Vesper Next Generations
SEASON 1 : PEMBENTUKAN KARAKTER
Disarankan membaca Novel Vesper and The Bodyguards terlebih dahulu sebelum membaca novel ini. Terima kasih~
***
Lysa Herlambang, Kim Arjuna, Jonathan Benedict dan Sandara Liu adalah empat mafia muda yang terlahir dari rahim seorang Ratu mafia yang telah menikah sebanyak 5 kali.
Kehidupan mafia yang tak bisa lepas dari dirinya membuat keempat anaknya kini mengikuti jalan kegelapan itu.
Namun, di balik kekejaman dan kebrutalan dunia hitam, masih tersimpan kasih sayang, canda, tawa, haru dan kesedihan di balik kehidupan tragis mereka.
Keempat saudara bersatu untuk memecahkan misteri terbentuknya kerajaan mafia bernama 13 Demon Heads dengan musuh terbesar adalah militer pemerintah dan kelompok mafia leluhur mereka, The Circle.
Mampukah empat mafia muda menguak misteri dan selamat dari gempuran dua kubu yang ingin melenyapkan mereka?
---
WARNING!
Tanggapi kisah ini dengan bijak
Author tidak bertanggungjawab jika ketagihan dengan ceritanya
Jangan lupa like dan komentarnya
Lele Padamu💋💋💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lelevil Lelesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lapang Dada*
Semua orang berdiri mematung saat Han mendatangi mereka dengan senyum merekah. Liu diam saja sedang BinBin dan Jeremy gugup memikirkan penjelasan logis untuk Ayah dari Arjuna itu.
"Wah, aku sangat bahagia bisa kembali ke rumah. Apa kau merindukanku, Dara?" tanya Han yang langsung berjongkok di depan anak Kai sembari mengelus lembut rambut panjangnya.
Liu langsung memeluk Han dan mengelus kepalanya lembut seperti cara ibunya membelai Han ketika sedang murung. Han dan semua orang tertegun karena Liu bersikap menirukan Vesper.
"Jangan sedih. Kak Juna sakit, Ayah Han, tapi ia akan baik-baik saja," ucap Liu lirih.
Sontak Han dan semua orang yang mendengar tertegun. Liu mengatakannya dengan tenang tak seperti Jeremy dan BinBin yang kebingungan merangkai kata dalam otak jenius mereka. Han langsung melepaskan pelukannya dan menatap Dara tajam.
"Juna sakit? Sakit apa? Dimana dia sekarang?" tanya Han melebarkan mata seketika dengan perasaan cemas mulai mengerubungi hatinya.
"Greenland. Ia ikut misi menangkap Tobias untuk menyelamatkan ibu dan ini foto terbaru yang Tobias kirimkan pada kami sore ini," ucap Liu tenang sembari memberikan sebuah foto dengan tulisan tinta merah di balik foto tersebut.
Han gemetaran. Ia menerima foto itu dimana terlihat mulut Vesper disumpal dan rambutnya dipotong paksa oleh anak buah Tobias.
Han merasa sesak nafas seketika. Ia roboh dan malah duduk di atas conblock halaman kastil.
Pavlo dan keluarganya merasa jika Han sedang dirundung duka mendekatinya perlahan. Terlihat Han membalik foto itu dengan tangan gemetaran seperti tak siap membaca tulisan bertinta merah itu.
"Kalian tak mendengarkan peringatanku. Ku pastikan, setelah hari ini, kalian tak akan melihat Vesper lagi untuk selama-lamanya.
Tobias."
Mata Han terbelalak lebar, air matanya menetes. Ia tak menyangka jika Vesper sungguh dibawa oleh Tobias selama ia terdampar di pulau, ditambah Arjuna sakit membuat hati Han terasa hancur berkeping-keping.
Liu kembali mendekati Ayahnya dan berdiri di depannya sembari memeluk kepalanya lagi. Liu mengelus punggung Han lembut mencoba menenangkannya.
Liu menirukan ibunya ketika Vesper sedang menenangkan papanya, Kai saat sedang bersedih entah apa yang membuatnya terpuruk.
Han balas memeluk Liu dengan foto Vesper masih dalam genggamannya. Keluarga Pavlo hanya berdiri diam tak ingin ikut campur.
BinBin menatap keluarga Pavlo seksama dan merasa jika merekalah yang menyelamatkan Han saat itu. BinBin mengambil inisiatif mendatangi mereka.
"Apa kau Pavlo?" tanya BinBin menatapnya tajam.
Pavlo mengangguk dengan gugup. Anggota keluarga lainnya tertunduk karena merasa jika orang-orang di sekitar Han terlihat menyeramkan.
"Terima kasih karena sudah membawa pulang anggota keluarga kami. Masuk dan istirahatlah. Aku sudah mendengar instruksi dari Han lewat telepon. Jadi, kalian akan tetap di sini sampai semua yang dibutuhkan nanti sudah siap. Ikut aku," ucap BinBin dengan wajah datar.
Keluarga Pavlo mengangguk dan berjalan mengikuti BinBin memasuki Kastil Borka yang sangat megah itu. Dominic yang menjemput Han mendatanginya dan membantunya bangun.
Han berdiri dengan lesu dan ikut masuk ke dalam kastil dengan mata berlinang. Jeremy ikut berjalan di sampingnya dan Liu mengikuti di belakang.
Di kamar Han, Kastil Borka, Kaliningrad.
"Kai menjemputnya bersama Eiji. Kau harus tetap tenang, Han. Kita mendapatkan banyak gempuran semenjak kau hilang. Bardi bahkan tewas karena Tobias," ucap Dominic ketika Han sudah duduk di pinggir ranjang ditemani oleh Liu di sampingnya.
Han tertegun. Ia memaksa untuk diceritakan selama ia menghilang. Dominic akhirnya menceritakan semua yang terjadi dan Han terlihat shock apalagi saat tahu keempat anaknya ikut serta.
Ia akhirnya paham kenapa Arjuna nekat ikut dalam misi karena sudah begitu membenci Tobias.
Jeremy menunjukkan foto kiriman dari Tobias kepada Han. Han makin tertekan dan frustasi dengan keadaan ini. Liu kembali mengelus punggung Han lembut tanpa ekspresi.
Han yang akhirnya menyadari jika Liu sedari tadi ada disisinya itu mengingatkannya akan ibunya yang juga diam saat dirinya bersedih.
Han tersenyum karena ia seperti melihat Lily ketika berwajah Asia dulu. Begitu manis dan lugu, persis seperti Liu.
"Hanya saja, ada satu hal yang masih membuatku penasaran, Han," ucap BinBin tiba-tiba yang muncul dari balik pintu dan masuk ke kamar.
"Apa itu, Paman?" tanya Han dengan kening berkerut.
"Dara. Lily memberikan pesan terakhir pada Yuki, Jonathan, Tom dan Liu saat itu. Hanya saja, mereka bertiga tak tahu apa yang Lily sampaikan, tapi aku cukup yakin jika Dara mengetahuinya," ucap BinBin yang kini menatap Liu seksama.
Mata Jeremy, Dominic dan Han kini tertuju pada Liu seorang. Terlihat Liu hanya tertunduk dan diam.
Han mencoba membujuknya untuk mengatakan pesan terakhir dari isterinya itu yang mungkin saja bisa memberikan petunjuk agar bisa menemukannya.
"Dara sayang. Apa yang ...."
"Mama bilang jangan mencarinya. Jika kita terus mencarinya, Tobias takkan berhenti untuk melukai anggota keluarga kita, termasuk mama. Jadi ... mama meminta pada kita agar menyerah dan diam saja."
Sontak Han dan lainnya terkejut dengan ucapan Liu barusan. Bukan seperti sikap Vesper yang menyerah pada suatu keadaan.
"Kau yakin jika Lily mengatakan hal itu?" tanya BinBin tak percaya dengan mata melotot lebar.
Liu mengangguk dan kembali tertunduk. Han dan lainnya lesu seketika. Mereka tak menyangka jika Lily meminta mereka untuk berhenti mencarinya.
Namun, Han yang sudah paham watak isterinya itupun mulai menelaahnya baik-baik.
"Lily pasti merencanakan sesuatu, aku yakin itu. Jika memang itu keinginannya, kita hanya bisa menunggu sampai ia kembali," jawab Han yang ikut tak percaya jika kali ini ia membiarkan isterinya berjuang seorang diri.
"Kau gila? Kau membiarkan Vesper berada dalam cengkraman Tobias psikopat itu?" pekik Jeremy protes.
"Aku setuju kali ini. Lily bukan wanita lemah, dia bukan wanita bodoh, ia tahu yang dilakukan. Kita berdoa saja agar dia selamat sampai saatnya ia kembali kepada kita lagi," sahut BinBin dengan pandangan tertunduk yang ikut tak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan.
Saat semua orang diliputi kesedihan dan rasa cemas luar biasa, tiba-tiba terdengar suara mesin helikopter di halaman kastil. Semua orang segera berdiri dan berlari keluar ruangan di hari yang sudah gelap itu.
Terlihat petugas medis berlari berbondong-bondong menuju ke arah helikopter dengan ranjang beroda.
Han yang berada di lantai dua terkejut ketika melihat anaknya dipasang selang infus dan masker oksigen.
Jantung Han serasa ingin meledak seketika. Ia segera berlari menuruni tangga mendatangi Arjuna yang tergolek lemas dan pucat.
Liu ikut berjalan dengan langkah tergesa mengikuti para orang dewasa di depannya.
Kai yang sudah berhasil menenangkan hatinya meski matanya sembab karena terlalu banyak menangis, ikut mendorong ranjang itu masuk ke kastil Borka.
"ARJUNA!" teriak Han di kejauhan yang sontak membuat orang-orang yang turun dari helikopter tertegun seketika.
Kai langsung menghentikan langkah dan perasaan bersalah menyelimuti hatinya lagi. Para bodyguard Vesper berdiri di belakang Kai ikut merasakan hal yang sama.
Mereka siap dimaki dan dihajar oleh Han karena merasa pantas untuk dipersalahkan, tak bisa melindungi anak dari majikannya itu.
Namun, GRAB!!
"Terima kasih sudah membawa Arjuna pulang. Aku sudah dengar semuanya. Terima kasih sudah menolong Arjuna. Kalian istirahatlah biar aku saja yang menjaga Arjuna sampai pulih," ucap Han yang memeluk Kai erat dimana suami termuda Vesper itu tak menyangka dengan ucapan Han barusan.
"Aku lalai, Han. Arjuna terluka dan terkena tetanus. Ia kehilangan banyak darah. Lukanya juga infeksi, bagaimana jika Arjuna ...."
Han langsung membungkam mulut Kai dengan salah satu tangan kekarnya dengan senyuman.
"Arjuna tahu resikonya. Kau tak ingat kata Vesper? Percuma mengekang Arjuna. Semakin dia ditentang, semakin bersemangat dia untuk membangkang. Dengan begini, ia akan lebih hati-hati dalam bertindak. Tak apa, Arjuna pernah sakit dan ia pasti sembuh. Meskipun ia akan sembuh dalam waktu yang lama, tapi ... aku siap menunggu kesembuhannya. Aku sudah terbiasa menunggu," ucap Han yang kini menepuk kedua pundak Kai dimana lelaki itu malah meneteskan air mata meski tak ada isak tangis di sana.
Han terkekeh melihat Kai menangis. Ia mengacak-acak kepala Kai hingga rambutnya berantakan, tapi Kai tak peduli. Han sampai heran, bagaimana isterinya mengatasi sikap suami termudanya ini yang melankolis.
Han merangkul pundak Kai dan mengajaknya masuk ke dalam. Ternyata Liu mengikuti Arjuna sampai ke kamar perawatan. Han dan semua orang mendatangi ruang perawatan itu.
Mereka terkejut saat melihat Liu duduk di samping ranjang memandangi Arjuna seksama yang masih memejamkan mata dan menggenggam salah satu tangannya erat.
Tanpa disadari, Han dan Kai tersenyum bersama karena tak menyangka jika anak-anak mereka saling peduli antara satu dan lainnya.
"Dasar cengeng. Kau kalah dengan anak gadismu, dia lebih tegar darimu," ledek Han yang melihat mata Kai masih basah meski ia sudah tak menangis lagi.
Semua orang yang mendengar ikut terkekeh begitupula Han. Kai malah memonyongkan bibir.
Ia yang awalnya takut setengah mati jika Han akan marah dan membencinya kini bisa bernafas lega.
Ia tak menyangka jika Han bisa menerima keadaan Arjuna dengan hati lapang tak seperti dirinya yang selalu cemas dan panik ketika anak-anak Vesper terluka.
-------
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE