Drama, Romance
Amyra Rahma, seorang gadis pendiam yang cukup peka dan juga cuek pada sekitarnya di saat bersamaan. Tapi, Isna Syifa -biasa dipanggil Isyi- adalah pengecualian, karena ia adalah satu-satunya sahabat Ara. Ara, begitulah gadis itu dipanggil.
Pada suatu hari, tiba-tiba Isyi mengajukan sebuah permintaan yang sangat aneh menurut Ara. Isyi meminta Ara untuk menjadi madunya! Isyi, are you crazy!?
Namun, pada akhirnya Ara tetap tidak bisa menolak permintaan Isyi, pun dengan Imran -suami Isyi- yang dengan berat hati harus memenuhi permintaan konyol istrinya, Isyi.
Dan kemudian, seiring waktu, sebuah peristiwa yang masih menjadi misteri mulai terbuka secara perlahan..
Cerita ini hanya fiksi, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat atau alur, itu adalah ketidaksengajaan.
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grayalfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 28
Mamah Diana terduduk di tepi ranjang dengan sebuah figura yang membingkai sebuah foto yang mengabadikan potret dirinya, suaminya dan putri kecil kesayangan mereka, Ara.
Senyuman cerah dan lebar yang terpatri jelas dalam foto itu mampu membuat sebuah senyuman terbit di wajah mamah Diana, senyum yang sama seperti yang ia tampakkan dalam foto, meski saat ini beberapa kerutan sudah mulai menghiasi wajah ayunya.
Dibelainya gambar suaminya, kemudian beralih pada putrinya. Merekalah malaikat penjaga dan malaikat pelipur laranya.
Namun, sesaat kemudian, senyuman itu disertai buliran air mata yang melintasi pipinya.
"Mas." Gumam mamah Diana lirih. Tangannya masih setia mengusap-usap gambar suaminya.
"Putri kita sudah besar, dia bahkan sudah menikah sekarang." Ucap mamah Diana seolah berhadapan dengan sosok dalam foto itu.
"Tapi, sepertinya dia masih ceroboh seperti dulu." Mamah Diana tertawa kecil.
"Dia sangat beruntung memiliki sahabat seperti Isyi." Ucapnya lagi.
"Putri kita ... dia baik-baik saja. Andai mas masih hidup, ah tidak, apa yang kukatakan." Bergumam sendiri. Diusapnya air mata yang melintasi pipinya.
"Mas, kau lihat 'kan!? Aku menjaga Ara dengan baik 'kan!? Seperti janjiku pada mas, aku akan selalu menjaga dan menyayangi putri kita, Ara."
"Mas nggak usah khawatir. Mas yang tenang di alam sana."
Mamah Diana bergerak dari duduknya. Dibaringkannya tubuhnya di ranjang tanpa menyimpan foto itu, dipeluknya foto itu penuh sayang.
"Berbahagialah Ara." Gumamnya lirih dengan mata tertutup. Tak butuh waktu lama, mamah Diana sudah dibuai sang mimpi, masih dengan memeluk foto keluarga kecilnya.
•••
uhukk uhuk..
Mamah Diana masih setia berada di ranjangnya meski matahari sudah mulai beranjak dari peraduannya sejak sekitar tiga jam yang lalu. Tangannya terulur mengambil gelas berisi air putih untuk membasahi tenggorokannya yang gatal.
Merasa kurang sehat, mamah Diana sudah menghubungi Nisa sejak subuh tadi untuk menitipkan toko karena dia tidak bisa pergi.
Meletakkan kembali gelas di atas lemari kecil samping tempat tidurnya, beberapa saat kemudian mulai membuka selimut ketika dilihatnya jam sudah hampir menunjukkan pukul 9. Belum sempat kakinya menapaki lantai, handphone nya berbunyi cukup nyaring. Ada panggilan masuk.
[Mah] Suara dari seberang sana terdengar. Itu suara putrinya, Ara.
"Iya, sayang. Ada apa?" Tanya mamah Diana lembut sambil tersenyum. Berusaha agar suaranya terdengar seperti biasanya.
[Mamah sakit?] Tanya Ara khawatir.
[Kenapa mamah nggak nelpon, kasih tau Ara, pantas saja dari semalam Ara inget mamah terus.]
"Mamah nggak apa-apa, kok. Biasalah, mamah kan udah tua." Elak mamah Diana.
[Ara lagi di jalan, sebentar lagi Ara sampai. Ara udah bawa makanan, jadi mamah nggak perlu memasak.] Pesan Ara pada mamahnya. Jika tidak demikian, maka mamahnya akan merepotkan diri memasak jika tau ia akan datang.
"Memangnya Ara nggak magang hari ini?" Tanya mamah Diana.
[Ini kan hari Minggu.] Ara sedikit terkekeh.
"Oh iya ya, mamah lupa." Mamah ikut terkekeh di akhir kalimatnya.
"Ara sama Isyi?" Tanya mamah kemudian.
[Heem. Ini Isyi ada, sama mas Imran juga] Ara menjawab.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, mamah mau ke kamar mandi dulu." Merasa tak kuat lagi menahan tenggorokannya yang gatal, mamah Diana memilih segera mengakhiri percakapan mereka.
[Iya, mah. Kalo begitu, Ara tutup telepon nya ya.]
Tut Tut..
"Pantas saja dari tadi Ara telepon mamah nggak angkat. Untung tadi Mbak Nisa telepon kasih tau kalo mamah sakit." Ara berucap. Ara selalu berpesan pada Nisa untuk selalu mengabarinya mengenai keadaan mamahnya karena ia sekarang tak selalu bisa melihat mamahnya.
Isyi mengusap bahu Ara.
"Nggak apa-apa, mamah akan baik-baik saja, percayalah. Mungkin mamah kecapean." Hibur Isyi yang diangguki Ara.
Imran melirik Ara dengan ekor matanya, kemudian kembali fokus pada jalanan.
tok tok tok
Ara mengetuk pintu rumah sambil memanggil mamahnya.
Ara berhambur memeluk mamahnya begitu pintu terbuka dan menampakkan sosok mamahnya.
"Rinduu." Ucap Ara dengan nada manja.
"Baru lewat semalam dah rindu?"
Ara mengangguk menjawab pertanyaan mamahnya. Mamah Diana tersenyum.
"Ini anak mamah beneran udah menikah nggak sih sebenarnya!?" Goda mamah Diana sambil mengusap lembut surai hitam Ara, yang sengaja Ara biarkan terurai.
Ara tertawa lirih, pun dengan mamah Diana, Isyi dan Imran yang ikut tertawa.
"Ini nggak mau masuk nih!?" Tanya Imran sambil tersenyum melihat Ara masih betah memeluk mamahnya setelah beberapa saat.
"Tau nih, Ara. Aku kan mau peluk mamah juga." Isyi menyahut.
"Nggak, aku dulu." Ara menyela, masih setia memeluk mamahnya.
"Sudah, sudah. Yuk masuk dulu." Ajak mamah Diana sembari melerai pelukannya pada Ara. Dengan enggan Ara pun melepas pelukannya.
"Mamaaah." Sekarang giliran Isyi yang menghambur memeluk mamah Diana.
Mamah Diana mengajak mereka masuk. Tapi, baru saja hendak masuk, Ara menahan lengan kiri Imran.
"Mas, lupa makanan belum di ambil." Ucap Ara pada Imran, menunjuk mobil dengan dagunya. Imran mengangkat tangan kanannya yang menjinjing tas kertas berukuran sedang.
Ara tersenyum melihatnya pun dengan Imran.
"Mas sengaja meletakkan kantong ini di kursi depan, biar tidak lupa." Jelas Imran. Ara mengacungkan 2 jempol tangannya.
"Ya udah, ayo cepet masuk mas." Ara berjalan mendahului Imran menyusul Isyi dan mamahnya yang sudah masuk lebih dulu.
"Mamah pasti belum sarapan 'kan?" Tebak Ara yang tentu saja itu benar. Ara mengisi piring mamah Diana.
"Ara suapin ya.." Ucap Ara sambil menyodorkan sendok di depan mulut mamahnya. Mamah Diana menurut, membuka mulutnya dan menyambut suapan Ara.
Isyi mengambil piring Ara dan mendapati tatapan heran dari Ara.
Aaa.. pinta Isyi sambil menyodorkan sendok di depan Ara.
Meski awalnya ia menatap bingung pada Isyi, ia tetap menyambut suapan Isyi.
"Kamu juga belum makan 'kan!?" Ucap Isyi. Ara mengangguk dan membiarkan dirinya disuapi oleh Isyi sementara ia menyuapi mamahnya.
"Baiklah, sudah cukup." Ucap Ara.
"Kenapa? Ini belum habis." Isyi mengangkat piring Ara dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih memegang sendok.
"Kau menyuapiku terlalu besar, sampai penuh itu sendok." Ara menunjuk sendok di tangan kanan Isyi dengan matanya.
"Tambah lagi ya mah." Ara beralih pada mamahnya.
"Sudah cukup. Mamah sudah kenyang."
"Baiklah."
•••
"Minum, mah." Ara menyodorkan segelas air putih, ketika mendengar mamahnya terbatuk-batuk, Ara segera berlari mengambil air ke dapur.
"Kita periksa ya mah." Ajak Ara.
"Nggak usah, mamah cuma kecapean, mamah sudah minum obat."
"Em, kalo begitu. Ara akan menginap disini."
"Nggak usah Ara. Setelah tidur mamah akan baik-baik saja."
"Mas, Ara nginep sini ya.." Ara beralih menatap Imran yang duduk di sofa di hadapannya.
"Mamah sudah bilang, nggak perlu Ara." Mamah Diana menyela.
"Kalo begitu, mamah ikut Ara." Putus Ara.
Mamah Diana terdiam menatap Ara.
"Iya, mah. Ara benar, Isyi juga khawatir kalo mamah tinggal disini sendirian apalagi sedang sakit. Gimana, mas? Nggak apa-apa kan?" Isyi mengeluarkan pendapatnya.
Imran mengangguk.
"Mereka benar, mah. Kami sama sekali nggak keberatan, malah kami senang kalo mamah bisa ikut dan tinggal bersama kami."
To be continued~