sebuah lengan membawaku kedalam pelukannya entah kenapa ragaku tidak bisa aku kendalikan, aku menatapnya lelaki dengan manik coklat dengan rahang kokoh.
sentuhan demi sentuhan membuatku terlena, aku tidak bisa berbuat apa apa entah ada apa dengan tubuhku, aku menikmati setiap sentuhannya.
"egh"
hanya itu yang keluar dari mulutku, hingga sesuatu yang melesak masuk kedalam tubuhku aku hanya mampu menangis namun menikmatinya sangat menikmatinya.
hingga berita kehamilan menyebar membuatku tak bisa mengelak sebuah pernikahan dengan lelaki yang tidak aku inginkan menjadi tameng penghalang impian impianku untuk meniti masa depan yang indah dan cerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiya12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EGO
"Kena tunggu" rey yang hendak mengejar kena tangannya di tahan oleh susan.
"jadi? dia alasanmu meninggalkanku?" tanya susan dengan tenang, ia merapihkan rambutnya dengan santai.
"dengar, dari awal kita tidak memiliki hubungan apapun jadi tidak ada yang namanya ditinggalkan atau meninggalkan" jelas rey dengan tegas.
"dia hamil? apa itu anakmu?" tanya susan kembali.
"ya dia anaku"
"kau yakin? bukankah wanita seperti itu banyak kau temui? kau mengerti maksudku" susan menarik tubuh rey agar dekat dengannya, namun dengan kasar rey mendorong susan.
"dia pertama bagiku, dan aku pertama baginya! tidak ada yang lain antara aku dan dia!" tegas rey, lelaki itu merapihkan kemejanya lalu meninggalkan susan dengan senyum mengejek.
"kau tidak akan bahagia, karena aku kebahagiaan mu" teriak susan, rey menekan tombol untuk menutup pintu lift meninggalkan susan dengan amarah terpendam.
beberapa tahun lalu, saat di perjalanan pulang dari Tionghoa rey bertemu dengan susan, perempuan itu cantik manis dan tutur kata yang sopan membuat rey nyaman. hubungan keduanya sangat baik, tidak ada yang namanya pertengkaran.
hal yang membuat rey kecewa pada susan adalah, dia rela menjadi alas pijak bagi musuh bebuyutan rey dia rela mengorbankan pertemanannya dengan rey hanya untuk menyabotase file yang akan digunakan untuk memenangkan tender.
usahanya gagal karena alan selangkah lebih cepat dari susan. sejak saat itu keduanya tidak lagi berkomunikasi, entah kenapa tadi rey menginginkan susan untuk memuaskan hasratnya, beruntung bayangan kena mampu mencegahnya dari kubangan lumpur.
"KENA!" Teriak rey saat memasuki kediaman Andra, lelaki itu berjalan cepat menuju lantai atas.
"Ada apa kau datang kemari?" suara bariton berasal dari lantai bawah mengalihkan perhatian Rey, ia kembali menuruni anak tangga dan menemui Andra.
"dengar om, maaf kalau saya lancang tapi saya ingin bertemu kena sekarang" ujar rey dengan tegas dan jelas.
"setelah kau mengkhianati nya?"
"semua yang terjadi salah paham, tolong kasih saya waktu untuk menjelaskannya" ujar rey memohon.
"saya sudah memberimu kepercayaan ternyata kau dengan kasar menghancurkan kepercayaan itu" Andra mulai mengungkit masalalu.
"saya tidak punya waktu berdebat dengan om" rey berniat meninggalkan Andra, namun sebuah bogem mengenai rahang kokohnya.
"kau pikir aku akan mengizinkanmu menyentuh putriku lagi setelah kau khianati" teriak Andra dengan marah.
"dengan atau tanpa izin om" tegas rey, Andra mengepalkan kedua tangannya.
"semua gara gara om, om adalah ayah yang menghancurkan hidup putrinya" kini suara rey meninggi
bugh bugh
sebuah pukulan kembali mendarat di perut dan juga wajahnya.
"apa? mau hajar saya! hajar!" rey menantang Andra, namun tangan Andra mengapung di udara karena di tahan oleh rey.
"kena tidak akan menderita, dan saya tidak akan pernah mencari wanita lain jika dari awal om tidak mempersulit kami untuk bersama" jelas rey, teringat kembali setiap pertemuannya dengan Andra.
rey selalu diminta untuk membahagiakan kena tanpa celah, selalu dituntut mengerti setiap keadaannya, juga Andra tanpa sadar menuntut rey menjadi perfect husband bagi putrinya.
"rey" suara lirih itu membuat rey mengalihkan perhatiannya, kena kembali masuk kedalam kamarnya, rey yang melihatnya langsung mengejarnya.
"KENA BUKA PINTUNYA" emosi rey sudah tidak terbendung, ia menyesali kebodohannya juga menyesali perbuatannya.
"aku bisa jelasin semuanya, tolong buka pintunya" pinta rey sambil mengetuk pintu kamar Kena.
"oke kamu ngga mau buka, aku yang akan membukanya dengan paksa" ancam rey, disisi lain Kena sangat takut, karena hari ini ia dikejutkan dengan sikap dingin rey yang emosian.
BRAK
BRAK
BRAK
Kena diam mematung, melihat pria yang dicintainya berhasil membuka pintu kamarnya dengan paksa, rey mengatur nafasnya yang terengah karena lelah, penampilan yang berantakan juga darah disudut bibirnya membuat kena membisu.
rey berjalan dengan cepat menuju kena, perempuan itu mundur beberapa langkah namun jatuh terduduk diatas tempat tidur, rey membungkuk mensejajarkan tubuh mereka.
"jika aku memintamu untuk mendengarkan aku, maka dengarkan" dingin dan tajam, rangkaian kata yang membuat gendang telinga kena terasa sakit dan berdengung.
sedetik kemudian rey meraih kena kedalam pelukannya, lalu menjelaskan apa yang telah terjadi sebenarnya.
rey yang melihat wajah kena begitu menggoda, menciumnya dengan lembut, keduanya tersenyum dan bahkan tertawa geli.
"jadi? dulunya kalian teman dekat?" tanya kena.
"iyaa, tapi dia mendekatiku untuk menyabotase usahaku, yaa akhirnya aku membuangnya" rey melirik kena dengan senyum yang tulus.
"lalu kenapa kalian di hotel?" kena melipat kakinya, memamerkan kaki panjang miliknya.
"entahlah, tapi ingatan tentangmu kuat jadi aku tidak melakukan apapun disana bahkan langsung keluar dan ya begitulah" rey mengusap wajahnya yang terasa sakit karena bogem yang dilayangkan Andra padanya.
"pasti papa memukulmu" tebak kena.
"wajar, aku juga akan melakukan hal yang sama bahkan lebih parah mungkin jika ada orang lain menyakiti putriku" ujar rey, kena terkikik geli mendengarnya.
"bagaimana jika anakmu yang babak belur karena menyakiti wanita?" sebuah pertanyaan yang membuat rey bingung menjawabnya.
"aku yang akan memukulnya pertama kali" ujar rey, kena memicingkan matanya "supaya dia tahu rasanya dipukul sepertiku" sebuah bantal melayang tepat ke wajah rey.
"dasar ga punya akhlak" protes Kena.
"dih, emang kamu punya akhlak?" kena mencebik kesal karena pertanyaannya berbalik padanya.
"udah deh gausah mulai, baru juga baikan" keduanya kembali akur, namun dibalik pintu ada telinga yang mendengar obrolan keduanya.
lanjutkan