Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 : Rumah atau Mansion?
Di dalam mobil, suasana terlihat lebih tenang. Lampu-lampu kota terlihat berkelebat di balik jendela.
Beberapa menit kemudian, Xavier langsung memecah keheningan. "Kau ingin pulang ke rumah orang tuamu? Atau ke hotel?”
Ia menoleh sekilas. Lyko kemudian berpikir beberapa saat. Lalu menjawab pelan. "Apa boleh aku kembali ke rumah Bunda?” tanyanya.
Xavier mengangguk. “Tentu saja, kalau begitu barang-barangmu yang masih di hotel akan kuantar ke rumah Bunda besok."
Lyko mengangguk. "Terimakasih banyak."
Xavier hanya mengangguk kecil.
.
.
Tidak lama kemudian, mobil mulai meninggalkan pusat kota. Pemandangan gedung-gedung tinggi perlahan berganti menjadi jalanan yang lebih sepi.
Beberapa menit berlalu. Sampai akhirnya mobil memasuki sebuah kawasan yang sama sekali tidak dikenali oleh Lyko.
Lyko mengerutkan kening. Perlahan tubuhnya sedikit mencondong ke arah jendela. Dan tepat di depan sana...
Terlihat sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Empat orang pengawal berdiri tegak di depan gerbang.
Begitu mereka melihat plat mobil yang digunakan Xavier, keempatnya langsung membungkukkan badan dengan hormat.
Gerbang besar itu pun terbuka perlahan.
Lyko berkedip seakan tidak percaya. Lalu menoleh ke arah Xavier. "Xavier...” panggilnya.
Xavier menoleh.
“Kenapa kita ke sini?" tanya Lyko.
Xavier tampak tenang seperti biasa. “Ini rumah bundamu, apa ada yang salah?”
Lyko kembali menatap ke luar jendela.
Namun semakin jauh mobil masuk ke dalam area tersebut, semakin besar rasa bingungnya. Jalan yang mereka lalui membentang panjang.
Di kiri dan kanan terlihat taman yang sangat luas. Ada air mancur dan patung-patung marmer.
Di kedua sisi jalur tumbuh hamparan bunga matahari yang begitu banyak hingga seolah membentuk lautan berwarna kuning keemasan yang tidak ada habisnya.
Beberapa saat kemudian sebuah bangunan besar semakin terlihat jelas didepan sana.
Mata Lyko seketika langsung membesar seketika. "Itu..."
Mobil terus mendekat. Dan kini bangunan itu terlihat semakin jelas. Bukan rumah seperti umumnya yang seharusnya ia lihat, melainkan sebuah mansion megah yang bahkan tidak kalah mewah dibandingkan kediaman keluarga Volkov.
Lyko menatap bangunan itu tanpa berkedip. Otaknya membutuhkan beberapa detik untuk memproses apa yang sedang dilihatnya.
Bukankah seharusnya sekarang mereka berada di rusun tua tempat dirinya dan Bundanya tinggal selama bertahun-tahun?
Namun yang ada di hadapannya justru sebuah mansion yang terlihat seperti milik bangsawan.
Lyko akhirnya menoleh pada Xavier lagi. "Tunggu..."
Xavier kembali menoleh.
"Kenapa kita berada di sebuah mansion?"
Xavier menatapnya sekilas. "Ini rumah,” katanya. “Rumah yang sudah aku siapkan untuk bundamu tinggal.”
Lyko benar-benar membeku. "A-Apa?"
"Itu rumah Bundamu sekarang." Jawaban Xavier terdengar sangat santai.
Seolah sedang membicarakan sesuatu yang biasa saja.
Lyko kembali melihat ke arah mansion itu. Lalu kembali melihat Xavier. Kemudian kembali melihat mansion tersebut.
"Ru-Rumah...?” ucap Lyko heran.
Xavier mengangguk. “Itu rumah, apa ada yang salah?” tanyanya.
Lyko terdiam. Dalam hati ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa. 'Sebenarnya Xavier tahu arti rumah tidak sih...? Mengapa setiap kali dia bilang rumah... yang kulihat justru mansion...?’ batin Lyko.
Ia sampai harus menahan keinginan untuk memegang dahinya sendiri. Lyko hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, ia masih mencoba memahami logika Xavier yang sepertinya adalah sesuatu yang mustahil untuk dipahami.
Tak lama kemudian mobil berhenti di area parkir utama mansion.
Felix turun lebih dulu. Lalu membukakan pintu untuk Xavier. Xavier kemudian keluar terlebih dahulu sebelum kemudian mengulurkan tangan kepada Lyko. Lyko menerima bantuan itu dan turun dari mobil.
Begitu keluar mereka langsung berjalan memasuki mansion, ia kembali dibuat terpukau saat melihat isi didalamnya.
Langit-langit yang tinggi, lampu kristal yang besar, dan lantai marmer yang berkilau.
Seluruh ruangan terlihat seperti bagian dalam istana. Lyko masih sibuk memperhatikan sekeliling sampai sebuah suara yang sangat familiar memanggilnya.
"Lyko.”
Tubuhnya langsung menoleh. Dan saat melihat sosok yang berdiri tak jauh dari sana. Lyko seketika langsung membeku.
"Bu-Bunda...?" ucapnya.
Wanita itu tersenyum hangat.
Lyko langsung tercengang dengan penampilan bundanya itu.
Bundanya mengenakan gaun elegan berwarna lembut. Rambutnya ditata dengan rapi. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dan sehat. Bahkan aura yang terpancar darinya terlihat sangat berbeda.
Di belakangnya berdiri seorang asisten perempuan yang tampak siap membantu kapan saja.
Lyko kini benar-benar terpana. Karena baru sekarang ia menyadari sesuatu. Bukan karena pakaian sederhana yang selama ini membuat Bundanya terlihat biasa saja.
Justru selama ini kecantikan wanita itu tertutupi oleh keadaan. Kini setelah semua beban itu perlahan terangkat... kecantikan Bundanya terlihat begitu jelas.
Lyko segera berjalan menghampiri. "Bunda..."
Wanita itu langsung memeluknya.
Lyko tersenyum lebar.
"Bunda cantik sekali."
Bundanya tertawa kecil.
"Justru Bunda yang ingin bilang begitu."
Ia memperhatikan putrinya dari atas sampai bawah.
"Kamu cantik sekali malam ini."
Pipi Lyko sedikit memerah.
"Aku baru pulang dari bertemu orang tua Xavier."
"Wah benarkah?" Bundanya terlihat mengerti. Kemudian pandangannya beralih kepada Xavier yang berjalan mendekat.
Pemuda itu berhenti beberapa langkah dari mereka. Lalu membungkukkan badan dengan sopan. "Selamat malam, Nyonya."
Bunda Lyko langsung tersenyum. "Selamat malam, Xavier." Katanya. “Terimakasih banyak ya.”
Tatapan wanita itu berkeliling ke seluruh mansion.
"Karena kamu Bunda bisa tinggal di tempat seperti ini."
Xavier menggeleng kecil. "Itu memang sudah seharusnya aku lakukan."
Jawaban itu membuat Bunda Lyko tersenyum hangat.
"Bagaimana kalau kita berbincang sebentar? Apa kau ada waktu?”
Xavier mengangguk. "Tentu."
Mereka berjalan menuju ruang makan yang luas. Beberapa pelayan segera menyajikan minuman. Secangkir cokelat panas diletakkan di depan masing-masing orang.
Mata Lyko langsung berbinar. "Cokelat panas."
Ia menoleh cepat ke arah Bundanya. "Bunda..."
Bundnaya menoleh.
"Ini dari biji kakao waktu itu?" tanya Lyko.
Bundanya mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Sayang... bijinya masih banyak.
Mata Lyko langsung berbinar semakin terang.
"Bunda membuatnya sendiri?” tanya Lyko.
Wanita itu tertawa kecil. “Tentu saja.”
Lyko terlihat sangat senang. “Bunda hebat sekali.”
Sementara itu Xavier memandangi cangkir di depannya. Ia sebenarnya bukan penggemar minuman manis.
Namun ketika Bunda Lyko mempersilahkannya, ia tetap mengangkat cangkir tersebut. Dengan sedikit ragu, Xavier meminumnya.
Rasa hangat langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Manisnya pas dan tidak berlebihan. Aroma kakao yang kaya memenuhi indera penciumannya. Tanpa sadar tubuhnya terasa sedikit lebih rileks.
"Bagaimana?" tanya Bunda Lyko.
Xavier mengangguk. "Ini... enak."
Jawaban singkat itu sudah cukup membuat wanita tersebut tersenyum. “Syukurlah kalau kamu menyukainya.”
Sementara itu asisten Bunda Lyko juga memberikan secangkir cokelat panas kepada Felix.
Felix tampak sedikit terkejut. “Untuk saya?"
Bunda Lyko mengangguk sambil tersenyum. "Tentu."
Felix segera menerima cangkir itu. "Terimakasih banyak."
Di dalam hatinya muncul perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Selama bekerja sebagai pengawal dan asisten pribadi, ia terbiasa dianggap berbeda dari orang-orang yang dilayaninya.
Namun di rumah ini... ia diperlakukan sama. Tanpa perbedaan dari status latar belakang. Perasaan hangat itu membuat Felix sedikit tersentuh.
Ia pun mencicipi minuman tersebut. Dan matanya sedikit membesar. "Rasanya sangat enak."
Bunda Lyko tersenyum senang. "Syukurlah kalau begitu."
Perlahan Xavier kembali menatap cangkirnya. "Apakah semua ini benar-benar dibuat dari kakao yang Anda olah sendiri?"
"Iya, tentu saja Lyko selalu menyukainya jadi Bunda membelinya pada pedagang kokoa di pasar," jawab wanita itu. "Bunda memprosesnya sendiri sampai menjadi bubuk sampai bisa di konsumsi."
Xavier tampak sedikit takjub. Ia tidak menyangka proses yang rumit seperti itu dilakukan sendiri.
"Bagaimana pertemuannya tadi? Apa lancar?” tanya bunda Lyko sambil tersenyum.
Xavier mengangguk. "Berjalan sangat lancar."
Lyko ikut tersenyum. "Papa dan Mama Xavier baik sekali padaku, Bun."
Bunda Lyko terlihat lega. "Syukurlah."
Kemudian ia menatap Xavier.
"Terima kasih karena sudah memperlakukan Lyko dengan baik."
Xavier menggeleng pelan. "Justru saya yang berterimakasih karena sudah diterima dengan baik."
Suasana kembali hangat.
Namun beberapa menit kemudian tiba-tiba sebuah rasa nyeri menusuk dari sisi kanan perutnya Xavier.
Tubuhnya sedikit menegang. Tangan kirinya bergerak perlahan menyentuh bagian pinggang.
Dan saat jemarinya menyentuh area luka ia merasakan sesuatu yang basah. Mata Xavier sedikit menyipit saat melihat kearah tangannya. Ternyata itu adalah darah yang mengalir.
Jahitan bekas luka tembaknya rupanya kembali terbuka. Ia segera menarik napas pelan. Berusaha menjaga ekspresinya tetap datar.
"Maaf aku permisi sebentar, ingin ke toilet."
Semua orang menoleh.
"Tentu silahkan, Nak," jawab Bunda Lyko.
Xavier berdiri lalu berjalan menjauh dengan langkah yang tetap terlihat normal.
Namun sesaat setelah ia menghilang dari ruang makan Lyko mengerutkan kening.
Entah mengapa. Ada sesuatu yang terasa aneh. Ia teringat ekspresi Xavier beberapa saat yang lalu.
Tangan yang sempat menekan sisi tubuhnya. Dan wajah yang terlihat sedikit pucat. Perasaan tidak nyaman langsung muncul dihati Lyko.
"Aku juga permisi sebentar."
Bunda Lyko menoleh.
"Mau ke mana?"
"Ada barang yang tertinggal di mobil, Bun."
Felix segera menoleh.
"Mau saya antar, Nona."
Namun Lyko tersenyum kecil dan menggeleng.
"Tidak perlu, tidak apa-apa aku bisa sendiri... terimakasih Felix."
Felix akhirnya mengangguk.
Lyko kemudian berjalan keluar dari ruang makan.
Namun alih-alih menuju mobil. Langkahnya justru mengarah ke koridor tempat Xavier pergi. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
Dan ketika ia sampai di depan pintu kamar mandi. Ia mendengar suara pelan dari dalam. Suara seseorang yang sedang menahan sakit.
Jantung Lyko langsung berdegup kencang. Ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu perlahan. "Xavier?"
Tidak ada jawaban.
"Xavier, apa kau baik-baik saja? Ini aku Lyko."
Beberapa detik berlalu.
Kemudian terdengar suara langkah dari dalam.
CEKLEK
Pintu terbuka.
Dan sebelum Lyko sempat melihat kearah dalam sebuah tangan tiba-tiba menarik pergelangan tangannya masuk kedalam.
"Eh?!"
Tubuh Lyko langsung tertarik masuk ke dalam kamar mandi. Pintu tertutup kembali di belakang mereka.
Dan saat Lyko mengangkat kepalanya... napasnya langsung tertahan.
Karena di depan matanya, Xavier berdiri dengan wajah sedikit pucat. Sementara di sisi kanan kemejanya yang terbuka terlihat banyak darah merah perlahan mulai keluar dari dalam luka.