Mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tua angkatnya tidak lantas membuat Marissa tidak lepas dari beban pikiran. Wanita itu terlihat bahagia hidup bersama dengan kedua orang tua angkatnya.
Baru saja dirinya. Duduk di bangku Kelas XII di sebuah sekolah swasta ternama di kotanya. Marissa menemukan dirinya sedang hamil satu bulan. Dia tidak mengetahui siapa yang menjadi Ayah dari janin yang dikandung bahkan dirinya merasa tidak pernah melakukan perbuatan dosa hina itu.
Jadi siapakah yang tega menghamili Marissa yang terkenal baik dan murah hati di sekolahnya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Struk Belanja
Di hadapan Dokter Marsel, Arjuna boleh terlihat tidak percaya dengan apa yang dia dikatakan oleh sahabatnya itu. Tapi sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Arjuna terus memikirkan tentang obat kuat itu. Nisa tidak pernah bercerita tentang obat kuat apalagi memberikan obat tersebut kepada dirinya. Lalu, jika benar apa yang dikatakan oleh dokter Marsel. Untuk apa obat Nisa memesan obat kuat tersebut.
Tiba di rumah, Arjuna tidak langsung mencari keberadaan istri pertamanya. Arjuna langsung masuk ke kamar dan kebetulan istrinya juga tidak ada di kamar. Arjuna memanfaatkan situasi itu untuk mencari bukti apa yang dikatakan oleh dokter Marsel.
Arjuna memulai pencariannya dengan membuka laci meja rias milik Nisa. Tapi jejak tentang obat kuat itu tidak ada laci tersebut. Arjuna juga membuka lemari besar khusus tempat pakaian Nisa. Dia juga memeriksa pakaian pakaian itu tapi lagi lagi. Arjuna tidak menemukan bukti. Arjuna terlihat lelah setelah memeriksa lipatan demi lipatan pakaian yang sangat banyak itu. Arjuna bahkan terlihat berkeringat.
Arjuna masih penasaran. Dia mencari di tempat yang memungkinkan Nisa menyimpan obat kuat. Sebenarnya, Arjuna pesimis untuk mendapatkan bukti dari perkataan Dokter Marsel mengingat kejadiannya sudah lumayan lama. Tapi entah mengapa, hatinya ingin memastikan jika apa yang dikatakan oleh dokter Marsel itu tidak benar.
Arjuna menggulung lengan kemeja sampai ke siku tangan ketika dirinya terpikir untuk mencari bukti di tas milik istrinya yang terpajang di lemari kaca di kamar itu juga.
Sepertinya Arjuna harus memeriksa tas itu satu persatu. Tas koleksi istrinya yang lumayan banyak membuat Arjuna membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk itu. Untung saja, sebelum melaksanakan pemeriksaan itu. Arjuna sudah menutup pintu kamar terlebih dahulu dan meletakkan laptopnya di atas meja. Jika sewaktu waktu Nisa datang ke kamar dirinya bisa berpura pura sedang sibuk memeriksa pekerjaan di laptop.
Arjuna memeriksa tas itu secara berurutan mulai dari rak yang paling bawah. Arjuna sudah memeriksa beberapa tas tapi apa yang dia cari tidak ada. Arjuna semakin lelah hingga dirinya memutuskan memeriksa tas yang biasa dipakai oleh Nisa. Baru saja dirinya menarik restleting tas tersebut. Sebuah kertas kecil berwarna putih terlihat oleh Arjuna. Arjuna mengeluarkan kertas itu. Ternyata kertas kecil tersebut adalah struk belanja yang bertuliskan nama obat kuat yang diceritakan oleh Dokter Marcel.
Arjuna memegang struk itu dengan lemas. Awalnya dia berharap tidak menemukan bukti apapun yang berkaitan dengan apa yang diceritakan oleh dokter Marsel. Dan kini dia menemukan struk belanja yang memperkuat apa yang dikatakan oleh dokter Marsel ternyata benar.
Arjuna cepat cepat mengembalikan tas itu kw tempat semula ketika mendengar namanya dipanggil dari luar. Arjuna juga memasukkan struk belanja itu ke dalam kantong celananya.
"Kenapa dikunci dari dalam?" tanya Nisa tidak senang ketika Arjuna sudah membuka pintu itu.
"Tidak sengaja sayang. Aku kira kamu tadi di kamar mandi ternyata tidak. Aku lupa membuka kuncinya karena harus memeriksa pekerjaan di laptop. Kamu dari mana?" tanya Arjuna. Penampilan Nisa bukan tampilan bisa ketika di rumah.
"Aku dari dokter sayang."
"Kamu sakit?" tanya Arjuna khawatir. Nisa menggelengkan kepalanya kemudian berjalan ke arah lemari kaca. Dia meletakkan tasnya yang baru saja dia pakai di lemari tersebut.
"Lalu untuk apa kamu ke dokter?" tanya Arjuna lagi.
"Periksa kesehatan. Perutku akhir akhir ini sering sakit, aku kira hamil ternyata tidak. Hanya masuk angin biasa saja," jawab Nisa llesu. Kerinduan hamil itu masih ada di hatinya meskipun harapan itu sudah sangat kecil.
Arjuna mendekati Nisa. Dia bisa melihat kesedihan di Mata istrinya tapi dia tidak melupakan tentang struk belanja itu. Dia memeluk Nisa untuk menghibur istrinya itu.
"Sabar, jika waktunya sudah tepat. Kamu pasti hamil. Bukan hanya kita rumah tangga yang belum dikarunia anak. Temanku juga ada. Tapi sekarang istrinya sudah hamil setelah hampir sepuluh tahun menunggu," kata Arjuna. Arjuna mengelus punggung istrinya dan mendaratkan bibirnya di kepala istrinya.
"Tanya teman kamu itu sayang. Dimana mereka berobat?" tanya Nisa antusias.
"Sudah kemana mana mereka berobat selama sepuluh tahun itu. Tapi tidak ada hasil. Dan kata temanku itu, Dia mengkonsumsi obat kuat supaya mereka bisa tahan lama di ranjang. Apa sebaiknya aku juga mengkonsumsi itu sayang?.
"Hanya dengan seperti itu. Istrinya bisa hamil?" tanya Nisa. Tapi dalam hati dirinya berpikir hal itu bisa saja benar. Buktinya, Marissa hamil dan saat itu Arjuna juga mengkonsumsi obat kuat.
"Katanya sih seperti itu. Aku rasa tidak ada salahnya kita mencoba."
"Kalau begitu aku setuju sayang. Tapi besok saja ya!. Hari ini aku sangat lelah," jawab Nisa. Arjuna menganggukkan kepalanya. Kebohongannya tentang teman yang dia katakan tadi hanya untuk memancing Nisa sejauh mana pengetahuannya tentang obat kuat.
"Kamu mengetahui dimana membelinya?" pancing Arjuna.
"Kalau itu gampang sayang. Aku bisa menyuruh Dino untuk membeli itu untuk kita," jawab Nisa santai. Arjuna semakin yakin jika orang yang disebutkan dokter Marsel memberikan pesanan obat kuat itu kepada Nisa sewaktu di restoran adalah Dino.
"Ternyata Dino bisa diandalkan dalam banyak hal ya."
"Benar sayang. Dino itu sudah banyak membawa aku."
"Membantu dalam hal apa?"
Nisa terlihat terkejut dan sedikit gugup mendengar pertanyaan Arjuna. Dino sudah banyak membantu dirinya menjalankan rencana jahat supaya Marissa hamil anak Arjuna. Tapi tidak mungkin dirinya mengatakan hal yang sebenarnya.
"Membantu mengangkat pot bunga dari taman belakang ke depan rumah sayang," jawab Nisa. Nisa merasa lega karena bisa menjawab pertanyaan suaminya dengan jawaban yang masuk akal. Dia tidak mengetahui jika Arjuna sudah mulai mencurigai dirinya. Tapi Arjuna berusaha untuk menahan pertanyaan tentang struk belanja dua bulan yang lalu itu. Ibarat memancing. Arjuna masih memberikan umpan kepada targetnya.
"Aku keluar sebentar," kata Arjuna. Dia menutup laptopnya.
"Tidak mandi dulu sayang?"
"Tidak, nanti saja," jawab Arjuna. Arjuna melangkah cepat keluar dari kamar. Sambil berjalan, dirinya mengirimkan pesan kepada dokter Marsel supaya menunggu dirinya di ruang praktek sahabatnya itu.
"Ada apa kamu datang lagi?" tanya dokter Marsel. Arjuna harus menunggu para pasien ditangani terlebih dahulu sebelum mempersilahkan Arjuna masuk. Untung saja jam praktek sudah habis.
"Kamu benar. Ternyata Nisa membeli obat kuat itu," kata Arjuna lesu. Dia merogoh sakunya dan memberikan struk itu ke tangan dokter Marsel.
"Kamu tidak pernah menggunakan ini. Lalu untuk apa dia membeli obat itu sebanyak ini?" tanya dokter Marsel bingung. Pikiran sang dokter sudah menduga jika istri dari sahabatnya itu sudah berselingkuh.
Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar. Arjuna bukan orang bodoh. Menemukan bukti itu, pikirannya sudah menduga jika itu ada kaitannya dengan malam panas yang dia lalui bersama Marissa dan ambisi Nisa untuk mendapatkan bayi tersebut. Itulah sebabnya Arjuna kembali menemui dokter Marsel untuk bertukar pikiran.
"Marsel aku sangat percaya kepada mu. Aku ingin memberitahukan kepada kamu bahwa sebenarnya Marissa mengandung anakku. Dan kami berdua sama sama merasa tidak pernah melakukan itu. Tapi Marissa mempunyai videonya," kata Arjuna.
Dokter Marsel membulatkan matanya. Dia sangat terkejut mendengar cerita singkat dari bibirnya sahabatnya itu.
"Putri kamu mengandung anak mu?" tanya dokter Marsel tidak percaya. Arjuna sangat menyayangi Marissa seperti putri kandungnya dan menjaga Marissa dengan baik dari pergaulan anak muda masa kini.
"Iya. Dan aku rasa kehamilan Marissa ada kaitannya dengan obat kuat itu," jawab Arjuna. Dokter Marsel terlihat berpikir sebentar.
"Maksud kamu?"
Arjuna menceritakan tentang kehamilan itu hingga Nisa menuduh dirinya berselingkuh. Dan tuduhan perselingkuhan itu diperkuat dengan video yang ditemukan Dino di laptop milik Marissa. Nisa marah dan sebagai hukumannya, Marissa harus menyerahkan bayinya kelak kepada dirinya.
"Kamu harus bisa membuktikan jika itu adalah rencana Nisa. Kasihan Marissa," kata dokter Marsel.
"Tapi aku bingung. Bagaimana kalau Nisa bisa mengelak," kata Arjuna. Selama ini dirinya percaya kepada Nisa karena wanita itu terlihat sebagai pihak yang tersakiti.
"Kuncinya ada pada si Dino itu. Tawarkan uang yang banyak. Dia pasti buka mulut."
Arjuna juga sudah berpikir seperti perkataan Dokter Marsel.
"Aku butuh bantuan kamu Marsel," kata Arjuna.
"Aku siap membantu kamu. Sebagai sahabat seharusnya saling membantu bukan?" tanya dokter Marsel. Arjuna tersenyum. Kemudian dia menjanjikan imbalan kepada dokter Marsel jika bisa membuktikan obat kuat itu berhubungan erat dengan kehamilan Marissa tanpa campur tangan dari dirinya.
Arjuna pulang ke rumah setelah ada kesepakatan antara dokter Marsel dengan dirinya. Ada perasaan berbeda yang dia rasakan kepada Nisa ketika mengetahui kenyataan tentang obat kuat itu. Dan setelah tiba di rumah. Arjuna berusaha bersikap biasa kepada Nisa.
"Mau kemana sayang?" tanya Nisa kepada Arjuna. Setelah selesai membersihkan tubuhnya. Arjuna tidak langsung makan malam melainkan berjalan melewati meja makan itu.
"Ke paviliun sebentar," jawab Arjuna tanpa melihat wajah istrinya. Dia bahkan terus berjalan. hingga melewati dapur. Di meja makan, Nisa terlihat kesal. Dia sudah menunggu lama suaminya sampah menahan lapar tapi Arjuna seperti mengabaikan dirinya.
"Makan dulu sayang," teriak Nisa. Arjuna mendengar tapi terus melangkahkan kakinya. Kenyataan tentang obat kuat itu membuat Arjuna tidak lapar dan tidak ingin melihat wajah istrinya untuk saat ini.
"Sa," panggil Arjuna lembut sambil mendorong pintu paviliun itu. Marissa yang sedang membaca majalah usang itu hanya menatap ke arah pintu sebentar kemudian kembali menatap lembar majalah yang sudah berwarna kecoklatan dan buruk.
"Sudah makan?" tanya Arjuna. Dua minggu dia tidak melihat wajah itu. Dan malam ini, dia melihat wajah Marissa sudah seperti dulu. Tidak ada mata yang sembab di wajah itu. Hanya saja, wajah Marissa terlihat masih terlihat seperti banyak beban pikiran. Melihat itu, hati Arjuna berdenyut nyeri. Jika apa yang di pikirannya ternyata benar itu artinya dirinya sudah sangat keterlaluan menyakiti Marissa.
"Sudah pa," jawab Marissa.
"Sedang apa?" tanya Arjuna. Dia duduk di sebelah Marissa.
"Baca."
Arjuna ikut melihat lembar kertas yang sedang dia baca oleh Marissa. Tapi kemudian, Arjuna memalingkan wajahnya. Melihat Marissa membaca majalah usang itu. Semua perlakuannya dan Nisa terbayang di ingatannya.
"Besok papa akan membelikan ponsel baru untuk kamu. Kamu mau merek apa?" tanya Arjuna lembut. Tanpa sadar dirinya kembali memposisikan dirinya sebagai papa terhadap Marissa. Dia berharap, Marissa senang dengan perkataannya itu.
"Tidak perlu pa," jawab Marissa sopan dan singkat. Marissa hanya berpikir jika dirinya tidak ingin menambah kebaikan yang harus dia terima dari Arjuna. Marissa sama sekali tidak menatap Arjuna karena bagaimana pun dirinya masih mengingat semua ancaman dan kemarahan pria itu terhadap dirinya.
"Sa, papa mau bertanya. Tolong kamu jawab dengan jujur."
Marissa hanya menatap Arjuna sebentar.
"Apa kamu memang benar benar merasa tidak pernah melakukan itu dengan papa?" tanya Arjuna. Dia sudah menduga jawaban Marissa tapi Arjuna juga ingin bertanya dalam keadaan hati yang tenang dan kondisi Marissa dalam keadaan baik seperti ini.
"Apa selama ini ,aku terlihat seperti perempuan liar pa. Jawaban dari pertanyaan papa itu ada pada diri papa. Jika papa melihat aku seperti perempuan liar. Papa boleh mempercayai apa yang mama katakan. Dan jika tidak. Papa boleh mempercayai apa yang aku sangkal selama ini."
Marissa berkata seperti itu karena dia tidak ingin meyakinkan Arjuna. Marissa juga tidak perduli lagi bagaimana penilaian Arjuna terhadap dirinya. Pengasingan ini sangat menyakitkan dari apapun. Marissa hanya ingin secepatnya waktu berlalu supaya tugas pembalasan budi kepada Arjuna dan Nisa secepatnya terbalaskan.
"Tapi papa ingin mendengar jawaban dari mulut kamu sendiri."
"Sudah lah pa. Jangan dibahas lagi. Kita sudah ada kesepakatan bukan?. Kalian sudah memberikan kehidupan kepadaku selama ini. Jadi kalian mengharapkan balasan kehidupan juga bukan?. Kalian akan menerimanya. Kehidupan dibalas dengan kehidupan," kata Marissa dengan tertawa kecil.
Mengingat kehancuran Masa depan yang harus dikorbankan untuk membalas kebaikan orang tua angkatnya membuat Marissa kembali bersedih. Hampir saja air matanya hampir terjatuh. Tapi Marissa tidak ingin terlihat lemah lagi di hadapan Arjuna karena dirinya tidak ingin dikasihani seperti waktu kecil dulu.
Sama seperti Marissa. Arjuna juga merasakan hatinya berdenyut nyeri. Dia juga menyadari jika masa depan Marissa juga sudah hancur. Bukan hanya itu. Arjuna juga melihat jika Marissa kini terluka batin.
Arjun dah berasa seperti ABG lg krn menikah dengan yg msh ABG
Beruntung km Arjun dpt Marissa yg msh ori😆