Takdir insan tak selamanya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh insan itu sendiri.
Di saat seorang pria harus menikah dengan wanita yang tidak dicintainya, di saat itu pula cinta pertamanya hadir dalam kehidupan rumah tangganya.
Istrinya yang awalnya tidak mencintai sang suami, kini berjuang mempertahankan rumah tangganya demi menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita.
Akankah si istri sanggup meraih cinta sang suami???
yuk lanjut capcus baca🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Wajah Kania berubah sendu, dia menunduk berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.
"Hei, ada apa?" tanya Fatimah menggoda sahabatnya yang terlihat murung.
"Mhm, enggak apa-apa," lirih Kania menyembunyikan kesedihannya dari sang sahabat.
"Aku yakin kamu pasti sedih karena Raja belum datang juga," tebak Fatimah.
"Sayang." Terdengar suara yang sangat dikenali oleh Kania
Dia membalikkan tubuhnya, lalu melihat seseorang yang sangat dirindukannya.
Kania tersenyum, Raja pun langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat. Ada kesejukan dihatinya saat melihat senyum di wajah wanita yang kini telah mengisi hatinya.
"Aku merindukanmu," lirih Raja.
Hati Kania merasa bahagia saat mendengar ucapan sang suaminya, dia berharap hati suaminya akan tetap seperti ini selamanya.
"Ya Allah, tetapkanlah hati suami hamba pada diri hamba," gumam Kania di dalam hati.
Fatimah tersenyum melihat sahabatnya sudah berbaikan dengan suaminya.
"Mah, terima kasih sudah menjaga Kania dengan baik," ujar Raja pada Fatimah.
Dia bersyukur di saat Kania dalam keadaan bersedih ada Fatimah yang menemani istrinya.
"Kania adalah sahabatku, apa pun yang terjadi selagi aku bisa membantunya aku akan selalu ada untuknya." Fatimah tersenyum.
"Kalau begitu aku bawa Kania sekarang, ya," ujar Raja berpamitan dengan Fatimah.
Fatimah mengangguk, dia pun langsung memeluk sahabatnya.
Ada rasa sedih saat berpisah dengan Kania, dia tidak tahu entah kapan lagi bisa bertemu dengan sahabatnya itu.
Setelah berpamitan mereka pun langsung meninggalkan tempat itu, Raja membawa Kania langsung ke hotel.
Raja ingin Kania beristirahat, dia berencana akan melanjutkan perjalanan honeymoon mereka ke Yaman.
Raja merasa tidak tenang berada di Bahrain karena menurutnya keberadaan Raju dan Kanaya di Bahrain akan mengganggu dirinya dengan Kania.
Apalagi saat ini Raja sedang berusaha meyakinkan hatinya bahwa saat ini dia mencintai istrinya.
Di sepanjang jalan, Raja menggenggam erat tangan istrinya. Romi melirik genggaman tangan Raja pada sang istri, ada sesuatu yang membuat hatinya terluka.
Entah mengapa ada rasa sedih menyelinap di hatinya.
Sepanjang perjalanan, Raja dan Kania tak banyak bicara. Apalagi sikap Kania sedikit berubah pada suaminya.
Biasanya Kania bersikap manja dan selalu banyak bicara pada Raja, tapi kali ini dia lebih banyak diam.
Mungkin suasana hatinya saat ini belum stabil pada sang suami akibat apa yang telah dilakukan Raja padanya
Rasa kecewa Kania terhadap Raju masih membekas jelas di hati Kania.
Sesampai di hotel, Romi menghentikan mobil di parkiran.
Saat mobil berhenti, Raja langsung turun dari mobil lalu menunggu istrinya keluar dari mobil.
Raja menggenggam tangan sang istri dengan erat, kali ini Raja terlihat takut kehilangan Kania lagi.
Romi memperhatikan sikap majikannya terhadap sang istri, kali ini Romi yakin bahwa majikannya sekaligus sahabatnya itu telah jatuh cinta pada sang istri.
"Aku yakin kamu sudah jatuh cinta kepada istrimu, semoga kalian bahagia," lirih Romi membiarkan Raja dan Kania masuk hotel terlebih dahulu.
Saat mereka baru saja masuk ke dalam hotel, mereka melihat Raju dan Kanaya baru saja keluar dari lift.
Kanaya terlihat melepaskan genggaman tangan sang suami saat berpapasan dengan Raja dan Kania.
Meskipun Raju berusaha menggenggam erat tangan sang istri, tapi tetap juga terlepas.
Dari sini Raju mengerti bahwa istrinya tidak ingin Raja mengetahui hubungan di antara mereka.
Kania melihat sahabatnya melangkah dengan wajah diangkat, sepertinya sahabatnya itu sudah tidak lagi mengingat kenangan indah yang pernah mereka jalani bersama.
Kania merasa bahwa saat ini sahabatnya itu tidak lagi menganggapnya sebagai seorang sahabat melainkan sepertinya Kanaya menganggapnya sebagai seorang musuh atau saingan.
Kania menoleh ke arah sang suami yang kini melangkah menunduk, seolah suaminya itu tidak ingin melihat wanita yang sudah menjadi Cinta pertamanya.
Sementara itu, dengan jelas Kanaya terus menatap wajah Raja yang menunduk di hadapannya.
Raju memperhatikan situasi yang saat ini mereka lewati, akhirnya dia pun mengambil tindakan untuk menarik tangan sang istri lalu melangkah ke sisi kanan agar mereka tidak berjalan berpapasan.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" bentak Kanaya kesal dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.
"Aku hanya tidak ingin kita berpapasan dengan raja dan Kania," jawab Raju santai.
"Dasar," gerutu Kanaya.
Padahal Kanaya sudah beerniat ingin menyenggol bahu Kania, karena dia saat ini merasa benci pada sahabatnya itu.
Kanaya pun melangkah keluar, lalu berdiri di samping mobil yang mana Faiz sudah berdiri di samping mobil tersebut.
Dia menunggu Raju yang melangkah di belakangnya.
Raja dan Kania pun masuk ke dalam lift, kebetulan di dalam lift tersebut hanya mereka berdua
"Sayang," panggil Raja pada istrinya.
"Mhm," gumam Kanaya menoleh ke arah Raja.
Raja pun mendekati sang istri, dia pun langsung mengecup bibir sang istri. Entah mengapa Raja sudah tidak sabar ingin menc***i sang istri.
Kania terdiam mendapatkan perlakuan sang suami, jantungnya seakan berhenti berdetak dia terpaku.
Ting.
Suara lift menyadarkan Raja dari apa yang baru saja dilakukan terhadap sang istri.
Kania menundukkan kepalanya, wajahnya kini berubah menjadi warna merah karena menahan malu.
Raja tersenyum melihat wajah sang istri yang bersemu.
"Ayo," lirih Raja.
Raja meraih tangan Kania, lalu melangkah keluar dari lift, mereka melangkah menuju kamar yang mereka tempati.
Sesampai di kamar, Raja mengunci pintu, dia tak lagi sabar ingin menyalurkan hasratnya yang sudah terpendam pada sang istri sejak tadi.
Pikiran Raja tak lagi menentu, di benaknya hanya terlintas tubuh indah istrinya, Sera malam pertama yang telah mereka lewati bersama.
Tak menunggu lama Raja lagi-lagi mengecup bibir mungil sang istri, perlahan Raja membuka hijab yang menutup kepala sang istri.
Satu per satu pakaian yang melekat di tubuh sang istri dicopotnya, hingga kini sang istri tak lagi mengenakan satu helai benang pun.
Sepasang suami istri itu pun sudah berada di atas tempat tidur, awalnya Kania ingin menolak perlakuan sang suami, tapi dia teringat akan kewajibannya sebagai seorang istri terhadap sang suami.
"Bismillahirrahmanirrahim," lirih Kania.
Kania juga bersholawat di dalam hati, dia berharap hati sang suami terikat pada dirinya, di saat dia menjalankan tugasnya sebagai istri, dia terus berdo'a memohon pada Allah agar di hati sang suami hanya ada dirinya.
"Terima kasih, Sayang," lirih Raja setelah dia selesai melampiaskan hasratnya pada sang istri.
Saat ini tubuh Kania sudah menjadi candu bagi Raja.
Kania mengangkat wajahnya, dia menatap wajah tampan sang suami. Kini pandangan mereka pun terkunci.
"Apakah kamu sudah mencintaiku?" tanya Kania pada sang suami.
Tiba-tiba Kania mempertanyakan isi hati sang suami, dia sendiri tak menyangka berani menanyakan hal in pada sang suami.
Bersambung...
Rasanya nggak rela aja klo sampe cerita ini tamat.
semoga ada ekstra...ekstra dan ekstra part-nya.😇👍
semngat