Pernikahan yang diawali dengan perjodohan dan tak saling cinta, biasanya berakhir dengan sebuah cinta diantara keduanya. Namun ternyata apa yang Salma alami berbeda dengan kisah romansa pada umumnya.
Dua puluh tahun menikah dengan Aidil dan dikaruniai dua orang putra ternyata tak membuat Aidil bisa membuka hatinya untuk Salma. Hingga di suatu malam, akhirnya Salma mengetahui jika suaminya memiliki wanita idaman lain dalam pernikahan mereka.
Manakah yang akan Salma pilih? Bertahan demi anak-anaknya atau memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Kepulangan Diyas
"Maaf, aku tidak memberitahu Tante kalau aku akan datang kemari," ucap Diyas dengan menggaruk tengkuknya. Ia merasa tidak enak hati karena telah mengganggu aktifitas sang tante.
"Ah, tidak apa kok. Ayo sini!" panggil Salsa.
"Om Putra tidak apa-apa?" Diyas membantu Putra berdiri.
"Hehe, tidak apa. Jangan khawatir. Aku hanya tidak menyangka saja jika tantemu ini memiliki tenaga yang luar biasa, haha." Putra malah tergelak.
Salsa merengut dan menatap tajam Putra. Entah akan seperti apa hubungan mereka nantinya.
"Hmm, kalau begitu aku pamit dulu ya. Aku harus mengurus pekerjaanku. Bye, Salsa, Diyas." Putra berpamitan pada Salsa dan Diyas.
Sepeninggal Putra, Diyas duduk di samping Salsa.
"Maaf ya, Tante. Aku tidak tahu jika hubungan Tante dan om Putra sekarang sudah berubah." Diyas merasa tidak enak hati.
"Ah, tidak kok. Tidak ada yang berubah." Salsa amat malu karena kepergok sang keponakan.
"Omong-omong, ada apa kamu kemari? Kamu sudah selesai kuliah?" tanya Salsa heran. Pasalnya jam segini biasanya Diyas berada di kampus.
"Ada yang ingin aku tanyakan pada Tante."
"Soal apa?"
Diyas menautkan kedua tangannya sambil menunduk. Salsa merasa ada yang tidak beres dengan keponakannya itu.
"Apa benar papa dan mama akan berpisah?"
Pertanyaan Diyas membuat mata Salsa membola.
"A-apa?! Siapa yang memberitahu hal itu padamu?" tanya Salsa panik.
"Nenek. Dia bilang begitu saat menelponku semalam."
Salsa mengepalkan tangannya. Ia tak menyangka ibunya akan melakukan ini pada keponakannya. Salsa berpikir keras agar Diyas tidak berbuat nekat.
"Sayang, semua itu masih belum pasti. Bukankah masih ada tahap persidangan yang harus dijalani?" Salsa mengusap punggung Diyas.
"Jadi, tante sudah tahu? Tante sudah tahu dan tante tidak mengatakan apapun padaku?" Diyas marah.
"Bu-bukan begitu. Tante hanya..."
"Apakah kalian mengira kalau aku masih anak-anak? Kalian tidak percaya padaku karena belum dewasa! Begitu?!" Suara Diyas terdengar marah dan kecewa.
Salsa tidak tega melihat keponakannya bersedih dan kecewa. Salsa membawa Diyas dalam dekapan.
"Kami tidak pernah menganggapmu sebagai anak kecil. Mengertilah tentang posisi kami. Kami hanya tidak ingin kuliahmu terganggu. Lalu, apa Adit tahu masalah ini?"
Diyas menggeleng dalam dekapan. "Aku tidak akan memberitahu dia. Aku takut akan mempengaruhi sekolahnya."
Salsa melerai pelukan dan merangkum wajah sang keponakan.
"Begitu juga dengan kami. Kami sangat menyayangi kalian. Makanya kami tidak sanggup melihat kalian bersedih. Apapun keputusan orang tuamu, tante yakin mereka melakukan yang terbaik. Jadi, jangan marah pada mereka. Ya?"
Diyas mengangguk paham. Hatinya sedikit lega usai bicara dengan Salsa.
...***...
Salsa menunggu waktu malam hari. Ia sudah tidak sabar ingin menghubungi ibunya untuk mengkonfirmasi. Ya, nenek yang dimaksud Diyas adalah Lidia, ibu kandung Salsa sendiri.
Salsa tidak habis pikir bagaimana bisa ibunya dengan tega mengatakan semua itu pada Diyas. Salsa menekan nomor ponsel Lidia. Salsa menunggu beberapa saat, hingga akhirnya...
"Halo, Salsa. Tumben kamu menelepon. Ada apa?"
"Kenapa ibu melakukan ini? Kenapa ibu memberitahu Diyas tentang perceraian orang tuanya?!" Salsa memarahi Lidia.
"Itu karena kau tidak becus mengurus masalah ini! Kau tidak bisa membuat Aidil dan Salma kembali bersama. Makanya, Ibu hubungi saja Diyas. Ibu yakin Diyas bisa membujuk Salma agar menarik gugatan cerainya." Lidia menjawab dengan santai dan tanpa beban.
"Ibu!" teriak Salsa.
"Jangan berteriak pada ibumu!"
"Kenapa ibu hanya memikirkan diri ibu sendiri? Mereka adalah cucu ibu! Tega sekali ibu menyakiti mereka dengan cara seperti ini! Ibu egois!" Salsa tak dapat lagi membendung air matanya. Entah terbuat dari apa hati ibunya hingga tega melakukan ini pada cucunya sendiri.
"Ibu melakukannya demi kamu, Salsa. Demi kelangsungan hidup kita!"
"Tidak! Ibu melakukannya hanya untuk diri ibu sendiri. Ibu benar-benar jahat! Bagaimana bisa aku lahir dari rahim wanita jahat sepertimu? Jika aku harus memilih, lebih baik aku tidak pernah dilahirkan!" Salsa mematikan sambungan telepon.
Tubuh Salsa luruh ke lantai dengan memegangi dadanya yang terasa sesak. Tangisnya pecah. Mulai malam ini, Salsa tidak akan lagi berpihak pada ibunya.
Salsa tahu mungkin ia akan jadi putri yang durhaka. Tapi Salsa tidak bisa membiarkan ibunya menyakiti Salma lebih dari ini. Cukup sudah selama ini ibunya menyakiti Salma dan keluarganya.
...***...
Sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah keluarga Pramudya. Pria muda yang menaiki taksi segera turun dari dalam mobil.
"Terima kasih, Pak." Pria muda itu berjalan menuju pintu gerbang yang dijaga oleh satpam.
"Den Diyas? Ya Tuhan, saya pikir saya bermimpi!" seru si satpam yang bernama Urip itu.
"Iya, Pak Urip. Ini saya! Oh ya, apa Oma ada?"
Ya, pria muda yang baru saja tiba adalah Diyas. Ia memutuskan pulang ke tanah air untuk bertemu keluarganya. Beruntung saat ini sedang ada libur kuliah selama beberapa hari.
"Ada, Den. Mari silakan masuk!" Urip mengantar Diyas hingga ke pintu utama.
Diyas menekan bel dan terlihat Imah membukakan pintu. Imah juga cukup terkejut dengan kedatangan Diyas yang tiba-tiba.
Imah segera memanggil Evita yang masih berada di dalam kamar.
"Diyas?" Evita terkejut dengan kepulangan cucunya yang tiba-tiba.
"Apa kabar, Oma?" Diyas memeluk Evita.
"Oma baik. Kau sendiri bagaimana? Kenapa kau pulang tanpa memberitahu kami lebih dulu?" Evita memegangi lengan cucunya yang terlihat sudah dewasa.
"Maaf, aku pulang tanpa memberitahu kalian. Kebetulan aku sedang ada libur kuliah. Oh ya, mama mana, Oma?"
Pertanyaan Diyas membuat Evita bertukar pandang dengan Imah, sang asisten rumah tangganya.
"Sayang, kau pasti lelah. Sebaiknya kau istirahat dulu ya! Oma akan buatkan makanan kesukaanmu."
Evita menggandeng lengan Diyas menuju kamarnya. Diyas sendiri tahu jika Evita menyembunyikan sesuatu darinya.
Namun karena Diyas juga lelah setelah melakukan perjalanan jauh, maka ia ingin mengistirahatkan tubuhnya lebih dulu. Setelah itu, barulah ia akan bicara lagi dengan Evita.
...***...
Malam harinya, Diyas berkumpul bersama Evita dan Aidil. Kebetulan Aidil pulang lebih cepat dari biasanya setelah Evita menghubunginya perihal kedatangan Diyas.
Kini mereka duduk bersama di meja makan dan menyantap hidangan makan malam yang sudah disiapkan oleh Evita. Diyas masih diam dan menikmati makan malamnya.
Berbeda halnya dengan Aidil dan Evita yang saling tatap karena merasa gusar. Kepulangan Diyas pastilah bukan tanpa alasan. Pasti ada hal yang membuat pemuda itu kembali ke tanah air.
Usai makan malam, Diyas mengajak nenek dan ayahnya untuk mengobrol di ruang keluarga.
"Aku sudah tahu dengan apa yang terjadi di antara mama dan papa. Sekarang jelaskan, dimana mama, Pa?"
Diyas merasa tidak bisa berbasa basi. Ia harus segera menemukan jawaban dari semua pertanyaannya. Dan sepertinya satu pertanyaan telah terjawab.
Ketidakhadiran Salma di rumah itu, membuat Diyas yakin jika kedua orang tuanya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Aidil tidak memiliki pilihan selain memberitahu semuanya pada Diyas. Pemuda itu sudah dewasa. Dan pemikirannya cukup terbuka dengan keputusan yang diambil oleh kedua orang tuanya.
Diyas meminta Aidil untuk mengantarnya ke tempat tinggal Salma. Diyas ingin bertemu dengan ibunya.
Tiba di apartemen Salma, wanita cantik itu membuka pintu dengan ekpresi wajah terkejut. Bagaimana tidak? Tentu saja ia kaget karena melihat putranya ada di depan mata.
"Mama!" sapa Diyas kemudian memeluk Salma.
dewasa banyak ilmu yg d dapat dr cerita ini tentang kesabaran kedewasaan dalam ambil sikap meski cerita nya sederhana
Tapi ya sudahlah jk mmg sdh hrs ending.Terima kasih utk ceritanya kak
Di tunggu next ceritanya..semangat