Pikiran Nara masih saja penuh dengan ajakan menikah dari direktur gilanya itu, Nara jadi tidak begitu konsen dalam bekerja.
Kenapa aku bisa sesial ini pergi ke perjodohan malah ketemu sama bos sendiri?!
Masalahnya Nara hanya wanita yang menyamar sebagai sahabatnya.
Akankah perjalanan cinta Nara dengan statusnya sebagai janda berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balas Dendam!
Dengan belajar dari bahayanya berdua di dalam mobil, Nara mengajak Rey keluar untuk melanjutkan diskusi mereka. "Bukannya 3 hari saja cukup?" Nara memainkan tali tasnya.
"Satu minggu!"
"Ehmm.. 4 hari."
"10 hari!"
Tidak! Harusnya negosiasi ini berkurang, kok malah bertambah!" Kesal Nara.
"15 hari!" Tegas Rey.
"15 hari apanya!! Kan pertama kali menawar untuk akting kan pak direktur sendiri!" Emosi Nara sudah nyaris meledak.
"Jadi ini yang anda lakukan setelah berterima kasih?" Rey bersidekap.
"Bukan, berterimakasih sih itu beda lagi."
"1 bulan!"
Nara meremas kepalan tangannya menahan gejolak emosi yang membara. Kalau begini terus bisa bisa jadi 1 tahun.
"Baiklah 1 minggu saja." Nara melengos kesal.
"1 bulan." Tegas Rey kembali.
"Bagaimana bisa 1 bulan dengan direktur???!!!!" Gunung merapi emosi Nara sudah erupsi.
Rey bersidekap tanpa menjawab Nara, namun tatapannya seakan mengisyaratkan..
'JIKA MENAWAR LAGI MAKA AKAN JADI SELAMANYA'
Nara merasa kesulitan bernafas karena intimidasi tatapan itu, "Ehmm, baik tapi kali ini saya yang harus menentukan menunya."
"Boleh saja."
"Anda tidak boleh menarik ucapan anda yah direktur!!" Nara terlihat senang membuat Rey bingung. "Kalau begitu selamat malam, hati hati dan terimakasih sudah mengantar saya." Nara tersenyum lebar.
"Ah ada yang saya lupa."
"Lupa ap..." Belum selesai Nara berbicara, dia terkejut Rey menarik lenganya mendekat lalu pria itu memeluknya erat.
Ap... apa lagi sekarang??? Sekarang dia memelukku? Memeluk aku??!!
Nara hanya bisa berdiri kaku dalam eratnya pelukan Rey, pria itu benar benar membenamkan tubuh mungil Nara masuk dalam dekapannya. Karena hening terlalu lama juga Nara takut suara debaran jantungnya yang kencang bisa terdengar Rey dia mulai sedikit memberontak.
"Di.. direktur ap.. apa yang anda laku..."
"Menagih bayaran laundry baju." Rey menjawab acuh tanpa melepas pelukannya.
"Pelukan untuk biaya laundry bukankah itu terlalu mahal??"
"Baju saya agak mahal."
"Tapi pelukan saya juga mahal tau!" Dengus Nara.
Tanpa bisa Nara lihat, Rey sedang tersenyum dibalik punggung Nara. Rey melepas pelukannya namun tangannya masih melingkari pinggul Nara dan menatap mata wanita itu. "Jadi apa saya harus membayar biaya pelukan ini?" Rey menjeda sebentar. "Bagaimana nona Naranika? Apa saya harus membayar?" Rey menyunggingkan senyumnya.
Nara mengalihkan pandangannya kearah lain karena rasa grogi yang mendera hatinya, "Ti.. tidak! Anggap saja sudah lunas. Ini sudah larut malam, lebih baik anda pulang."
"Baik." Kali ini Rey melepas tautan mereka, "Aku pulang." Rey kembali berjalan menuju mobilnya.
"Iya hati hati."
Nara hanya berdiri diam menatap mobil Rey yang semakin menjauh, dia bersyukur dia berada di jalan yang memikiki penerangam remang. "Apa aku mimisan???" Nara mengusap hidungnya yang kembang kempis dengan deru nafas yang tidak beraturan, terengah padahal sedang tidak berolah raga. "Pria itu memang benar benar ahli membunuh orang sepertinya, bisa bisa aku terkena serangan jantung!" Nara mengingat jelas bayangan Rey bagaimana pria itu tersenyum dengan tampannya membuat degup jantungnya kembali berdetak dengan kencang.
"Aaah sudahlah, ini saatnya aku tidur setelah pertempuran yang melelahkan hari ini." Nara mengangkat kedua tangannya merenggangkan tubuhnya.
'Drrrrttttt Drrttttttttt' Nara meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelpon.
"Natha? Tumben malam malam." Dia langsung mengangkat panggilan dari Natha.
"Halo, Natha. Kamu telepon malam malam begini pasti mau pergi minum lagi yah? Maaf yah tapi malam ini..."
"Naranika! Dimana kamu sekarang??"
Eh suaranya.. kaya serius amat.
"Aku lagi dirumah, aku agak lelah tadi.."
"Ga bisa! Cepat beli minuman sekarang!"
"Hei ini udah larut loh, apa mau keluar sekarang?"
"Ga bisa! Coba lihat kebelakang!"
Nara terkejut dan langsung menoleh kebelakang, Natha berdiri di sudut jalan dan menatapnya tajam sambil bersidekap. "Aku pikir kamu pergi sama siapa, Naranika. Kita harus bicara!!"
****
10 tahun sebelum hari ini, ada dua gadis remaja memakai seragam sekolah dan berjalan jalan di tengah festival malam saat mereka sehabis pulang sekolah bahkan masih memakai seragam sekolahnya. Malam itu angin bertiup cukup dingin mungkin karena sudah memasuki musim gugur, kedua gadis itu saling bergelayut menghangatkan tubuh sambil menikmati minuman panas mereka.
"Aduh semua berpasang pasangan yah!" Natha berumur 15 tahun menatap para pasangan muda yang berlalu lalang.
"Memangnya kamu tidak iri?!" Nara belia juga menatap kearah yang sama.
"Iri!!! Tapi aku sedang menunggu."
"Menunggu apa??"
"Jodohku lah! Orang yang akan datang dan menatap mata kita lalu kita akan tau jika itu jodoh kita!" Ujar Natha mantap.
"Memangnya akan ada orang seperti itu?"
"Ada!! Pasti ada!! Kita harus percaya bahwa orang itu akan datang yah Nara sahabatku!"
"Iya aku percaya!" Nara dengan polosnya semangat sama seperti Natha.
"Nanti jika jodoh kita telah datang kita akan douboe date berkencan bersama. Janji!"
"Janji!!" Kedua gadis itu melingkarkan kelingking mereka tanda perjanjian.
'Takkkkk!!' Natha membanting gelas beernya dan kembali pada kenyataan jaman sekarang. "Padahal Naranika sudah berjanji padaku akan double date bersama!!! Malah sekarang dia double date duluan dengan Hansen!!!! Hansen pria itu yang bahkan sudah menghioang hampir 2 tahun lamanya?!"
"Sedih sekali!!!! Huhuhu!" Natha mengusap air mata buayanya. "Dasar Hans menyelak saja!!"
"Astaga! Kamu masih ingat kejadian itu? Itu sudah lama sekali." Nara menutup mulutnya terkejut, kedua wanita itu duduk di sebuah kedai makanan ringan di pinggir jalan.
"Kita kan sampai melingkari kelingking untuk berjanji!!! Dasar pengkhianat!!"Natha meraung kesal. "Huh! Padahal kamu bilang tidak suka, tapi kamu malah berpacaran dengan direkturmu." Natha menunjuk nunjuk Nara dengan botol beer kosong.
"Apa?! Kami tidak pacaran tau!" Bantah Nara tegas meski wajahnya merona.
"Tidak pacaran tapi pelukan!! Aku lihat semuanya!" Nara tidak bisa membantah perkataan Natha.
".. itu .. itu hanya untuk mengganti biaya laundry.. aku menumpahkan.. ah pokoknya ada masalah!" Nara memainkan jari jarinya gugup.
"Biaya laundry??? Coba ceritakan masalah konyol apa itu??!" Natha diam menunggu Nara untuk bercerita namun wanita di hadapannya hanya diam membatu tidak berbicara. "Aaah dia memelukmu tapi kalian ga pacaran! Itu kan namanya pelecehan!! Aku lapor polisi!!!" Natha meraih ponselnya.
"Jangaaaannn!! Stoppp!! Hentikan!!" Nara panik merebut ponsel Natha cepat, "Jangan melapoorrrr! Bisa bisa aku yang di penjara!!!" Nara tidak sanggup menjelaskan bahwa dia yang mencium Rey terlebih dahulu saat mabuk.
"Apa?? Kenapa kamu... jangan jangan!! Kamu yang menyerang duluan.." Natha menutup mulutnya tak percaya.
"Aaah itu itu itu..." Nara menjadi sangat gugup dan panik. "Aku tidak sengaja saat habis minum minum jadi.. aku.. aku.. Aaarrrghh!!!! Pokoknya alkohol itu adalah musuhku!!!" Teriak Nara frustasi.
"Benarrrr!!! Alkohol adalah musuh kita! Hwaaaa!!!!" Natha juga berteriak frustasi .
Kedua wanita yang sama sama frustasi karena menyerang duluan akibat alkohol.
"Eh tapi kamu kenapa??" Nara tersadar, "Kamu juga melakukan kesalahan sehabis minum alkohol??"
"Kesalahan apa!!!" Natha membantah cepat dengan panik. "Lalu kamu! Memang apa yang terjadi??" Natha mengalihkan pertanyaan Nara.
Nara awalnya ragu lalu dia berbisik pada Natha.
"APA KALIAN BERCIUMAN??!!!" Natha menaikan 5 oktaf suaranya.
"Hei gila mulutmu ember sekali!!!" Nara membekap mulut Natha.
"Bagaimana bisa??" Natha terkejut dan terbahak lebar, "Apa dia jago berciuman?? Hahaha!"
"Awalnya hanya membayar ciuman tapi lama lama jadi runyam dan hutangku tidak habis habis! Huuu." Nara melengos kesal setelah menceritakan dengan detail pada Natha.
Natha tertawa lebar, "Hebat sekali Naranika ini!! Haha ayo cerita, apa dia jago berciuman?? Bagaimana rasanya jabarkan!!"
"Jago yah..? Hmm ia dia jago." Nara terlalu malu.
"Jelaskan apa yang kamu rasakan! Apa kamu mendengar bunyi lonceng gemerincing??" Natha terlihat antusias
Nara mengingat bagaimana dia berciuman dengan Rey di mobil, disaat dia dalam kondisi 100% sadar tentu saja. "Rasanya..." pipi Nara merona, "A.. awalnya aku merasakan manis, manis seperti memakan eskrim, lembut seperti gulali." Nara memegang pipinya, "kemudian.... tiba tiba seperti ada seekor lumba lumba cantik di atlantik yang masuk kedalam pelukanku!" Mata Nara berbinar, lalu kemudian dia tersadar malu karena menceritakan dengan detail hal tidak perlu ini. "Ah pokoknya begitu!!"
"Haaaaaaahhh enak yah kamu masih bisa mengingat dengan detail kejadian seperti itu." Natha menyenderkan kepalanya diatas meja dan memasang wajah murung.
"Kamu ada masalah kan??" Nara sudah bisa menebak sedari tadi dari wajah Natha yang terlihat tidak semangat.
"Tidak." Jawab Natha acuh.
"Kalau ga mau cerita, aku ga mau temenan lagi yah!!"
"Kamu juga, kalau pacaran sama direktur gembel itu aku ga mau temenan lagi."
"Ge.. gembel?? Kamu gila yah?! Dia itu terlihat sangat luxury!" Nara sampai sedikit tersipu mengingat visual Rey yang terlalu menyilaukan mata, penampilan pria itu benar benar seni kelas dunia.
"Direkturmu memang gembel!"
"Dia tidak gembel!"
"Dia gembel!!"
"Aku bilang tidak!!!!"
"Direkturmu GEMBEL!!!!!!" Natha berteriak frustasi, "Kenapa dia harus mengirim Bastian ke perjodohan dengan Jessie!!!" Natha menangis kesal. "Ini semua karena direktur gembel itu!! Akan ku kutuk dia seumur hidup!!! Dia memang gembel!!"
"Hey kamu menangis??" Nara mengguncang tubuh Natha yang membenamkan kepalanya diatas meja karena mendengar isakan.
"Apa sih? Jangan bilang Bastian jatuh cinta dengan wanita itu? Tapi Jessie itu siapa??"
"Ga tau aku ga tau!!!" Jerit Natha.
"Makanya ceritakan yang benar!!" Nara mulai kesal.
Natha bangkit duduk dengan benar kembali, merengut dan menghapus sisa air matanya.
"Enak sekali!! Kamu bisa ingat dengan benar bagaimana berciuman dengan direkturmu! Lalu juga direktur gembel itu sepertinya memaafkan kamu setelah tau semua kebohongan ini. Dia tetap mau pacaran dengan kamu meskipun kamu sudah membohonginya." Natha menenggak kembali gelas beer nya.
"Memaafkan apa? Membohongi apa? Aku ga paham." Nara mengambil makanan kecil untuk Natha, "Makan ini juga, agar perut kamu tidak sakit."
"Tetap saja dia sudah memaafkan kamu dan kalian berpacaran."
"Kamu ngomong apa sih? Siapa juga yang pacaran? Ngomong yang benar! Lagian bohong apa? Bohong... sebentar!!! Maksud kamu dia tau aku berbohong apa????" Nara tiba tiba tersadar.
"Apa lagi jika bukan perjodohan." Natha mengunyah makanannya. "Bohong tentang pekerja sambilan perjodohan dan kamu adalah karyawannya. Direkturmu sudah tau semua." Lanjut Natha santai sambil memakan kembali cemilannya.
Nara terdiam lalu tertawa hambar, "Haha haha haha, kamu salah mana mungkin direktur tau." Nara mengibas tangannya. "Bercandaan kamu menakutkan sekali haha!"
"Kamu tidak tau? Semua sudah aku dengar dari Bastian."
Nara tersikap. "A.. apa? Ka.. kapan??" Degup jantung Nara seakan melambat.
"Dari saat matamu memar, dia melihatnya. Benar benar mirip seperti saat kamu make up dengan smokey eyes! Dia tau dari sana. Kamu sungguh tidak tau??"
Nara membatu, rasanya sekujur tubuhnya berubah menjadi batu.
Kalau begitu... saat dia mendekati aku? Saat kami berciuman? Makan bersama? Membayar ciuman ini bahkan sampai tadi... semua itu.. Ternyata dia sudah tau??!
"Nara? Kamu baik baik saja?" Natha mencolek colek Nara yang terlihat seperti cangkak tanpa isi.
"Aku... tidak... tau.." Wajah Nara terbengong.
"Astaga!" Natha menopang dagunya, "Dia mengirim Bastian ke acara perjodohan karena ketahuan berbohong. Tapi bisa bisanya... Aaaakkhh!!!" Natha seolah menyadari sesuatu lalu menarik tangan Nara.
"Nara Nara!!! Kamu pernah bilang direkturmu akan memberi hukuman jika ketahuan berbohong kan!! Astaga sepertinya benar begitu!!"
"Apa maksudmu??" Nara memgerutkan alisnya.
"BALAS DENDAM!"
"Hal aneh apa lagi yang keluar dari kepalamu?" Nara memandang malas pada Natha.
"Awalnya dia pria yang mengejar ngejar untuk menikah, lalu setelah tau kamu karyawannya dia membatalkan perjanjian. Lalu dia juga menciummu dengan dalih membayar ciumannya, juga dia memelukmu dengan alasan laundry. Kamu pikir ini apa???"
'Braaakkk' Natha memukul meja.
"Dia berbuat baik padamu bahkan setelah dia di bohongi olehmu, lalu dia diam diam akan menusukmu dari belakang. Nara, JANGAN SAMPAI KAMU SUKA PADANYA!"
Nara memasang wajah shock.
aku baca bab ini pas lagi makan Ampe keselek,gara2 Nara baca UUD.
KK jgn sampe Nara dan Natha musuhan karna cowo.