NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangkan di Antara Kita

Suasana di dalam ruangan tambang mendadak terasa lebih dingin, meski udara di luar mulai terasa lebih hangat. Tulisan terakhir di buku catatan itu seolah menjadi duri yang menancap di hati setiap orang yang hadir. Musuh yang tidak tercatat nama, yang bisa menyamar sebagai siapa saja pikiran itu membuat kepercayaan yang baru saja terbangun kembali terguncang.

Putra memegang buku catatan itu erat‑erat, matanya meneliti setiap sudut tulisan ayahnya. Ia tahu Agus adalah orang yang sangat berhati‑hati, sehingga tidak menuliskan nama itu berarti bahayanya benar‑benar nyata.

“Kolonel, menurutmu siapa yang mungkin dimaksudkan ayahku?” tanya Putra dengan suara rendah. “Apakah ada orang yang selama ini selalu ada di sekitar kita, namun tidak pernah terduga?”

Kolonel Bayu mengerutkan kening, wajahnya dipenuhi keraguan. “Saya juga tidak tahu. Selama ini saya berpikir Adiwinata adalah otak utamanya, tapi tulisan ini menunjukkan ada orang yang jauh lebih tinggi. Dia pasti sangat berkuasa, memiliki akses ke informasi rahasia, dan bisa memanipulasi peristiwa dari balik layar tanpa pernah terlihat.”

Citra menatap buku catatan itu dengan pandangan serius. Sebagai dokter, ia terbiasa menganalisis fakta secara objektif. “Artinya, kita tidak bisa mempercayai sembarang orang, meski mereka terlihat membantu kita. Orang itu bisa saja mengatur agar kita menemukan sebagian bukti, sambil tetap menyembunyikan identitasnya sendiri.”

Adiwinata yang masih di bawah pengawalan Arga tersenyum tipis, seolah tahu sesuatu namun enggan berbicara. Ia menatap Putra dan Citra dengan pandangan yang sulit diartikan campuran rasa benci, iri, dan sedikit kekaguman.

“Kalian baru mulai menyadari betapa rumitnya permainan ini,” ucapnya pelan. “Orang yang kalian cari itu tidak akan pernah muncul secara terang‑terangan. Dia akan membiarkan orang lain menjadi tamengnya, seperti yang dia lakukan padaku selama ini. Dia hanya akan bertindak jika nyawanya benar‑benar terancam.”

“Kau tahu siapa dia?” tantang Putra, melangkah mendekat. “Katakan saja, dan mungkin hukum akan lebih lunak padamu.”

Adiwinata tertawa pelan. “Aku tidak bodoh. Jika aku menyebutkan namanya sekarang, nyawaku akan berakhir bahkan sebelum aku sampai di pengadilan. Dia memiliki mata dan telinga di mana‑mana. Tapi satu hal yang bisa kukatakan: dia memiliki hubungan darah dengan keluarga ini, meski jaraknya mungkin sudah cukup jauh.”

Kata‑kata itu membuat hati Putra bergetar. Hubungan darah? Itu berarti orang itu bisa saja berasal dari lingkaran keluarga besar yang selama ini dianggap aman. Ia menoleh ke arah Citra, melihat kekhawatiran yang sama terpancar di mata istrinya.

“Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi,” ucap Kolonel Bayu memecah keheningan. “Tambang ini sudah tidak aman. Orang yang lolos pasti sudah menghubungi atasannya. Kita harus segera pindah ke tempat perlindungan yang sudah disiapkan.”

Mereka mulai bergerak keluar dari ruangan penyimpanan. Dokumen‑dokumen penting dimasukkan ke dalam tas tahan air dan dibagi menjadi beberapa bagian untuk keamanan. Adiwinata dibawa di tengah pengawalan ketat, sedangkan Andi tetap digendong Citra, yang kini kondisinya sudah jauh lebih baik dan sadar penuh.

Saat mereka berjalan melewati lorong‑lorong gelap menuju pintu keluar utama, Putra terus mengamati sekeliling dengan waspada. Sebagai tentara, ia terlatih mendeteksi keanehan sekecil apa pun. Sesekali ia menoleh ke belakang, merasa seolah ada pasangan mata yang mengawasi mereka dari kegelapan, namun tidak ada apa pun yang terlihat.

Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya tiba di mulut tambang. Sinar matahari siang yang terik menyilaukan mata mereka yang sudah terbiasa dengan cahaya redup. Di luar sudah menunggu beberapa kendaraan militer dan tim penyelidikan yang dipimpin oleh Perwira Raka, rekan Kolonel Bayu.

“Segera masuk ke kendaraan, kita berangkat sekarang juga!” perintah Perwira Raka dengan tegas.

Namun, tepat saat mereka akan melangkah menuju mobil, sebuah suara panggilan lembut terdengar dari arah pohon‑pohon rindang di pinggir jalan.

“Putra! Citra! Tunggu sebentar!”

Semua orang berhenti dan menoleh. Dari balik pohon muncul seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana namun rapi. Itu adalah Bibi Sari, kerabat jauh keluarga yang selama ini sering membantu mengurus rumah dan dianggap sebagai bagian dari keluarga. Wajahnya tampak cemas dan terengah‑engah seolah baru saja berlari jauh.

“Saya mendengar ada keributan di sini, saya khawatir terjadi sesuatu pada kalian,” ucapnya sambil mendekat, tangannya terulur seolah ingin menyentuh Andi.

Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh, Putra secara refleks melangkah maju menghalangi. Ia menatap wanita itu dengan pandangan curiga, mengingat tulisan di buku catatan yang menyebutkan musuh bisa saja orang terdekat.

“Bibi Sari? Kenapa kau ada di sini? Siapa yang memberitahumu lokasi ini?” tanya Putra dengan nada waspada.

Wanita itu tertegun sejenak, lalu wajahnya menunjukkan ekspresi sedih yang tulus. “Kenapa kau menatapku seperti itu, Nak? Saya mendengar desas‑desa di desa bahwa ada orang asing yang datang ke tambang ini, jadi saya datang untuk memastikan kalian aman. Saya tidak tahu siapa yang memberitahu, saya hanya merasa khawatir.”

Citra yang melihat ekspresi wanita itu mulai merasa ragu, namun nalurinya sebagai istri yang melindungi keluarga membuatnya tetap waspada. Ia memeriksa Andi dengan sekilas, memastikan tidak ada bahaya yang mengancam.

“Terima kasih atas perhatian Bibi,” ucap Citra sopan namun menjaga jarak. “Tapi kami sedang terburu‑buru. Kami akan menghubungi Bibi nanti saat keadaan sudah aman.”

Melihat sikap mereka, Bibi Sari menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Baiklah, saya mengerti. Hati‑hati di perjalanan. Semoga Tuhan melindungi kalian sekeluarga.”

Ia kemudian mundur perlahan dan berbalik berjalan menjauh, menghilang di balik pepohonan. Namun, sesaat sebelum tubuhnya hilang dari pandangan, Putra menangkap sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang. Saat wanita itu menoleh sekilas, matanya sempat menatap tajam ke arah Adiwinata yang dibawa pengawalan, dan di sana terlihat kilatan kebencian yang samar bukan kebencian biasa, melainkan pandangan yang seolah memiliki hubungan rahasia.

Apakah itu hanya perasaan berlebihan karena ketegangan, atau memang ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu?

Saat mereka masuk ke dalam kendaraan dan mobil mulai melaju meninggalkan area tambang, Putra terus memikirkan peristiwa tadi. Ia menoleh ke arah Citra yang duduk di sampingnya, menggendong Andi yang mulai tertidur lelap.

“Kau melihatnya juga, bukan?” bisik Putra pelan. “Saat Bibi Sari menoleh ke arah Adiwinata...”

Citra mengangguk pelan, wajahnya serius. “Aku juga merasakan ada yang tidak beres. Sikapnya terlalu tenang, dan dia datang tepat di saat‑saat seperti ini. Tapi kita tidak bisa menuduh tanpa bukti yang jelas.”

“Benar,” sahut Kolonel Bayu dari kursi depan. “Tapi kita harus waspada. Mulai sekarang, kita tidak boleh mempercayai siapa pun sepenuhnya sampai kita tahu siapa sosok di balik semua ini.”

Namun, di tengah perjalanan yang terasa panjang dan penuh ketegangan, ponsel genggam milik Kolonel Bayu tiba‑tiba berdering. Ia mengangkatnya, dan seketika wajahnya berubah pucat. Suara di seberang sana terdengar tergesa‑gesa dan penuh kekhawatiran.

“Kolonel! Ada masalah besar! Tim yang seharusnya menjaga rumah utama keluarga kita dilaporkan diserang tadi malam! Semua dokumen dan barang berharga yang tersisa di sana lenyap! Dan yang paling parah... ada surat ancaman yang ditinggalkan, yang ditujukan langsung kepada Putra dan Citra...”

Kolonel Bayu terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah mereka dengan wajah tegang. “Di surat itu tertulis: ‘Kalian sudah menemukan sebagian rahasia, tapi masih banyak yang belum kalian ketahui. Jangan berani menyerahkan dokumen itu ke siapa pun, atau nyawa orang‑orang yang kalian sayangi akan menjadi taruhan. Saya sedang mengawasi setiap langkah kalian, dan saya lebih dekat dari yang kalian kira.’”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!