan tatapan teman sekelasnya, Faris berjalan santai menuju bangkunya. Lalu, ia menjatuhkan diri ke kursi dengan helaan nafas pelan. Pagi itu, benar-benar menguras kesabarannya.
"Hidup lagi ribet, GMA juga gak ada gunanya," gumam Faris lirih pada dirinya sendiri.
Sementara di sisi lain kelas, Tya yang tengah merapikan buku pelajarannya sempat menangkap sosok jangkung yang baru saja memasuki ruangan. Entah mengapa, melihat cowok itu saja sudah cukup membuatnya teringat kembali pada segala keributan sejak kemarin hingga pagi tadi.
Tya langsung mengalihkan pandangannya. Ia memilih mengabaikan keberadaan Faris. Tangannya segera membuka buku pelajaran yang akan digunakan pada jam pertama. Ia berusaha memusatkan perhatian pada pelajaran hari itu.
Tak berapa lama, seorang guru wanita melangkah masuk dengan membawa beberapa buku di tangannya. Ia berdiri di depan kelas, meletakkan buku-buku itu di atas meja, lalu tersenyum pada seluruh murid di kelas itu.
"Good morning, students."
"Good morning, Ma'am." Jawab mereka serempak.
Guru itu mengangguk puas, "How are you today?"
"We're fine, thank you. And you?"
"I'm fine too, thank you." Jawab guru itu ramah.
Guru itu kemudian mengambil spidol, menuliskan judul materi hari itu di papan tulis, lalu kembali menghadap ke arah mereka.
"Alright, before we start today's lesson, does anyone still remember what we learned last week? (Baiklah, sebelum kita memulai pelajaran hari ini, adakah yang masih ingat dengan apa yang kita pelajari minggu lalu?)"
Beberapa murid langsung mengangkat tangan untuk menjawab. Guru itu menunjuk salah satu dari mereka, lalu pelajaran pun dimulai.
Suasana kelas perlahan berubah tenang. Suara penjelasan guru bahasa Inggris terdengar jelas memenuhi ruangan, sesekali diselingi dengan pertanyaan yang dilemparkan pada mereka.
Tya menyalin materi dengan rapi di buku catatannya. Sesekali ia mengangkat wajahnya untuk memperhatikan penjelasan guru, lalu kembali menggerakkan pulpennya.
Sementara itu, di barisan belakang, Faris juga mencatat seperlunya tanpa ekspresi. Sesekali ia memutar pulpennya di sela-sela jemari sambil tetap mendengarkan penjelasan. Atau mungkin, begitulah yang terlihat di permukaan.
Tokk... Tokk... Tokk...
Di sela pembelajaran itu, suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu kelas. Guru bahasa Inggris menghentikan sejenak penjelasannya. "Ya, silakan."
Pintu kelas terbuka perlahan. Bu Dini, wali kelas XII IPA B melangkah masuk sambil tersenyum sopan. Di tangannya, membawa selembar kertas.
"Maaf mengganggu sebentar, Bu," ujar Bu Dini mereka pada guru yang sedang mengajar.
Guru bahasa Inggris membalas senyum itu. "Silakan, Bu."
Bu Dini mengalihkan pandangannya ke seluruh murid. "Anak-anak, Ibu hanya ingin menyampaikan sedikit informasi sebentar," ujarnya. "Jadwal piket sementara yang sebelumnya sudah dibagikan, mulai hari ini diganti menjadi jadwal piket tetap."
Ucapan wali kelas mereka langsung memancing bisik-bisik pelan di berbagai sudut kelas.
"Lho, diganti lagi?"
"Kirain yang kemarin udah fix."
"Semoga aja gak dapat hari yang padat."
Bu Dini menunggu hingga suasana sedikit lebih tenang. Setelahnya, ia mengalihkan pandangannya ke salah satu bangku di barisan tengah, tepatnya ke arah sekretaris kelas.
"Megan."
"Iya Bu." Sahut Megan.
"Tolong catat nama teman-temanmu untuk jadwal piket tetap. Mulai dari hari Senin sampai Sabtu." Titah Bu Dini.
"Baik, Bu." Megan segera mengambil pena, bersiap menuliskan nama-nama yang disebutkan oleh Bu Dini.
Bu Dini mulai membacakan jadwal piket satu per satu. Megan menulis dengan cepat. Daftar terus berlanjut hingga akhirnya Bu Dini menyebutkan nama Faris dan Tya dalam jadwal.
"Hari Kamis, Tya, Faris,..."
Mendadak suasana kelas menjadi sedikit lebih hening. Beberapa murid yang semula sibuk sendiri langsung mengangkat kepala.
"Serius?"
"Waduh, siap-siap perang dunia nih."
Bisik-bisik kembali terdengar, kali ini jauh lebih ramai. Semua orang di kelas itu tahu bagaimana hubungan Faris dan Tya. Hampir setiap hari, keduanya selalu saja beradu mulut. Kini, mereka justru ditempatkan dalam jadwal piket yang sama.
Di bangkunya, Tya refleks menghentikan gerakan pulpennya. Ia langsung menoleh ke arah belakang. Di saat yang hampir bersamaan, Faris juga mengangkat pandangannya.
Tatapan mereka bertemu. Tanpa sepatah kata pun, keduanya saling melontarkan tatapan tajam. Sorot mata yang sama-sama menyiratkan satu pertanyaan, 'Kenapa harus dia?'.
Beberapa pasang mata hanya bisa memperhatikan dua manusia itu bergantian, seolah sudah bisa menebak bahwa jadwal piket hari Kamis tidak akan berjalan dengan tenang.
Bu Dini kembali melanjutkan jadwal piket hingga hari Sabtu. Megan menulisnya satu per satu dengan rapi di buku catatannya, sementara murid-murid lain mulai memperhatikan nama masing-masing.
Setelah semua nama dibacakan, Bu Dini menatap seluruh murid di kelas. "Untuk yang piket besok, tolong nanti dikerjakan sepulang sekolah, ya."
Bu Dini memberi jeda sebelum akhirnya melanjutkan. "Supaya besok pagi kalian tidak terlalu capek dan kelas sudah bersih sebelum digunakan."
Beberapa dari mereka mengangguk paham. Ada pula yang menghela nafas pelan, menyadari jam pulang mereka hari itu akan sedikit lebih lama.
"Baik, Bu," jawab beberapa murid hampir bersamaan.
Bu Dini tersenyum tipis. "Baiklah, silakan dilanjutkan belajarnya," ujarnya lalu menoleh ke arah guru bahasa Inggris. "Terima kasih atas waktunya, Bu. Mari."
Guru bahasa Inggris mengangguk ramah. "Sama-sama Bu."
Setelah Bu Dini melangkah keluar dari kelas, guru bahasa Inggris kembali mengalihkan pandangannya ke arah seluruh murid.
"Alright, let's continue our lesson (Baiklah, mari kita lanjutkan pelajaran)."
"Yes, Ma'am." Jawab mereka serempak.
Pelajaran bahasa Inggris pun kembali berlanjut. Suara penjelasan guru kembali memenuhi ruangan, diselingi bunyi pulpen yang menari di atas buku catatan.
Di tengah penjelasan guru, Tya tanpa sadar menghela nafas panjang. Tatapannya sesaat jatuh pada buku catatan di hadapannya. Namun, pikirannya justru melayang pada pengumuman jadwal piket beberapa menit yang lalu.
"Semoga tuh manusia gak bikin ulah lagi," batin Tya.
Setelahnya, Tya kembali memusatkan perhatiannya pada pelajaran. Ia berusaha mengabaikan kenyataan bahwa sepulang sekolah nanti, ia harus bekerja sama dengan orang yang paling ingin ia hindari.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Tak terasa, waktu terus berlalu. Pelajaran demi pelajaran berganti hingga akhirnya bel pulang berbunyi nyaring.
Suasana kelas yang semula tenang seketika berubah ramai. Kursi mulai bergeser, obrolan kembali terdengar dari berbagai sudut ruangan. Sementara para murid sibuk merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tas.
Di bangkunya, Tya tampak sedang memasukkan buku-bukunya satu per satu ke dalam tas. Belum selesai ia merapikan barang-barangnya, Megan dan Starla sudah menghampiri mejanya.
"Tya," panggil Megan.
"Iya," sahut Tya sambil mengangkat pandangan.
"Kami tunggu di depan, ya," lanjut Megan sambil mengaitkan tasnya di bahu.
Starla yang berdiri di sampingnya spontan menimpali, "Eh, jangan lupa."
Tya mengernyit, "Apa?"
"Piket," Starla menyeringai tipis sebelum melanjutkan. "Soalnya salah satu teman piket lo hari ini, Faris," ujarnya sambil melirik ke arah bangku belakang.
Tya menghela nafas pelan, lalu menatap Starla dengan wajah datar. "Gue tau."
Starla hanya nyengir kuda, jelas sengaja mengingatkan hanya untuk menggoda sahabatnya itu. Tya menggeleng kecil, lalu tangannya mendorong pelan punggung Starla.
"Udah sana," ujar Tya sambil terus mendorong. "Hush... Hush!"
"Heh!" Starla terkekeh kecil sambil melangkah maju mengikuti dorongan itu. "Diusir, nih?"
Megan yang melihat tingkah keduanya hanya bisa tertawa kecil. "Ya udah, kami tunggu di depan ya, Ty."
Starla yang masih terkekeh ikut mengangguk pelan. "Semangat piketnya, ibu bendahara!"
Tya hanya mendengus pelan sambil melambaikan tangan asal, membuat Starla dan Megan kembali tertawa sebelum akhirnya berjalan keluar bersama.
Faris yang baru saja memasukkan buku terakhir ke dalam tasnya melirik sekilas ke arah pintu kelas. Melihat teman-teman piket lain belum berkumpul, ia diam-diam menyampirkan tas ke bahu. Lalu, ia melangkah santai seolah tidak ada tugas dan tanggung jawab.
"Aww! Sakitt woiii!"
Belum sempat melewati deretan bangku, langkah Faris refleks terhenti saat merasakan rambut bagian belakang kepalanya dijambak oleh seseorang.
Faris langsung menoleh. "Woi Tya?! Lepasin!"
Di belakangnya, Tya berdiri dengan sebelah tangan masih mencengkeram sedikit rambut belakang Faris. Tatapannya tajam, sementara wajahnya jelas menunjukkan kekesalan.
"Mau kemana, hah?!" Omel Tya.
Faris meringis sambil berusaha melepaskan tangan Tya. "Lepas dulu rambut gue!"
"Biarin!" Balas Tya ketus. "Baru aja diumumin beberapa jam yang lalu, sekarang udah mau kabur aja!"
"Gue gak kabur," jawab Faris cepat.
"Terus?"
"Mau pulang."
Tya langsung mendelik. "Itu namanya kabur!"
Beberapa murid yang belum keluar kelas langsung menoleh ke arah mereka. Sebagian hanya menggeleng sambil menahan tawa.
Faris akhirnya berhasil melepaskan tangan Tya dari rambutnya. Ia langsung merapikan rambut bagian belakang sambil mengusap tengkuknya. "Sakit tau! Lo kecil, tapi tenaganya double kill."
Tya langsung berkacak pinggang, "Mulut lo!"
"Fakta." Sahut Faris. "Galak amat!"
"Daripada lo! Ketua geng, tapi tanggung jawabnya nol!" Jawab Tya cepat.
Faris menghembuskan nafas panjang. Rencananya untuk kabur dari jadwal piket hari itu resmi gagal total.
Tya menunjuk ke arah sudut belakang kelas. "Ambil timba. Isi air buat ngepel!"
Faris mengikuti arah telunjuk Tya dengan tatapan datar. "Ck, nyuruh-nyuruh!"
"Apa?" Tya langsung menoleh tajam.
"Gak ada."
Dengan wajah penuh keterpaksaan, Faris berjalan menuju sudut belakang kelas. Ia mengambil timba plastik hitam yang biasa digunakan untuk piket dengan gerakan kasar, lalu melangkah keluar kelas menuju keran air.
Sementara itu, teman-teman piket yang lain sudah lebih dulu bergerak. Ada yang mengelap jendela, ada yang merapikan meja guru. Sementara Tya dan seorang lainnya mulai menyapu lantai dari bagian belakang kelas, mengumpulkan debu dan sampah kecil menjadi satu.
Beberapa saat kemudian, Faris kembali sambil membawa timba yang sudah diisi dengan air. Melihat lantai belakang mulai bersih, ia meletakkan timbanya. Ia mencelupkan kain pel, memerasnya, lalu mulai mengepel dari bagian belakang kelas dengan gerakan sangat tidak ikhlas.
Tya melangkah maju sambil menggerakkan sapunya. Di saat yang sama, Faris terus mundur perlahan sambil mengepel, sama sekali tidak menyadari bahwa jarak di antara mereka semakin dekat.
Brakk!
"Ehh!" Seru Tya spontan. "Aww!"
Tubuh Faris menabrak Tya cukup keras. Karena sama-sama kehilangan keseimbangan, tubuh mereka langsung oleng. Tya jatuh ke lantai dengan tangan masih memegang sapunya. Sementara Faris yang berusaha menahan tubuhnya justru ikut terpleset.
"Anjiiir!"
Byur!
Timba di samping Faris terguling begitu saja. Air di dalamnya langsung tumpah membasahi lantai yang baru saja dipel.
Kelas yang tadinya mulai bersih kembali basah berantakan. Hening. Tya menatap genangan air itu beberapa saat, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Faris dengan tatapan yang begitu datar. Sementara Faris membalas tatapan itu tak kalah datarnya.
"NAH KAN! GARA-GARA LO TYA!" Ujar Faris tiba-tiba.
"KOK JADI GUE?! LO YANG GAK LIHAT-LIHAT!" Balas Tya tak mau kalah, sementara Faris langsung mengeraskan rahangnya. Belum sempat Faris menjawab, Tya kembali bersuara. "APA?! YANG MUNDUR SIAPA?!"
"Ya masa ngepel maju?!" Timpal Faris.
Suara adu mulut mereka kembali memenuhi kelas. Sementara teman-teman piket yang lain hanya bisa saling pandang sebelum akhirnya geleng-geleng kepala.
"Sumpah," gumam salah seorang dari mereka. "Dua orang ini kalau disatuin emang pasti ada aja dramanya."
"DIEM LO!" Sahut Faris dan Tya bersamaan.
Suasana kelas kembali dipenuhi dengan tawa kecil. Beberapa teman piket hanya bisa menggeleng sambil melanjutkan pekerjaan mereka.
Tidak ada satu pun yang berniat melerai. Bagi mereka, adu mulut Faris dan Tya sudah menjadi tontonan gratis yang selalu berhasil menghibur.
Sementara Faris dan Tya masih saling melempar tatapan tajam di tengah genangan air yang mereka buat sendiri. Tak ada yang mau mengalah, tak ada pula yang mau mengaku salah.
Yang ada, pekerjaan piket mereka justru bertambah karena kini harus mengepel ulang lantai yang kembali basah. Dan begitulah, hari pertama mereka menjadi rekan piket resmi berakhir dengan sangat berantakan.
^^^Bersambung...^^^
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
jangan lupa mampir juga ya. ❤️