NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Rasa yang Mematikan

Rumah panggung ini kecil dan sempit. Kayunya sudah mulai lapuk, mengeluarkan bau lembap yang bercampur dengan bau tanah basah dari bawah lantai.

Di salah satu pojok ruangan, gua duduk bersandar pada tiang bambu tua yang bunyinya berderit setiap kali gua bergerak sedikit saja.

Di hadapan gua, sebuah piring tanah liat diletakkan perlahan-lahan. Di atasnya ada dua butir kentang rebus yang masih mengepulkan uap panas. Uap itu naik pelan ke udara, lalu hilang begitu saja tertelan dinginnya udara malam.

"Makan ya, Kak... masih hangat," bisik Carmelia. Matanya menatap gua penuh harap, seolah-olah kebahagiaannya sekarang cuma bergantung pada apakah gua mau makan atau tidak.

Gua menatap kedua kentang itu cukup lama. Kulitnya sudah pecah, memperlihatkan bagian dalamnya yang berwarna putih, lembut, dan terlihat sangat menggoda.

Aroma kentang matang itu langsung menusuk hidung gua, seketika mengirimkan sinyal yang kuat ke otak gua. Di detik itu juga, pertahanan diri gua yang sudah gua bangun begitu kuat mulai goyah.

Semua kenangan buruk soal rasa lapar yang gua coba kubur sedalam-dalamnya tiba-tiba ditarik paksa keluar ke permukaan.

Tiga minggu penuh tidak makan apa pun yang layak. Tidur di atas tumpukan kardus basah. Minum air kotor dari selokan pinggir jalan. Berbaring lemah, menunggu mati datang perlahan tapi pasti... semuanya terbayang kembali seolah baru terjadi kemarin.

Perut gua langsung melilit kencang. Bukan karena luka bekas gigitan serigala, tapi karena rasa lapar yang tiba-tiba bangkit, menyiksa, memaksa gua untuk segera mengisi perut ini. Lapar akan makanan, lapar akan rasa kenyang, dan lapar akan sesuatu yang bisa membuat gua merasa bahwa gua masih ada, masih hidup, masih berharga.

Gua tidak repot-repot mencari sendok atau peralatan makan apa pun. Tangan gua yang masih ada sisa darah kering di bawah kuku jari langsung menyambar kentang itu begitu saja.

Hap.

Gigitan pertama langsung lumer di mulut. Gua tidak mengunyah dengan cara yang rapi atau sopan seperti orang biasa. Gua makan dengan rakus, kasar, seolah-olah jika gua tidak makan cepat-cepat, makanan ini akan hilang atau diambil orang lain.

Rasa manis alami kentang itu menyebar sampai ke tenggorokan, memberikan rasa lega yang luar biasa pada perut gua yang sudah lama kosong.

Enak sekali, bisik hati gua yang paling dalam.

Ada rasa tenang, rasa lega yang mengalir ke seluruh tubuh gua, sampai tembok pertahanan mental gua yang sekeras batu itu sedikit retak. Sisi kemanusiaan yang sudah gua kubur dalam-dalam sejak masih di dunia lama, tiba-tiba muncul lagi ke permukaan.

Untuk sesaat ini saja, gua merasa... berarti. Gua merasa benar-benar hidup. Padahal semuanya cuma karena dua butir kentang rebus yang diberikan oleh tangan anak kecil ini.

Gua terus makan dengan lahap, tidak peduli bagaimana penampilan gua terlihat di mata mereka. Bagi gua sekarang, ini adalah makanan terenak, makanan paling berharga yang pernah gua rasakan seumur hidup gua.

Carmelia tersenyum lebar, matanya bersinar terang melihat gua makan dengan begitu nikmat. Di dekat pintu, ayahnya pun mengembuskan napas panjang, seolah-olah dia baru saja lepas dari beban berat yang selama ini dipikulnya. Mereka terlihat benar-benar senang melihat gua makan seperti ini.

Tapi kehangatan itu cuma bertahan beberapa detik saja.

Begitu gigitan terakhir masuk ke tenggorokan gua, kesadaran gua langsung kembali sepenuhnya. Mata gua yang tadi sempat agak lemas dan lembut, kini kembali tajam, dingin, dan waspada.

Gua sadar: sepanjang waktu ini, mereka sedang memperhatikan gua. Menatap gua dengan tatapan iba, seolah-olah gua ini makhluk malang, orang miskin yang baru saja diberi sisa makanan dan harus berterima kasih seumur hidup.

Gua benci dikasihani, batin gua. Gua benci terlihat lemah, terlihat menyedihkan di depan siapa pun. Di dunia ini, gua akan mengubah nasib gua sendiri. Tidak akan ada lagi yang bisa menginjak-injak gua, tidak akan ada lagi yang melihat gua rendah.

Tembok es yang sempat retak itu kini dibangun kembali, lebih tinggi, lebih tebal, lebih kuat dari sebelumnya. Gua meletakkan piring tanah liat itu ke lantai dengan gerakan yang agak keras.

Ctak.

Suara itu terdengar nyaring di ruangan yang sepi. Wajah gua kembali menjadi datar, kaku, tanpa ekspresi apa pun — persis seperti orang yang tidak punya perasaan sama sekali.

Pria itu sedikit terkejut, bahkan agak tersentak melihat perubahan sikap gua yang begitu mendadak. Ia berdeham, berusaha membuat suasana kembali nyaman.

"Anu, Tuan... kalau boleh tahu, siapa nama Tuan? Dan dari mana asal Tuan? Supaya kalau saya nanti punya rezeki lebih, saya bisa membalas kebaikan Tuan ini..."

"Tidak perlu sok akrab," potong gua cepat, nadanya dingin dan tegas, tidak memberi ruang untuk basa-basi.

Pria itu langsung diam, mulutnya tertutup rapat. Wajahnya kembali tegang, dan suasana hangat yang sempat ada tadi hilang seketika, berganti dengan keheningan yang canggung dan menegangkan.

Carmelia pun tampak bingung, senyum polos di wajahnya perlahan hilang, digantikan tatapan bingung melihat bagaimana sikap gua berubah drastis begitu cepat.

"Gua tidak butuh balasan apa pun," kata gua sambil berdiri. Gua sama sekali tidak menatap mereka, pandangan gua lurus tertuju pada pintu kayu yang sudah lapuk itu. "Gua cuma numpang makan. Sekarang sudah selesai. Jangan banyak bertanya."

Tanpa menunggu mereka menjawab apa pun, gua langsung berjalan keluar dari rumah itu. Gua butuh udara luar. Gua muak dengan segala macam basa-basi, sikap baik hati, dan suasana hangat yang justru bikin gua merasa lemah, bikin gua merasa gua ini orang yang perlu dikasihani.

Turun dari tangga kayu, gua berjalan menjauh sampai ke bawah pohon besar yang ada di pinggir halaman, tempat yang gelap dan sepi.

Dari dalam rumah, gua masih bisa mendengar suara terburu-buru pria itu yang segera membawa tanaman obat pemberian gua masuk ke kamar tempat istrinya terbaring. Biarkan mereka sibuk. Gua tidak peduli apakah istrinya akan sembuh atau justru mati nanti. Tugas gua di sini sudah selesai.

Gua menyandarkan punggung ke batang pohon yang kasar, lalu menatap langit malam yang terang oleh dua bulan yang bentuknya aneh, yang belum pernah gua lihat di dunia lama.

"Baiklah..." gumam gua pelan, hanya bisa didengar oleh diri gua sendiri. "Sekarang, sebenarnya apa sistem ini sebenarnya?"

Gua memanggil tampilan antarmuka yang sejak pagi ini sesekali muncul di sudut pandangan gua. Begitu gua memusatkan pikiran, sebuah layar tembus pandang berwarna hitam pekat langsung muncul di hadapan gua. Layar itu memancarkan hawa dingin sampai rumput-rumput kecil di bawah kaki gua seketika menjadi beku.

[Memulai Inisialisasi Antarmuka Sistem...]

[Tingkat Keselarasan Jiwa dan Tubuh: 100%]

[Selamat datang, Yudha.]

[Sistem Kelaparan Kiamat telah aktif sepenuhnya.]

Sistem Kelaparan Kiamat?

Nama yang aneh, tapi rasanya sangat pas dengan apa yang gua rasakan selama ini.

[Fungsi utama: Melahap tanpa batas.]

[Segala sesuatu yang Anda lahap — makhluk hidup, energi, sihir, bahkan konsep atau kekuatan apa pun — akan diubah menjadi tenaga murni untuk memperkuat diri dan memperpanjang usia Anda.]

[PERINGATAN PALING TINGGI: Rasa lapar Anda adalah sumber kekuatan sekaligus sumber bencana. Jangan biarkan tubuh ini kosong terlalu lama, atau seluruh dunia akan menanggung akibatnya.]

Gua tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, bukan senyum senang — tapi senyum sinis, senyum dingin yang terlihat mengerikan di tengah kegelapan malam ini.

Melahap tanpa batas... ya?

Di dalam dada gua, memang ada sebuah lubang hitam yang terus berputar, terus haus, terus menginginkan lebih banyak, lebih besar, lebih kuat — dan tidak akan pernah merasa puas, tidak akan pernah kenyang selamanya.

Sistem ini tidak menyuruh gua menjadi orang baik, tidak menyuruh gua menjadi pahlawan yang menyelamatkan orang lain. Sistem ini cuma memberi gua satu perintah yang paling sederhana, paling jelas: teruslah lapar, dan lahap apa saja yang ada di depan mata.

Benar-benar pas sekali. Dunia ini tempatnya kejam, penuh tipu daya, penuh kekerasan, penuh ketidakadilan. Maka gua akan menjadi sesuatu yang jauh lebih kejam, jauh lebih kuat, jauh lebih buas — supaya tidak akan ada lagi yang bisa membuat gua kelaparan, tidak akan ada lagi yang bisa menginjak-injak gua sampai mati seperti dulu.

Tanpa gua sadari, di dalam rumah kayu kecil itu, tanaman obat yang gua berikan tadi bekerja dengan cara yang luar biasa ajaib.

Ibu Carmelia yang tadinya nyawanya tinggal seutas benang, yang sudah hampir menyerah mati, perlahan mulai membuka matanya. Rasa sakit yang menyiksa tubuhnya perlahan hilang satu per satu. Sang ayah terbaring di samping ranjang, menangis tersedu-sedu sambil bersyukur setinggi langit.

Dan di sudut ruangan, Carmelia terus berdiri diam, matanya tak lepas menatap arah pintu tempat gua pergi tadi.

Bagi anak kecil itu, sosok gua yang terlihat dingin, kasar, dan sulit didekati ini adalah orang yang menyelamatkan nyawanya, bahkan menyelamatkan nyawa ibunya juga. Baginya, gua adalah sosok pelindung, sosok yang hebat, sosok yang patut dikagumi.

Tapi ia tidak tahu. Ia sama sekali tidak tahu bahwa orang yang ia anggap malaikat penolong ini sebenarnya membawa sistem yang disebut sebagai "kelaparan kiamat" — sesuatu yang bisa menghancurkan seluruh dunia ini jika tidak dijaga dengan baik.

Dan yang lebih gua tidak sadari... jauh di balik wajah polos dan mata bersih gadis kecil itu, ada sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih kuat, dan jauh lebih haus daripada sistem gua sendiri. Sesuatu yang diam-diam mengawasi, mengamati setiap detak jantung, setiap perubahan energi di dalam tubuh gua, menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya menunjukkan wujud aslinya.

 

[Yudha akhirnya tahu dengan jelas apa fungsi sistem yang ada di dalam dirinya. Tapi makhluk "tua dan haus" yang bersembunyi di dekatnya, di dalam diri Carmelia, justru menjadi ancaman yang paling misterius dan berbahaya. Apa yang akan terjadi kalau suatu saat Yudha menyadari keberadaan benda itu? Tulis pendapat kalian di bawah ya!]

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!