Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelicikan Zayan
Fabian terdiam sesaat, dengan pandangan mata yang tak lepas dari ponsel dan sesekali melirik ke arah Keyla. Dengan mudahnya misi lolos hanya karena dirinya bersama Keyla saat ada Adara.
"Berhari-hari aku menjalankan misi ini, tapi selalu gagal. Ini saat bersama Keyla, langsung lolos sempurna. Kenapa bisa gitu ya?" batin Fabian sambil menatap lebih ke intens ke arah Keyla. Sementara yang ditatap hanya menyunggingkan senyum termanisnya.
"Kamu ... kenapa?" tanya Fabian.
Keyla mengernyitkan kening, "Memangnya aku kenapa? Senyumku salah ya, Bi?"
"Mmm, nggak, bukan gitu maksudku. Tapi, kok kamu gitu." Fabian menjawab sambil menggaruk kepala yang tak gatal. Bingung harus bagaimana menjelaskannya kepada Keyla, tanpa menyebut aplikasi SKAK.
"Apanya yang kok aku?" Keyla makin tak mengerti.
Fabian pun menggeleng-geleng dan kemudian menyudahi pembahasan tersebut. Lantas, ia mengalihkan pembicaraan pada keindahan pantai tempat mereka berada saat ini.
"Bi!" panggil Keyla ketika cukup lama bercengkerama. Nada suaranya kali ini terdengar serius, pun dengan tatapan yang menyiratkan banyak arti.
"Kenapa, Key?" Fabian membalas tatapan Keyla. Lantas, ikut duduk ketika wanita itu mulai selonjoran di atas pasir, di bawah pohon ketapang.
Keyla tersenyum simpul, "Sepertinya Adara pengin balikan sama kamu. Gimana?"
Fabian tertawa renyah, "Jangan tanya gimana, aku nggak akan balikan sama dia. Kamu masih ingat kan betapa sombongnya dia waktu mutusin aku?"
Keyla mengangguk-angguk dengan perasaan yang lebih menghangat. Setidaknya ada harapan untuk mengejar cinta Fabian.
"Terus ... kamu nggak pengin cari pengganti gitu?" tanya Keyla beberapa saat kemudian.
"Untuk saat ini belum, aku mau fokus kerja dulu."
"Aku salut sama kamu. Masih ada semangat kerja jadi kurir, padahal ... kamu udah lebih dari mapan."
"Ya, itu kan milik orang tua. Terkadang ... aku juga pengin nyari duit dari hasil usaha sendiri. Aku 'tuh aslinya males kalau ngurus bisnis, terlalu rumit. Enakan jadi kurir gini. Meski gaji terbilang kecil, tapi nggak banyak ini dan itu." Fabian kembali berdusta, demi menutupi asal muasal kekayaannya selama ini.
"Apa pun pilihan kamu, aku yakin itu yang terbaik. Percayalah padaku, apa yang kamu geluti sekarang, nggak akan membuatmu kecewa," sahut Keyla, lagi-lagi dengan tatapan penuh arti. Namun, Fabian sama sekali tak menyadari itu. Terlalu sederhana ia dalam menilai Keyla.
Beberapa menit setelah membicarakan hal itu, Keyla dan Fabian beranjak dari duduknya. Bukan pulang, melainkan bermain ombak dengan asyik. Keduanya mengukir hari dengan penuh canda tawa, nyaris tak ada beban yang mengganggu hati masing-masing.
Di lain tempat, keadaan Zayan berbanding terbalik dengan Fabian dan Keyla. Lelaki muda itu berulang kali menggeram kesal, alasannya adalah Adara. Kini, dia benar-benar putus dengan kekasihnya itu. Zayan yakin kesibukannya hanyalah alasan yang sengaja Adara cari, sedangkan alasan yang lebih pasti adalah Fabian. Mau tidak mau dia mengaku kalah satu langkah dengan lelaki itu. Dua kali Fabian mendapatkan apa yang dia incar, yang sebenarnya akan ia beli untuk Adara.
"Tuan Zayan memanggil saya?" ujar seseorang yang baru muncul di ambang pintu.
Zayan menoleh dan mendapati tangan kanannya sedang menunduk hormat. Edwin, lelaki dewasa yang sudah lama bekerja untuknya. Lelaki yang sekian lama tidak pernah gagal dalam mengemban tugas dari sang tuan.
"Masuklah! Aku ada tugas untukmu."
Mendengar jawaban itu, Edwin lekas masuk dan duduk di hadapan Zayan, sembari menanyakan tugas yang harus ia kerjakan.
Dengan sedikit kasar, Zayan meletakkan selembar foto Fabian ke atas meja. Di sana sudah tertera lengkap alamat vilanya, sekaligus restoran tempat ia bekerja.
"Namanya Fabian Bara Akalanka. Dia hanya kurir makanan, tapi akhir-akhir mendadak banyak uang. Selidiki dengan rinci, dari mana dia mendapatkan uang itu. Apa pun informasi yang kamu dapat nanti, beri tahu aku secepatnya!" kata Zayan, memberikan perintah untuk tangan kanannya.
"Baik, Tuan. Akan saya kerjakan." Edwin mengangguk patuh, lantas mengambil foto Fabian dan menyimpannya ke dalam tas.
Zayan tersenyum puas. Tak ragu ia pun memberikan sebuah amplop yang berisi uang, sebagai imbalan awal atas jasa yang diberikan Edwin.
"Fabian ... tidak peduli dari mana uangmu berasal, tapi sebentar lagi kamu akan hancur. Akan aku tunjukkan kepada Adara, siapa kamu sebenarnya. Lelaki miskin yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Heh, semoga saja harta itu kamu dapat dari perdagangan obat terlarang, akan kupastikan kamu membusuk di penjara," batin Zayan dengan mata yang memicing.
Bersambung...