Mohon maaf, karya sedang dalam revisi agar semakin lebih baik.
--------------------
SINOPSIS :
Hanssel Adamson merupakan pria casanovo yang awalnya tidak menyukai sekertaris kunonya yang menyebalkan. Siapa sangka dia justru mendadak bucin pada Karennina yang ternyata sudah memiliki putra dari pernikahan sebelumnya yang telah gagal.
Siapa yang tahu ternyata Karennina merupakan wanita yang berasal dari keluarga ternama negeri tetangga. Demi menyelesaikan misinya dia menyamar sedemikian rupa untuk menutupi status sosial serta keterlibatannya dalam jaringan hitam.
Yuks kepoin kisah mereka!!!
---------
Please give me some appreciation, don't forget to smash Like, comment, vote, gift and love! Saranghae ♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayang aku ga?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 - Bermain Petak Umpet
Nina telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Hari ini, dia berencana menjemput Rangga di bandara tanpa sepengetahuan suaminya.
"Sayang... Ayo berangkat," panggil Hanssel, berdiri di ambang pintu.
Nina terdiam sejenak. Ada jeda panjang sebelum akhirnya dia menghembuskan napas, lalu berkata pelan, "Maaf... Aku baru dapat kabar. Teman lamaku pulang hari ini. Dia minta dijemput di bandara."
Hanssel mengangguk kecil. "Biar aku temani—"
"Tak perlu!" potong Nina cepat, terlalu cepat hingga terasa janggal.
Hanssel mengernyit. "Kamu menyembunyikan sesuatu?"
Nina tertawa canggung. "Hahaha... Mana mungkin? Dia teman lama, yang dulu sering kujadikan tempat menitipkan Jimmy."
"Kau kan janji ajak Jimmy ke Timezone hari ini?" Nina berusaha mengalihkan pembicaraan yang terasa canggung ini. "Makanya... Bagaimana kalau kalian pergi duluan? Nanti aku menyusul. Aku cuma jemput, lalu antar dia ke apartemennya."
"Ya... Please..." Nina terus berbicara seolah sedang mengalihkan perhatian. Sebagai pukulan pamungkas, ia melingkarkan tangan ke leher suaminya dan mencium bibirnya singkat.
Hanssel menarik Nina ke dalam pelukannya, memperdalam ciuman yang singkat itu menjadi tautan penuh hasrat. Lalu dia melepasnya perlahan.
"Jangan buat aku kecewa," bisiknya, rendah namun penuh tekanan.
Nina hanya menanggapi dengan senyum tipis, lalu segera pergi meninggalkan rumah.
Hanssel diam sesaat, lalu menggeleng dan beranjak menjemput Jimmy.
***
Bandara Internasional SH.
Plak!
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Rangga. "Udah gede masih aja minta dijemput!" sindir Nina.
"Pelit amat, emang nggak kangen sama aku?" Rangga menyeringai.
Nina tertawa pelan, lalu berjalan mendahului. Mereka menuju pelataran tempat mobilnya terparkir.
"Aku cuma bisa mengantar kamu sampai apartemen. Jimmy nunggu diajak ke Timezone."
"Kalau begitu, ayo sekalian aja aku ikut—"
"Ngga perlu!" sergah Nina panik.
"Kenapa?"
"Itu..." Nina mengusap keningnya. Kepalanya penuh dengan alasan yang belum juga menemukan bentuk. Dia mendesah panjang. Belum saatnya mereka bertemu. Bukan sekarang…
Satu minggu lagi… hanya tinggal tujuh hari sampai kontraknya dengan Hanssel berakhir. Setelah itu, dia bebas menentukan kemana arah hidupnya. Namun untuk saat ini, menyembunyikan statusnya adalah satu-satunya cara. Karena dirinya bukan siapa-siapa selain istri sementara. Penghangat kasur legal dan pelengkap formalitas.
"Kamu istirahat dulu, ya? Besok kan libur. Kita hang out bareng," ujarnya cepat. Ia mulai merasakan tatapan curiga dari Rangga.
Rangga mengangguk perlahan. "Baiklah..."
Namun sebelum turun dari mobil, dia menoleh, menatap Nina dalam-dalam. "Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"
Nina mengalihkan pandangan ke depan. "Apa yang bisa aku sembunyikan?"
Tapi hatinya bergetar. Ternyata... Hati tak bisa diajak berdusta. Aku lelah membohongi perasaanmu, Rangga. Tapi hatiku... Hatiku sudah terikat oleh seseorang yang bahkan mungkin tak pernah benar-benar bisa kumiliki.
Mobil pun berhenti di depan apartemen Rangga. Pria itu berdiri di sisi luar jendela mobil saat Nina menurunkan kaca.
"Karennina, aku sangat menyukaimu," ucapnya lembut, dengan senyum yang tak bisa lebih tulus dari itu.
DEG.
Nina menelan ludahnya, tenggorokannya terasa kering. "Rangga, aku..."
Ssstt!
Rangga meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri. "Aku nggak suka terburu-buru. Kita jalani saja... biarkan aliran ini menuntun ke mana akhirnya."
"Aku tak ingin memberimu harapan palsu..." Kata-kata Nina mengalun pelan, namun cukup jelas untuk membuat hati siapa pun mengerti. Rangga menunduk sejenak. Tapi kemudian menatap lagi, lebih dalam.
"Kita belum tahu apa yang akan terjadi esok, Nina. Jadi tak perlu buru-buru, ya?" Rangga membungkuk, mencium pipi Nina penuh kelembutan.
"Aku benar-benar tulus mencintai kamu dan Jimmy…"
Lalu dia pergi, meninggalkan Nina dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia cepat-cepat mengusap air matanya, memaksa dirinya untuk tetap kuat. Saat ini, dia hanya ingin segera kembali ke pelukan anaknya, satu-satunya alasan yang membuatnya tetap berdiri.
***
Lenguhan lembut berpadu dengan desah lelah terdengar menggema dari kamar utama. Di sanalah Nina terbaring, tubuhnya dipeluk erat oleh Hanssel, suaminya yang masih mematung dalam sisa-sisa gairah yang belum sepenuhnya padam.
Malam telah larut. Setelah mereka menidurkan Jimmy yang tertidur di mobil dalam dekapan ibunya, pasangan itu langsung masuk ke kamar. Tapi bukan untuk istirahat. Hanssel, seperti biasanya, menuntut haknya—hak yang tak pernah bisa Nina tolak meski tubuhnya terasa lelah, meski hatinya belum tentu setuju.
"Aaahh... Aku mencintaimu, Karennina..." desah Hanssel di telinga wanita itu, penuh gejolak.
Nina hanya diam. Bibirnya yang pucat mencoba membentuk senyuman, tapi yang keluar hanya garis tipis yang menggambarkan betapa letihnya ia. Nafasnya masih terengah, kulitnya basah oleh peluh. Perih itu kembali terasa, bukan hanya di tubuhnya… tapi juga di hati yang tak pernah benar-benar bisa menyatu.
Bibirnya masih terasa kebas karena ciuman liar pria itu. Jemari Hanssel yang nakal pun tak segan menyusuri kembali jalan yang baru saja dijelajahinya.
"Hans... sudah ya..." bisik Nina memohon, suaranya serak, hampir tak terdengar.
Hanssel tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menyelipkan senyum menggoda dan bergumam, "Sekali lagi, sayang… Aku janji."
"Aku harus ke Negara S besok pagi... Aku butuh tenang, butuh menabung daya cintaku!” pekik Hans yang terus memburu waktu.
Dengan sentuhan lembut namun penuh hasrat, ia kembali menuntun Nina masuk ke dalam pusaran yang selalu ia kuasai. Jemarinya lihai, pikirannya penuh hasrat dan niat tersembunyi yang bahkan Nina pun tak tahu.
Aku ingin dia hamil dari benihku sendiri, batin Hanssel.
Dia tahu, dirinya tak pernah seintens ini bersama wanita lain. Bahkan dengan para mantan kekasihnya, hubungan intim hanyalah pemuas sesaat. Tapi dengan Nina… tubuh wanita itu seperti candu, seperti magnet yang menariknya kembali dan kembali hingga dia lupa bagaimana rasanya berhenti.
Pelan-pelan, setelah semuanya usai, Hanssel menarik selimut dan memeluk tubuh polos istrinya. Tubuh yang kini penuh jejak, penuh tanda miliknya.
“Kamu canduku, Karennina... Terima kasih sudah jadi milikku,” bisiknya sebelum akhirnya terlelap, dengan senyum puas yang menghiasi wajahnya.
Sedangkan, disisi lain…
"Keenan, jadi kamu akan menetap di Jakarta mulai minggu depan?"
"Iya, Pap. Bukankah Papa ingin menyeret pulang putri kecil Papa yang keras kepala itu?"
"Jangan terlalu keras padanya, Keenan. Dia pasti punya alasannya..."
"Papa bahkan belum pernah melihat cucuku.”
"Aku janji, Pap. Dalam waktu dekat, Karennina Kaviandra akan kembali ke tempat asalnya dimana rumah seharusnya."
Percakapan hangat itu terjadi di ruang makan keluarga Kaviandra, jauh di Negara S. Mereka tak menyadari betapa percakapan ringan itu akan menjadi awal dari kisah besar yang tak semua orang siap menanggungnya.
Keenan tengah mempersiapkan peluncuran startup teknologi barunya di Jakarta. Tapi yang Nina tak tahu, kakaknya juga telah merekrut Hanssel untuk menangani proyek pembangunan perusahaan itu.
Keenan tak main-main. Ia telah mengumpulkan semua informasi tentang adik bungsunya. Dari nama perusahaan tempat Nina bekerja, hingga kabar bahwa ia akan kembali mengambil alih Suho yang merupakan perusahaan miliknya sendiri yang dulu direbut paksa setelah perceraiannya dengan Erick Shin.
Selama ini Keenan diam. Tapi diamnya bukan berarti menyerah. Beberapa kali ia melancarkan serangan balik terhadap Erick dan membuat indeks saham perusahaan pria itu anjlok berkali-kali. Bagi Keenan, balas dendam adalah kesetiaan. Dan kesetiaan tertingginya adalah untuk Nina.
Andai saja Keenan tahu bahwa adik yang sangat dicintainya itu diperlakukan tak ubahnya pembantu, dihina dan dilukai oleh keluarga Shin... Mungkin saat ini nama keluarga itu sudah tidak pernah terdengar lagi oleh dunia.
Keesokan harinya, Hans berpamitan pada istrinya. "Jangan lupa kabari aku terus, ya!"
"Astaga, Hans... kamu tuh cuma sehari ke Negara S! Gak perlu lebay!" Nina mencibir sambil tertawa kecil, meski di matanya tersirat kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan.
Hanssel tersenyum, lalu menariknya dalam pelukan dan menciumnya lembut seolah tak ingin berpisah. Tatapannya dalam, seolah menyimpan sesuatu yang tak bisa dikatakan. Dan dalam sekejap, tubuh Hanssel hilang di balik pintu keberangkatan.
"Ibu... Jimmy kangen sama Papa Rangga..." lirih suara kecil itu membuat langkah Nina terhenti. Bocah itu menatap ibunya dengan polos, namun penuh kerinduan.
Nina menghela napas, lalu tersenyum lembut seraya mengusap rambut anak lelakinya. "Ayo, Nak... Kita jenguk Papa Rangga."
Tanpa menunggu waktu lama, Nina melajukan mobilnya. Hatinya berdebar. Ada luka yang belum selesai. Ada hati yang pernah ia tolak, namun selalu ada untuknya. Dan hari itu, ia kembali datang ke hadapan pria yang pernah dan mungkin masih mencintainya dalam diam.
Bersambung…
pusing,, pusing,, pusing,, pusing,, kepala ini 🤕