Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.
Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.2
"Ma, besok Anna akan mengajak teman untuk melihat kondisi El. Dia adalah dokter ahli, semoga saja dia bisa membantu kita," ucap Anna sambil tersenyum tipis. Ia sibuk membantu ibunya di dapur menyiapkan makan. Dengan hati berbunga-bunga, Anna menyampaikan rencana kedatangan Alvaro, meskipun ia tak menjelaskan secara rinci tentang hubungan mereka.
"Dokter Alvaro? Kamu kenal dia dari mana?" tanya ibunya, Yusi, dengan kurang yakin.
"Masa lupa, Ma? Aku kan pernah magang di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta," jawab Anna santai.
" Dia dokter ahli, kan? Mama tidak mau dokter sembarangan," ucap Bu Yusi dengan nada tegas.
"Jangan khawatir, Ma, Dokter Alvaro bukan dokter sembarangan," jawab Anna sedikit kesal.
Dalam hati, ia merasa tidak nyaman dengan ucapan ibunya yang seolah meragukannya. "Mama ingin El sembuh, kan?" lanjutnya.
"Tentu saja. El harus bisa kembali normal seperti dulu. Kalau perlu, utamakan kebahagiaan El dulu baru kamu," kata Bu Yusi lantang, suaranya menggema di telinga Anna. Semakin sesak dada Anna, telinganya terasa panas mendengar pujian demi pujian untuk El dari ibunya.
"Jadi, Anna tidak berhak bahagia, ya, Ma?" Suara Anna kembali bergetar, sambil menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai mengalir di pipi.
"Bukan begitu, Anna. Kamu kan lihat sendiri, El belum bisa berjalan sempurna seperti kamu.
Anna hanya dapat mengangguk pelan, berusaha memahami kondisi adiknya. Dia bukan cemburu, tapi juga ingin mendapatkan perhatian dari ibu yang sudah ia sayangi.
"Aku hanya ingin disayang seperti Mama menyayangi El," rintih Anna dalam hati yang paling dalam.
Bu Yusi menarik napas dalam-dalam saat melihat wajah Anna yang muram. Ia tahu ucapannya itu menyakitinya.
"Anna, kamu anak mama yang kuat, pintar, dan berprestasi. Kamu bisa berjalan dengan normal, mencari uang sendiri walaupun tanpa mama. Kamu wanita yang sempurna, berbeda dengan adikmu Elizabeth. Dia hanya bisa duduk seharian di kursi roda, menyaksikan orang-orang berjalan dengan lancar dan sempurna, tidak sebaik kamu." Bu Yusi menggenggam lengan putrinya lembut, mengusap wajahnya pelan.
"Anna, maafkan mama, ya." Sambungnya, ada rasa sesal yang paling dalam. Anna meninggalkannya sendiri. Yusi hanya mampu menatap langkah gadis itu.
" Kamu mungkin berpikir bahwa Mama sedang membedakanmu dengan El. Sebenarnya, Mama tidak punya niat seperti itu, tapi kondisi adikmu membuatku merasa kasihan, kamu harus mengerti,"batin Bu Yusi nampak sedih.
***
Rintik hujan terdengar merdu di atap rumah.
Hawa begitu dingin menusuk tulang-tulang.
Di luaran sana jalanan begitu sepi, hanya suara air yang jatuh dan aroma tanah yang menemani kesunyian malam itu.
Terlihat seorang gadis di atas kursi roda masih memandang ke arah jendela. Tatapannya kosong seolah menanti sesuatu yang tak kunjung kembali. Hujan menetes di luar seakan menjadi teman setianya.
" Mikirin apa, El?"Tiba-tiba suara dari belakang mengejutkan gadis itu. Wajah murungnya seketika berubah menjadi ceriah.
"Kakak suka ngagetin aku ya? Jantung aku hampir copot, Kak!" Kekesalan El terungkap di depan kakaknya sendiri.
"Begitu aja kaget," ujar Anna, nada bercanda.
Elizabeth memandang kakaknya dengan tatapan penuh kekaguman. Semakin hari, Anna semakin terlihat sempurna di matanya. Jujur, ada perasaan iri saat melihat kakaknya yang tampak semakin menawan, sementara dia hanya mampu terduduk diam di kursi roda.
" Kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Anna sambil menggoda dengan menaikkan kedua alis.
" T- tidak kok, El hanya berpikir ingin cepat sembuh agar bisa bersaing dengan kakak," jawab El gugup.
Anna hanya tersenyum menanggapi itu, tanpa menyadari ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan adiknya. Ibu mereka, Yusi, yang hendak membawakan makanan untuk El, tanpa sengaja mendengar percakapan keduanya. Tiba-tiba air matanya mengalir saat mendengar kedua saudara itu saling menyayangi. Kadang ia menyadari perlakuannya berbeda antara Anna dan El, tapi ia tetap berpikir bahwa El tak sesempurna Anna.
" Anak-anak mama lagi pada ngapain nih?" Ibu Yusi langsung masuk ke dalam kamar El dengan nada santai, berusaha mencairkan suasana. Sekilas, ia melirik Anna yang tadi tampak marah padanya.
"Anna, kamu sudah makan?" tanyanya lembut, berusaha mengurangi ketegangan.
"Sudah, Ma," jawab Anna singkat, membuat El yang sejak tadi mengerutkan dahi sedikit cemas.
Ia bisa merasakan adanya jarak yang mulai terbentuk antara ibunya dan sang kakak. Rasa penasaran El ingin sekali dilontarkan, tapi dia tak berani karena Anna langsung membawa dirinya ke tempat tidur.
"Aku belum ingin tidur, Kak," protes El pelan, namun tangan Anna tetap menuntunnya ke tempat tidur yang empuk dan hangat.
"Tidur yang nyenyak ya, besok kamu akan bertemu seseorang," ujar Anna sambil tersenyum. Ucapan itu membuat El membelalak.
"Siapa?" tanyanya penasaran, semakin penasaran saat ibunya menatapnya dengan tatapan penuh senyum.
"Dokter Alvaro namanya. Dia akan memeriksa kesehatanmu besok," sahut ibunya menimpali ucapan Anna.
"Mama sudah dapat dokter terbaik untuk mengobati El, kan?" tanyanya dengan suara penuh harap, wajahnya berbinar saat membayangkan El yang tak lagi akan sembuh. "Tentu, sayang. Kamu harus tetap bersemangat, karena Mama sudah berusaha keras menemukan dokter, kamu dandan yang cantik ya."
"Dandan ?" Dalam hati Anna bertanya-tanya. Ia menatap ibunya dengan tatapan sulit diartikan, kebingungan menyelimuti pikirannya atas kalimat yang baru saja diucapkan.
"Maksud Mama apa?" tanyanya perlahan.
" Sebentar lagi Eliz akan bertemu dengan pak dokter, jadi tak ada salahnya dia berdandan cantik. " jawab Bu Yusi tanpa beban.
" Ah, mama cuma bercanda, jangan dipikirin," sambung Yusi kala melihat raut wajah Anna berbeda dari sebelumnya. Anna mengangguk pelan, berusaha mengabaikan ucapan mengejutkan dari ibunya.
" Anna keluar, Ma." Izin Anna, kemarahan dalam hati masih memanas, ia sampai tak tega mengacuhkan ibunya.
Tiba di kamar, tangan lembut Anna meraih ponsel lalu mengetik pesan untuk seseorang. "Besok dokter jadi datang ke rumah, ya?" tanyanya lewat chat WhatsApp.
Tak lama, pesan Anna langsung dibalas.
"Tentu saja, aku pasti datang demi membuktikan cintaku padamu," balasan Alvaro terasa hangat. Anna tersenyum sendiri membaca kata-kata sang kekasih.
"Ah, masa sih, Dok?" goda Anna basa-basi. "Kamu belum percaya? Aku akan buktikan di depan orangtuamu," jawab dokter Alvaro dengan berani, membuat wajah Anna bersemu merah. Anna segera mengingatkan,
"Aku memanggil dokter datang ke rumah untuk melihat kondisi Elizabeth, bukan untuk melamar. Jadi, pak dokter harus tetap jaga batasan, ya."
Keduanya asyik bercanda hingga tanpa terasa malam semakin larut. Candaan demi candaan dari Dokter Alvaro membuat Anna semakin kecanduan memandangi ponselnya.
"Aku sudah ngantuk, Pak Dokter. Besok kita lanjutin lagi, ya?" ujarnya pelan.
"Ya udah, sayang. Tidur yang nyenyak, mimpi indah, aku ya. Ingat, jangan panggil aku dokter lagi. Tidak lama lagi, aku akan mempersuntingmu jadi istriku."
Kata-kata itu membuat hati Anna semakin berbunga-bunga. Malam ini, Anna merasa sulit untuk tidur, dibuai oleh harapan dan kebahagiaan yang mengalir deras.