NovelToon NovelToon
Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Pengganti / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Chicklit / Tamat
Popularitas:76.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rijal Nisa

Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan, begitu pula yang dirasakan Amira. Dia adalah korban keegoisan kedua orang tuanya. Apalagi setelah ibunya menikah lagi, dia semakin kehilangan kasih sayang ibunya.

Dapatkah dia bertahan dalam menghadapi kerasnya hidup, atau pergi dan mengakhiri semuanya?

Tahap Revisi 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rijal Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harus Bertanggung Jawab

Begitu sampai di rumah sakit Amira langsung memeluk Rangga, dia sangat takut terjadi hal buruk pada kekasihnya itu, apalagi sekarang mereka akan menikah.

"K-kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Amira saat melepaskan pelukannya.

"Nggak, aku baik-baik saja. Kamu habis nangis ya?" ucap rangga bertanya, ketika melihat mata Mira yang masih sembab.

"Perasaan aku sudah tidak enak sejak tadi di rumah, kamu sih nggak percaya sama aku, kan sudah kejadian seperti ini," ucap Amira kesal.

"Kamu pasti ngebut-ngebut bawa mobilnya kan?"

"Tidak," jawab Rangga cepat," dia itu lewat tiba-tiba di depan mobil aku, dan terjadilah kejadian seperti ini," ucap Rangga jujur.

"Yang kamu tabrak itu, cewek apa cowok?"

Pertanyaan Amira membuat Rangga merasa aneh, gadis itu masih sempat-sempatnya menanyakan hal konyol seperti ini di saat keadaan sedang gawat darurat.

"Apa pentingnya coba, mau cewek mau cowok yang pasti aku harus bertanggung jawab karena sudah menabrak anak orang," jawab Rangga dia tampak khawatir.

"Rangga, kamu tahu kan orang zaman sekarang suka memanfaatkan keadaan, kalau yang ditabrak anak perempuan, maka kamu harus mau menikahinya. Kamu nggak berpikir seperti itu?" tanya Amira, ah dia berpikiran terlalu jauh. Eits .... Tapi ada benarnya juga seperti apa yang dikatakan Amira.

"Kamu membuat aku semakin pusing, Mira." Rangga lemas seketika, dia baru menyadari akan kebenaran dari ucapan Amira, dan lagi yang ditabraknya itu juga seorang perempuan.

 

"Yang aku tabrak itu memang seorang perempuan," lirih cowok itu.

Jawaban Rangga membuat Amira terdiam, sekarang benar-benar keadaan yang sulit untuk mereka, badai itu akhirnya datang juga, ternyata jalan yang harus ditempuh untuk bisa bersatu tidaklah selalu mulus.

******

    

"Bu Anet sudah berada di rumah sakit sekarang setelah menerima telepon dari Rangga, orang tua gadis itu juga sudah datang, Amira terus menggenggam tangan kekasihnya seperti tidak ingin Rangga jauh-jauh dari sampingnya.

"Matanya mengalami kebutaan, kalian dengar sendiri kan?" ucap lelaki itu, yang tak lain adalah ayah dari si korban.

"Saya ingin anak Ibu bertanggung jawab atas kejadian ini," tambah istrinya.

"Ya, kami akan membayar semua biaya pengobatannya, Ibu tenang saja," jawab bu Anet.

"Kalau soal biaya kami sendiri pun bisa membayarnya," tukas si bapak mulai kesal.

"Lalu saya harus apa? Dan lagi, bukan saya yang sengaja menabrak dia, dia sendiri yang tiba-tiba muncul di depan mobil saya," ucap Rangga membela diri.

"Tetap kamu yang bersalah," timpal si ibu ikut membantu suaminya.

"Lalu Bapak mau apa, mau laporin saya ke polisi, silakan!" tantang Rangga, dia masa bodoh dengan semua itu, karena menurut dirinya dia tidak bersalah.

"Kamu harus menikah dengan anak saya," ucap ibu itu.

Bu Anet tidak setuju dengan permintaan bodoh wanita di depannya, jadi beliau langsung menjawabnya.

"Eh, anda pikir menikah itu suatu hal yang bisa dibuat main-main. Anak saya tidak kenal dengan anak anda, dan kami juga tidak tahu kalian itu berasal dari keluarga baik-baik atau bukan, enak saja suruh nikah sembarangan," omel bu Anet tidak terima.

Amira hanya diam, bahkan sekarang dia perlahan-lahan menjauh dari mereka, Rangga sendiri sampai tidak sadar kalau Amira sudah tidak ada di sampingnya lagi. Gadis itu berjalan sempoyongan tidak tentu arah, dugaannya kali ini pun benar, Rangga disuruh menikahi anak wanita itu, sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa, dia terus berjalan keluar dari rumah sakit.

      ******

Begitu sampai di rumah, tubuh Amira langsung ambruk ke lantai, dan itu membuat semua keluarganya panik. Mereka yang memang sedang duduk di ruang tengah langsung berlari menuju ke arahnya, Doni segera mengangkat tubuh adik iparnya dan merebahkannya di atas sofa.

"Dia kenapa lagi ini, Ma?" Aura khawatir dengan keadaan Amira, apalagi wajahnya sangat pucat.

"Pasti terjadi sesuatu lagi," ucap mamanya.

"Apa tidak sebaiknya kita tanyakan langsung pada Rangga?" usul pak Andi.

"Kalau menurut mama jangan deh pa, soalnya Rangga juga sedang punya masalah sendiri, kalau kita beri tahu dia tentang keadaan Amira, takutnya ini akan membuat keadaan dia makin bertambah sulit," ucap bu Diandra mencegah niat suaminya.

Mereka terus mengawasi Amira, dia belum sadar juga.

"Badannya semakin panas, Ra," Kata Doni saat menempelkan tangannya di kening Amira.

"Benarkah?" tanya Aura tidak yakin, kemudian dia meletakkan telapak tangannya di pipi dan kening adiknya, ternyata memang benar Amira sakit.

"Pa, telpon dokter Niko saja untuk melihat kondisi Amira!" ucap bu Diandra, tanpa disuruh dua kali pak Andi langsung menelpon dokter pribadi keluarga mereka.

********

    

Sudah tiga hari setelah kejadian di rumah sakit hari itu, Rangga sama sekali tidak menghubungi Amira, dan Amira pun juga tidak menghubungi Rangga.

Mereka seperti sedang memberi waktu untuk diri masing-masing, waktu untuk berpikir tentang hubungan mereka yang sekarang sedang dalam masalah.

"Gadis yang ditabrak Rangga mengalami kecedaraan pada matanya, dia buta dan tidak akan bisa melihat lagi. Keluarganya meminta Rangga untuk menikahi gadis itu," ucap Amira, dia bicara sendiri.

"Aku tidak boleh egois kan, aku juga seorang wanita, aku bisa merasakan bagaimana kehilangan semangat hidup, tapi haruskah aku memberikan Rangga kepada gadis itu?" Amira bertanya pada dirinya sendiri. Dia menangis dan kemudian tertawa, dan menangis lagi.

"Pikirannya benar-benar kacau, Kak," ucap Aura pada Siska, mereka ternyata sedang berada di depan kamar Amira, dan melihat keadaan gadis itu yang sudah seperti orang gila.

Siska dan Dimas sudah pulang, mereka langsung pulang dari acara berbulan madunya begitu mendengar kabar tentang Amira.

"Kenapa tidak telpon Rangga saja, karena yang dia butuhkan adalah Rangga," usul Siska.

"Aku sudah menelpon dia, dan apa Kakak tahu apa yang Rangga katakan, gadis yang ditabraknya itu bahkan keadaannya lebih kacau daripada Amira," ungkap Aura.

Sekarang ini mereka tidak punya jalan keluarnya, Rangga juga tidak bisa diharapkan, Amira juga tidak mau bicara sama mamanya.

  

******

      

"Mama kenapa berjalan mondar mandir seperti itu? Pusing papa lihatnya, telpon saja pak Aryo siapa tahu dengan bertemu papanya keadaan Amira jadi sedikit lebih baik," ucap pak Andi mengusulkan.

"Iya ya, kenapa aku tidak kepikiran dari tadi." Bu Diandra segera menelpon mantan suaminya itu.

Berselang 30 menit, pak Aryo dan istrinya pun tiba di kediaman mereka, tidak hanya datang berdua, tapi mereka juga membawa si comel Cici.

"Apa keadaannya memburuk lagi?" tanya pak Aryo terlihat khawatir.

"Dia tertawa, menangis, dan kemudian tertawa lagi. Amira terus bicara sendiri di kamarnya," ucap bu Diandra sedih.

"Kamu sebaiknya langsung melihat keadaannya, Aryo!" suruh pak Andi, "siapa tahu dengan kamu dia mau bicara," sambung lelaki itu.

"Tidak apa-apa, Om. Biar Cici saja yang bicara sama kak Amira," ujar Cici menawarkan diri untuk membantu.

"Kamu ingin bicara sama kak Amira, emang kamu bisa?" tanya bu Diandra tidak yakin.

"Yakin dong, Tante tenang saja," jawab Cici sambil turun dari pangkuan mamanya.

"Biar papa saja, kamu jangan sok keren gitu deh," cegah bu Desi.

"Tidak apa, biarkan saja," ucap pak Andi, lelaki itu membiarkan begitu saja Cici pergi menemui Amira, karena menurutnya Cici punya cara tersendiri.

Di tengah tangga Cici berhenti dan melihat ke bawah sambil bertanya. "Kamar kak Amira belok kiri apa kanan?" dia tidak tahu harus ke mana, karena rumah mereka cukup luas.

"Kiri!" sahut bu Diandra dan pak Andi bersamaan.

"Oke." Cici kembali melangkah, dia bahkan senyum-senyum sendiri saat itu, sepertinya Cici sudah merencanakan sesuatu yang akan membuat Amira kesal nantinya.

                           *******

1
Anifa Anifa
novel nggak bermutu
Murdiyanti Dian
😭😭😭😭
Murdiyanti Dian
g percaya aku sama Lidia
Murdiyanti Dian
jangan bersikap seperti itu Amira takutnya Rangga pergi darimu karena sikapmu
Murdiyanti Dian
😭😭😭😭😭
Murdiyanti Dian
kenapa aku mengeluarkan airmata terus.... kasihan Amira
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ: Bacanya terlalu menghayati, Mbak. makasih udh mampir 🥺🤭💖
total 1 replies
Sang
lanjut dedek/Ok/
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ: Iya kk😉🤭
total 1 replies
Jade Meamoure
😭😭😭
kagome
kaya tapi sederhana thor itu keren
Fay
Luar biasa
ngintip masa lalu/CoolGuy/
Nayla arafah
ya ampunn

itu sakit banget Amira, Rangga kok gitu sih
Nayla arafah
hmmm kasian Mira kak 🥺
Nayla arafah
satu iklan buat Amira 😁😁
Cristin
sungguh sangat menyedihkan
meihan
sedih woy nyampe nangis, tapi kenapa kurang peminatnya ya padahal bagus ceritanya
ORC
mampir thor 🐼Salam kenal dari Ry 🙏🏻
ORC
Setangkai bunga mawar buat mu Thor
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ: Makasih, sudah mampir/Smile/
total 1 replies
Yem
semangat ya Amira.. Jadi ikut sedih..
Yem
Kasihan Mira
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ: hehe... nanti juga bahagia dianya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!