Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celah yang Melebar
Waktu bergulir tanpa peduli pada badai sunyi yang sedang bergolak di dalam rumah besar Blok C-12. Satu minggu telah berlalu dengan ritme yang terasa normal di permukaan, namun menyimpan pergeseran lempeng yang masif di bawahnya.
Gita sedang berada di Singapura untuk mengurus ekspansi proyek apartemen mewah milik perusahaannya.
Keberadaan sang dalang di luar negeri memberikan ruang napas yang luar biasa bagi dua orang yang ditinggalkannya di kota ini, meskipun dengan cara yang bertolak belakang.
Bagi Reza, ketidakhadiran Gita justru memperparah paranoia dan kesepian yang menggerogoti dinding dadanya. Seperti malam ini, jam di dasbor mobil mewahnya sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit ketika ia menginjak rem di depan pagar jati rumahnya.
Sebenarnya, pekerjaan kantornya sudah selesai sejak pukul lima sore. Namun, alih-alih pulang ke rumah yang ia tahu sedingin es, Reza memilih mengurung diri di ruang kerjanya yang luas di kantor.
Di sana, ia menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar ponsel, melakukan panggilan internasional dengan Gita yang sering kali terdengar buru-buru karena wanita itu sibuk dengan jamuan makan malam bersama investor.
Sisanya? Reza hanya duduk di kursi kebesarannya, menyesap wine merah dari gelas kristal hingga kepalanya pening, mencoba menenggelamkan bayangan wajah hancur Alya yang terus menghantuinya.
Ketika ia melangkah masuk ke dalam rumah, suasana sunyi langsung menyergapnya. Lampu ruang tengah temaram.
Reza melirik sekilas ke arah dapur. Bersih, kosong. Ia lalu mendongak menatap koridor lantai dua yang gelap. Pintu kamar utama pasti terkunci dari dalam—seperti malam-malam sebelumnya.
Alya, di dalam benak Reza, adalah boneka yang ketakutan, yang mengurung diri sejak sore pasca-aerobik untuk menghindari kehadirannya.
Reza menghela napas berat, melonggarkan dasinya, lalu berjalan menuju ruang kerjanya sendiri di lantai bawah. Ia merasa menang karena sangkar emasnya tetap utuh, tanpa tahu bahwa burung di dalamnya telah lama terbang melalui celah rimbunnya pohon kenanga.
Di belahan dunia yang lain, Alya justru merasa hidupnya baru saja dimulai. Setiap detik yang ia lewati kini memiliki arti, bukan lagi sekadar hitungan mundur menunggu pagi.
Malam itu adalah hari Selasa, hari di mana kelas perkuliahannya libur. Otot-otot tubuhnya sudah tidak sekaku dua minggu lalu; mereka telah beradaptasi, mengeras bersama tekadnya.
Sore harinya setelah sesi latihan mandiri yang singkat, Alya terkejut ketika Diana menunggunya di depan loker lantai dua.
"Kamu tidak terburu-buru pulang malam ini, kan?" tanya Diana. Suaranya yang rada serak terdengar santai, namun sepasang mata elangnya menatap Alya dengan intensitas yang tidak berubah.
"Ada kedai ramen baru di samping ruko. Aku yang traktir."
Alya sempat ragu, namun mengingat Reza mengirim pesan bahwa ia akan tertahan di kantor hingga larut, Alya mengangguk.
"Boleh, Mbak Diana. Kebetulan saya juga lapar."
Di kedai ramen kecil yang hangat dengan sekat-sekat kayu bergaya Jepang itu, suasana terasa intim. Uap kuah kaldu yang gurih mengepul di antara mereka berdua. Alya duduk berhadapan dengan Diana yang malam itu hanya mengenakan kaos polo hitam yang mempertegas bahu tegapnya.
"Aku perhatikan kamu selalu memakai pakaian yang tertutup, Alya. Bahkan di cuaca segerah ini," ujar Diana membuka percakapan setelah menyumpit mi ramennya.
Matanya bergerak turun, menatap pergelangan tangan Alya yang tertutup manset jaket olahraga.
Alya tersenyum tipis, meremas gelas es teh manisnya. "Kulit saya agak sensitif dengan angin malam, Mbak."
Diana terkekeh pelan, tawa yang terdengar berat dan dalam. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja marmer ruko.
"Kamu pintar membuat alasan, Anak Kecil. Tapi ketahuilah, mata seorang instruktur kebugaran tidak bisa dibohongi. Gerakan refleks tubuhmu saat didekati, caramu melindungi area tertentu... kamu sedang menyembunyikan sesuatu yang sakit di dalam sana."
Jantung Alya berdesir. Ia menatap Diana, mencoba mencari tanda-tanda ancaman, namun yang ia temukan di mata wanita matang itu hanyalah sebuah perhatian yang teramat dalam.
Ada kilatan melindungi yang kuat, sebuah ketertarikan yang tidak lagi disembunyikan oleh Diana.
Sosok Diana yang dominan, dewasa, namun memberikan ruang aman tanpa tuntutan, membuat Alya merasakan kehangatan yang asing. Kehangatan seorang kakak yang tidak pernah ia dapatkan dari Gita.
"Mbak Diana..."
"Aku tidak memaksa kamu bercerita sekarang," potong Diana lembut, jemarinya bergerak maju, menyentuh punggung tangan Alya sekilas dengan kehangatan yang menenangkan sebelum menariknya kembali.
"Aku hanya ingin kamu tahu, di tempat ini, kamu aman denganku. Di luar sanggar itu, apa pun yang menghimpitmu... tinggalkan di pintu luar. Nikmati hidupmu di sini."
Alya merasakan matanya sedikit panas. Ia mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tulus yang sangat langka.
"Terima kasih, Mbak Diana. Kehadiran Mbak di sini... sangat berarti buat saya."
Mendengar kalimat itu, senyuman Diana melebar, memancarkan kepuasan yang mendalam.
Bagi Diana, Alya adalah permata indah yang sedang terluka, dan ia siap menjadi pelindungnya.
Jika di tempat aerobik Alya menemukan ketenangan fisik dan sosok pelindung, maka di kampus swasta itu, Alya menemukan harga dirinya kembali.
Hari Rabu malam, ruang kelas Manajemen-A tampak riuh sebelum dosen masuk. Alya duduk di bangkunya dekat jendela, dikerubuti oleh Maya, Doni, dan dua mahasiswa lainnya.
Di atas meja Alya, tiga buah buku catatan terbuka, menampilkan lembar kerja analisis studi kasus manajemen operasional yang dipenuhi coretan tinta hitam yang rapi dan terstruktur.
"Alya, asli, otak kamu ini encer banget! Ini rumus peramalan linear yang kemarin dijelaskan Pak Bambang, aku tonton videonya berkali-kali di YouTube tetap gak masuk. Kamu sekali baca langsung paham?" seru Doni dengan wajah frustrasi sekaligus kagum, sambil menyalin baris angka dari buku Alya.
Alya tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang terdengar begitu merdu di antara kebisingan kelas.
"Itu sebenarnya mudah, Don. Kamu hanya perlu membagi variabel tetapnya dulu sebelum memasukkan angka prediksinya. Sini, biar aku tunjukkan celahnya."
Jemari lentik Alya meraih pulpen, menarik garis lurus di atas kertas Doni, lalu menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana. Doni dan Maya mendengarkan dengan mulut setengah terbuka, lalu serentak mengangguk paham.
"Ya ampun, Al! Kamu kalau menjelaskan lebih masuk otak dibanding Pak Bambang," puji Maya sambil menyenggol bahu Alya dengan gemas.
"Beruntung banget ya kamu gak perlu kerja kantoran kayak kami. Punya banyak waktu di rumah buat belajar."
"Iya, Al. Boleh ya, nanti kalau ada tugas kelompok akuntansi minggu depan, aku masuk kelompok kamu? Biar aman nilai UTS-ku," timpal mahasiswa lain bernama Rian penuh harap.
Alya tersenyum hangat. "Boleh, Kak Rian. Masuk saja. Nanti kita kerjakan bersama di kelas sebelum kuliah dimulai."
Di dunia baru ini, Alya merasa posisinya berbalik seratus delapan puluh derajat. Di rumah Blok C-12, ia adalah benda mati yang tidak berharga, pajangan sementara yang menunggu dibuang, dan korban dari kebiadaban Reza.
Namun di sini, di antara teman-teman barunya, ia adalah sosok yang dicari, dikagumi, dan dibutuhkan karena kecerdasannya.
Statusnya sebagai ibu rumah tangga yang "hanya di rumah" justru menjadi keuntungan di mata mereka, karena mereka mengira Alya memiliki waktu luang yang melimpah tanpa tekanan kerja.
Mereka tidak tahu bahwa waktu luang itu ia beli dengan risiko nyawa, menyelinap di antara rimbunnya pohon kenanga di bawah ancaman lensa kamera pengawas.
Saat dosen masuk dan kelas dimulai, Alya menatap papan tulis dengan binar mata yang semakin tajam. Ia mencatat setiap teori dengan tekun.
Setiap ilmu yang masuk ke dalam kepalanya terasa seperti sebutir peluru baru yang ia masukkan ke dalam magasin senjatanya. Ia menyerap semuanya, membangun fondasi kekuatannya sendiri secara sistematis.
Pukul sembilan malam, kelas berakhir. Alya berpamitan dengan Maya dan Doni di lobi kampus dengan lambaian tangan yang ceria.
Begitu ia naik ke atas ojek daring yang menjemputnya, senyuman ceria itu perlahan meluap, digantikan oleh ekspresi dingin yang taktis. Ia mengenakan kembali jaket biru tuanya, mengancingkannya hingga ke leher, bersiap kembali masuk ke dalam sangkar.
Ojek berhenti lima puluh meter sebelum gerbang komplek, tepat di mulut gang buntu yang gelap. Alya turun, membayar dengan uang tunai dari sisa uang saku Reza, lalu melangkah cepat menembus kegelapan gang.
Dari balik pohon kenanga, ia melihat sekeliling. Sunyi. Kamar utama di lantai dua terlihat gelap dari luar. Alya bersiul pelan—sebuah kode kecil.
Sebuah tangan keriput muncul dari balik pagar bambu yang longgar, membantu menarik celahnya agar tubuh mungil Alya bisa lolos. Itu Aminah.
"Aman, Mbak. Bapak sudah pulang sejak jam sembilan lewat tadi. Sekarang beliau ada di ruang kerjanya di bawah, sepertinya sedang pusing dengan berkas-berkas," bisik Aminah dengan napas lega saat Alya sudah menapakkan kakinya di rumput taman.
"Terima kasih, Bu Aminah," bisik Alya hangat.
Dengan gerakan cepat dan tanpa suara, Alya menaiki tangga besi darurat belakang, masuk ke dalam balkon, dan mengunci pintu geser kamarnya.
Ia menanggalkan kemeja flanelnya, menggantinya dengan daster tidur hitam longgar, lalu membuka kunci pintu kamar bagian dalam.
Ia berjalan ke arah tempat tidur, merebahkan tubuhnya yang lelah namun dipenuhi kepuasan di atas seprai sutra krem yang dingin. Di bawah kegelapan malam, Alya menatap langit-langit kamar dengan dada yang berbusung kuat.
Satu minggu telah berlalu dengan sempurna. Kedok aerobik berjalan mulus, aliansi domestiknya kokoh, Diana berada di pihaknya, dan kuliahnya cemerlang.
Celah-celah penjaranya kini telah melebar menjadi gerbang perlawanan, dan ketika Gita kembali dari luar negeri nanti, sang dalang tidak akan pernah menyadari bahwa boneka yang ia jual telah bertransformasi menjadi ancaman yang paling mematikan bagi masa depan mereka semua.
jangan lupa mampir yaa🤭