Dewa Abraham. CEO tampan dan juga fosessive. Pria yang sangat mencintai Bunga dan sekarang mereka telah bertunangan. Namun dibalik sifat Dewa yang penyayang, ia sangatlah egois.
Indah, perempuan yang berstatus menjadi sahabat Dewa dari sekolah menengah pertama selalu melakukan berbagai cara untuk merebut Dewa dari Bunga. Kejahatan demi kejahatan yang dilakukan oleh Indah tanpa sepengetahuan Dewa.
"Jujur sama aku Dewa!! kamu sayang sama Indah??" tanya Bunga dengan wajah sendunya.
"Iya. Indah sahabat aku sayang. Apalagi sekarang dia lagi sakit. Kamu ngertiin posisi aku sayang!! aku ngak bisa menjauh dari Indah."
"Tega kamu Wa. Kamu selalu ada waktu sama dia ketimbang sama aku. Dia emangnya ngak punya orang tua ahh?? Kenapa harus kamu selalu ajha kamu??"
"Sayang!!"
"Terserah. Kalau kamu pergi! kita putus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Audia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 // Rencana Pernikahan
#Mohon maaf baru up sekarang karena tugas Kuliah menumpuk☺☺☺
"Bagaimana tante? Bunga sudah mau menikah dengan Dewa?" tanya Dewa pelan dan sopan, melihat ke arah papa dan mama dari gadis nya.
Elina tersenyum menanggapi perkataan Dewa. Elina terharu melihat perjuangan calon menantunya, semoga Dewa bisa dipercaya untuk menjaga anaknya.
"Tante sudah membujuk anak itu tapi dia menolak."
Dewa mengeram marah, namun masih dengan senyuman manis di depan mertuanya.
"Ngomong sama bunga langsung nak Dewa."
Bunga yang baru sampai langsung duduk di samping Dewa. Auranya tidak enak sepertinya, ada aura pemaksaan. Benar saja tunangan fosesive nya sedang menahan senyum ke arahnya, Bunga peka akan hal itu, senyum yang mengandung racun mematikan.
Bunga tidak peduli, langsung memakan susu dan rotinya dengan lahap.
"Sayang!"
"Hem... mau?" tawar Bunga.
"Kita nikah dua minggu lagi! ngak ada penolakan!!"
Byurr... Bunga menyemburkan susunya, dan langsung kaget dengan perkataan Dewa.
"Ih... ma! Bunga ngak mau." Bunga merengek.
"Sabar dong! aku kan belum wisuda, masak udah bunting ajha. Pokoknya ngak mau!"
"Bunga!" panggil Dewa pelan, namun penuh dengan peringatan, karena di sini ada orang tua Bunga. Bisa hancur reputasi Dewa di hadapan Elina dan Fikram, kalau ia bertengkar dengan Bunga di meja makan.
"Kita tunda kalau soal anak sayang."
"Ngak mau pokoknya, Bunga masih mau bebas ma! tolongin Bunga pa!"
Papa dan mama Bunga hanya tersenyum tipis melihat kelakuan anaknya. Sedangkan Dewa mencoba menahan amarahnya dengan penolakan gadisnya.
"Kamu hanya duduk manis, biar aku yang urus pernikahan kita nanti."
Bunga menghempas nafas dengan kasar. Bagaimana pun cara Bunga menolak pasti Dewa akan kukuh dengan pendiriannya.
****
"Sayang kok cemberut gitu?" tanya Dewa mengusap surai Bunga, Sekarang mereka sudah berapa di depan kampus Bunga.
"Ingat perkataan aku! jangan deket-deket sama manusia berjenis kelamin laki-laki apapun alasannya, jangan telat makan, makan yang banyak, jangan makan yang pedas, makan_"
"Udah?" sentak Bunga kesal. Dewa kira dia anak kecil gitu.
Dewa tersenyum manis, semua itu tidak luput dari perhatian semua mahasiswa yang ada di sana. Pasalnya dulu Dewa adalah mantan Presiden mahasiswa di kampus itu yang terkenal cerdas dan jangan lupakan sifat dinginnya yang menambah aura kegantengan nya.
"Percuma ganteng kalau ngak waras," gumam Bunga keceplosan.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Dewa mengetatkan rahangnya.
"Ngak ada kok. Kepedean!"
"Aku kekasih kamu sayang, bicara dengan calon suami itu harus sopan, jangan samakan aku sama teman-teman kamu."
Ceramah lagi. Ini nih alasan kuat Bunga belum siap menikah dengan Dewa, karena dia yang selalu benar, dan dirinya menjadi tahanan di sangkar emas.
"Terus ajha sampai aku kabur dan ngak mau lihat kamu lagi!"
"Silahkan kabur! aku Dewa Abraham dengan segala kekuasaan ku akan nemuin kamu sayang! jangan pancing aku buat nandain kamu. Kamu hanya milik aku."
"Iya udah aku ke kelas dulu." Dari pada harus berdebat dengan makhluk seperti Dewa, bisa gila nantinya Bunga.
Cup. Dewa mengecup singkat bibir mungil kekasihnya, "Nanti aku jemput ya!"
Bunga tersenyum, "Cepetan!
Dewa memasuki mobilnya dan Bunga masuk ke dalam kampusnya yang lumayan mewah, donatur terbesar kampus tersebut adalah Dewa Abraham, cowok fosessivenya.
*****
"Cyeh... yang lagi berbunga-bunga seperti namanya," ejek Lala menyiku tangan Bunga yang sedang menulis.
"Apaansih? makanya jangan jomblo."
"Maya ajha jomblo kok, jadi kita ngak sendiri, iyakan May?"
Maya memutar bola matanya malas.
"Maya itu sebenarnya ngak jomblo tapi terlalu ice sama cowok. Beda sama lo hahah..."
Benar saja, sudah berapa cowok yang Maya tolak tidak ingin membuang waktunya yang berharga hanya untuk berharap dengan hal yang tidak pasti. Biarlah jodohnya datang kapanpun asalkan tepat waktu.
"Sialan lo Bunga!" Lala mencubit bahu bunga dengan keras.
"Sakit tahu La," ringis Bunga menahan tawanya.
"Sebenarnya aku lagi nunggu seseorang," curhat Lala tersenyum seakan terbayang-bayang wajah pangerannya.
"Perasaan dari zaman Belanda sampai China lo selalu ngomong gitu."
"Ihh.. gue beneran."
"Yah... Siapa namanya?"
"Dosen datang woy!!"
Begitu kehebohan mahasiswa yang ada di sana, perasaan umur mereka hampir setengah abad, tapi mengapa kelakuan teman-temannya seperti bocah SD yang ketakutan melihat guru masuk.
****
"Kamu udah sehat Ndah?" tanya Dewa melihat Indah yang kini berada di kantornya.
"Cye perhatian," goda Indah tersenyum. Sedangkan Dewa berwajah datar.
"Aku nanyaq sama kamu, karena kamu ada di sini di ruangan aku."
"Iya...iya... Alhamdulillah aku udah sehat, kamu jangan khawatir sama aku Wa. Kan aku gadis kuat."
"Alhamdulillah kalau gitu, aku seneng dengar nya, karena aku mau kasih tahu kamu sesuatu."
"Sesuatu apa?" Indah tersenyum manis.
"Aku mau undang kamu ke acara pernikahan aku sama Bunga bulan depan, jadi kamu jangan sakit biar bisa makan gratis."
Sialan. Indah menahan emosinya, awas ajha kamu Bunga, batin Indah kesal.
"Kamu bisa datang kan?"
"Wa! kamu mau nikah secepat itu? apa kamu ngak mau menikmati masa lajang kamu lama-lama?"
"Justru aku ingin menikmati masa muda aku dengan kekasih kesayangan aku."
Indah mendengus kesal, "Bunga seperti nya belum siap Wa menikah?"
"Aku yang paksa."
"Kamu paksa dia buat menikah?" Indah terkejut.
"Hem. Aku ngak mau kehilangan gadis kesayangan aku Ndah. Bunga segalanya untuk aku."
Hancur sudah harapan Indah. Tapi ia tidak akan menyerah.
"Iya sudah semoga kalian bahagia, aku doain ya."
Berdoa semoga hubungan kalian hancur, batin Indah sinis.
"Terima kasih, kamu memang sahabat terbaik aku Ndah."
ga mau di php in ni cerita ak udh bca judulnya udh ok Lit komen2 nya jga kyana seru tpi liat part traktir kpn jdi diem di t4 ak jg dia smpe mna ni cerita di lnjut
maaf ya thor