Elena, seorang wanita cantik berkulit putih dengan lesung dipipi kanan dan kirinya. Ia adalah seorang ibu dengan sepasang anak kembar, Cantika dan Brian.
Pernikahan Elena dan suaminya bukanlah pernikahan berlandaskan cinta. Mereka menikah karena desakan dari Ana, ibu dari suaminya.
Elena menahan diri selama tiga tahun dengan pernikahannya, Elena memikirkan kedua anaknya jika ia bercerai dengan suaminya.
Suatu hari, Elena murka dengan perilaku Rendra, suaminya. Ia pun mengajukan cerai kepada Rendra. Rendra yang tak mencintai Elena pun akhirnya menyetujui untuk bercerai.
Apakah perceraian Elena akan berjalan lancar? Bagaimana Elena menjalani kehidupannya sebagai single mom? Ayo, simak kisahnya! 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak diundang
Setengah jam kemudian, Elena sudah menyelesaikan pekerjaannya di dalam toko. Ia pun keluar dari toko dan duduk berhadapan dengan Alan. "Mau bicara apa, Alan?" Elena memulai pembicaraan di antara dirinya dan Alan.
"Len, kamu baru dilamar kah oleh seseorang? Aku harap aku masih punya kesempatan."
Tahu dari mana dia kalau aku dilamar Lucky? batin Elena sambil menaikan satu alisnya. "Kamu tahu dari mana?"
"Kamu nggak perlu tahu aku tahu dari mana. Aku di sini mau tanya, apa kamu terima lamaran dia?"
"Bentar, memangnya kamu kenal sama Lucky?"
"Owh, namanya Lucky. Lebih tampan aku lo, Len. Semoga kamu nggak salah pilih."
Pe-de banget orang ini. Tapi, memang Alan lebih tampan sih dari pada Lucky. Duh mikirin apa sih aku ini, Elena menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa, Len?" tanya Alan seketika, ketika melihat Elena menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa kok. Aku sama dia ...." Elena tak sempat melanjutkan perkataannya setelah mendengar teriakan seseorang yang memanggil namanya.
"Siapa itu?" gumam Elena.
"Mana ini yang namanya Elena, Si pelakor!" tanya seorang wanita yang tiba-tiba turun dari sebuah mobil.
"Sesil," gumam Alan.
"Kamu kenal?"
"I-iya," Alan tampak ragu menjawab pertanyaan dari Elena. Wanita itu adalah Sesilia, seseorang yang dijodohkan dengan Alan.
"Saya Elena, ada apa, Mbak?"
Elena langsung memperkenalkan dirinya, kepada Sesil yang mengatai dirinya pelakor. Ia menyeret tangan Sesil ke taman di belakang toko, ia berjalan lewat samping toko, ia tidak mau jika ucapan Sesil membuat pelanggan tokonya, kabur.
Alan mengikuti kedua wanita itu. "Hey, lepasin tanganku! Najis dipegang sama pelakor kayak lo!" teriak Sesil.
Elena tak langsung menanggapi hinaan Sesil yang dilontarkan untuknya. Ia menghentikan langkah kakinya sesampainya di taman belakang. Ia langsung mendaratkan tangan mulusnya di pipi wanita itu.
Plakk!
Sebuah tamparan mendarat di sisi kanan pipi Sesilia. Tamparan kedua pun datang satu detik kemudian. "Auuu," teriak Sesil.
"Berani ya, Lo! Gue bakal bikin perhitungan sama Lo! Sayang, aku ditampar nih sama pelakor nggak tahu diri ini." Sesil menggandeng tangan Alan, tapi ditepis oleh pria tampan itu.
"Jaga mulut kamu, Elena bukan wanita seperti itu!"
"Tangan kamu nggak apa-apa, Len? Sakit nggak?" Alan mendekati Elena.
"Sayang, aku yang ditampar, aku yang sakit," rengek Sesilia. Tapi, rengekan Sesil tak digubris oleh Alan.
"Aku nggak apa-apa. Lebih baik kamu bawa pergi wanita ini! Jangan sampai mengacaukan toko-ku!" Elena pergi meninggalkan kedua orang itu.
"Len," teriak Alan. Tapi, seseorang yang dia panggil tak menoleh ke belakang sedikit pun.
"Saya bukan pelakor! Pacar kamu saja yang ngejar-ngejar saya!" Elena membalikkan badannya dan menegaskan sesuatu yang perlu diluruskan.
"Aku bukan pacarnya Sesil, Len." Alan mengejar Elena.
Sesampainya di depan pintu masuk, ada seorang satpam yang menghadang jalan Alan. "Maaf, Anda tidak diperbolehkan masuk oleh Bu Elena. Sebaiknya Anda pergi dari tempat ini," tegas satpam itu.
Satpam yang berjaga di depan toko Elena telah kembali dari toilet, ia tidak bisa menjaga Tuan-nya saat seorang wanita pembuat onar datang. "Saya tegaskan sekali lagi, Anda tidak boleh masuk ke dalam toko!" gertak satpam itu, ia geram karena Alan terus saja berusaha menerobos pertahanan satpam itu.
Sialan, aku nggak bisa menerobos masuk. Badan satpam ini keker banget, tenagaku kalah! batin Alan kesal. Ia pun langsung pergi meninggalkan sang satpam tanpa mengatakan apapun.
"Sayang, kamu antar aku pulang ya." Sesil lagi-lagi menggandeng tangan Alan dan bergelayut manja memiringkan kepalanya, dan bersandar di badan pria tampan di sampingnya.
Pasangan yang serasi, batin Elena, ia melihat tontonan di luar toko dari kaca transparan yang hanya bisa dilihat dari dalam toko. Ia kemudian melanjutkan aktivitasnya di dalam toko.
"Minggir," ucap Alan dengan ekspresi kesal.
"Kedepannya, tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu, karena kita tidak memiliki hubungan apa-apa! Satu lagi, jangan sentuh aku sembarangan!" Alan masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Alan!" teriak Sesil.
"Kejam sekali kamu, Lan, kita ini sudah dijodohkan. Kita akan menjadi sepasang suami istri kelak." Lagi-lagi Sesil berteriak, teriakannya mengundang banyak mata untuk melihat ke arahnya.
"Apa kalian lihat-lihat!" gerutu Sesil, ia masuk ke dalam mobilnya. Sebenarnya ia masih ingin mencari perhitungan dengan Elena tapi niatnya ia urungkan.
...~~~...
Kini, Elena telah berada di halaman sekolah kedua anaknya. Ia sedang berdiri sambil bersandar di samping mobilnya. "Mama," teriak Cantika, gadis cilik itu langsung memeluk mamanya.
"Iya, Sayang. Kalau Mama ajak kalian ke toko tante Putri, mau nggak?"
"Mau-mau , Ma," jawab Cantika antusias.
"Boleh, Ma, sudah lama ya kayaknya nggak main ke tempat tante Putri. Tante Putri pasti bakal kangen sama aku," respon Brian.
"Ih ... kepedean deh Kakak," ucap Cantika.
"Sudah-sudah , ayo masuk," ajak Elena agar kedua anaknya masuk ke dalam mobil.
Elena melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, beberapa saat kemudian, ia merasa jika mobilnya terasa aneh. Ia pun memberhentikan mobilnya. "Haish, ada paku nempel di ban depan," keluh Elena saat melihat sebuah paku menempel mesra di ban mobilnya.
Elena berjongkok sambil mengamati, apakah ada paku lain yang menancap atau tidak. Tiba-tiba, ia merasa aneh, karena ada bayangan beberapa orang di belakangnya. Ia pun langsung berdiri, betapa terkejutnya dia saat melihat kedua anaknya sudah tidak ada di dalam mobil.
"Kalian menculik anakku! Kembalikan!" gertak Elena kepada tiga orang pria bertubuh besar.
"Jangan harap, langkahi dulu mayatku!" ucap salah satu dari mereka.
"Baik, aku akan kabulkan. Tapi, aku mau one by one. Kalian tidak mau bukan disebut Banci! Ya, beberapa orang yang melawan seorang wanita adalah Banci!" gertak Elena.
Darah ketiga pria itu mulai mendidih ketika disebut Banci. "Baik, kau akan bertarung dengan kami, satu per satu, mulai!" Pria ke satu mulai mendekati Elena untuk menyerang. Baru beberapa detik, Elena sudah mampu mengunci tubuh pria itu, lalu mematahkan tulang lengan pria itu.
Kedua pria itu tercengang, melihat wanita di depan mereka. "Sepertinya kita salah target, ayo kabur," ucap salah satu pria, ia mengajak teman yang berdiri di sampingnya untuk kabur.
"Tapi, si Jack bagaimana?"
"Biarin aja dulu, yang penting kita selamat."
Kedua pria yang belum bertanding dengan Elena itu pun langsung kabur, mereka kabur menggunakan motor yang terparkir tak jauh dari sana. "Lihat, kedua temanmu, mereka Pecundang!" Elena melihat pria yang ia hajar sedang terkapar sambil merintih kesakitan.
"Siapa yang menyuruhmu!" gertak Elena sambil menginjak tangan pria itu pelan.
"Sa-saya ... saya tidak tahu nama Nona itu, tapi saya masih mengingat wajahnya."
Hmm, siapa ya dalangnya? Apa Clara lagi? Kalau memang dia orangnya, kali ini aku akan menghajarnya biar dia kapok, batin Elena kesal.
☠️⃝🖌️M⃤
Perjuangan Ucup mampir
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
sabar ya elena 😬 semoga Joe segera sadar
coba diselipin kejadian apa di bbrapa moment biar lebih kelihatan nyata ceritanya
kok bisa rukyah nya gagal?
☠️⃝🖌️M⃤