Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 JELITA NAKSIR KAK JUNA.
Suasana meja makan keluarga Kyler kembali ramai.
Mamih sudah menyiapkan berbagai macam sarapan.
Ada roti panggang, omelet, sosis, salad, dan segelas susu hangat. Namun...
Di depan Bee hanya ada semangkuk bubur hangat.
Bee langsung memasang wajah cemberut. "Ini tidak adil."
Cristal yang sedang mengoleskan selai ke rotinya langsung tertawa. "Apanya yang tidak adil?"
"Kalian semua makan enak." Bee pura-pura merajuk sambil menunjuk satu per satu makanan di atas meja.
"Sedangkan aku cuma bubur."
Mamih terkekeh. "Itu karena pipimu masih sakit."
"Tapi aku sudah sembuh."
Papih ikut tertawa. "Baru semalam."
Bee memajukan bibirnya. "Bee juga mau makan sosis."
"Tidak boleh."
"Roti?"
"Tidak."
"Kentang?"
"Tidak." Ucap Cristal meledek bee
"Kalau lihat makanan mereka saja boleh?"
Semua langsung tertawa.
Bee mendengus pelan. " Pelit" Balas bee kepada Cristal yang sedang memakan sosis panggang
Cristal tertawa sampai hampir tersedak. "Kamu lucu banget."
Bee langsung mengambil sendok buburnya dengan pasrah. "Hidupku menyedihkan." Kata bee yang pura-pura sedih.
Kak Juna yang sejak tadi diam akhirnya menoleh. "Apa pipimu sudah tidak sakit?"
Bee langsung menggerakkan pipinya ke kanan dan kiri. "Sudah lebih baik."
"Yakin?"
"Yakin."
Kak Juna mengangguk pelan. Kemudian...
Cubit.
"Aduh!" Bee langsung memegangi pipinya. "Kak!"
Mereka semua langsung menoleh.
"Masih sakit kan?"
Bee langsung meringis. "Sedikit."
"Jadi makan saja bubur itu."
Bee mendengus kesal. "Dokter galak."
Kak Juna kembali meminum kopinya seolah tidak terjadi apa-apa.
Mamih dan Papih saling berpandangan. Kemudian tersenyum kecil, Anak laki-laki mereka... Yang selama ini terkenal dingin, Tidak pernah dekat dengan perempuan.
Sekarang justru dengan santainya mencubit pipi Bee.
Walaupun caranya memang... menyebalkan.
Cristal menyenggol lengan Bee. "Tuh kan."
Bee langsung berbisik. "Aku balas nanti."
Di tengah sarapan, Juna kembali membuka suara. "Bee."
"Iya Kak?"
"Kata Cristal kamu sedang mencari tempat magang."
Bee langsung melirik Cristal.
Cristal langsung pura-pura sibuk makan. "Ih..."
Bee menghela napas kecil. "Iya Kak." Jawab bee "Sebentar lagi masuk masa magang, Aku sedang mencari perusahaan."
Kak Juna mengangguk. "Kamu siapkan saja semua dokumen yang dibutuhkan."
Bee mengernyit. "Maksud Kakak?"
"Selebihnya biar aku yang urus."
Bee membelalakkan mata. "Kamu dan Cristal bisa magang di perusahaan Xian."
Bee langsung terdiam.
Cristal justru mengangkat tangan. "Eh Kak." Kata Cristal "Aku gak ikutan."
Kak Juna perlahan menoleh. Tatapannya datar, Namun cukup membuat Cristal langsung menelan ludah.
"Apa?"
Cristal langsung tersenyum kaku. "Hehe..."
"Maksudku..." Cristal menggaruk kepala yang tak gatal "Aku ikut."
"Bagus." Jawab Kak Juna singkat.
Bee dan Mamih langsung tertawa melihat perubahan ekspresi Cristal.
Papih sampai menggeleng sambil tersenyum. "Punya kakak galak ya begini."
Cristal langsung mengangguk cepat. "Iya, Pih ."
"Aku korban."
Bee tertawa hingga matanya berair.
Pagi itu kembali dipenuhi canda tawa. Mamih dan Papih hanya saling berpandangan, Sudah lama mereka tidak melihat rumah seramai ini. Sesekali...
Kak Juna membuang napas seolah merasa terganggu.
Namun jauh di lubuk hatinya. Ia justru menikmati suasana itu.
Tak lama kemudian.
Kak Juna mengantar Bee dan Cristal ke kampus. Mobil berhenti tepat di depan gerbang.
"Terima kasih Kak."
Bee dan Cristal turun bersamaan. Namun baru beberapa langkah, ada Sebuah mobil lain berhenti.
Kak Darius dan Jelita turun dari dalam mobil.
Jelita langsung melambaikan tangan. "Bee!"
Bee membalas dengan senyum tipis. "Pagi."
Cristal hanya mengangguk singkat.
Sementara itu Kak Darius melihat Bee dari atas sampai bawah, Alisnya langsung berkerut. "Kamu..."
Bee menoleh. "Iya Kak?"
"Kamu semalam tidak pulang?"
Bee baru ingin menjawab, Namun suara lain lebih dulu terdengar. Kak Juna yang baru keluar dari mobil berdiri di samping Bee.
"Pagi."
Kak Darius langsung mengangguk sopan. "Pagi, Jun." Mereka sempat berjabat tangan.
Jelita yang sejak tadi diam langsung memperhatikan Kak Juna. Tatapannya tidak lepas dari wajah pria itu.
Rahang tegas, Postur tinggi, Wajah tampan yang selalu terlihat dingin.
Tanpa sadar Jelita tersenyum sendiri.
Sementara Kak Darius kembali menatap Bee. "Kenapa kamu tidak izin sebelum menginap?"
Bee membuka mulut. Namun sebelum sempat menjawab.
Kak Juna lebih dulu berbicara dengan nada tenang.
"Sudah siang." Tatapannya bergantian kepada Bee dan Cristal. "Kalian masuk ke kelas."
"Iya Kak."
Bee langsung mengangguk.
Cristal juga segera mengikuti.
Kak Darius tidak melanjutkan pertanyaannya.
Saat Bee dan Cristal hendak berjalan masuk.
Jelita tiba-tiba memanggil. " Hai kak " sapa jelita
Kak Juna menoleh singkat. "Iya?"
Jelita tersenyum malu. "Boleh minta nomor kontak Kakak?"
Bee dan Cristal langsung saling pandang.
Kak Juna menatap Jelita beberapa detik.
Ekspresinya tetap datar. "Maaf, Ini sudah siang." Ucap kak Juna " Saya harus segera pergi."
Setelah mengucapkan itu, Kak Juna langsung masuk kembali ke mobilnya.
Tidak memberi jawaban lain.
Tidak juga memberikan nomor telepon.
Mobil pun perlahan meninggalkan area kampus.
Jelita berdiri mematung, Senyumnya perlahan memudar.
Sedangkan Bee hanya memperhatikan semuanya dalam diam.
Cristal berbisik pelan di telinga Bee. "Dokter Galak tetap Dokter Galak."
Bee terkekeh kecil. "Iya."
Lalu keduanya berjalan memasuki gedung kampus, sementara Jelita masih berdiri di tempatnya, memandangi mobil Kak Juna yang semakin menjauh.
Mobil Kak Juna sudah melaju meninggalkan gerbang kampus.
Namun pandangan Jelita masih mengikuti mobil itu hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.
Entah mengapa, baru sekali bertemu ia sudah merasa penasaran dengan sosok dokter muda tersebut.
"Kak."
Kak Darius yang hendak masuk kembali ke mobil menoleh. "Iya?"
Jelita menghampiri sambil tersenyum manis. "Kakak kenal sama Kak Juna ya?"
Kak Darius mengangguk singkat. "Kenal."
"Kalau begitu..." Jelita menggenggam kedua tangannya dengan wajah penuh harap. "Boleh gak Kakak kenalin aku sama Kak Juna?"
Kak Darius terdiam beberapa saat. Ia memang mengenal Kak Juna.
Dulu mereka pernah satu kampus. Beberapa kali mengikuti seminar dan kegiatan organisasi yang sama.
Namun hubungan mereka tidak pernah benar-benar dekat. Hanya sebatas saling mengenal, apa lagi setelah lulus kuliah kak Darius lanjut S2 di luar negri.
Kak Darius menghela napas pelan. "Kakak tidak janji."
Wajah Jelita langsung sedikit murung.
"Soalnya Kakak dan Juna juga tidak terlalu akrab."
"Tapi..."
"Sudah."
Kak Darius memotong ucapan Jelita. "Lebih baik kamu masuk ke kelas." Titah kak Darius "Dan bilang ke Bee supaya pulang tepat waktu."
"Jangan menginap lagi tanpa memberi tahu."
Jelita mengangguk pelan. "Iya, Kak."
Kak Darius kemudian masuk ke mobilnya dan segera pergi.
Begitu mobil itu menghilang dari gerbang kampus, senyum di wajah Jelita perlahan memudar.
Ia mengembuskan napas kesal.
"Kak Darius pelit sekali." gumamnya lirih.
Tatapannya kembali mengarah ke jalan yang tadi dilewati mobil Kak Juna. "Pokoknya... Aku harus mendapatkan nomor Kak Juna." Senyum tipis kembali terukir di bibirnya, Lalu ia berjalan menuju ruang kelas.