NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Langkah kaki mereka membawa menuju sebuah taman yang tenang, tak jauh dari lokasi kafe tadi. Di tengah taman itu terbentang danau yang airnya tenang memantulkan cahaya langit sore, menciptakan suasana yang damai dan menenangkan. Mereka memilih duduk di bangku kayu yang letaknya agak terpisah dari keramaian, menghadap lurus ke arah permukaan air yang sesekali beriak lembut tertiup angin.

Hening sejenak menyelimuti mereka, sebelum akhirnya Samuel mencoba memecahnya dengan obrolan ringan.

"Tempat ini sejuk sekali ya," ucap Samuel pelan sambil menatap ke arah danau. "Aku sering lewat sini, tapi baru pertama kali bisa duduk diam menikmati pemandangannya seperti ini."

Samantha mengangguk pelan, menyesuaikan posisi duduknya agar lebih nyaman. "Benar sekali. Udara di sini terasa sangat segar dan menenangkan hati. Pilihan tempatmu tepat sekali, Samuel."

Samuel tersenyum sekilas, lalu menoleh sedikit ke arahnya. "Aku mendengar dari orang-orang terdekatmu bahwa kamu mengelola hotel dengan sangat baik . Tidak heran jika usahamu yang baru ini pun berjalan begitu lancar. Kamu memang wanita yang banyak kemampuan."

"Ah, itu semua tidak lepas dari dukungan keluarga dan orang-orang di sekitarku," jawab Samantha rendah hati sambil tersenyum tipis. "Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik saja."

Mereka pun melanjutkan obrolan ringan lainnya mulai dari membicarakan keindahan pemandangan sore itu, hingga hal-hal kecil mengenai kesibukan masing-masing. Percakapan itu mengalir perlahan, hangat, dan penuh rasa hormat, seolah mereka sedang berusaha saling mengenal kembali dengan lebih tenang.

 Samantha menatap wajah Samuel dengan tatapan penuh perhatian, lalu melanjutkan pertanyaannya dengan lembut.

"Maafkan rasa penasaranku, Samuel... bolehkah aku tahu siapa nama putramu?" tanyanya sopan.

Samuel menoleh padanya, senyum tipis namun penuh kasih sayang terukir di bibirnya saat menyebut nama itu. "Namanya Bima Nugroho."

Ia menghela napas pelan, lalu melanjutkan penjelasannya dengan nada yang sedikit berat namun penuh kelembutan. "Bima itu anak yang sifatnya cukup pendiam, Samantha. Dia tidak banyak bicara dan cenderung menutup diri. Belakangan ini aku sering melihatnya pulang ke rumah dengan waktu yang cukup larut. Ketika aku tanya alasannya, dia mengatakan merasa kesepian jika harus berada sendirian terlalu lama di rumah."

Samuel menunduk sejenak, matanya menerawang seolah membayangkan wajah putranya. "Meski begitu, aku tahu betul di balik sifatnya yang tertutup itu, Bima adalah anak yang sangat baik hati. Dia tidak pernah berbuat jahat, hatinya lembut, dan hanya saja dia butuh seseorang yang benar-benar mengerti dan menemaninya."

Samantha mendengarkan dengan saksama, hatinya terasa tersentuh mendengar cerita itu. "Aku mengerti, Samuel. Semoga kelak Bima bisa merasakan kehangatan dan tidak lagi merasa kesepian."

Samantha mendengarkan penjelasan Samuel dengan saksama, wajahnya tampak tenang dan penuh simpati. Namun di dalam hatinya, rasa heran perlahan muncul. Ia teringat beberapa hal yang pernah dilihatnya tentang Bima, yang bertolak belakang dengan gambaran anak yang pendiam dan baik hati yang baru saja diceritakan ayahnya.

Namun, ia memilih untuk tetap diam dan tidak menyinggung hal itu saat ini. Hanya pertanyaan itu yang bergema berulang kali di dalam benaknya: "Apakah Samuel benar-benar tidak mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan putranya itu di luar rumah? Apakah Bima menyembunyikan sifat aslinya dengan sangat rapi di hadapan ayahnya sendiri?"

Ia menatap permukaan danau yang tenang, berharap dugaan itu keliru, namun rasa ragu itu tetap tertinggal di sudut hatinya.

Samantha menatap Samuel dengan pandangan yang tulus dan penuh perhatian, lalu menyampaikan nasihatnya dengan lembut namun tegas.

"Samuel... mendengar ceritamu, aku sangat mengerti kondisimu," ucapnya perlahan. "Namun, sebaiknya kamu benar-benar lebih meluangkan waktu untuk memperhatikan Bima. Walaupun kamu pasti sangat sibuk dengan pekerjaan dan tanggung jawab yang besar, kehadiran serta kasih sayang seorang ayah adalah hal yang paling dia butuhkan. Jangan sampai dia merasa benar-benar sendirian dan kekurangan perhatian, karena itu bisa membuatnya mencari pelarian di tempat yang salah."

Samuel terdiam sejenak, merenungkan kata-kata itu. Ia mengangguk pelan, menyadari kebenaran yang tersirat di dalamnya. "Terima kasih, Samantha. Nasihatmu sangat berharga. Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk meluangkan waktu dan memberikan apa yang putraku butuhkan."

Hening sejenak kembali menyelimuti mereka, hanya suara angin yang berdesir pelan membelah kesunyian. Samuel menatap lurus ke arah danau, lalu perlahan memalingkan wajahnya menatap lekat-lekat mata Samantha. Napasnya teratur namun terasa berat, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki.

"Samantha..." panggilnya pelan namun tegas. "Sejak kita bertemu kembali, rasanya dunia saya terasa lebih berwarna lagi. Saya mengagumi kebaikan hatimu, ketegasanmu, dan kelembutanmu. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Maukah kamu... menjadi pendamping hidup saya? Maukah kamu menjadi istri saya?"

Samantha tertegun sejenak, matanya membelalak tak menyangka pertanyaan itu akan terucap begitu tiba-tiba. Jantungnya berdegup kencang, perasaan haru dan kaget bercampur menjadi satu memenuhi dadanya.

Melihat Samantha yang masih terpaku diam, Samuel kembali menatapnya dengan pandangan yang penuh harap sekaligus cemas. Ia menggenggam tangan Samantha dengan lembut, suaranya terdengar bergetar menahan perasaan yang mendalam.

"Samantha... tolong mengertilah," ucapnya pelan namun penuh penekanan. "Aku sudah kehilangan kesempatan bersamamu di masa lalu, dan rasanya itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku. Aku sungguh tidak ingin kehilanganmu lagi, bahkan untuk sedetik pun. Kehadiranmu membuat hidupku kembali memiliki arti. Aku berjanji akan menjagamu, mencintaimu, dan membuatmu bahagia sekuat tenagaku."

Kata-kata itu terucap begitu tulus, membuat hati Samantha yang tadinya berdebar kencang kini terasa semakin terharu. Ia bisa merasakan ketulusan dan ketakutan yang mendalam dalam setiap ucapan Samuel.

Samantha menatap Samuel dengan mata yang berkaca-kaca, napasnya terasa tertahan. Ia sama sekali tidak menyangka keberanian Samuel akan meledak begitu besar di saat yang tak terduga ini. Hatinya bergemuruh hebat, namun akal sehatnya masih menahan diri.

"Samuel..." suaranya bergetar pelan. "Aku... aku belum bisa menjawabnya saat ini juga. Apa yang kau katakan baru saja membuatku sangat terkejut. Ini bukan hal yang bisa diputuskan dalam sekejap mata. Tolong beri aku waktu sebentar untuk berpikir dengan tenang dan matang."

Mendengar permintaan itu, wajah Samuel perlahan berubah pucat. Genggaman tangannya sedikit melonggar, namun tatapannya semakin tajam menembus ke dalam hati Samantha. Rasa takut kehilangan yang mendadak melanda dirinya membuat pertanyaan itu terucap begitu saja, penuh kecemasan.

"Apakah... apakah artinya kamu sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padaku?" tanyanya dengan suara parau, matanya mencari-cari kepastian di wajah Samantha. "Apakah selama ini hanya aku yang masih menyimpan rasa, sedangkan hatimu sudah tertutup rapat untukku?"

Samantha menggeleng perlahan, merasakan kepedihan yang terpancar dari wajah pria itu. "Bukan begitu, Samuel. Tolong jangan berpikir sejauh itu. Perasaanku tidak pernah hilang begitu saja... tapi menikah adalah tanggung jawab besar. Ada banyak hal yang harus aku pertimbangkan, termasuk Bima, masa depan kita, dan juga diri kita masing-masing. Aku tidak ingin mengambil keputusan yang terburu-buru hanya karena perasaan sesaat. Tolong mengertilah."

Samuel menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri meski hatinya masih diliputi kekhawatiran. "Maafkan aku... aku hanya takut jika aku menunggu terlalu lama, kesempatan ini akan hilang lagi. Baiklah, aku akan menunggu jawabanmu. Aku berjanji akan sabar menunggu keputusan dari hatimu."

Bersambung...

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!