NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mysterious Bite (A)

Diskusi mereka berlangsung lebih lama dari yang Emily perkirakan. Raphael terlalu detail, terlalu cerewet untuk seorang pengacara, selalu mengorek hingga titik paling kecil, seakan-akan ia ingin menggali bukan hanya kasusnya, tapi juga seluruh hidup Emily. Ketika ia melirik jam di dinding, jarum sudah hampir menyentuh tengah malam.

"Sudah saatnya kau pulang, Tuan Walter."

Raphael pun mendengus kecil, bersandar ke sofa. "Aku tidak akan menyetir pulang sekarang."

Emily mengangkat alis. "Kenapa tidak?"

"Karena aku mengantuk," jawabnya seenaknya. "Apa kau mau aku mati menabrak tiang listrik hanya karena kau terlalu pelit memberi sedikit belas kasih untuk menginap di sini?"

Emily menyilangkan tangan di dada. "Kau bisa pesan taksi. Uber. Atau memanggil ajudanmu untuk menjemput. Apa pun. Bukan berarti harus tidur di sini."

Raphael menoleh pada Emily, ekspresinya mendadak dibuat-buat menyedihkan, memelas, seakan pria itu baru saja dibuang ke jalan oleh ibu tiri. Sungguh dramatis. "Kau benar-benar tega mengusirku tengah malam? Dengan wajah luka ini? Dengan pakaian..." Ia melirik tubuhnya sendiri, berusaha menarik turun kaos pink ketat yang makin tersingkap di perutnya. "...ini bahkan lebih mirip crop top murahan, sial."

"Serius, Raphael Walter? Jangan berlakon seperti gadis perawan yang takut dilecehkan orang asing di jalan. Itu tak cocok untuk wajahmu." Emily mengerjap, lalu memutar bola matanya keras-keras. Tuhan, pria ini bisa menjual drama lebih baik daripada aktor mana pun.

Raphael hanya diam menatapnya.

"Jangan pakai tatapan memelas itu padaku, Raphael. Itu tidak mempan."

Raphael tetap menatapnya, pura-pura seakan hatinya hancur. "Aku hanya minta sebidang sofa. Aku tidak akan masuk kamarmu. Kecuali..." Senyumnya menyungging, nakal. "...kau mengundangku."

Emily mendengus keras. "Mimpi!"

"Aku sudah melakukannya. Berkali-kali. Bagaimana kita berdua menyatu. Tapi baiklah, aku akan bersabar." Raphael menyandarkan kepalanya di sofa, menutup mata separuh, seakan ia bisa tertidur di sana begitu saja.

Emily mendesah panjang, meladeni ocehan pria itu lebih dari lelah membicarakan kasus Andrew. Akhirnya ia menyerah. "Baiklah. Sofa. Titik. Kau tidur di sini, bukan di tempat lain. Ingat itu!"

Tanpa menunggu tanggapan, ia berbalik, menaiki tangga ke lantai atas. Beberapa menit kemudian, bunyi langkahnya terdengar lagi, kemudian sebuah bantal dan selimut dilemparkannya dari atas, jatuh tepat menimpa kepala Raphael.

Raphael terkekeh pelan sambil menangkapnya. "Oh, begitu caramu merawat tamumu, Nona Cooper, hm? Brutal sekali."

"Tidur, Raphael! Sebelum aku berubah pikiran," sahut Emily dari atas. Ia segera masuk ke kamarnya, mengunci pintu rapat, memastikan tak ada celah sedikit pun bagi pria seberbahaya Raphael untuk masuk.

Raphael tersenyum miring, menatap bantal di tangannya. Ia membaringkan tubuhnya di sofa, menutup mata dengan kepuasan aneh. Ya, ia bisa saja pulang. Tapi apa gunanya, kalau kesempatan emas seperti ini lebih menggoda daripada tidur di ranjang empuknya sendiri?

Malam menjelma semakin pekat. Hening merayap ke setiap sudut penthouse, seluruh kota tampak terlelap. Pun sama halnya dengan Emily yang sudah menyerah pada kantuk, pikirannya terkuras seharian hingga akhirnya ia jatuh tertidur di balik pintu kamar yang terkunci rapat. Bernapas tenang, tanpa menyadari bahaya yang berdiam tak jauh darinya.

Sementara itu, Raphael masih terjaga. Ia terbaring di sofa ruang tamu, tubuhnya terlihat rileks, selimut hanya menutupi setengah dadanya. Namun, matanya sama sekali tidak memejam. Dari sejak Emily menutup pintu kamarnya, pria itu tidak pernah benar-benar berniat tidur.

Raphael menoleh ke arah tangga yang mengarah ke lantai atas, tempat kamar Emily berada. Senyum miring perlahan tercipta di bibirnya, seakan sedang menikmati apa yang dia rencanakan setelah ini. Emily, perempuan yang konon begitu cerdas, katanya, dan tak pernah membiarkan sembarangan orang menembus pertahanannya, justru percaya bahwa sebuah kunci pintu cukup untuk menjinakkan Raphael agar tak bisa masuk.

Lucu.

Raphael menyibak selimut, duduk bersandar dengan siku bertumpu di lutut, jemarinya saling mengait. "Ah, Cooper... kau pintar, tapi tetap saja mudah ditebak dan dibodohi."

Perlahan, dia berdiri, pelan-pelan melangkah agar suara kakinya tak terdengar di atas lantai ia berpijak. Raphael berjalan menuju anak tangga demi anak tangga, dengan berani mengarah pada pintu kamar Emily.

Ia meraih gagang pintu.

Terkunci.

Wanita itu benar-benar naif jika berpikir bahwa sebilah pintu kayu bisa menghentikan langkah seorang Raphael Walter. Pemikiran yang begitu polos itu seketika menerbitkan senyum sinis di wajahnya, melahirkan tawa geli di dalam hati yang meremehkan usaha sia-sia tersebut. Tanpa terburu-buru, ia merogoh saku celananya, lalu jemarinya menarik keluar sebuah benda logam berukuran kecil dan ramping—sebuah master key khusus yang telah ia siapkan dengan matang sejak awal.

Dengan gerakan yang sangat terlatih, pria itu menyelipkan ujung logam tipis tersebut ke dalam lubang kunci. Ia memutarnya dengan lambat dan penuh kehati-hatian, mengandalkan instingnya yang tajam, hingga akhirnya terdengar bunyi yang amat lembut. Sebuah tanda bahwa pertahanan Emily berhasil ia bobol.

Perlahan namun pasti, pintu di hadapannya mulai terbuka. Engsel besi yang sudah agak tua itu sempat mengeluarkan decitan kecil yang berpotensi merusak rencananya, namun dengan sigap Raphael menahan daun pintu menggunakan telapak tangannya yang kokoh. Ia meredam setiap getaran dan suara sekecil apa pun, memastikan agar kebisingan itu tidak sampai mengusik tidur nyenyak sang pemilik kamar.

Cahaya lampu meja di atas nakas menyambut kehadirannya. Pendarannya redup, namun cukup untuk menerangi siluet tubuh yang kini terhampar di hadapannya. Emily.

Wanita itu terbaring di atas ranjang, tubuh rampingnya terbalut selimut putih hingga sebatas dada. Rambut cokelatnya jatuh berantakan di atas bantal, membingkai wajahnya yang tampak begitu tenang dengan ritme napas yang teratur. Senyum miring perlahan terbit di bibir Raphael melihat pemandangan itu. Sebuah senyum dari seorang pria yang tahu ia baru saja melanggar batas paling privat, namun justru menikmati sensasi bahaya dari tindakan tersebut.

Raphael mendekat tanpa suara. Ia berhenti tepat di sisi ranjang, lalu mendudukkan tubuhnya di tepi kasur. Pergerakan pelan itu membuat permukaan kasur sedikit melesak. Emily bergerak sedikit, bibirnya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dalam tidurnya, namun ia tidak benar-benar terbangun.

Menundukkan kepala, Raphael mengamati wajah Emily dari jarak yang sangat dekat. Cahaya lampu temaram memantulkan garis rahang tajam sang pria, mempertegas ekspresi obsesif yang tercetak di wajahnya. Ia mengamati tiap detail di hadapannya, lengkung bulu mata yang lentik, belah bibir yang terkatup rapat, serta helaan napas yang naik-turun dengan teratur.

"Cerdas, cantik, keras kepala... tapi tetap saja lengah."

Didorong oleh keinginan yang menguasai benaknya, Raphael menunduk, membiarkan bibirnya singgah lembut di dahi Emily—sebuah kecupan singkat namun rasanya penuh atas kepemilikan. Aroma tubuh Emily yang khas, wangi lembut yang menenangkan sekaligus memabukkan indranya, menguar kuat dan seolah berubah menjadi candu yang mengikis akal sehatnya. Ia menarik napas dalam-dalam di sela rambut wanita itu, merasakan kedekatan yang selama ini selalu ditentang oleh Emily saat wanita itu terjaga.

Jemari panjang Raphael terulur, bergerak perlahan menyingkirkan beberapa helai rambut cokelat yang menutupi pipi Emily. Kulit wanita itu terasa begitu halus di bawah permukaan jarinya yang kasar. Ada gejolak intens yang menuntut untuk dipuaskan di dalam hati Raphael, sebuah hasrat yang pekat, namun ia memaksa dirinya untuk menahan diri. Ia menikmati bagaimana ekspresi Emily yang biasanya penuh pembangkangan, kini tampak begitu rapuh dan tak berdaya di saat pulas.

Raphael menggeser ibu jarinya, menyentuh sudut bibir mungil Emily yang sering kali melontarkan kalimat-kalimat tajam kepadanya. Sentuhan itu begitu pelan, hanya sebuah usapan konstan yang menguji batas kesabarannya sendiri. Emily sedikit mengerutkan kening dalam tidurnya, merasa terusik oleh sentuhan asing tersebut, namun ia hanya memalingkan wajahnya sedikit ke samping tanpa membuka mata.

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!