Desa Kalijati merupakan tempat yang nyaman dan tenteram untuk ditinggali. Hanum dan ibunya yang merupakan seorang penata rias tinggal di desa tersebut bersama keluarga Bima dan yang lainnya.
Tapi rasanya desa itu menjadi tidak lagi nyaman saat seorang perempuan bernama Bu Ambar mendatangi desa di tengah malam.
Entah apa kepentingan perempuan itu hingga mengejutkan para penjaga ronda dan membangunkan Marni dari tidur lelapnya.
Belum lagi keganjilan yang terus terjadi sejak perempuan itu mendatangi desa. Kematian Bu Tejo yang mendadak dan mayatnya yang hilang, Hanum yang merias pengantin tanpa pengantin, hingga menyerang ke alam gaib.
Belum sampai disitu, kejadian mistis dan misterius lainnya terus bermunculan.
Ikuti Hanum dan Bima untuk mengetahui segala kejadian mistis dan misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Opie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH TUJUH (PENCARIAN MAYAT BU TEJO)
Bima dan Pak Mahmud datang di waktu yang tepat, saat itu Pak Lurah sendiri yang mengimbau para warga untuk berpencar ke desa-desa tetangga untuk mencari keberadaan mayat Bu Tejo. Meski sulit namun setidaknya mereka berusaha untuk mencarinya untuk kembali dikuburkan dengan layak.
“Apa benar ini pencurian mayat Pak?” Pak Dayat yang seorang tenaga kesehatan bertanya “kalaupun iya, kenapa kuburannya sangat rapi?” Pak Dayat masih belum percaya dengan masalah yang sedang mereka hadapi.
“Untu saat ini… itu adalah hal yang paling memungkinkan. Kami pernah mengalaminya sepuluh tahun yang lalu.” Tutur Pak Lurah Indra yang memang tinggal di Desa Kalijati juga.
Semua orang yang ada disana manggut-manggut mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu di desa Kalijati. Kehilangan mayat yang akhirnya ditemukan di desa tetangga untuk digunakan ritual ilmu gaib. Desa tetangga tersebut tak lain adalah Desa Kalibening.
Mayat ditemukan dalam keadaan sudah rusak, beberapa bagian tubuh sudah hilang karena dimutilasi. Polisi menemukannya setelah sepuluh hari pencarian yang didukung juga oleh laporan warga sekitar.
“Untuk sementara hanya itu kesimpulan yang mungkin.” Tutur Pak Lurah menopang dagunya dengan kening yang terus berkerut.
Pagi ini, Pak Lurah menginstruksikan warga untuk mencari ke desa-desa tetangga, tentu hal ini sudah dilaporkan ke polisi dan dalam penanganan. Pak Mahmud dan Bima kebagian mendatangi Desa Kalibening. Mereka saling tatap.
“Pak Dodo, saya boleh tuker ke desa Kalibakung nggak ya?” Tanya Pak Mahmud mengusahakan agar dia tidak kesana.
“Boleh pak. Jadi saya sama Cakra yang ke Kelibening ya.” Jawab Pak Dodo.
“Waduh makasih ya pa.” kata Pak Mahmud langsung menjabat tangan Pak Dodo.
“Iya sama-sama.” Pak Dodo tersenyum simpul.
Setelah pembagian kelompok dan desa yang aka didatangi selesai, semua bergegas dengan kendaraan masing-masing. Untuk kasus ini kas RT akan dikeluarkan untuk biaya-biaya terkait dengan kasus Bu Tejo.
Bima membonceng ayahnya menuju desa Kalibakung, ada dua motor lain yang berangkat bersama mereka. Pak Cahyadi yang dibonceng Kirun dan Pak Karya yang dibonceng Mukmin. Ketiga motor itu melaju menuju desa yang tak jauh dari desa mereka.
“Makasih ya pak.” Kata Bima tiba-tiba saat mereka masih dijalan dan mengendarai sepeda motor.
“Makasih apa ini?” Pak Mahmud belum mengerti.
“Makasih udah tuker desa tujuan kita. Kalau bapak nggak minta tuker, mungkin kita akan ketemu sama keluarga Pak Gondo.”
Pak Mahmud hanya tersenyum dan menepuk bahu anaknya. Ia tak menyadari kalau perbuatannya diketahui Bima, padahal ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk tidak ketahuan karena Bima sempat menghilang saat pembagian kelompok.
Tak sampai sepuluh menit Pak Mahmud dan rombongannya sudah sampai di desa tujuan mereka, pertama-tama mereka meminta izin kepada RT setempat untuk mengumpulkan warganya dan mengumumkan apa yang sedang terjadi di desa mereka.
Tiap-tiap RT tidak keberatan karena sebelumnya mereka sudah diberitahu oleh ketua RW yang juga mendapat informasi dari kelurahan. Semua RT bekerja sama dengan baik hingga pencarian ini tak terkendala.
Namun hingga matahari sudah ada tepat di atas kepala, belum ada hal yang membantu untuk menemukan mayat Bu Tejo. Tak ada laporan hal mencurigakan atau kejadian aneh yang terjadi sedari kemarin hingga rombongan Pak Mahmud datang pagi ini.
“Sebaiknya kita pulang dulu, seperti yang diinstruksikan Pak Lurah.” Tutur Pak Karya yang mengangkat tangan kirinya untuk menunjukkan waktu saat itu.
“Ok…. Kita pulang dulu.” Pak Mahmud mengiyakan.
Setelah pamit pada RT terakhir yang mereka datangi, keenam orang itu kembali ke desa untuk mengisi perut mereka sebelum kembali ke pencarian. Ketiga motor itu melaju melewati jalanan desa dan kembali ke balai di samping musholla.
Selain rombongan Pak Mahmud, rombongan lainpun mulai berdatangan. Ada juga yang sudah sampai duluan sebelum mereka, suara-suara mulai mengedar di udara. Masing-masing dari mereka menceritakan temuan mereka dari desa tujuan yang sudah ditentukan.
Suara-suara itu teredam saat Mang Hanif membunyikan pentungan kesayangannya, Pak Lurah sudah ada disana. Pak Lurah berjalan ke depan balai, ia berdiri di belakang podium buatan warga sekitar.
“Pertama-tama saya ucapkan terima kasih untuk semua yang sudah berkenan membantu dalam kasus yang dihadapi oleh desa kita. Lalu… untuk saat ini mari kita istirahat dan mengisi perut kita bapak-bapak. Laporan dilakukan setelah kita makan siang. Sekian, terima kasih.” Begitu kata Pak Lurah tana basa-basi yang kembali berjalan ke arah tumpukan nasi bungkus.
Pak Lurah berdiri di belakang meja konsumsi, ia turut membagikan nasi kotak untuk makan siang warganya. Hingga kotak terakhir menjadi miliknya dan turut serta dalam acara makan siang bersama.
Usai makan siang yang disediakan oleh Pak RT sebagai ketua panitia, semua kembali bergegas menuju desa tujuan sesuai dengan pembagian kelompok. Semua rombongan mulai meninggalkan balai dan hanya menyisakan beberapa orang untuk berjaga-jaga di desa.
Pak Mahmud dan Bima sudah berada di desa Kalibakung, mereka mendatangi beberapa tempat lagi. Dan karena berita yang sudah tersebar, masyarakatpun bekerja sama dengan baik. Namun begitu belum ada penemuan yang berarti. Desa Kalibakung diketahui aman dan tenteram berdasarkan keterangan dari warganya.
Rombongan Bima terus mencari hingga tak sadar waktu sudah berlalu, mereka menghabiskan sepanjang siang dan sore di desa Kalibakung dan masih belum ada yang mencurigakan. Di ujung sore rombongan Pak Mahmud pulang, begitupun dengan rombongan lain karena diinstruksikan demikian.
Hari sudah malam saat semua rombongan berkumpul dan kembali melaporkan penemuan mereka di desa-desa tujuan. Tak ada yang mencurigakan sama sekali, semua desa aman sampai sore tadi. Dan Pak Lurah memutuskan untuk melakukan pencarian sampai besok, hari kedua. Setelahnya ia menginstruksikan untuk berhenti dan menyerahkan kasus ini ke polisi.
Warga mulai membubarkan diri setelah laporan dan pengumuman dari Pak Lurah termasuk Pak Mahmud dan Bima, mereka sudah pulang karena berencana untuk kembali melakukan pencarian di Desa Kalibakung. Begitupun dengan rombongan lain yang akan melakukan pencarian esok hari, mereka tak tinggal lama di balai.
Malam semakin larut saat satu persatu warga meninggalkan balai untuk kembali ke rumah. Hanya tinggal beberapa warga saja yang masih ada di sana dan bercakap-cakap. Di sisi lain Pak Lurah juga memerintahkan beberapa warga untuk bergantian berjaga-jaga di area pemakaman, barangkali si pencuri mayat akan kembali.
Beberapa orang berjaga-jaga di komplek pemakaman ditemani kopi dan gorengan yang disediakan Pak RT dan timnya. Waktu semakin merangkak menuju dinihari, namun tak ada yang terjadi. Hanya ada obrolan bapak-bapak yang menggema di langit malam itu, ditemani angin dan kukuk burung hantu yang bersahutan.