“Ck..!! Kenapa aku bisa lupa!!!” rutuknya sambil melempar sembarangan botol air mineral yang dipegannya dan tanpa sengaja botol air mineral itu menganai kepala salah satu cowok yang sedang berkumpul di depan Elisan.
“Mati aku!” gumam Elisa saat pria yang terkena lemparan homerun nya tadi berjalan ke arah nya.
Dan dari muka pria itu sangat jelas kalau dia sangat marah.”Padahal tidak sengaja kan?” batin Elisa.
“Milik mu?” tanya Pria itu sambil mengarahkan botol yang Elisa lempar tadi ke arah Elisa.
“Sepertinya iya.” Aku Elisa mau tidak mau. Mau bohong juga percuma, jelas banyak saksi yang melihatnya.
Pria itu menatap Elisa dengan tatapan geram sambil membuka botol air mineral itu dan dengan tatapan tajam dan penuh kemarahannya dia menuangkan air itu di atas kepala Elisa. “ini baru sepadan.” Ucap nya tersenyum smirk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
“Kami tentu saja akan membantu mu Alhen. Tapi permasalahan nya, kami tidak tahu kau itu akan menikah dengan siapa.” Seru Arka yang sudah kembali ke dalam mode serius.
Mendengar pertanyaan Arka, Alhen langsung menghela nafas kasar dan mengambil handphone nya.
“Aku akan menikah dengan nya.” Alhen meletakkan handphone nya ke atas meja, dengan sebuah foto seorang gadis yang terlihat di layar handphone itu.
“Dia bukan nya gadis yang akan kau bunuh Alhen?” cicit Saka, mengambil foto itu dan mengamati dengan seksama foto itu.
“Mana coba lihat?” Arka merebut handphone Alhen dari tangan Saka, karena Arka ingin memastikan perkataan Saka barusan.
Cristian yang tadi nya kabur, kini sudah nangkring di belakang Arka untuk mengecek hal yang sama.
“Benar! Ini gadis yang kita terima request untuk Alhen habisi nyawa nya.” Seru Cristian.
“Tapi bagaimana cerita nya? Kenapa kau bisa malah akan nikah dengan cewek bar bar ini? Jangan bilang di cewek pilihan ibu mu!” Tebak Cristian yang sangat tepat sasaran.
“Kau benar Cristian, dia adalah cewek pilihan ibu ku! Dihari aku merencanakan kematian nya, di hari itu pula ibu ku merancang kencan buta untuk ku dan dia. Dan yang lebih spectacular nya, di hari itu pula keputusan pernikahan kami di sepakati oleh ibu ku dan tante nya nih bocah.” Ujar Alhen.
“Dan kau setuju? Lantas Sovia bagaimana? Dia pasti akan ngambuk begitu tahu kau menikah dengan perempuan lain.” Seru Arka.
“Dia sudah tahu. Tapi please! Jangan tanya bagaimana cara nya Luvia bisa tahu soal ini. Sebab mengingat hal tersebut hanya membuat kepala ku semakin sakit.” Alhen langsung memijit-mijit pangkal hidung nya yang mancung.
“Yang aku butuhkan saat ini adalah bantuan kalian untuk melenyapkan gadis ini sebelum hari pernikahan kami. Dengan begitu semua masalah ku teratasi. Pekerjaan ku selesai, aku bisa menerima bayaran ku. Selain itu, pernikahan itu pun batal. Dan yang terpenting, aku terbebas dari Luvia.” Tekan Alhen.
“Wait! Apa ada yang bisa menjelaskan pada ku, mengapa Alhen terlihat sangat senang saat mengatakan Dan yang terpenting, aku terbebas dari Luvia???!!” Tanya Arka sambil menirukan gaya Alhen plus dengan ekspresi lega dan bahagia yang terlihat jelas di wajah Alhen.
“Karena Alhen tidak pernah mencintai Luvia." jawab Cristian, "Maka nya pak Bos, jangan sibuk cari cara buat jadiin Clare sebagai istri! Sesekali peduli dengan hubuangan asmara si bontot! Saka yang sedang kebingungan mencari Bia aja tahu mengenai hal ini.” sambung Cristian, penuh sindiran.
“Sudah ku duga! Kalau Alhen tidak benar-benar mencintai Luvia. kalau Alhen benar mencintai Luvia, tidak mungkin dia membiakan Luvia di guyur air oleh cewek ini kemarin.”Ucap Arka manggut-manggut.
“Jadi apa yang bisa kami bantu? Mendekor gedung resepsi atau apa?” Resek nya Arka kambuh lagi.
“Sudah! Lupakan! Kalian cukup bantu doa saja.” Ujar Alhen yang tiba-tiba malas melibatkan abang-abang resek nya.
Lagi pula setelah Alhen pikir-pikir, ketiga orang ini, tangan mereka sangat lah bersih!
Mereka tidak pernah langsung menghabisi nyawa seseorang.
Pasti mereka tidak akan bisa menghabisi nyawa Elisa dengan tangan mereka. Jadi lebih baik batalkan saja rencana untuk meminta bantuan mereka.
“Apa kau meremehkan kami Alhen?” seru Arka, merasa diremehkan.
“Aku bukan meremehkan kalian. Tapi kalian kan tidak pernah membunuh seseorang. Aku tidak yakin kalian bisa melakukan nya. Membunuh serangga saja kalian tidak sanggup! ”Ejek Alhen dengan suara pelan.