NovelToon NovelToon
Karena Keterpaksaan

Karena Keterpaksaan

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Zhao Sinha

Terpaksa menyetujui sebuah tawaran yang membawanya pada kehidupan pernikahan yang sangat rumit untuk dijalani.

Begitu banyak masalah dan kerumitan dalam kehidupan rumah tangganya yang harus Viona lewati. Dia tetap bertahan dan mengikuti alur takdir yang entah akan ke mana membawanya untuk melangkah. Merelakan dan bahkan mengizinkan suaminya untuk berpacaran menjadi salah satu kerumitan yang dia alami. Selama orang-orang di sekelilingnya bahagia, dia sanggup melakukan apapun untuk mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Sinha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menapaki Rumah Marshal

Mobil memasuki sebuah gerbang tinggi berwarna coklat kehitam-hitaman. Melewati halaman yang begitu luas. Dan akhirnya parkir didepan sebuah rumah megah bernuansa modern dengan desain elegan nan menyejukan mata.

"Sudah sampai, Nona" Rio mematikan mesin mobil. Menatap Viona dari spion.

"Oh, Iya" sahutnya. Rio pun kemudian turun dari mobil. Mengelilingi mobil. Membuka pintu untuk Viona. "Silahkan, Nona!"

  Viona bergegas menyiapkan semua barang bawaannya. "Eh, iya..." Viona ingin turun tapi dia urungkan membuat Rio mengernyit.

"Untuk yang tadi, lupakan saja. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun. Ucapanku yang tadi hanya becanda saja, kok. Jadi lupakan saja! Anggap saja angin lalu. Oke!" Viona menaik turunkan alisnya disertai senyuman. "Lagian aku juga tidak ingin menjadi janda. Wanita mana coba yang mau menjadi janda? Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Aku hanya berharap semuanya berjalan baik-baik saja" Viona menurunkan kakinya keluar dari mobil.

"Lupakan ucapanku! Jangan dibahas lagi! Dan iya, jangan sampai tuan Marshal tahu kalau aku pernah berucap seperti tadi" Viona menepuk halus pundak Rio.

Rio bernapas lega sekarang. Dia sangat senang mendengarnya. Karena ternyata Viona tidak benar-bemar ingin mengakhiri pernikahannya dengan Marshal.

"Baik, Nona. Saya senang sekali mendengarnya. Semoga rumah tangga kalian baik-baik saja"

"Aku tidak mau tuan tahu. Jadi jangan sampai tuan mengetahuinya, Oke!" Senyumannya sekali lagi membuat Rio bernapas lega. "Sudah pasti saya tidak akan memberitahu kepada tuan, Nona"

  Rio membawa Viona masuk kedalam rumah. Terlihat banyak pelayan yang sudah berjejer didepan pintu. Viona heran melihatnya, namun dia dia saja mengikuti langkah Rio.

"Selamat datang, Nyonya!"

Semua orang yang berjejer itu membungkuk hormat pada Viona yang masih terlihat kebingungan.

"Kenapa mereka seperti itu, Rio? Siapa yang mereka bilang Nyonya?"

Ingin rasanya Rio tertawa sekarang juga melihat kepolosan majikannya.

"Mereka menghormati Anda, Nona. Mereka memang sudah diperintahkan untuk menyambut kedatangan Nona"

Viona terbelalak. Kenapa dia diperlakukan seperti ini? Sungguh hal tersebut membuatnya merasa tak nyamab juga tidak enak.

"Kenapa mereka tetap membungkuk? Suruh mereka berdiri, Rio. Kasihan" bisiknya pada Rio.

Rio tersenyum. "Mereka hanya akan menurut dan berdiri jika Nona yang memerintahkannya"

"Hah?" Viona mengernyit, menatap semua orang satu persatu.

Apa aku harus diperlakukan sehormat itu? Sampai harus memerintah mereka.

"Nona tidak akan menyuruh mereka berdiri?" Goda Rio pada Viona yabg masih terdiam.

Para pelayan juga penjaga yang sedang berjajar itu terlihat pucat. Mereka sudah cemas mendengar perkataan Rio. Sudah pegal mereka terus menunduk, tapi Nyonya mudanya tidak kunjung mempersilahkan berdiri.

"Nona..."

"Ah, ya. Ekhemm.. kalian berdirilah! Tidak usah seperti itu lagi" ucap Viona pelan dengan wajah menunduk kikuk. Dia tidak biasanya memperlakukan pegawai seperti itu.

Mereka berdiri tegap kembali secara serempak, dan Rio kembali mengajak Viona untuk masuk kedalam. Dan menunjukkan kamar untuk Viona tinggali.

"Ini kamar Nona" ujarnya saat berada didepan pintu sebuah kamar sembari membuka pintunya. Memperlihatkan ruangan kamar yang luas dengan desain tak kalah elegannya dari kamar yang Viona punya di rumah Tuan Heru.

"Nona istirahatlah disini. Saya tahu Nona sangat lelah saat ini. Jadi lebih baik Nona segera istirahat"

Viona mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih" ucapnya ramah sembari melihat sekeliling kamarnya.

"Oh iya, Nona" Viona kembali menatap Rio.

"Ini Erni"

Viona melirik pada seorang wanita yang diperkenalkan Rio. Dia yang membantu membawakan barang-barang Viona.

"Dia pelayan pribadi Anda. Dia yang akan mengurus semua kebutuhan Nona. Jika Nona membutuhkan sesuatu, Nona bisa memanggilnya" Viona tersenyum ramah pada Erni yang dibalas dengan hangat oleh Erni.

"Jika tidak ada lagi yang Nona butuhkan, saya permisi" Viona hanya tersenyum dan Rio kemudian berlalu pergi.

  Viona membereskan semua barang-barangnya dibantu oleh Erni dan satu pelayan lagi yang lainnya.

  Dia bertanya banyak pada para pelayan itu. Karena sikap Viona yang supel dan ramah, dia jadi dengan mudah bisa memulai apa saja untuk dibicarakan. Namun, sikap keramahan Viona justru membuat para pelayan itu jadi canggung. Mereka tidak terbiasa jika harus berbincang dengan majikannya sendiri. Mereka merasa canggung juga merasa tidak enak karena Viona memperlakukan mereka dengan baik.

"Huamm.. Aku ingin tidur" Viona menguap beberapa kali. Dia baru selesai mandi dan sudah memakai piyama tidurnya.

  Setelah selesai membereskan semua barangnya tadi, Viona langsung bergegas mandi. Sedangkan kedua pelayan yang membantunya, mereka sudah keluar. Pergi entah kemana. Mungkin mereka melanjutkan pekerjaanya yang lain, pikir Viona.

  Viona naik keatas ranjang king size. Merebahkan diri dengan terlentang. Menarik selimut lalu memejamkan matanya.

Tok tok tok

  Baru Viona menutup mata. Dipintu kamar sudah terdengar suara ketukan.

  Dengan malas Viona kembali membuka mata. Menyingkap selimut. Turun dari ranjang beranjak membuka pintu kamar.

"Maaf, Nona. Saya mengganggu istirahat Anda" ternyata yang mengetuk pintu adalah Rio.

  Ada apa lagi, Ya Alloh... Viona merasa kesal. Dia baru saja memejamkan matanya, tapi sudah diganggu lagi.

"Ada apa?" Tanya Viona dengan malas.

"Tuan meminta Nona untuk segera ke kamarnya" ujar Rio membuat Viona harus menghembuskan napasnya dengan kasar.

  Viona menggulung rambutnya yang masih sedikit basah menjadi sebuah cepolan. Tanpa bicara lagi dia mengikuti langkah Rio yang berjalan didepannya. Dengan langkah terhuyung-huyung Viona mengekori Rio dengan mulut yang masih sempat-sempatnya menguap. Viona masih ngantuk!!!... jeritnya dalam hati.

"Silahkan, Nona. Tuan menunggu didalam" Rio membukakan pintu kamar Marshal untuk Viona masuk duluan.

  Saat Viona telah masuk kedalam kamar, entah mengapa jantungnya menjadi deg-degan melihat Marshal yang sedang duduk disofa yang ada dikamarnya.

  Wajah Marshal terlihat menyeramkan bagi Viona. Wajahnya yang tampan terlihat lelah namun juga terlihat sedang kesal. Entah apa yang membuatnya sekesal itu, Viona tak tahu. Dia hanya berjalan menghampiri Marshal dengan penuh keraguan.

"Kenapa kau lama sekali?" Bentak Marshal membuat jantung Viona berpacu semakin cepat. Dia kaget. Marshal tiba-tiba bersuara dengan nada tinggi.

   Viona hanya bisa menunduk. Tak berani menatap Marshal. Entah kenapa, dia merasa takut pada Marshal saat ini. Mungkin karena Marshal yang terlihat menyeramkan saat membentaknya? Atau karena sorotan tajam dari Marshal?.. Entahlah, yang jelas dia merasa tak berani menatap Marshal. Dia takut. Tangannya sudah mulai dingin.

"Apa kau sedang enak-enak tidur tadi, hah?" Marshal menatap tajam Viona. "Aku saja belum pulang, berani sekali kau enak-enakan tidur" nada bicaranya semakin tinggi membuat Viona kini gemetaran.

"Kamu pikir aku membawamu kesini untuk menjadikanmu Nyonya, Ha?" Viona hanya diam tak bergeming. "Aku membawamu kesini untuk menjadi pelayanku, bukan menjadi Nyonya. Jadi jangan bersikap seenaknya"

Deg. Hati Viona bagai teriris belati tajam. Matanya terbelalak menatap Marshal penuh keterkejutan. Dia tak percaya dengan apa yang sudah Marshal katakan barusan.

Menjadikannya pelayan?.. Sungguh Viona tak menyangka niat keji dari Marshal. Bisa-bisa dia menikahi Viona hanya untuk dijadikan pelayan. Kenapa dia begitu kejam..

  Viona menatap nanar pada Marshal. Hatinya begitu marah saat ini. Tidak terima jika harus pasrah menerima ucapan keji Marshal yang langsung menjatuhkan harga dirinya begitu saja.

  Oh Mama, Papa... apa kalian tahu jika dia menikahiku hanya untuk menjadikanku pelayannya?? Apa kalian tahu dia punya niat kejam padaku?.. jeritnya dalam hati memberontak.

  Viona menghembuskan napasnya secara perlahan. Mencoba mengusir amarah yang akan meledak kapanpun. Dia harus terlihat biasa saja didepan Marshal. Dia juga takut. jika Viona emosi didepan Marshal, sudah pasti kemarahan Marshal juga akan semakin menjadi-jadi jika Viona membantah ataupun memberontaknya.

  Ya Alloh..Ternyata penderitaanku baru akan dimulai... Sekali lagi Viona menghembuskan napasnya penuh kekesalan.

  Ah, lagian apa sih yang kamu harapkan, Viona. Dia menikahimu karena sudah membantu perusaahan Papa bukan karena dia mencintaimu. Kenapa kamu berharap dia bisa memperlakukanmu selayaknya istri.

  Meskipun Viona sadar diri, tapi tetap saja dia tak terima jika harus diperlakukan seperti itu oleh Marshal. Bagaimana pun juga Viona adalah istrinya. Sudah tentu, seharusnya dia dianggap sebagai istri bukan pelayan.

"Aku ingin mandi" tutur Marshal dingin menatap ponselnya tanpa sedikitpun menoleh pada Viona.

  Viona yang tak ingin berucap, dia celingukan melihat sekeliling kamar mencari pintu kamar mandi. Setelah menemukan letak kamar mandinya, tanpa bicara Viona langsung berjalan dan masuk kesana. Dia tak menghiraukan kebingungan Marshal maupun Rio yang melihat Viona berlalu dengan pikiran penuh tanda tanya dikepala mereka.

  "Dia peka juga." Gumam Marshal menoleh pada Viona yang berlalu masuk kamar mandi.

  Tanpa dia sadari, bibirnya menyunggingkan senyuman penuh arti. Entah apa artinya, Yang jelas Marshal merasa puas terhadap tindakan Viona.

"Airnya sudah siap, Tuan" Viona keluar dari kamar mandi dengan wajah menyunggingkan senyuman manisnya.

Cih. Ternyata dia masih bisa tersenyum.

  Marshal beranjak dari duduknya berjalan menuju kamar mandi.

Splap!

  Marshal melemparkan jas yang tadi dikenakannya tepat diwajah Viona.

Viona kaget, dan langsung mendekap jas yang dilempar Marshal.

  Apa-apaan ini.. kenapa dia melemparkan jas dimuka ku?.. Dasar menyebalkan. Kejam sekali dia ini.. umpat hati Viona melihat Marshal berlalu menuju kamar mandi dengan masih memasang wajah angkuhnya.

  Kenapa dia begitu menyebalkan. Cobaan apa lagi yang akan dia lakukan padaku setelah ini?..

  Viona meremas-remas jas ditangannya. Jas itu adalah jas yang Marshal kenakan saat resepsi pernikahan tadi. Warnanya merah, senada dengan gaun yang dikenakan Viona saat resepsi. Namun, jas Marshal dikombinasi dengan warna hitam kain bludru yang menambah kesan mewah bagi yang memakainya. Ia, terlihat mewah. Tapi menyebalkan bagi Viona.

Tidak lama kemudian, Marshal keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililitkan dipinggang dan handuk kecil digunakannya untuk menggosok rambut.

Splap!

  Marshal melemparkan handuk kecil yang dipegangnya pada Viona yang membuat Viona kaget kembali dibuatnya.

"Siapa yang menyuruhmu duduk diranjangku?!" Bentaknya membuat Viona otomatis berdiri.

  Sorotan tajam Marshal terlihat murka melihat Viona yang duduk ditepian ranjangnya sembari memegang jas yang ia lemparkan tadi.

"Ma maaf, Tuan" Viona hanya mampu menunduk dengan ritme jantung yang kembali berpacu lebih cepat karena terkejut.

  Marshal kemudian masuk keruangan wardrobe yang ada dikamarnya. Melihatnya berlalu, Viona bisa bernapas lega.

  Kenapa dia ini selalu melempariku? dia pikir aku ini apa? Hingga dia bisa melempar barang padaku seperti itu... Dia menyebalkan, tapi kadang juga menakutkan. Sungguh musibah besar aku bisa bertemu dengannya.. umpat hati Viona semakin naik emosi.

"Hei! Kenapa diam saja?" Teriak Marshal yang kini keluar lagi dari ruang wardrobe membuat Viona kembali kaget dibuatnya.

  Kenapa dia selalu tiba-tiba..

"Hei, bodoh! Kenapa hanya diam saja?!" Bentak Marshal kembali dengan nada tingginya membuat Viona mengernyit bingung.

  Lalu aku harus apa, Tuan? Apa yang harus kulakukan? dia ini aneh sekali, aku diam saja salah. apa maunya dia?..

Geram hati Viona melihat sikap Marshal yang seperti ini. Entah apa maunya Marshal. Yang pasti dia hanya membuat Viona kesal, kadang ketakukan bahkan sekarang kebingungan dengan apa maunya tuan Marshal ini.

Emosi Marshal mulai naik. Dia kesal melihat Viona yang hanya tetap diam tak bergeming.

"Hei, wanita bodoh! Kenapa kamu hanya diam saja? Cepat kemari!" Ujaran Marshal membuat Viona semakin kebingungan.

  Kemari? Untuk apa? Begitu pikirnya.

Viona menarik napas dalam-dalam melihat kearah Marshal dengan bingung. "Maaf, tuan. Ada yang harus saya lakukan?"

Ckckck.. Marshal mendecak kesal. Menggelengkan kepala.

  Dia jadi istri tidak benar-benar peka. Apa dia tidak tahu kewajiban istri?..

"Kenapa kau ini bodoh sekali?" Ujarnya kesal. "Cepat kemari! Bantu aku berpakaian!"

Mata Viona terbelalak.

  Apa?bantu dia berpakaian?.. gila apa, aku harus melakukan itu.. dia kan sudah besar kenapa aku harus membantunya berpakaian...

"Hei! Kau mendengarkanku tidak?!" Bentak Marshal membuyarkan kediaman Viona.

   Viona menghela napas melihat wajah angkuh Marshal. Tanpa banyak bicara, dia mengambil handuk yang tergeletak dilantai dan membawa jas yang Marshal lemparkan tadi padanya. Dia berjalan menuju tempat dimana Marshal berdiri sembari menatapnya tajam.

   Tenang, Viona. Tenang.. Dia tidak akan mengigit. Kamu tenang saja... mencoba mengusir rasa kesal bercampur takutnya pada Marshal. Dia masuk keruang Wardrobe dimana Marshal kini berada.

BERSAMBUNG.....

1
Si Memeh
Luar biasa
Si Memeh
Lumayan
Agung Antarini
cerita nya mbulet Thor....
Agung Antarini
Luar biasa
Nur Aulia
mantaaf banget punya papa mertua KY gini,,biar Marshal tau rasa
Nur Aulia
cakep,,jsuhin viona dr marcahal,,biar tau rasa
Nur Aulia
cinta dr kecil ko gitu y Marshal,,msh nyakitin viona trs
Nur Aulia
Piona hrs ngerti perasaan Marcel,, sedangkan Marcel ga pernah ngerti perasaan Viona,,sudah punya istri msh punya pacar,,bingung aku Thor 😅😅
Nur Aulia
semangat vioana
Nur Aulia
hadeeuh,, kasian vionanua Thor
Tua Jemima
istri durhaka pembangkang
Tua Jemima
kekanakan viona
Tua Jemima
sifat viona kekanakan
Tua Jemima
lama lama muak baca certa ini dibodohi kita
Tua Jemima
viona murahan jalang jangan jangan sudah wik wik sama rio ngatai manda jalang dia lebih parah
Tua Jemima
kq certax ini gk jelas gini ya penuh kebanyaan bacot
Tua Jemima
viona ini kq mkin bego ya sok
Tua Jemima
ceritanya muter muter terus
Tua Jemima
aq gk habis pikir lihat sikap viona ini sdh diselikuhi kq sdh diksih kesempatan cerai gk mau tapi dri awal certa niatx mau pisah sama marsel kq mkin kesini gk jelas gini certax berteke tele kyak kekurangan certa kesanx molor
Tua Jemima
ini autho juga kayakx keras kepala ya yg buT certa ini udah byak kometar ceraikn biona pisahkn viona sama suami yg durjana itu ini terus aja buat cerita viona yg tertekan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!