NovelToon NovelToon
Crazy Deal

Crazy Deal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:96.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: BumbleBee

Isabella dan Darren terjebak dalam situasi menggelikan yang tidak sengaja mereka ciptakan. Kesalahfahaman yang membawa mereka pada hubungan rumit. Bagaimana tidak rumit, Darren adalah kakak dari pria yang sudah menjadi tunangannya selama lima tahun!

***

"Aku akan membantumu agar bisa hidup normal kembali."

"Maksudmu?" Darren mengernyit bingung.

"Aku akan menjadi dokter untukmu."

"Seingatku, aku tidak sakit dan kau juga bukan seorang dokter."

"Dan kau akan menjadi Stylist-ku."

"Excuse me?"

"Kau akan sembuh dan normal kembali. Akan kubuat kau mampu menghamili wanita!!"

Darren tidak terkejut sama sekali dengan pemikiran ajaib wanita itu. Kemudian dengan tenang ia berkata, "Lalu kubuat Austin bersedia menidurimu?"

"Frontal sekali ucapanmu! Kau hanya perlu mengubah penampilanku agar adik tampanmu melirik ke arahku! Bagaimana, deal?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Pantai

Coney Island, salah satu pantai paling populer di New York City. Selain karena pantainya yang relatif bersih dan berpasir lembut, meskipun bukan pasir putih, Coney Islands yang terletak di Brooklyn, sudah sejak lama terkenal karena aneka theme parks atau taman permainan dengan berbagai wahana seru.

Austin memilih tempat tersebut untuk mereka kunjungi. Lokasi yang memang cocok didatangi baik oleh keluarga maupun sepasang kekasih. Austin terlihat benar-benar berusaha mendekatkan diri dengan Isabell. Bukan tanpa alasan ia meminta Isabell untuk menjadi kekasihnya meski ia sendiri belum memiliki rasa yang berarti pada Isabell. Ia menyukai gadis itu karena kehangatan dan keluguannya. Tapi ia juga menyukai Laila karena keganasan harimau peliharaan milik mereka. Ah, Isabell belum bertemu dengan binatang itu. Well, kesimpulannya, ia menyukai Isabell sama seperti ia menyukai Laila karena mereka memiliki sesuatu yang menarik. Hanya itu. Tidak ada yang spesial, sejauh ini.

Austin tidak akan menahan diri jika pada akhirnya ia jatuh cinta kepada Isabell. Baginya dan juga keluarganya mungkin hal tersebut akan menjadi berita bagus. Ia dan Isabell memulai penjajakan agar mereka tahu apakah sebaiknya mereka melanjutkan pertunangan yang diinginkan keluarga atau tidak.

Austin tidak akan meminta Isabell berubah meski Isabell bukan tipe gadis yang akan ia kencani. Ia juga tidak akan merubah kebiasaannya, gaya hidupnya hanya karena Isabell adalah gadis polos yang lugu. Jika pada akhirnya timbul cinta diantara keduanya, biarkan itu terjadi karena mengalir apa adanya.

Austin belum pernah menjalin hubungan dengan serius. Tidak pernah berkencan dalam arti sesungguhnya sejak ia mengalami patah hati pada saat mengalami jatuh cinta pertama kalinya. Berkencan baginya artinya melakukan hal menyenangkan di atas ranjang. Austin masih ingin hidup, tidak mungkin ia mengajak Isabell berkencan di atas ranjang. Jika bukan ayah dan ibunya yang menghajarnya, sudah pasti Lexi dan suaminya yang menyerangnya. Lagi pula, berciuman dengan gadis berpagar gigi masih merupakan teka teki baginya. Ia belum pernah merasakannya dan hingga pagi ini belum terpikir olehnya untuk melakukan hal itu dengan Isabell. Tapi, ia tahu bagaimana rasanya dicampakkan oleh gadis yang terlihat lugu dengan kacamatanya. Melihat Isabell, mengingatkan Austin pada gadis itu.

Austin bukan pria suci yang lugu. Dari cara Isabell menatapnya, ia tahu jika gadis itu menyukainya. Hal itu sudah terjadi sejak lama. Austin melakukan kesepakatan dengan Isabell karena tidak ingin menolak perjodohan ini mentah-mentah yang nantinya akan melukai perasaan Isabell. Ia memberikan kesempatan bagi dirinya untuk mengenal Isabell lebih jauh.

Selama ini yang ia tahu tentang gadis itu, Isabell seorang putri dari kerajaan Spanyol. Gadis terhormat yang sudah pasti masih perawan. Penampilannya kurang menarik karena selalu mengenakan pakaian longgar juga mengenakan kaca mata tebal dan gigi yang dipagari. Tapi Austin berani bersumpah bahwa bukan penampilan fisik Isabell yang membuatnya enggan membalas perasaan wanita itu.

Terkadang kau tidak membutuhkan alasan untuk menyukai seseorang, tetapi kau harus mempunyai alasan untuk membenci seseorang. Tapi Austin sedang tidak berada di kedua opsi tersebut jika menyangkut Isabell.

Austin tidak menyukai perjodohan ini, tapi ia tidak membenci Isabell. Austin menyukai Isabell tapi bukan dalam arti tanda kutip yang sampai membuatnya melayang-layang seperti mabuk kepayang. Karena ia jelas tahu alasan kenapa ia menyukai Isabell.

Menurut Austin, selama memiliki alasan atau jawaban kenapa menyukai seseorang, artinya posisi masih aman. Belum masuk dalam kategori cinta gila. Sejauh ini, ia belum pernah bertemu wanita yang membuatnya gila dan candu. Ia sendiri sedang bertaruh dengan waktu, apakah Isabell mampu mengubahnya dan menancapkan kegilaan di hatinya. Ia tidak tahh jawabannya dan ia tidak ingin menerka-nerka. Semua punya tenggat, ia akan menjalaninya hinga tenggat tersebut.

Bukan hanya dirinya yang berusaha mengenal Isabell lebih dekat. Agar terlihat adil, Austin juga mempersilakan Isabell masuk ke dalam dunianya. Biarkan Isabell melihatnya dengan jelas tanpa tirai pembatas. Untuk pertama kalinya ia mengundang seorang wanita masuk ke dalam dunianya. Jika benar Isabell menyukainya, maka Isabell akan menerima semua yang ada pada diri Austin. Dan jika pada akhirnya Isabell tidak menyukai dunianya, artinya ia dan Isabell tidak bisa melanjutkan hubungan ini ke jenjang lebih serius.

Sungguh Austin tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Kesepakatan ini baginya sebenarnya sangat mengerikan. Ibarat dua mata pisau yang mungkin melukai salah satunya atau justru keduanya. Semoga saja semesta tidak bergurau seperti saat terlibat dalam kisah Steve dan Lexi.

Kini wanita yang menjadi kekasihnya itu sedang berjalan menuju ke arahnya yang sedang menunggu di dalam mobil. Sebuah senyum manis terpatri di wajah Isabell yang juga tidak kalah manisnya.

Apakah pagar giginya berganti lagi pagi ini? Austin bertanya dalam benaknya.

"Silakan masuk tuan putri," Austin membuka pintu mobil, mempersilakan tunangannya masuk.

"Terima kasih," Isabell tersenyum dengan wajah tersipu. Sikap Austin benar-benar berubah dan lebih hangat.

"Kau sudah siap berpetualang denganku?"

Isabell mengangguk dengan semangat, ia bahkan melakukan pencarian di ponselnya tentang hal-hal apa yang dilakukan sepasang kekasih saat berkencan di pantai. Menikmati sunset adalah hal yang paling ia nanti. Topik perbincangan apa yang akan mereka lakukan agar suasana lebih hidup juga sudah ia persiapkan.

"Apa ada yang kurang? Bikini, sun block, topi pantai?"

"Aku meminjam milik saudarimu. Semuanya sudah ada di dalam tas."

"Bagaimana dengan bikini?"

Bisa-bisanya Austin mempertanyakan hal itu dengan lempeng. Bukan bermaksud mesum, bukan juga karena ia ingin melihat lekukan tubuh Isabell, ia hanya tidak ingin Isabell menjadi objek perhatian karena mengenakan kostum yang salah saat di pantai.

"Bi-bikini? Hm, aman. Semuanya sudah aman. Lexi dan Steven sudah berangkat?"

"Ya. Lima menit yang lalu mereka sudah pergi."

"Bagaimana dengan Darren."

"Aku di sini." Baru kali ini Isabell melihat pria itu mengenakan pakaian santai. Kemeja bercorak dengan ukuran besar. Membiarkan dua anak kancingnya terbuka, dipadukan dengan celana pendek selutut.

"Kau bawa mobil sendiri?" tanya Austin.

"Ya."

"Baiklah, kami ikut saja denganmu." Austin turun tanpa menunggu persetujuan Darren. Pria itu mengitari mobil dan membuka pintu penumpang, mempersilakan Isabell turun.

"Kenapa kita harus ikut dengannya?"

"Dan aku sungguh keberatan dengan kehadiran kalian berdua di mobilku." Ucap Darren sembari berjalan menuju mobilnya yang dulu sempat dibawa kabur Isabell.

"Aku malas menyetir, kita bisa menghemat bensin." Austin menarik Isabell mengikuti Darren.

"Jika bensin adalah masalahmu, aku bisa memberikannya." Darren mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompet dan memberikannya kepada Austin. Dengan tidak malu, Austin menerima uang tersebut.

"Lumayan untuk membayar cemilan," ujarnya begitu Darren dan Isabell menatapnya.

"Tetap saja aku tidak suka ada orang lain menunggangi mobilku." Darren tetap menolak kehadiran keduanya. Pun pria itu mengeluarkan ponsel, menghubungi Steve.

"Putar balik, Austin dan tunangannya ingin menumpang."

1
Rosy Apriyadi
Thor sekarang bikin karya di apk apa thor aku rindu kariamu
Arum Sinta
suka sangat dengan cerita dr author rizky, semua ceritanya keren abiz, ya walau ada beberapa cerita yg tak selesai, tapi aku suka dg penyusunan ceritanya, ga muter2 jadi ga bosan bacanya...smoga bang iky tetap semangat menulis, aku tunggu selalu karya2mu yg lain...
Nana Colen
kemana ya kok gak up lagi👍👍👍👍padahal aku suka banget cerita nya
Nana Colen
lama gak uo
Conny Ngantung
ceritamu bagus Thor aku suka👍👍👍
Ghaza Syifa Alita
keren
Reksa Nanta
Kalau niatnya memang begitu, kenapa kunci mobilnya digantung bebas ?
Reksa Nanta
Perbendaharaan kata.
Reksa Nanta
aku baru tau viagra dijual bebas di supermarket. hahaha.
Jeck Barman
lanjut cerita menarik
Hayati
msh nunggu thor
Diii
Darren sama siapa ya...apa sama Austin adiknya...
𝕴𝖇𝖚𝖓𝖞𝖆 𝖆𝖓𝖆𝖐-𝖆𝖓𝖆𝖐
kangen, kapan up
Ummu Mufris
marna baru
ceava
nggk ljut y
@ jjeyva
bang ini lanjut apa gmn bang, KSH info dong bang
sizih
Daren aku 😢
Baiq Saleha
laaaa libur panjang
dwi apriyani
yakin ini udahan gak lanjut lgi😞
Yuni
ini cerita yg menarik... cepet up lagi dong bang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!